Pagi Hari Depan Gerbang Kutek

Untitled

Pagi hari, gerbang masuk UI di Kukusan Teknik (Kutek), Beji, Depok, adalah jalur yang sibuk oleh pe-mobilisasi dari kosan menuju kampus. Ada satu tempat yang perlu aku catat. Tempat itu adalah sebuah kantin umum, yang sepertinya diinisiatifkan oleh warga sekitar untuk menjadi kantin, yang terletak tepat di depan gerbang masuk UI di Kutek yang aku maksud.

Tidak ada nama khusus yang pernah aku dengar tentang kantin itu. Pastinya, kebanyakan mahasiswa/I yang berangkat untuk kelas pagi akan menyempatkan sarapan di kantin itu: nasi uduk, bubur ayam, ketorak, gado-gado, longing, soto ayam, dan makanan sejenis ayam penyet atau pecel ayam, dengan kisaran harga dari lima ribu rupiah hingga dua belas ribu (tergantung pilihan menu). Selain itu, di depan kantin juga ada penjual gorengan dan cendol, serta satu-dua pengemis yang sering mangkal meminta uang kepada mahasiswa/i yang melintas.

Jujur saja, aku jarang sekali makan di tempat ini. Hal itu disebabkan aku yang jarang bangun pagi, sedangkan kantin itu hanya buka dari pagi menjelang siang. Oleh karenanya, aku tidak akrab dengan para penjual makanan itu. Namun begitu, ada satu hal yang perlu aku beri tahu (terutama buat pembaca yang masih jomblo, #asyek) bahwa mahasiswi-mahasiswi cakep yang berasal dari kosan-kosan elit yang ada di Kutek sering sarapan di tempat itu. Ada yang sudah berpakaian rapi untuk siap-siap menuju kampus, ada yang masih berpakaian tidur dan memang berniat sekadar sarapan, atau sarapan seusai lari-lari pagi. Lumayan, untuk cuci mata #asyek.

Di kantin ini, juga ada semacam pembagian wilayah atau langganan. Untuk minuman, ternyata ada pemiliknya sendiri. Untuk barisan meja pertama yang arahnya dekat ke Utara, penjual minumannya berbeda dengan barisan meja yang dekat ke arah Selatan. Jadi, tempat kita duduk menentukan ke siapa kita akan membayar minuman.

Pada tanggal 19 Oktober, 2011, tumben-tumbennya aku bangun pagi dan menyempatkan diri untuk sarapan di kantin itu: menikmati santapan nasi uduk dengan lauk ikan tuna.

Selesai makan, aku sempatkan membeli harian surat kabar lokal. Penjual koran itu terletak di dekat gerbang masuk UI di Kutek juga (tidak jauh beberapa meter dari kantin). Dengan uang seribu lima ratus rupiah saja, aku sudah bisa membaca surat kabar itu. Kabar terbaru tentang reshuffle cabinet SBY menjadi santapan yang mengusik pikiran. Ternyata, SBY sudah mengeluarkan putusannya. Beuh! Masalah yang berhubungan dengan government memang membosankan, tetapi harus terus diikuti jika tidak mau ketinggalan kabar tentang kondisi bangsa dan negara.

Sajian surat kabar itu aku nikmati saat kembali ke kosan. Dan, hei, ternyata aku salah mengambil: tanpa sangaja aku membawa dua koran yang sama. Hahaha!

Author: Manshur Zikri

Penulis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s