sembilan ratus delapan puluh dua

Terkadang, cara menilai seperti ini dianggap arogan, terlalu banyak menuntut, dan seringkali, dilihat sebagai satu kebiasaan yang tidak baik.

Aku memang terjebak di dalam angan-angan yang menuntut kehidupan yang dinamis. Paling tidak, aku—yang sekarang mulai belajar kembali untuk menyimak yang sebelumnya jarang sekali menarik perhatian—tidak ingin memiliki isi kepala yang statis. Untuk menghindari hal itu, tidak ada kata lain untuk berdebat dengan lingkungan sekitar, yang biasanya, sulit untuk menerima jalan pikiran dari orang-orang yang memang memiliki jalan lain dari apa yang sudah ada.

Rasanya, aku perlu memberi penjelasan di sini—dan kalau aku tidak salah ingat, penjelasan ini sudah berkali-kali diulang. Aku tidak berada di jalan yang dianggap berbeda itu. Aku justru berada di arah yang memang seharusnya dilalui untuk beranjak dari titik ke-statis-an ini. Aku yakin akan hal itu. Namun, serta merta mengatakan orang lain berada di jalan yang salah, tentunya, bukan lah sikap yang berbudi. Mungkin letak persoalannya adalah setiap orang memiliki jalan yang benar yang mereka yakini, sebagaimana aku menyakini diri sendiri. Lantas, ketidakterimaan akan kenyataan tentang lingkungan tempat aku bernaung sekarang memang harus dipikirkan ulang untuk menemukan jawabannya.

Aku sudah menduga-duga, pasti membutuhkan waktu yang sangat lama untuk merombak lagi apa yang sedang terjadi dan melihat titik pangkal persoalannya. Aku harus melakukan penyocokkan dari masing-masing unsur dan menemukan benang merahnya. Itu membutuhkan tenaga yang luar biasa besarnya. Meskipun kegiatan mencari benang merah ini bukan merupakan kegiatan ‘mendirikan benang basah’. Apa yang kemudian membuat aku tak berniat untuk menggali lagi si masalah itu agar mendapatkan jawaban, ialah karena sebenarnya aku sudah menemukan jawabannya sendiri. Dan hal ini memang satu keadaan yang nyata untuk dihadapi. Namun, melemparkan jawaban ini sebagai pancingan untuk menyadarkan pihak yang berada di luar kepalaku sama dengan memberikan pancingan boomerang untuk menyerang balik. Jawaban yang aku miliki adalah sebuah argumentasi yang gampang dipatahkan, aku tahu sekali hal itu sama halnya aku tahu matahari selalu akan terbit dari arah Timur sebelum kaiamat datang. Oleh sebab itu, berkali-kali aku mengalah—dengan tetap menyisakan satu pandangan mata dan ekspresi wajah yang menegaskan bahwa aku masih tidak setuju, meskipun harus mengikuti arus (sehingga aku, sedikit demi sedikit, mulai berbeda dari hal yang aku anggap statis itu).

Aku percaya, bahwa kita semua memiliki cara masing-masing. Namun, yang aku persoalkan adalah, di titik yang membuat aku gila sepanjang hari ini, aku belum melihat gelombang aktifnya. Aku masih percaya gelombang yang aku maksud suatu saat pasti akan hidup. Kapan? Itu pertanyaannya. Nah, di sini aku mengakui bahwa ada faktor ego yang memaksa raga untuk melakukan protes: aku ingin melihat gelombang itu selagi aku masih berada di lingkungan yang statis tersebut.

Sebenarnya, aku sudah banyak melihat di tempat lain: ada gelombang-gelombang aktif yang lebih mengagumkan, yang dapat menjadi sumber daya hidup yang aku butuhkan untuk menelan kedinamisan. Akan tetapi entah mengapa aku begitu terobsesi untuk melihat gelombang aktif itu di tempat aku terduduk-keluh sekarang. Aku mulai menduga-duga lagi, mungkin ini dipengaruhi oleh faktor ekspektasi berlebih yang sempat bersemayam di kepalaku sekitar tiga tahun yang lalu. Bukan hanya aku yang mengalaminya, ada banyak. Dan banyak dari mereka yang mengalaminya harus terbentur dengan tembok kultur yang sulit untuk ditaklukkan, dan lantas mereka menyerah dan memilih untuk benar-benar mencari jalan yang berbeda sama sekali—bahkan dengan resiko mereka dikucilkan. Bedanya denganku adalah aku tidak berselera untuk mengucilkan diri. Bukan karena aku takut menjadi sendiri, tetapi aku takut kehilangan kesempatan untuk melihat gelombang aktif yang menjadi mimipi itu, atau kalimat yang lebih tepat adalah ‘aku takut kehilangan kesempatan untuk meletakkan titik loncatan yang bisa digunakan untuk mengaktifkan gelombang tersebut di masa depan’.

Padahal, persoalan ini sungguh sangat sederhana untuk dijawab. Aku cukup menyamakan nada saja: aku merendahkan nada, atau sebaliknya nada-nada yang lain lah yang harus dinaikkan agar seimbang. Ketika nada-nada itu seimbang, katup pintu tembok penghalang sinyal akan terbuka, dan serta merta gelombangnya akan menjadi aktif. Maka dinamis lah ia. Aku bahkan hanya butuh satu saja nada yang sama. Aku yakin, ketika ada dua nada yang sama, itu sudah cukup untuk menjadi kekuatan untuk membuka katup. Persoalannya lagi, hingga sekarang aku belum lagi menemukan nada yang kumaksud.

Kalau dilihat lebih jeli, sebenarnya nada yang sama itu sudah ada. Hanya saja, aku yang kurang cepat tanggap untuk menghampiri nada itu. Atau, sebenarnya nada-nada yang lain sudah mulai menaik, dan mulai menunjukkan dayanya untuk membuka katup. Mereka bergerak dengan beriringan, dengan demikian dalam tingakatan nada yang selalu sama, dan ketika terus menaik, sesungguhnya kekuatan mereka semakin meningkat pula. Letak kegelisahannya, tanpa bermaksud untuk terus menyanjung diri sendiri, nadaku tak mau pula bersabar untuk menunggu nada lain menjadi matang. Nadaku terus saja berhasrat untuk meninggi, meninggi, dan meninggi terus, sehingga aku semakin frustasi karena harus memikul nada yang sudah begitu tinggi itu sendiri—konteksnya dalam lingkungan yang sedang aku bicarakan ini. Kalau aku mau, untuk mengurangi beban, aku bisa saja beranjak dari tempat itu dan pergi ke tempat lain yang sudah memiliki tingkatan nada yang sama, atau bahkan lebih. Beban ku pasti berkurang. Lagi pula, ada banyak tempat yang gelombangnya sudah aktif sedari dulu.

Akan tetapi, aku ingin sekali melihat gelombang aktif di situ, di tempat itu.

Tidak lama, aku baru menyadari bahwa ada satu nada yang, mungkin, ini baru mungkin, sama. Aku mulai mempelajarinya. Semoga saja nada ini benar-benar nada yang aku harapkan bisa diajak beriak-riak bersama untuk mulai membuka katup. Syarat nada itu cuma satu: kemampuan untuk menyampaikan apa yang ingin disampaikan dencan cara yang dimampui secara jujur. Ya, walaupun cara yang berbeda akan memberikan daya yang berbeda pula. Akan tetapi, bukan kah di lingkungan itu—ini juga yang menjadi penguat faktor mengapa aku menginginkan sekalai bahwa tempat itu harus memiliki gelombang yang aktif—nada yang paling adiluhung memang harus membudaya? Namun mengapa yang terjadi adalah sebaliknya? Kalau memang tidak sebaliknya, mengapa begitu lamban dan tidak taktis nadanya? Ah, ya, Salam!

Oleh karena itu, aku benar-benar berhadap pada nada yang baru saja aku temui itu. Semoga, semoga, semoga, nada itu adalah yang aku maksud sedari dulu.

Advertisements

Author: Manshur Zikri

Penulis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s