arogan dalam lima paragraf (otokritik 10)

Tinggal setengah batang terakhir rokok tersisa, aku belum juga bertemu dengan jawaban. Menyimak dialog yang terpampang di depan mata dari narasi bodoh yang melenakan itu justru menyulut emosi yang tidak bisa ditahan lebih lama. Lantas aku bertanya kepada diri sendiri, “Mengapa ini bisa terjadi?” Aku tidak mau serta merta mengucapkan kalimat pesimis, “Nyatanya tidak semua pertanyaan bisa aku jawab!” untuk menanggapi pertanyaan yang ditujukan ke diri sendiri ini. Bagaimana pun aku harus menemukan jawabannya, meskipun nantinya apa yang aku dapat merupakan sesuatu yang menyimpang begitu  jauh dari pengharapan-pengharapan yang direncanakan.

Ini memang soal yang membingungkan, padahal pilihan hanya ada dua: ambil atau buang saja. Benar-benar buah simalakama. Setiap pilihan menghantarkan aku kepada satu kerugian pasti sementara keuntungan yang mungkin ada itu tertimpa bayang-bayang yang tak bisa dijabarkan. Bagaimana tidak akan meledak kepala ini kalau memang harus berhadapan dengan keadaan yang tidak bisa diterima oleh akal sehat?

Kendalanya adalah, mungkin, usaha-usaha yang aku lakukan diinterpretasikan salah hanya karena serbuan-serbuan itu sedikit mengusik ruang yang sudah lama bernaung di bawah tradisi. Padahal, tradisi ini belum berumur sangat tua — aku tidak berani memastikan berapa umurnya, yang pasti memang belum lama — dan mengapa dia harus menjadi penghalang pertemuanku dengan satu hal yang dinamis? Bukankah aku sekarang berdiri di antara cakupan yang seharusnya dinamis? Akan tetapi dia begitu statis, seperti yang aku lihat saat ini.

Harapanku cuma satu: terlepas dari kebosanan dan kemonotan ini. Itu saja, tidak lebih. Namun mengapa begitu banyak tembok yang harus aku panjat? Padahal semut-semut itu sudah aku berantas dengan keganasan yang aku punya. Tak perlu lah kita berbicara soal telur-telur yang terus menghantui, karena pada dasarnya, kita semua adalah telur. Terutama kita yang hidup di jaman sekarang, kita telur yang terus dieram, tapi tak pernah menetas. Atau mungkin kita memang pantas dibilang sebagai ternak, karena memfungsikan hidup untuk berternak diri.

Ah, benar juga kata hati kecilku itu, “Teriakkan saja lah walau tak akan pernah didengar dan dimengerti!” Pada kenyataannya, hati dan pikiranku hanya tertambat pada satu titik, yang oleh hampir semua orang di lingkungan kuning itu disalahmaknakan. Aku merindukan pelukan dan belaian, bukan dari si jelita yang sering aku umbar-umbar kecantikannya dalam kata dengan curhatan, tetapi dari gejolak gerak yang tiada akan pernah berhenti. Bahwa orang lain mengatakan aku adalah pribadi yang berbeda, aku akan kembali ke pemikiran semula: meniti utopia tanpa gangguan obsesi durjana. Sebagai penutup, aku katakan, sedari awal aku sudah menduga catatan ini, lagi-lagi, akan salah diinterpretasikan. Karena memang aku memiliki cara yang beda dalam membangun utopia sosialita.

Manshur Zikri, 17 Oktober 2011

Author: Manshur Zikri

Penulis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s