Gagal

Saya sangat tidak suka keadaan seperti tadi sore: saya terjebak di dalam kamar sendiri karena hujan melarang saya pergi ke mana-mana. Meskipun saya juga tidak akan ke mana-mana pada waktu langit cerah, saya tetap merasa tidak senang dengan apa yang hujan lakukan terhadap atap dan genteng kamar saya. Gemuruh air yang turun dari langit itu mengeluarkan suara memuakkan ketika dia menyentuh seng-seng berkarat yang sudah lama memayungi ruang pribadi saya ini, yang sudah saya tempati selama lebih kurang dua tahun. Seharusnya, saya bisa lari menghindari gangguan suara-suara berisik dari air hujan itu, tetapi hujan lebat melarang saya.

Saya juga tidak suka dengan gelap. Sialnya, listrik selalu mati setiap kali hujan turun sehingga lampu kamar juga ikut padam. Semua aktivitas yang sedang saya kerjakan pasti harus berhenti seketika. Saya tidak bisa melanjutkan kegiatan mengetik, tidak bisa mengakses jaringan internet, dan juga tidak bisa menonton DVD. Membaca buku pun menjadi pekerjaan yang sia-sia karena penerangan yang tidak baik. Saya tidak mau membuat kacamata saya semakin tebal karena kebiasaan membaca di ruangan gelap. Karena ingin terang, saya harus membuka jendela dan pintu agar cahaya dari luar masuk ke dalam kamar. Ini pun menjadi soal, sebab air hujan yang jatuh ke lantai keramik teras memercik dan masuk ke dalam kamar saya. Lantai menjadi basah. Pekerjaan yang benar-benar merepotkan jika saya harus mengambil sapu pel untuk mengeringkannya. Itu pun baru bisa saya kerjakan setelah hujan reda, yang redanya pasti akan sangat lama. Saya harus menunggu, dan saya juga benci dengan aktivitas menunggu.

Depok kedatangan hujan, hampir setiap hari, dua-tiga minggu belakangan ini, dan itu menjadi faktor ketidaknyamanan saya. Jika hari hujan, terutama di siang menjelang sore hari, walau tidak sederas tadi sore, udara akan menjadi lembab. Saya yang mudah berkeringat ini akan tersiksa karena seluruh badan menjadi lengket oleh keringat membeku. Saya merasa yakin bahwa udara dingin menjadi penyebab membekunya keringat. Saya bisa merasakannya di telapak tangan, benar-benar lengket. Selain itu, udara dingin itu tidak baik untuk badan saya yang berfisik lemah. Sedikit saja terkena air hujan dan udara dingin, saya akan terjangkit penyakit flu yang sangat menggangu.

Saya memang sering sakit, dan begitu sering pula berobat ke dokter untuk meminta resep. Bahkan, dokter yang membuka praktek umum tepat di depan kamar kosan saya tampak begitu bosan setiap kali saya datang untuk berobat. Saya tidak tahu, apakah karena dunia sudah sebegitu majunya sehingga orang-orang akan cepat bosan dengan hal yang itu-itu saja, yang akhirnya membuat si dokter selalu tidak bersemangat jika harus berhadapan dengan pasien seperti saya setiap bulan. Yang jelas, saya termasuk orang yang menggantungkan hidupnya pada dokter, dan bagaimana pun keadaannya, merupakan satu kewajiban seorang dokter untuk melayani orang-orang seperti saya dengan sebaik-baik dan seramah-ramah mungkin. Akan tetapi, jujur saja, sekarang ini saya membenci dokter. Saya membenci mereka sama baiknya dengan saya membenci hujan dan gelap.

Kebencian saya kepada tiga hal itu memang tidak serta merta datang. Saya pun tidak mau mengaku terlalu terbawa-bawa nuansa cerita dari sebuah novel Dostoyevski yang tokoh karangannya itu mengaku tidak percaya dokter. Saya bukannya tidak percaya dengan dokter, tetapi membenci dokter. Rasa benci ini memiliki cerita tersendiri. Baiklah saya akan menceritakannya agar semua mengerti mengapa saya membenci mereka.

Semuanya bermula sekitar dua tahun yang lalu, ketika saya pertama kali pindah ke lingkungan kos-kosan ini. Saya pindah dari kosan yang lama karena lokasinya yang semakin lama semakin membuat saya tersiksa. Saya adalah tipe orang yang selalu protes dengan keadaan yang selalu mengganggu ketenangan pribadi. Oleh karena itu, ketika seseorang membuka usaha bengkel baru di sebelah kamar kosan saya yang lama, menjadikan udara di lingkungan kosan yang lama semakin tidak baik bagi saya. Oleh sebab itu, saya pindah ke kosan yang baru, yang saya tempati sekarang.

Saat itu, sama seperti sekarang, Depok sedang langganan hujan dan mati lampu. Akan tetapi situasi saat itu tidak terlalu menggangu saya. Mungkin karena saya belum terlalu susah seperti sekarang ini. Walau sering sakit, saya masih bersemangat melakukan apa pun, bahkan jika harus menantang hujan untuk membeli sebatang rokok. Dan itu lah yang saya lakukan ketika hujan yang pertama, sejak saya menempati kamar kosan yang baru, turun dari langit: membeli rokok.

Saya berlari ke luar kamar menuju warung tanpa payung. Bagi saya yang saat itu sangat membutuhkan rokok, basah karena hujan bukan masalah. Asalkan dapat menghisap sebatang rokok, semuanya akan saya lakukan. Dan saya memang hanya membeli sebatang rokok saat itu. Karena saya tidak membawa payung, saya membakar dan menghisap rokok itu di warung tempat saya membeli.

Beberapa saat setelah saya menyulut api, seorang perempuan muda seumuran saya, menggunakan payung, datang ke warung itu untuk membeli lilin. Perempuan itu memiliki paras yang cantik. Saya sendiri, saat itu, sadar bahwa saya kagum dengan kecantikannya. Ketika ia selesai membeli lilin dan pergi dari warung itu, saya masih memperhatikannya dengan seksama. Benar-benar cantik ia, dan benar-benar kagum saya. Saya terus melihatnya berjalan ke arah yang berlawanan dari kosan saya, hingga akhirnya ia menghilang di belokan yang pertama. Ketika ia menghilang, saya juga tersadar bahwa seharusnya saya mengejarnya dan mengajaknya berkenalan. Akan tetapi itu tidak bisa saya lakukan, karena hujan menghalangi saya. Bukannya saya takut sakit, tetapi saya takut sebatang rokok yang baru saja saya beli di warung bisa mati karena basah. Akhirnya saya menghabiskan rokok di warung sambil menyimpan rasa penasaran tentang si perempuan jelita itu, sementara hujan belum juga reda. Kemudian saya berlari kembali ke kamar kosan.

Malam harinya, wajah perempuan itu membuat saya tidak bisa tidur. Pertemuan yang sangat kebetulan itu ternyata menjadi kisah jatuh hati pada pandangan pertama dalam hidup saya. Saya terus saja memikirkannya sepanjang malam. Saya bahkan tidak tahu pukul berapa saya tertidur. Wajah perempuan itu terus mengganggu benak saya di hari-hari selanjutnya.

Pada satu ketika, Hari Minggu, saya terbangun dengan keadaan kamar yang gelap karena mati lampu, dan derasnya suara hujan lah yang membangunkan saya. Tiba-tiba saja perut saya keroncongan. Kemudian saya beranjak dari tempat tidur, mengambil selembar uang, lalu berlari ke luar kamar menuju warung. Di warung, saya berharap-harap semoga secara kebetulan saya bertemu lagi dengan perempuan itu. Ternyata Tuhan mengabulkan harapan saya. Perempuan itu datang lagi ke warung dengan membawa payung berwarna biru muda, membeli sesuatu yang sama: lilin. Namun saya tak juga menyapanya. Kecantikan wajahnya membuat lidah saya kaku. Dia pun berlalu tanpa mengindahkan saya. Kejadian itu terus berulang hingga berhari-hari dan berminggu-minggu.

Akhirnya saya dapat memahami polanya. Perempuan itu selalu akan datang ke warung dengan membawa payung berwarna biru muda untuk membeli lilin pada saat hujan turun dan mati lampu, di siang atau sore hari. Sepertinya, warung itu lah yang selalu menjadi pilihannya meskipun masih banyak warung yang lain. Saya pun merasa dia sudah akrab dengan wajah saya karena di waktu-waktu itu saya selalu menyempatkan diri untuk berlari ke warung, dengan alasan yang dibuat-buat, biasanya untuk membeli rokok, agar dapat melihatnya. Setelah mengalami pertemuan yang sama beberapa kali, satu ketika saya memberanikan diri menyapanya. “Beli lilin lagi?” tanya saya. “Iya!” jawabnya tersenyum. Kemudian ia berlalu tanpa basa-basi tambahan. Dan sama seperti hari pertama saya melihatnya, saya tidak bisa mengejarnya karena hujan menghalangi saya.

Percakapan yang sangat singkat itu justru membuat saya tidak enak hati. Meskipun pertanyaan saya dijawab dengan senyum yang sangat ramah, saya merasa dijatuhkan ke titik yang paling bawah. Saya yakin, pastinya saya terlihat seperti laki-laki penggoda di pinggir jalan yang tidak pernah tahan melihat perempuan cantik berjalan sendirian. Namun, itu semua dengan cepat terlupakan ketika beberapa hari setelahnya saya dapat bercakap-cakap lebih banyak padanya. Percakapan itu terjadi karena tanpa sengaja saya membantunya mengambil lilin yang letaknya tak terjangaku oleh tangan.

“Terimakasih, ya!” katanya. “Sama-sama,” jawab saya. Kemudian kami membayar barang yang kami beli secara bersamaan.

“Mengapa selalu membeli satu lilin setiap hari hujan dan mati lampu?” saya bertanya untuk memulai percakapan lebih lanjut. “Bukan kah lebih baik membeli sekali banyak untuk persiapan selama seminggu atau sebulan?”

“Kalau membeli banyak, lilin yang tersimpan di kamar biasanya tidak dapat berfungsi dengan baik,” jawabnya. “selain itu, tikus-tikus seringkali mengambil persediaan lilin yang ada.”

“Oh, benarkah?! Jangan-jangan satu lilin yang kau beli setiap hari hujan itu juga hilang dibawa tikus bahkan ketika apinya masih menyala?” saya menanggapi jawabannya. Dia tidak mengeluarkan reaksi apa-apa di wajahnya. Senyum tidak, mengangkat bahu atau mengernyitkan kening pun juga tidak. Kami diam, menuju pintu ke luar warung.

“Aku ke sana,” katanya saat kami akan meninggalkan warung.

“Aku ke sini,” kataku membalas.

“Apa kau tidak apa-apa tanpa payung?” tanyanya.

“Tidak, sudah biasa,” jawabku. “Lagipula jarak kosanku hanya beberapa langkah dari warung ini, yang pagarnya berwarna hijau itu adalah kosanku.”

“Kalau begitu aku duluan!” katanya tersenyum, kemudian berlalu.

Saya memperhatikan perempuan itu berjalan, menunggu hingga ia hilang dari pandangan. Setelah itu, saya berlari ke kamar kosan. Senyuman yang saya lihat selama percakapan itu menjadi masalah baru. Semakin lama saya semakin frustasi karena menyadari bahwa saya benar-benar jatuh hati kepada perempuan itu. Saya kemudian semakin terobsesi dengan dirinya, begitu ingin saya memilikinya, memohon kepada Tuhan agar perempuan itu dapat menjadi kekasih saya.

Di dalam kamar, saya tidak berselera untuk melakukan apa-apa. Saya tidak bisa membaca, saya tidak bisa menulis, dan saya juga tidak bisa merokok. Entah mengapa rokok menjadi satu hal yang menjemukan sejak saya jatuh hati kepada sosok jelita itu. Akhirnya, saya hanya bisa berbaring di tempat tidur, mengkhayal kalau perempuan itu sudah menjadi pacar saya. Kami berdua berjalan sambil bergandengan tangan di bawah hujan, dan saya lah yang memegang payung birunya. Saya selalu menemaninya membeli lilin ketika kawasan di lingkungan kosan mati lampu. Dia juga menemani saya jika saya ingin membeli rokok. Semuanya terjadi dengan begitu indah dan menyenangkan di hari hujan, dan memang indah juga ketika kamar menjadi gelap.

Hujan masih terus berlangsung, suara deras airnya yang menyentuh atap kamar memunculkan semacam irama konstan, lembut, dan lama-lama menjadi hening seketika. Apa yang saya lihat kemudian adalah kegelapan total yang datang secara perlahan. Sayup-sayup saya mendegar suara tawa perempuan itu (padahal saya belum pernah mendengar suara tawanya, tetapi saya yakin ia lah yang tertawa, berlari membawa payung biru di bawah hujan). Saya dapat melihatnya dari tempat saya berdiri. “Ayo, kemari! Temani saya membeli lilin!” perintahnya kepada saya. Saya tidak bisa menolak, senyuman itu begitu menggoda saya. Saya berlari mendekatinya. Sesaat kemudian, langkah saya terhenti karena langit bergemuruh. Saya mendongak, melihat garis-garis semu dari langit yang ada di sela-sela awan kelabu. Garis-garis itu terlihat seperti memancar dari satu titik, menyebar ke segala arah. Garis yang datang dengan arah tegak lurus menyentuh kening saya. Terasa sangat dingin, itu lah air hujan, yang dingin dari langit. Sekali lagi langit bergemuruh. Saya kembali melihat perempuan itu, masih di bawah payung, melambaikan tangan, berdiri di depan warung. Sekali lagi langit bergemuruh, semakin menakutkan gemuruhnya. Kemudian kilat datang, petir menyambar warung, dan warung itu terbakar. Perempuan itu secara perlahan lenyap di balik api. Payung biru yang ia genggam terbang di sapu angin. Sementara itu, saya memperhatikannya dengan sangat bingung. Badan saya basah kuyup karena hujan lebat menganggap saya sama seperti pohon-pohon yang berdiri kokoh di sekitar jalanan, dan perlu untuk disirami. Sekali lagi petir menyambar, kali ini pohon yang tidak jauh dari warung yang terbakar itu yang menjadi sasarannya. Saya mulai ketakutan, jangan-jangan saya juga akan disambar oleh petir dari langit. Saya mulai merasa bahwa alam membenci saya karena terus memikirkan perempuan itu. Jangan-jangan Tuhan menolak permohanan saya. Akan tetapi ketakutan itu bukannya mendorong saya untuk berlari, melainkan membekukan langkah kaki sehingga saya hanya bisa berdiri memperhatikan warung dan pohon yang terbakar itu. Apinya terus menyala-nyala, seolah menantang air hujan yang turun dari langit. Mereka begitu teguh, tak padam karena serbuan titik-titik air yang dinginnya menusuk kulit. Api terus menyala, semakin cepat gerak lidahnya, dan kemudian pandangan saya menjadi buram. Api yang besar itu lama-lama menjadi titik cahaya kemerahan, berubah keukuran yang lebih kecil. Lalu lidahnya keluar lagi, menjadi api kembali. Udara terasa panas. Tidak ada air hujan, tetapi suaranya tetap terdengar. Saya kemudian terbatuk karena saya menyadari ada asap dan bau sesuatu yang terbakar.

Napas saya tersendat, saya tersentak, saya terduduk. Ya, saya terduduk dari posisi tidur. Ternyata saya tidak sadar telah tertidur ketika berbaring tadi. Api itu berasal dari rokok yang saya tinggalkan dalam keadaan menyala, dan dia menjadi biang terbakarnya kertas-kertas tugas yang sedang saya kerjakan. Kertas-kertas yang tergeletak di sebelah asbak itu tanpa sengaja terbang ditiup angin dari jendela dan menimpa rokok yang masih menyala, kemudian terbakar.

Saya semakin bingung. Begitu sebentar saya tidur, karena hanya selama rokok itu habis menjadi abu dan kertas-kertas yang menimpanya terbakar. Akan tetapi begitu menakutkan dan aneh mimpi yang saya alami dalam tidur yang begitu singkat itu. Perempuan yang saya cintai itu benar-benar menjadi masalah baru. Saya mengalami mimpi yang tidak menyenangkan pada hari itu, karena memimpikannya, mimpi yang menakutkan.

Saya mengambil air dari dalam kamar mandi dengan menggunakan gayung, kemudian menuangkannya ke dalam asbak. Api kecil itu padam. Lantas, saya menjadi khawatir dengan keadaan perempuan itu. Perasaan cemas menghampiri saya. Namun, hujan masih turun, walau tidak selebat tadi, dan kamar saya masih gelap. Saya tahu, listrik baru akan menyala beberapa jam lagi. Saya kembali berbaring, kemudian tertidur lagi, dan bangun di malam hari ketika hujan reda sama sekali dan lampu sudah menyala.

Karya Manshur Zikri

Author: Manshur Zikri

Penulis

4 thoughts on “Gagal”

  1. Sebelum memberi kesan buat tulisan lo yang satu ini, gue baru ngeh ternyata blog lo settingan template-nya ada salju-saljuan. Bener ngga sih? hehe
    Membaca tulisan lo yang kali ini, gue ngerasa membaca cerpen terjemahan. (lihatan awam sebagai pembaca yah.)
    Tapi kalau ngebaca sajak-sajak karya Manshur Zikri, gue bisa dengan jelas menangkap kalau tulisan itu “Zikri banget.”
    CMIIW (Correct Me If I Wrong)

    Like

  2. Quote: ” Baiklah saya akan menceritakannya agar semua mengerti mengapa saya membenci mereka.”
    Sampai cerita selesai saya masih belum mendapat mengapa si tokoh membenci dokter. Rasanya pengalaman2 yang diceritakan berikutnya malah membuat kesan si tokoh membenci perempuan cantik😛.
    Pendapat saya aja sih kak.

    Like

    1. Thx saran dan kritiknya, Albert.
      Memang ada rencana sih untuk melanjutkan cerita itu… tapi sebenarnya cerita itu hanya semacam latihan untuk ‘bermain’ (eksperimentasi) dengan metafora, jd penekanannya bukan pada keluhan-keluhan si tokoh ‘saya’ (termasuk pada tiga alasan yg disebut dalam paragraf itu), tetapi pada bagaimana cara pengarang mendeskripsikan konflik batin dalam permainan analogi dari konsep-konsep yang berbeda tentang hal-hal yang dekat dengan dia.
      Yah, secara keseluruhan, cerita di atas masih jauh dari harapan ideal tentang ‘permainan’ metafora itu sendiri sih… (gue malah dpt kritik abis-abisan dari seorang penulis di Forum Lenteng). Hahaha… tp dari pada artikelnya hilang, ya gue muat aja di blog. #asyek

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s