“Itu masjid bikinan Gus Dur!”

image-upload-21-741062.jpg2

Itu lah kalimat yang dilontarkan oleh saudaraku, Fauzan, ketika pertama kalinya aku menginjakkan kaki di Kukusan, Beji, Kota Depok, dan terpesona dengan masjid besar (besar di antara masjid-masjid lainnya di Jalan H. Amat, Kukusan Teknik) lebih dari dua tahun yang lalu.

Masjid itu terletak tepat di sebelah kosan tempat aku tinggal sekarang, kosan yang dikelola oleh Pak Taeng. Namanya adalah Masjid Al-Hikam, dan telah diresmikan sebagai masjid Pondok Pesantren Al-Hikam II pada Bulan Juli, 2009, oleh Wakil Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Tholchah Hasan, yang juga dihadiri oleh beberapa tokoh NU, seperti KH Muchit Muzadi, KH Ma’ruf Amin, Wali Kota Depok saat itu (yang menjabat lagi pada periode sekarang), Nur Mahmudi Ismail, dan raja dangdut, Rhoma Irama.

Kata KH Hasyim Muzadi, seperti yang aku kutip dari www.nu.or.id, tertanggal 17 Juli 2009, pembangunan masjid dan pesantren Al-Hikam II ini merupakan kelanjutan dari Al-Hikam I yang berada di Malang Jawa Timur.

Sampai sekarang, beberapa fasilitas pesantren itu masih dalam tahap pembangunan, terutama untuk bangunan asrama pesantren mahasiswa, asrama ustadz, dan gedung Kulliyatul Qur’an.

Sungguh menyenangkan, karena masjid terbesar di dekat lingkungan kosan berada di sebelah kosanku. Tidak perlu berjalan jauh, hanya melewati gang kecil yang terselip di jejeran kamar kosan, aku sudah bisa menjangkau si masjid beserta lapangannya yang sering dimanfaatkan oleh anak-anak muda di lingkungan itu untuk bermain bola setiap sore.

Aku tak tahu, apakah benar dia dibangun oleh si Gus Dur, tokoh multikulturalisme Indonesia itu, tetapi yang pasti dia memang milik NU. Dari kabar yang aku dengar, pesantren ini nantinya akan dijadikan sebagai Islamic Centre di lingkungan Universitas Indonesia, tempat para mahasiswa belajar tentang agama Islam secara mendalam, di Depok.

Saat ini aku sudah menjalani semester ke-5. Si Masjid masih dalam pembangunan saja. Akan kah aku bisa merasakan sensasi institusi Islamic Centre itu? Nyatanya, di sela-sela pembangunan, aktivitas para santri terus berjalan. Aku sering melihat mereka mengaji dan berdiskusi di masjid, terutama seusai sholat subuh.

Author: Manshur Zikri

Penulis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s