sedang berhalusinasi, mungkin?

Aku sudah berbincang begitu lama denganmu meskipun kau tak tahu. Aku memiliki cara menarik tersendiri yang tidak diminati orang lain. Bahkan, aku sudah berani bilang bahwa aku lah satu-satunya orang yang mengerti bagaimana isi kepalamu itu bergerak dan berkembang. Memang, aku tidak menelusurinya lebih jauh melalui perdebatan-perdebatan yang lebih aktual dan langsung, tetapi aku percaya bahwa memaknai apa yang telah kau torehkan melalui sebuah proses semacam konflik batin itu merupakan cara yang lebih tepat untuk mengenalmu.

Seringkali, aku juga melakukan hal yang sama kepada orang lain. Aku memahami mereka bahkan tanpa melalui percakapan udara sama sekali. Aku hanya menyimak setiap aktivitas dan karakter melalui interpretasi pada tataran ide dan wacana yang muncul dari tangan-tangan mereka. Aku percaya pula bahwa apa yang tercipta dari tangan mereka itu pasti berasal dari buah pikiran yang bijak, karena hasilnya adalah suatu bentuk yang bijak pula. Pikiran itu, menurutku, berasal dari jiwa, karena ada hati yang menjadi penyeimbangnya. Selan itu, bercanda dengan abstraksi-abstraksi yang tersusun dengan rapi itu lebih menyenangkan daripada bermain-main melalui kontak mata atau suara. Ini mungkin menjadi alasan bagiku untuk memilih diam dan tidak terlalu bersikeras harus terlibat dalam sebuah interaksi ‘tanpa perantara’. Lagipula, kata yang terucap langsung dari indera wicara itu seringkali tidak melalui proses berpikir, dan juga tidak ada proses memperbaiki kembali. Oleh sebab itu, aku merasa kurang nyaman bermain-main di ranah yang seperti itu.

Aku memang tidak menuntut kau untuk mengerti meskipun sering aku menggerutu untuk meminta agar gaya berpikirku bisa dipahami. Itu hanya lampiasan kekesalan sesaat, sebagai bentuk protes dari diriku yang merasa jengah dan menyesal harus hidup di lingkungan yang tidak aku sukai. Lebih tepatnya, bukan lingkungannya yang aku benci, tetapi waktunya: sekarang ini! Namun, apa daya, sebagai anak bumi manusia yang hidup di waktu sekarang, aku memang harus berani untuk memilih kalah dan mengikuti arus. Akan tetapi secara perlahan aku tetap mencoba untuk melenceng dari apa yang aku tidak setujui ini. Mengapa harus demikian? Aku melakukannya, semata-mata, hanya untuk mengingkari diri sebagai pribadi yang terjebak di lingkungan yang membosankan. Aku berusaha membohongi diri, lantas menunjuk langit dan berucap kepada awan, “Generasiku tidak seburuk yang Kau kira!” Meskipun aku tahu bahwa ujaran sinis dari sang awan tentang generasi kita yang buruk rupa ini benar adanya.

Ada banyak tanda yang kemudian aku lemparkan, sejak aku berani mengatakan bahwa aku telah mengenalmu lebih dari siapa pun, berharap tanda ini dapat dimengerti oleh semua orang: bahwa telah muncul orang yang selama ini diramalkan sebagai pelengkap ‘ucapan terakhir’ tentang motor mesin ‘seiring-sejalan-sepaham’ itu. Aku mendengar tiga kata itu sudah lama sekali, bahkan ketika aku belum bisa memimpikan tentang keberanianku untuk membuat ‘huru-hara’ di lingkungan ini. Ayahku lah yang pertama kali mengucapkannya. “Sungguh sangat susah menemukan kepala yang seiring, sejalan dan sepaham itu,” katanya, mengomentari orang-orang yang ternyata melakukan ‘pengkhianatan-tanpa-sadar’ terhadap sosok pemuda yang menjadi kebanggaan dan harapannya, saudara sulungku. Aku, waktu itu, hanya bisa diam tak tahu apa-apa karena tidak mengerti, dan tida ada pula berkeinginan untuk mengerti tentangnya.

Lantas, ketika aku pertama kali bersentuhan dengan harapan-harapan tentang tiga kata itu, pamanku justru berujar, “Memang susah, tetapi kita pasti akan menemukannya. Suatu waktu nanti!” Dia mengucapkannya begitu indah, membangkitkan semangat, menegakkan bulu-bulu di sekujur tubuhku. Aku menjadi semangat, dan bermimpi bisa tersenyum kepada Ayah tentang kepesimisannya itu. “Ketika kita berhasil menemukan tiga kata itu pada satu pribadi yang memiliki passion, terciptalah satu budaya yang kita ada di dalamnya untuk memberikan jejak bagi perkembangan masyarakat di masa depan!” katanya lagi.

Akan tetapi, ternyata Ayahku lebih tepat dalam memprediksi sesuatu. Dia waktu itu mengucapkan, “Sungguh sangat susah…” Dan itu benar adanya. Aku merasakannya hingga ke pembuluh nadi ini. Aku harus berperang dengan apa-apa yang sudah mengakar dan dominan di setiap kepala orang. Aku seolah merasakan sedang melakukan satu usaha ‘mendirikan benang basah’ saking sulitnya menemukan tiga kata itu di kepala yang menarik dan unik. Aku sempat pasrah, mengeluh putus asa, menerima bahwa kita yang muda saat ini memang ditakdirkan untuk tidak bisa apa-apa.

Kepasrahanku itu dengan seketika ditepis oleh seseorang, dalam sebuah perbincangan langsung. Orang yang menepis kepasrahanku ini memang bukan pribadi yang memiliki mesin tiga kata itu, tetapi dia menjadi sumber tenaga untuk menggali dan memahami apa yang tidak aku pahami dalam melakukan penjelajahan dan pencarian tiga kata tersebut. Dengan demikian, aku sangat menghargainya sebagai seorang guru, sebagaimana aku sangat menghargai pamanku.

Tepisannya sangat sederhana. Dia hanya berkata, “Mungkin ada baiknya kita mengubah sudut pandang: tidak lagi melihat sesuatu itu dari sudut pandang raja-raja dan penguasa. Cobalah mulai berpikir bahwa apa yang kita lakukan ini adalah sebuah usaha untuk menciptakan titik yang benar-benar penting bagi perkembangan di masa depan. Tidak masalah ia hanya sebuah hal yang kecil, toh nantinya akan berguna karena akan menjadi anak tangga bagi si adiluhung di masa yang akan datang. Kita memberikan jalan bagi orang yang mungkin berkesempatan untuk menjdi raja di masa kita tak lagi ada.”

Penjelasannya memang tidak serta merta memiliki keterkaitan dengan apa yang sedari tadi aku bicarakan, yaitu tentang mesin tiga kata ‘seiring-sejalan-sepaham’ itu. Akan tetapi, aku yakin bahwa kau pasti dapat melihat di mana benang merahnya. Aku yang pasrah ini, mungkin memang tidak akan menemukan mesin itu. Akan tetapi aku menjadi percaya bahwa ada orang lain, di tempat lain, sedang melakukan hal yang sama. Berarti, kami sedang membuat anak tangga dengan cara yang berbeda-beda. Dengan kata lain, aku tetap bisa membangun istana masa depan itu meskipun sendiri, secara perlahan, tanpa terlalu berharap melakukannya bersama-sama dengan ‘mesin tiga kata itu’. Kita bukan sedang membangun istana, tetapi meletakkan batu batanya. Jadi, meskipun nanti aku tak ada lagi di bumi ini, dan tidak sempat bertemu dengan pribadi yang seiring-sejalan-sepaham itu, aku masih memiliki nama yang ditorehkan melalui usaha untuk mencarinya. Ketika namaku diingat karena usaha yang telah kulakukan, mimpi yang lebih jauh untuk membangun istana itu akan terwujud suatu saat nanti. Intinya, aku tidak mau lagi tenggelam dalam kegalauan karena tidak berhasil menemukan mesin untuk membangun istana itu. Aku tidak mau lagi gundah karena terhambat membangun istana gara-gara tidak menemukan mesin. Yang aku mau, aku ingin bahagia dengan usaha yang aku lakukan apa adanya.

Begitulah, kemudian mengapa aku mengasah kemampuan untuk mengenali orang tanpa berbicara langsung, melainkan dengan melihat apa yang mereka buat. Ini juga satu usaha untuk tetap mengharapkan bahwa aku akan menemukan ‘mesin tiga kata’ itu sembari terus berjalan. Sudah lama aku lakukan, bahkan sebelum kau ada di lingkungan ini. Seperti yang aku katakan tadi: sulit!

Akan tetapi mengapa aku tiba-tiba merasa menjadi mudah ketika bercengkrama dengan torehan-torehan tanganmu? Padahal aku paham sekali, tanpa bermaksud meninggikan diri sendiri, bahwa buah karya tanganmu itu sungguh jauh berada di bawah kualitasnya dibanding dengan apa yang sering aku hasilkan atau aku pelajari. Namun, mengapa aku merasakan semangat dan gejolak untuk mengatakan pada diri sendiri, “Terlepas benar atau tidak, karakter orang ini sangat mendekati karakter tiga mesin itu!”

Mungkin ini lah yang dimaksudkan oleh Bibiku pada satu waktu di masa yang tak begitu jauh berlalu. “Seseorang akan terlihat cerdas, dan memang sekaligus menjadi bukti bahwa dia cerdas, ketika dia berbicara tentang hal yang ia mengerti sekali. Kita tidak bisa begitu saja menjustifikasi dan bersikap sinis ketika mereka melakukan hal yang sungguh jauh berbeda denga apa yang kita yakini benar selama ini. Ketika mereka berbicara satu hal yang dangkal, biasa, dan sederhana, tetapi jika mereka benar-benar memahaminya, dia akan menjadi sesuatu yang menarik untuk dilihat,” ujar Bibiku. Aku lantas mulai berpikir lagi, mengapa aku senang sekali dengan sesuatu yang begitu rumit ketika ada cara yang bisa dilakukan untuk tidak rumit. Aku memahaminya ketika telah mengenalmu.

Berkaitan dengan hal ini, mungkin ada baiknya aku mengingat kembali kata Barbara Ward dalam “Hanya Satu Bumi”, pernah dikutip oleh Goenawan Mohamad dalam sebuah artikel “Catatan Pinggir”, pada tanggal 20 Juni 1981, yang sempat aku kutip pula di tulisan lain, dan kini aku kutip sekali lagi: “Kita tak boleh mengabaikan kapasitas orang untuk tergerak oleh argumen kebaikan.” Dan kenyataannya, aku memang harus mengikuti kata-kata itu karena argumen kebaikan justru menggembirakan. Aku melihatnya ketika mengenalmu.

Akan tetapi, secara tiba-tiba, beberapa menit yang lalu, aku menjadi ragu kembali. Apakah aku hanya sedang bercakap-cakap dengan halusinasi yang dimuculkan dari dunia supra-antropolis yang sangat ilusif ini? Apakah aku sedang terlarut dalam dramatisasi harapan-harapan yang tak dapat terjelaskan? Mungkin, ini bentuk lain dari kepasrahan yang sedang aku aminkan. Mungkin saja, kau yang sedari tadi aku sebut-sebut dalam uraian lewat tengah mala ini, adalah sesuatu yang tidak ada sama sekali. Sayang, jika memang demikian kenyataannya, maka sungguh sangat disayang.

Lenteng Agung, 23 Maret 2012, dini hari.

Author: Manshur Zikri

Penulis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s