WARNASTEK

Untitled

Saya punya cerita tentang sebuah warteg. Dan ada baiknya awal tulisan ini dimulai dengan membahas sebuah isu yang sempat hangat di kalangan mahasiswa kurang lebih sepuluh bulan yang lalu.

Awal Desember 2010 lalu, tiba-tiba teman-teman di kampus saya heboh dengan berita di media yang mengabarkan bahwa Pemerintah Provinsi DKI Jakarta akan membebankan pajak kepada pengusaha warung makan yang memiliki omset mencapai Rp 60 juta per tahun. “Masyarakat Jakarta yang terbiasa makan di warteg pun dibuat terkaget-kaget. “ begitulah kutipan berita yang dimuat di salah satu media online.

Lu bayangin aja, kalau diitung-itung, 60 juta pertahun itu dibagi 12 sama dengan 5 juta perbulannya. Nah, kalau dibagi tiga puluh, lebih kurang hasilnya 170 ribuan,” gerutu Bagas, salah seorang teman saya di kampus, yang saat itu sedang membaca salah satu surat kabar yang membahas isu tersebut. “Itu kan hasil rata-rata setiap warung makan, apalagi warteg?”

Waduh, nasib gue bisa terancam nih, orang warteg jadi langganan tempat makan gue sehari-hari!” saya menimpali.

Berbagai tanggapan muncul di masyarakat, ada yang setuju, ada yang tidak. Di salah satu mediaonline yang saya baca, bahkan ada ibu-ibu yang mendukung rencana kebijakan tersebut dengan alasan yang sangat sederhana, yaitu karena dia tidak suka pergi ke warteg untuk membeli lauk. Nah, lho!? Saya tertawa sendiri saat membaca artikel tersebut. Media lain juga mengabarkan bahwa pihak yang paling gencar memprotes rencana kebijakan yang akan diberlakukan 1 Januari 2011 itu adalah mereka yang aktif sebagai pengusaha rumah makan. Dan di lingkungan saya, pihak yang paling tidak setuju dengan rencana kebijakan itu adalah para mahasiswa, terutama yang tinggal di kos-kosan, dan yang paling utama adalah saya.

“Mahasiswa jadi korban kebijakan, Men! Bagaimana mau maju negara kita kalau calon pemimpin bangsanya disiksa kaya gini? Uang kuliah udah mahal bangeteh, masalah perut juga diganggu!” umpat teman saya yang lain sambil bercanda.

Akan tetapi, ternyata nasib warteg-warteg di Jakarta ini masih selamat dari pajak warteg. Karena berdasarkan perkembangan berita di media, pajak untuk warteg masih belum diberlakukan di tahun 2011 ini. Katanya, si Foke (sapaan akrab Fauzi Bowo, Gubernur DKI Jakarta) menunda untuk menandatangani kebijakan pajak daerah yang berkaitan dengan warteg tersebut. Namun, kita masih tidak tahu sampai kapan penundaannya. Sampai sekarang ini, saya tidak pernah lagi mendengar kabar tentang perkembangan tentang rencana pajak itu. Saya sendiri sih, berharap supaya kebijakan kenaikan pajak warteg itu bukan hanya ditunda, tetapi dihapuskan, agar masyarakat, terutama para pedagang warteg dan mahasiswa, dapat hidup tenang.

Nah, itu adalah salah satu cerita yang muncul dari ruang-ruang masyarakat menengah ke bawah, salah satu tempat berlangsungnya roda perekonomian masyarakat, yang juga tidak lepas dari pengaruh pemerintah dan negara. Warug Tegal, tempat makan murah meriah yang tidak bisa dilepaskan dari kehidupan masyarakat menengah ke bawah, dan tentunya, juga dari mahasiswa.

Warteg menjadi tempat yang paling sering dikunjungi oleh para mahasiswa. Apalagi di daerah tempat saya tinggal sekarang ini, Kukusan Teknik, Beji, Depok, di Jalan H. Amat, ada banyak warteg dan warung makan yang berjejeran, mulai dari depan gerbang Kutek, Universitas Indonesia, sampai ke gang-gang tempat rumah kos-kosan berdiri. Bagi saya sendiri, warteg adalah salah satu tempat yang paling sering saya kunjungi: tiga kali sehari. Dan ada banyak cerita mahasiswa di sana, di warteg, tempat para mahasiswa melepas lelah sejenak dan mengisi perut sambil memperbincangkan aktivitas-aktivitas kampus atau tugas-tugas kuliah. Di Kukusan Teknik, warteg yang menjadi langganan saya adalah WARNASTEK, singkatan dari Warung Nasi Kutek. Saya sendiri tidak tahu kenapa namanya menjadi ‘warnastek’, apakah itu sekedar singkatan dari ‘warung nasi kutek’ atau ada makna lain, saya pun tidak tahu. Mungkin ini kebiasaan dari orang-orang Jakarta yang suka menyingkat dua tiga kata menjadi satu kata, seperti misalnya daerah Kukusan Teknik menjadi KUTEK, Kukusan Kelurahan menjadi KUKEL, daerah Belakang Rel menjadi BAREL, dan sebagainya.

Alasan pertama mahasiswa menyenangi warteg, berdasarkan pengalaman saya, adalah karena harganya yang murah. Kalau misalnya ada yang bertanya, “Enaknya makan di mana nih?” pasti ada yang menjawab, “Kalau kata kantong gue sih, yang paling enak, ya warteg lah!” Jawaban itu sangat tepat, dan saya rasa seluruh mahasiswa yang ada di Indonesia, yang terbiasa dengan kantong tipis, akan setuju dengan jawaban tersebut. Nah, landasan argumen saya menjadikan WARNASTEK sebagai langganan adalah karena dia adalah warteg yang paling murah di antara warteg yang lain. Eits, ini bukan promosi, tetapi ini fakta, dan ini adalah cerita yang benar adanya. Kesimpulan yang saya dapatkan ini adalah berdasarkan hasil hitung-hitungan yang saya lakukan dengan mengandalkan bakat dari nenek moyang, orang Padang asli.

WARNASTEK terletak di dekat kosan saya tinggal, di Jl. H. Amat, Kukusan Teknik. Warteg ini sesungguhnya saling berhadapan dengan warteg yang lain bernama Warteg Shinta. Namun, saya lebih sering makan di WARNASTEK karena memang sudah sering makan di sana sejak awal kuliah sehingga rasa makanannya sudah nyaman di lidah saya. Antara WARNASTEK dan Warteg Shinta, warteg ini sama-sama ramai dikunjungi oleh para pelanggan, terutama mahasiswa. Oleh karena itu tidak ada salahnya saya mengeluarkan statement bahwa warteg adalah bagian dari hidup mahasiswa.

WARNASTEK biasanya paling ramai dikunjungi pelanggan ketika siang hari, apalagi hari Jumat. Warteg itu akan penuh oleh para bujang-bujang yang baru pulang dari masjid selesai menunaikan ibadah sholat Jumat. Malam hari, warteg tersebut juga ramai oleh para mahasiswa yang baru pulang dari kampus. Lauk yang paling laku adalah telur dadar, yang selalu cepat habis. Saya selalu menggerutu kesal jika singgah di warung tersebut pada waktu-waktu di luar dari waktu jam makan, misalnya pukul tiga sore atau pukul sembilan malam. Sudah dapat dipastikan bahwa pada waktu-waktu seperti itu telur dadar yang paling laku itu sudah habis.

Selain telur dadar, lauk yang paling laku adalah sayur kangkung, kentang goreng dadu, telur ceplok, dan gorengan tahu atau martabak. Warteg ini juga menyediakan sayur sop atau sayur baskom, yang tidak dihitung harganya, alias dianggap gratis. Isi sayuran itu adalah lobak, wortel, dan sawi, terkadang dimodifikasi dengan sayur bayam. Selain itu yang paling saya suka dari WARNASTEK adalah sambalnya yang sangat lezat. Saya bahkan bisa makan nasi dengan menuangkan sambal di piring saya sebanyak tiga sendok, yang akhirnya berakibat kepada kumatnya penyakit lambung saya. Di WARNASTEK, kalau kita memesan satu porsi nasi dengan lauk telur dadar, kentang goreng dan sayur, harganya kurang lebih Rp 5 ribu saja. Ingat, ini adalah harga yang belum terkena pajak! Kalau misalnya ketentuan pajak dari Pemprov itu jadi diberlakukan, alias tidak jadi ditunda di awal Januari itu, harga setiap lauk akan naik sebesar 10%. Ini akan memberatkan banyak pihak, terutama mahasiswa. Bukan suatu hal yang melebih-lebihkan kalau mengatakan uang Rp 500,- begitu amat berharga bagi mahasiswa, karena pada kenyataannya dengan uang gope mahasiswa bisa meng-copydua hingga lima lembar bahan materi kuliah.

WARNASTEK biasanya buka pada pagi hari pukul setengah tujuh dan tutup pada malam hari sekitar pukul sepuluh malam, atau bisa lebih awal kalau misalnya semua lauk yang dijual sudah habis. Di warung ini, juga ada televisi dan radio. Pada pagi hari, biasanya radio yang diputar. Siang hingga malam hari, televisi yang dinyalakan. Dan biasanya saya menyempatkan diri makan sambil menonton televisi di warung tersebut: siang hari menonton berita siang di stasiun televisi yang distel oleh pemilik warung, dan kalau malam hari, biasanya sekitar pukul tujuh atau delapan malam, saya menyediakan diri untuk menyaksikan tayangan sinetron yang begitu membosankan. Yang paling seru biasanya adalah ketika ada pertandingan sepak bola, di mana warung tersebut bisa ramai sekali oleh mahasiswa-mahasiswa, yang mau berlama-lama duduk di meja makan sampai pertandingan selesai meskipun nasi di piring sudah habis. Atau ada juga yang sengaja datang dan duduk di warung hanya untuk menonton bola.

Saya dengan beberapa teman kampus pun pernah membahas materi kuliah, makan sambil mengerjakan tugas di warung tersebut, atau makan sambil memperbincangkan aktivitas-aktivitas di kampus. Salah satu meja makan di WARNASTEK seolah-olah menjadi meja konspirasi dadakan, tempat kami “bergunjing” tentang perpolitikan kampus dan merencanakan “aksi-aksi” dan membahas kinerja-kinerja para aktivis kampus yang kurang memuaskan. Atau terkadang kami bahkan bisa berlama-lama duduk di sana, berbincang soal pengetahuan-pengetahuan ilmu sosial, karena saya adalah mahasiswa FISIP, atau berbincang tentang tokoh-tokoh pergerakan atau tokoh-tokoh besar seperti Dostoyevski atau Marx (meskipun terkadang ada beberapa di antara kami, termasuk saya, sok-sok-an tahu ini dan tahu itu demi menjaga citra sebagai mahasiswa). Dan saya rasa, hal ini memang menjadi kebiasaan para mahasiswa yang tinggal di daerah dekat kampus: bacot, baca, nulis. Hidup Mahasiswa!

Warteg memang tidak dapat dipisahkan dari aktivitas mahasiswa sebagai pemuda, sebagai agen perubahan, sebagai calon intelektual bangsa. Warteg juga menjadi lahan bagi para mahasiswa untuk melancarkan kegiatan-kegiatan seperti tempat promosi atau sebagai objek dari penelitian. Saya sendiri pernah menjadikan WARNASTEK sebagai lahan untuk latihan observasi penelitian sosial, dengan melakukan pengamatan terhadap aktivitas di warung makan tersebut. Di dinding-dinding warteg, terutama di WARNASTEK yang menjadi tokoh utama dalam cerita saya kali ini, banyak ditempeli berbagai poster publikasi kegiatan atau acara yang diadakan oleh para mahasiswa di kampus UI. Bahkan ada yang menempel poster kampanye pemilihan BEM UI di warung tersebut. Sayang sekali sekarang ini poster-poster kampanye tersebut sudah ditarik karena telah habis masa kampanye sehingga saya tidak sempat mengambil gambarnya.

Meskipun saya sering makan di warung tersebut, saya tidak begitu mengenal orang yang memiliki warung. Biasanya, ketika saya datang ke sana, pemilik atau pegawai warung akan bertanya, “Makan, Mas? Nasinya satu atau setengah? Lauknya seperti biasa, Mas?” Saya sendiri tinggal menganggukkan kepala karena pemilik warung sudah hafal lauk yang biasa saya makan: telur dadar, sayur, dan tempe atau kentang. Saya sendiri tidak ada niat untuk kenal lebih dekat kepada pemilik warung, yang pegawainya terdiri dari dua orang laki-laki dan dua orang perempuan. Biarlah sepiring nasi yang menjadi media komunikasi di antara kami.

Ya, begitulah ceritanya, tentang WARNASTEK yang menjadi tempat saya mengisi perut sehari-hari. Warteg adalah salah satu contoh usaha masyarakat menengah ke bawah. Menurut saya, usaha warteg harus dilestarikan, dan mesti mendapat dukungan dari pemerintah. Selain sebagai lahan untuk mengurangi pengangguran, warteg juga menjadi lahan usaha yang dapat melestarikan masakan tradisional, makanan khas Tegal. Jadi, Pak Gubernur, beri keringanan dong kepada kami, rakyat Jakarta, terutama para pengusaha warteg dan mahasiswa!

___________________________________________________________

Tulisan ini dibuat pada tanggal 17 Oktober 2011.

Author: Manshur Zikri

Penulis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s