Refleksi di Bulan Fitri…?

Sekarang daerah ini seperti kota mati. Memang, masih ada beberapa kendaraan yang melintas, tetapi tidak berseliweran seperti hari-hari biasa.

Lebih dari setahun yang lalu, Bulan Mei 2010 tepatnya, seorang mahasiswi UI menuliskan tentang cerminan diri atas kejadian-kejadian yang dialaminya dalam sehari. Mulai dari kegiatan mentoring bersama kawan sejawat hingga tugas berkeliling pasar dengan tujuan mempelajari kehidupan masyarakat untuk meningkatkan kepekaan terhadap sesama. Apa yang menarik dari tulisannya ialah tentang kata kerelaan: satu kunci bagi keterbukaan pikiran kita agar dapat mengabdikan diri menjadi ‘pelayan’ orang lain, dan dengan demikian kata pengorbanan menjadi hal yang utama. Kesejatian untuk rela berkorban lah cara yang paling ampuh untuk mendapatkan kemurnian atas kebahagiaan.

Apakah pendapat si mahasiswi jelita itu benar? Mungkin ia menjadi satu pemikiran yang baik, meskipun begitu ia tidak sepenuhnya benar, jika harus dihadapkan dengan sebuah prinsip yang terlontar dari mulut seorang mahasiswa, beberapa bulan yang lalu, “Ketika kita berusaha membuat semua orang senang, kita gagal!”

Pertentangan samar antara dua pendapat itu kemudian menghantarkan kita pada soal pilih memilih, dan tentunya, setiap pilihan membawa satu konsekuensi yang, mau tidak mau, harus dihadapi. Pada titik itu lah kita membutuhkan satu keyakinan dengan apa yang kita percaya: tidak perlu lagi sibuk dengan perang pendapat, mempersoalkan kebenaran mutlak atas sebuah argumentasi. Bahwa jaman ini adalah jaman post-modernis, semua kebenaran itu tidak mutlak, melainkan sama-sama memiliki hal yang baik dan buruk. Menengahi soal ini, mungkin ada baiknya kita mengingat kembali kata Barbara Ward dalam “Hanya Satu Bumi”, yang diingatkan kembali oleh Goenawan Mohamad dalam sebuah artikel “Catatan Pinggir”-nya, tanggal 20 Juni 1981: “Kita tak boleh mengabaikan kapasitas orang untuk tergerak oleh argumen kebaikan.”

Setiap niatan yang baik memang harus disambut dengan baik. Akan tetapi bukan berarti ia serta merta lepas dari kritik. Begitu juga adanya jika mengingat bahwa hari ini adalah bulan yang fitri. Seolah mengamini berkah Ilahi di jaman yang kontemporer, kata sebagian kalangan, terutama mereka yang menganut paham Utopian, ucapan maaf dari satu perangkat canggih dengan laju menjalar melalui jaringan elektronik dan singgah di perangkat canggih lain. Hanya menyusun satu paragraf “minal aidin wal faizin” dan satu kali klik, pesan singkat menyebar dan tersampaikan ke semua orang yang kita inginkan. Lantas kita akan kembali bertanya, adakah niat yang suci dan tulus dari kita yang melakukannya? Apakah kita telah menggunakan kunci ‘kerelaan’ untuk berkorban melakukannya? Rela menghabiskan pulsa, barangkali? Atau kita telah memilih untuk tidak mengikuti prinsip si mahasiswa, lalu berniat untuk membuat semua orang senang? Dan akan muncul semacam kemungkinan pasti bahwa pertanyaan yang seharusnya ditujukan ke diri sendiri itu justru akan terbenam oleh sebuah pertanyaan lain, “Siapa yang benar-benar meminta maaf kepada siapa?”

Kita memang tak boleh mengabaikan kapasitas orang untuk tergerak oleh argumen kebaikan. Akan tetapi boleh lah kita mempertanyakan kelalaian manusia dalam menanggapi perkembangan yang ada, tak menyadari dirinya menjadi komoditas sebuah sistem yang tidak bisa ditolelir ketidakbaikannya. Lagipula, di sebagian besar masyarakat kita saat ini, apakah menekan satu tombol di telepon seluler atau perangkat canggih lainnya membutuhkan satu kapasitas khusus tertentu? Bukannya mempertanyakan tentang kapasitas, kita malah meragukan apakah kapasitas, kerelaan, dan konflik batin untuk memilih jalan itu ada atau tidak.

Daerah ini memang telah menjadi kota mati. Silaturahmi tak lagi dilihat secara fisik, karena dia telah menjamah dunia maya yang tak terbatas. Semacam refleksi dari masyarakatnya yang, mungkin, sudah jauh dari sadar dan mawas diri terhadap kecanggihan perangkat masa kini yang bisa saja menikam tanpa pertimbangan baik-buruk sama sekali.

________________________________

Tulisan ini pernah dimuat dalam sebuah blog mahasiswa, Buklethapmas, dengan maksud untuk merespon fenomena SMS ucapan “minal aidin wal faizin” yang selalu muncul menjelang Hari Raya Idul Fitri. Tulisan ini dibuat pada tanggal 31 Agustus, 2011.

Author: Manshur Zikri

Penulis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s