Arah Masa Depan Kriminologi Feminis: Sebuah Gagasan

Jurnal oleh Amanda Burgess-Proctor ini mengemukakan tentang masa depan kriminologi feminis yang berada pada kesediaan kerangka teori yang mengakui lipatan-lipatan (hubungan timbal-balik) dan titik temu (persilangan) ketidakseimbangan. Para kriminolog feminis kontemporer mengedepankan gagasan feminisme inklusif, yang secara bersamaan menghadirkan isu-isu yang berhubungan dengan ras, gender, kelas, seksualitas, umur, kebangsaan, agama, kemampuan fisik dan bentuk lain dari ketidaksetaraan yang berkaitan dengan kejahatan dan penyimpangan. Dalam usahanya untuk memajukan pemahaman tentang gender, kejahatan dan keadilan, yang kemudian mencapai relevansi universal dan kebebasan dari kungkungan cara berpikir yang telah lama, para kriminolog feminis berusaha memeriksa hubungan-hubungan antara ketimpangan dan kejahatan tersebut dengan menggunakan kerangka teoritis yang tidak mengabaikan sama semakali titik-titik temu yang diinformasian oleh para pakar feminisme multirasial.

Secara tradisional, feminisme muncul dalam lima perspektif utama, diantaranya adalah:

  1. Feminisme liberal, yang mengedepankan persamaan hak antara perempuan dan laki-laki dalam hal hukum, sosial, politik dan peran. Dalam kriminologi, perspektif ini melihat bahwa perempuan ditempatkan sebagai pihak yang seharusnya tidak boleh melakukan kejahatan karena posisinya yang seharusnya menjauhkannya dari tindakan menyimpang itu sendiri.
  2. Feminisme radikal, yang mengedepankan penghapusan sistem dan budaya patriarki, yang menjadi penyebab segala masalah penidasan perempuan. Dalam kriminologi, perspektif ini memiliki perhatian pada sikap patriarki dalam kejahatan yang melawan menindas kebebasan perempuan, seperti kekerasan dalam rumah tangga, pemerkosaan, pelecehan seksual, pornografi. Perspektif ini juga melihat bahwa pelaku yang dianggap pelaku sesungguhnya juga mengalami viktimisasi.
  3. Feminisme marxis, yang melihat penindasan perempuan dalam masyarakat kapitalis. Dalam kriminologi, perspektif ini melihat bahwa status kelas bawah memungkinkan bagi perempuan untuk melakukan kejahatan sebagai cara untuk mendukung mereka secara ekonomi.
  4. Feminisme sosialis, yang menggabungkan pemikiran feminism radikal dan marxis, melihat bahwa penindasan perempuan karena persoalan ketidaksetaraan gender dan kelas. Dalam kriminologi, perspektif ini mempelajari penyebab kejahatan dalam konteks sistem berbasis interaksi gender dan kelas dalam kekuasaan.
  5. Feminisme postmodern, yang mengedepankan pertanyaan tentang kebenaran yang lain, termasuk penindasan perempuan. Dalam kriminologi, perspektif ini menyoalkan konstruksi konsep dari kejahatan, peradilan, dan penyimpangan dan juga menyoalkan kebenaran-kebenaran kriminologis tersebut.

Selain lima perspektif itu, juga dikenal perspektif lain, seperti feminisme kulit hitam yang memperjuangkan hak perempuan kulit hitam atas penindasan kulit putih, dan feminisme lesbian yang menyoalkan hak atas orientasi seksual.

Kriminologi feminis sendiri muncul secara bertahap dalam 3 gelombang, yaitu gelombang pertama ketika emansipasi perempuan mulai dikenal di Amerika Serikat pada abad ke-18, lalu disusul 1 abad kemudian, gelombang kedua, yang mulai mengkritik bidang studi sosiologi dan kriminologi yang bias gender dan ras. Pada gelombang ketiga, pemikiran kriminologi feminis semakin berkembang menjadi pemikiran plural yang berusaha membahas kemungkinan-kemungkinan hubungan-hubungan antara sistem gender, ras dan kelas dalam kehidupan sosial dan politik.

Pada dasarnya, kemunculan feminisme dalam ranah pemikiran (juga sebagai gerakan) ialah untuk mempersoalkan tentang sesat pikir atas ‘persamaan dan perbedaan’ antara perempuan dan laki-laki. Para feminis berusaha meruntuhkan tembok pembias atau kekeliruan pikir yang selama ini ada dalam hubungan antara perempuan dan laki-laki. Dalam pemikiran feminisme, persamaan bukan berarti diperlakukan sama, dan perbedaan bukan berarti dilakukan berbeda. Feminisme lebih menuntut kesetaraan antara perempuan dan laki-laki. Dengan kata lain, setara atas hak-hak dan kewajiban-kewajiban mereka sebagai manusia.

Dalam perkembangan selanjutnya, pemikiran feminisme kemudian mulai fokus pada hubungan timbal balik antara gender, ras dan kelas dan wilayah-wilayah yang berbeda (khususnya keterkaitan dengan negara-negara di dunia ke-3) yang berpengaruh pada bagaimana kesetaraan antara perempuan dan laki-laki itu sering diabaikan. Khususnya dalam pendekatan yang diusung oleh feminisme radikal, yaitu dominance approach, yang melihat bagaimana budaya patriarki yang sudah mengakar dimana-mana itu benar-benar mempengaruhi pembedaan penyamaan peran antara perempuan dan laki-laki, yang oleh kajian kriminologi feminis sangat erat kaitannya dalam konteks hubungan bagaimana kekuasaan dan penindasan (subordinasi perempuan) itu sering diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam kriminologi sendiri, pendekatan ini menjadi penting karena penekanannya pada kekuasaan dan hak istimewa dengan isu-isu yang terkait dengan ketidaksetaraan dalam sistem peradilan pidana.

Feminisme Multirasial

Dalam mempelajari gender dan ras, feminisme multirasial, dengan pendekatan interseksionalnya melihat bahwa hubungan antara kelas, ras dan gender itu sebagai sesuatu yang dinamis, yang tidak dapat dipisahkan dari konteks sejarah, latarbelakang sosial dan praktek kekuasaan. Pemahaman kita terhadap kelas, ras dan gender merupakan hasil konstruksi sosial. Terutama bagi feminis multirasial, tuntutan kesetaraan atas perempuan terhadap laki-laki tidak cukup hanya sebagai satu hal yang global (umum), tetapi harus lebih jauh ke tingkat-tingkat yang lebih mikro (bukan hanya makro). Misalnya, soal kesetaraan gender bagi perempuan kulit hitam, yang berada di bawah tekanan pihak kulit putih, memiliki konktes yang berbeda, dan tidak sesederhana bagaimana kita menyoalkan tuntutan perempuan kulit putih yang meminta kesetaraan terhadap laki-laki di ranah hukum, sosial dan politik. Dengan kata lain, pendekatan interseksional yang diusung oleh feminis multirasial ini melihat lebih jauh dan lebih luas (beyond dominance approach), serta lebih lengkap, tentang persoalan-persoalan mendasar dari kesetaraan perempuan terkait dengan gender, kelas dan ras.

Pendekatan ini kemudian mendorong munculnya gagasan pemikiran teoritis yang terintegrasi dalam kajian kriminologi, yang mulai melihat bahwa kejahatan tidak lagi dipelajari secara mandiri dalam hal-hal tertentu (ras, gender dan kelas), melainkan saling silang (berkaitan) dan memiliki titik temu. Teori integrasi dalam kriminologi feminis mempertimbangkan seluruh aspek yang dapat memungkinkan terjadinya kejahatan, atau segala hal yang dapat terkait dengan terjadinya ketidaksetaraan dalam sistem peradilan pidana, di antaranya latar belakang sosial, lokasi (wilayah tertentu), praktek kekuasaan, kesetaraan ras, gender, kelas, serta bentuk sosialisasi dan kesempatan.

Menurut pandangan saya, pemikiran dari feminisme multirasial ini merupakan satu bentuk perkembangan pemikiran yang lebih bijak, tetapi lebih ‘nendang’. Femnisme multirasial mengusung pendekatan yang melebihi pendekatan dominan (dominance approach). Pandangan ini menjadi satu cara bagaimana perjuangan atas kesetaraan perempuan dan laki-laki itu dilakukan secara menyeluruh dalam berbagai aspek. Berbeda dengan feminisme radikal yang secara ekstrem menuntut dihilangkannya budaya dan pola pikir patriarki, feminisme multirasial lebih mengarah pada jalan tengah untuk memecahkan persoalan dengan melihat keterkaitan konteksnya.

Pendekatan interseksional dalam kajian kriminologi feminis, tentang teori yang terintegrasi itu, fokus pada bagaimana perjuangan perempuan tersebut dapat memajukan dan memperbaiki sistem keadilan sosial dengan memberi wawasan atau pemahaman atas hubungan-hubungan berbagai aspek dalam kehidupan sosial dan politik. Ini lah harapan akan arah pemikiran kriminologi feminis di masa depan (sebagaimana disebut dalam jurnal ini), yang mana kriminologi feminis mengamini feminisme multirasial. Pada titik ini, feminisme multirasial lebih mengedepankan perjuangan bersama atau gerak bersama (koalisi) dari seluruh elemen (baik perspektif yang mempersoalak ras, gender maupun kelas) dalam usaha utuk mengungkap proses-proses yang menyebabkan ketidaksetaraan dalam sistem hierarki.

__________________________________________

Artikel ini merupakan review dari Intersection of Race, Class, Gender, and Crime: Future Directions for Feminist Criminology (Amanda Burgess-Proctor; Michigan State University), disusun sebagai tugas mata kuliah Teori Kriminologi Post Modernisme dan Budaya

Author: Manshur Zikri

Penulis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s