yang di lorong rahasia… pasti mengerti catatan ini. Tapi mengerti belum tentu bisa menjawab, bukan?

Ini konyol. Saya sudah melarang diri saya sendiri untuk tidak mengutarakan itu dan ini jauh sebelum semuanya terjadi. Akan tetapi saya sudah terlanjur gila belakangan ini. Dan ombak kemuakan memaksa saya (dan ini menjadi kalimat cuci tangan yang selalu saya gunakan untuk membohongi diri bahwa saya memang gila). Padahal, waktu itu saya dengan sombongnya mengatakan bahwa kegilaan saya hanya platonis belaka. Toh ternyata tidak. Dalam posisi ketidaknyamanan hati, saya masih berharap dengan sangat obat kegilaan itu menghampiri saya entah kapan dan di mana.

Satu hari saya berkata bahwa saya bersuara bukan untuk didengar, saya menulis bukan untuk dibaca, saya bertindak bukan untuk dilihat. Sekarang, mau tidak mau, saya harus mengaku bahwa ternyata saya tidak se-idealis itu untuk satu hal yang menyebabkan kegilaan saya semakin menjadi-jadi. Lantas akhirnya saya menyadari bahwa saya ingin sekali didengar, ingin sekali dibaca, ingin sekali dilihat; ingin sekali diperhatikan dan dijawab.

Saya bahkan tidak bisa menyalahkan waktu dan lingkungan yang tidak bersahabat. Saya juga tidak bisa menyalahkan pagi-siang yang selalu muncul setelah malam, karena bukan urusannya untuk menanggapi keluhan saya jika memang saya tidak penting dalam aktivitas rotasinya setiap hari. Saya patut mempertanyakan, “Apa pentingnya kehadiran saya di tengah-tengah kehidupan siang hari?” Bahkan saya tidak lagi berani untuk menyapa mentari karena terlalu menyilaukan mata, dan kehangatan pancarannya justru membuat saya gugup (jantung berdetak cepat). Namun, melihatnya dari balik awan juga membuat hati tersayat-sayat karena sadar bahwa betapa bodohnya saya yang tidak berani memanggil dan tidak piawai menciptakan keteduhan dan kesejukan untuk sang hari.

Akan tetapi saya selalu duduk lama di depan jendela, yang menghadap ke dunia yang tiada bentuk itu, setiap malam. Saya duduk begitu lama. Karena berpikir di malam hari, siang tentunya tidak mengetahui. Ketika malam pergi, saya kembali menjadi manusia normal yang tidak gila sama sekali, padahal itu hanyalah pribadi buatan yang menjadi topeng penyelamat citra diri. Sungguh memalukan. Saya hanya berani mengucapkan kata, “Hoi!” kepada pagi, tidak lebih. Bahkan saya cepat-cepat berlalu meninggalkan pagi, juga siang, dengan berlari di jalur kesibukan yang tidak seorang pun di lingkungan saya meminatinya.

Satu hari yang lain saya mengeluh di tempat yang saya yakin tidak akan disinari (karena saya berasumsi kuat bahwa mentari tidak akan mau repot-repot memberikan sinar di tempat yang tidak menarik hatinya). Dan hal itu masih menjadi salah satu keyakinan saya. Sebab, dia kurang tertarik (dan sulit untuk suka) kepada pribadi yang terlalu bersikap berlebihan. Sesuai sifatnya, mentari itu cuek bebek, menjalani aktivitas apa adanya, menyinari tanpa banyak basa-basi. Tapi itu justru yang membuat saya menjadi gila; sang matahari itu begitu menarik perhatian saya karena ada banyak tanda-tanda yang memberikan keterangan bahwa saya akan menemukan titik atau pola keseimbangan. Ya, ini lah soalnya mengapa saya menjadi gila: saya sudah seperti anjing gila yang menggigil jika terkena sinar mentari.

Tapi ternyata, mentari memang ada di mana-mana sinarnya di waktu dia memang harus bersinar, sehingga dia menjamah semuanya. Selain itu, tali-temali lingkungan juga menyebabkan demikian, bahwa apa saja yang pernah terukir pasti akan muncul ke permukaan dan suatu saat akan mendapat perhatian pagi-siang (mentari) walau hanya sejurus.

Ingin saya tak lagi sibuk ketakutan (tetapi ingin) untuk becengkrama dengan pagi-siang yang nyaman itu. Saya hanya ingin celotehan saya dijawab oleh sebuah sinar yang mengabarkan bahwa gila saya akan berkurang. Dalam hal ini, gila itu berkurang bukan karena pagi-siang mengurangi sinarnya, bukan! Justru saya berharap sinarnya semakin banyak dan mulai menyinari saya agar saya merasa nyaman dan mendapat jawaban yang saya harapkan.

Tapi kembali lagi, mungkin ini hanya khayalan. Jikalau tadi saya katakan bahwa kegilaan ini hanya platonis, saya mulai berpikir bahwa harapan ini hanya mimpi. Menyedihkan, sungguh sangat menyedihkan berada di antara harap-harap yang sepertinya tak akan terjawab.

Author: Manshur Zikri

Penulis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s