manifesto aku #1

ketika kulepas lelah tadi kubercinta dengan nabi masa kini

tanyaku pun ternyata luput tercari

tentang figur pemula sesuatu berarti

sedang aku dan sejawatku belum lagi hiasi jemari

tapi tawa kami ingatkan apa yang hakiki

“terkadang kita tak perlu melihat dari yang penguasa,” katanya

“kurela pundakku dipijak untuk dakian sang adiluhung di masa depan,” menurut Brecht, katanya

“di akhirat, aku akan melontar kata ‘di situ ada titikku!” kukata

 

kepala barisan ini kutulis dengan gamblang

kuserah tanpa taksa untuk pasrah

 

kan tafsir tak menuntut dinyata

dan arti tak harus sama

siapa larang kita bisa mengarang

masa depan di mimpi manusia

 

merah, si siang, kuhentikan dengan surat rahasia penuh pengakuan

kuning, si malam, kuabaikan dengan surat penuh keangkuhan

raga dan nafas indah menggetarkan kubuang dengan surat penuh kesadaran

yang lebih lalu, yang lebih lalu, kurelakan dengan surat tanpa dikirimkan

 

aku sedang bersenggama dengan ketidakterimaan

dan aku belum mencapai orgasme

toh, kepasrahan lebih gairahkan nafsu, sekarang

yang mampu tegaskan keberadaan

membuka gerbang keaktualan

ke sana lah aku, memutuskan, akan berjalan

hingga temu titik keseimbangan

bak carut marut barat hadapi benua kulit kuning

dengan diri ini lah, satu-satunya, kita bisa berunding.

Author: Manshur Zikri

Penulis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s