Jumat Ceria

Kantin Taman Korea (TAKOR) FISIP UI
Kantin Taman Korea (TAKOR) FISIP UI

Di sudut-sudut kantin di bawah cahaya redup, para muda-mudi duduk beramai-ramai. Ditemani minuman alkohol, kopi dan rokok, beberapa orang bercanda tawa, bermain gitar dan bernyanyi bersama-sama di sela-sela permainan judi kartu di hampir setiap meja kantin. Para pegawai kantin pun tetap mondar-mandir membawa nampan berisi makanan dan minuman, seperti nasi goreng dan es teh manis. Satu pemandangan yang biasa di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Universitas Indonesia (UI). Kuliah selama seminggu yang memberatkan ‘dibayar’ lunas dalam satu malam.

Selepas maghrib, kantin kampus yang bernama Takor tetap ramai oleh mahasiswa dan dosen serta pegawai fakultas, terutama Jum’at malam. Bukan hanya mampir untuk makan, kegiatan nongkrong juga menjadi satu rutinitas wajib bagi mereka yang menganggap Takor sebagai rumah ke dua. Kegiatan nongkrong hingga pagi hari, di akhir minggu itu, dikenal sebagai Jumat Ceria (Jumcer).

“Kalau gak ada Jumcer, gak asik!” ujar Bagas (19), salah seorang mahasiswa tahun ketiga, Jurusan Kriminologi. Dia merupakan salah satu dari sekian banyak mahasiswa yang rutin nongkrong  di Takor, hampir setiap malam. Bersama teman-temannya yang lain di kampus, Bagas menghabiskan waktu malam hari dengan mengobrol, duduk bersantai, terkadang bermain kartu remi, hingga larut malam. Obrolannya bermacam-macam, mulai dari tugas kuliah hingga obrolan tak jelas. “Kalau gak ada Jumcer, kampus terasa sepi, hidup jadi tidak bergairah,” ujarnya lagi.

Namun sayangnya, kegiatan ini sering mendapat keluhan dari berbagai pihak karena kebiasaan-kebiasaan para mahasiswa dan dosen yang melakukan hal-hal yang dianggap tidak baik dari sudut pandang norma masyarakat, seperti minum minuman beralkohol dan bermain judi. Sebagian besar dari mereka yang tidak setuju dengan kegiatan Jumcer memiliki alasan bahwa merupakan satu hal yang tidak etis ketika lingkungan institusi pendidikan sekaliber UI diwarnai oleh pesta mabuk dan perjudian.

“Bagaimana pun, kegiatan mabuk-mabukan dan judi adalah pelanggaran hukum,” kata Affin (20), mahasiswa Jurusan Kriminologi. Begitu juga dengan Reza (20), mahasiswa Jurusan Politik. “Sebagai calon intelektual muda, sudah seharusnya kita memberikan contoh yang baik kepada masyarakat, atau khususnya kepada adik-adik mahasiswa baru yang baru masuk kuliah,” ujarnya.

Pada dasarnya, Jumcer memang hanyalah kegiatan tongkrongan, yang tidak lepas dari kultur anak muda yang memang memiliki hobi nongkrong. Bagi sebagian besar mahasiswa FISIP, Jumcer sudah menjadi ‘malam minggu’ ke dua di kampus, karena esok harinya adalah hari libur kuliah. Para mahasiswa yang hobi nongkrong menganggap bahwa tindakan mereka masih berada pada taraf yang wajar, tidak mengganggu. Menurut mereka, obrolan akan terasa hambar ketika tidak ada ‘pemicu’. Oleh sebab itu, dengan bermodalkan goceng, masing-masing orang patungan mengumpulkan uang hingga cukup untuk membeli dua tiga botol bir atau ciu. Jika sedang kaya, terkadang ditambah dengan satu botol mansion.

Permainan judi pun menjadi langganan pengisi kekosongan dalam kegiatan nongkrong. Uang hasil kemenangan judi biasanya akan dinikmati bersama-sama, biasanya untuk membeli minuman alkohol lagi. “Kalau gue mah, judi kartu ya buat iseng-iseng doang,” kata Kaspo (20), mahasiswa FISIP yang enggan disebutkan nama dan jurusannya. “biar lebih akrab dengan orang-orang. Gak mikir menang kalahnya, duitnya aja muter-muter doang, buat kita-kita juga.”

Kegiatan Jumcer, di satu sisi, juga memberi keuntungan kepada para pegawai kantin. “Alhamdulillah, karena anak-anak nongkrong sampe malam, dagangan jadi laku dan habis hingga malam hari. Lumayan uangnya bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari,” ujar Mang Ari (50), pedagang nasi alo dan es teh di Takor. Ketika ditanyai tentang kebiasaan mahasiswa yang dianggap tidak baik itu , Mang Ari hanya berujar bahwa hal itu sudah biasa di kalangan mahasiswa, terutama mahasiswa FISIP. “Sudah sejak dulu, ketika saya masih bekerja di sini, waktu itu Takor namanya masih Balsem (belakang semak),” katanya. “Kalau bagi saya tidak masalah, selama mereka tidak mengganggu orang-orang lain yang tidak ikut-ikutan.”

Pendapat yang cukup objektif, keluar dari mulut Drajat (20), seorang mahasiswa Jurusan Kriminologi, yang juga aktif menjadi jurnalis Suara Mahasiswa UI. “Kebanyakan mengapa anak-anak biasa nongkrong lama-lama di FISIP itu karena fenomena mahasiswa luar yang gak tahu apa-apa, melihat suatu budaya yang ada,” jelasnya. “Atas dasar pemahaman sendiri, perantauan, dan tak tahu dengan siapa lagi harus bergaul, lalu menyesuaikan diri dan terjadilah transmisi budaya. Namun beberapa juga memang lanjutan dari penyimpangan di kala SMA.”

Dalam perkembangannya, masalah penyimpangan norma dan hukum bukan lagi jadi soal, tetapi lebih kepada bagaimana menjaga nilai-nilai kebersamaan yang tumbuh di lingkungan anak-anak FISIP. Kegiatan Jumcer pun bukan lagi hanya sekadar kegiatan nongkrong tak berarti, tetapi melalui kegiatan duduk bersama itu, ide-ide kreatif muncul untuk mewujudkan kegiatan-kegiatan positif di bidang seni budaya dan olahraga. Kenyataannya, banyak dari mereka yang biasa menghabiskan waktu pada saat Jumcer merupakan orang-orang yang masuk dalam kepengurusan lembaga mahasiswa semacam Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dan Badan Perwakilan Mahasiswa (BPM). Melalui tongkrongan pula, obrolan-obrolan tentang isu sosial mengalir di sana, terlebih diskusi antara mahasiswa dan dosen yang duduk di meja yang sama.

Bukan masalah, walau sedikit mabuk dan stress ketika kalah bermain judi, selama ide terus berkembang dan tetap produktif menghasilkan sesuatu yang berarti bagi masyakat. “Penyimpangan itu sebenarnya hanya menjadi hiburan dan pelengkap, tujuan sebenarnya adalah rasa sayang, kebersamaan dan transmisi segala ilmu dari orang lain,” ujar Drajat.

_____________________________________________________________________________

Artikel ini merupakan arsip kuliah, dibuat sebagai tugas tulisan dalam mata kuliah Berita dan Cerita Kejahatan.

Author: Manshur Zikri

Penulis

2 thoughts on “Jumat Ceria”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s