Di Meja Kantin

Karya Manshur Zikri

Percakapan saya dengan pemuda dari Pulau Seberang itu, beberapa hari yang lalu, benar-benar menghancurkan tembok ketidakajegan pemikiran dalam kepala ini. Padahal, pada waktu obrolan itu berlangsung, saya lah yang terus menerus memberikan nasehat dan masukan-masukan kepadanya. Akan tetapi nasehat yang saya lontarkan dari mulut yang terus saja menghisap berbatang-batang rokok ini seakan menampar diri sendiri. Saya pun berkata di dalam hati, “Mengapa hal ini tidak kau pikirkan sejak dulu!?”

Pemuda itu berasal dari tanah yang sama di tempat saya menandatangani kontrak darah dengan bumi pertiwi. Saya tidak tahu pasti, apakah dia lahir di sebuah desa yang sama dengan saya, tetapi yang jelas dia bertumbuh-kembang di lokasi yang sama dengan saya. Kurang lebih tiga tahun saya mengenalnya, dan dalam masa pertemanan itu, ada banyak wacana yang muncul dan dibicarakan. Mulai dari persoalan yang berbau metafisik hingga konkret, mulai dari banyolan biasa hingga ke rumus-rumus matematika yang membuat otak saya semakin berbelit-belit. Intinya, dia memiliki kecerdasan yang melebihi saya dalam hal-hal tertentu.

Dua tahun yang lalu, kami berpisah. Dia merantau ke Pulau Seberang untuk menanggapi kecerdasan yang ia miliki sendiri, menghadapi tantangan baru di lingkungan sosial masyarakat yang jauh berbeda dengan kampung kami. Sementara itu, saya sendiri hanya beranjak tidak begitu jauh dari kampung, melanjutkan mimpi-mimpi, yang tentunya, tidak jauh berbeda hebatnya dengan mimpi pemuda itu.

Di tempat saya berpijak sekarang ini, saya memantapkan keyakinan bahwa saya tidak boleh tertinggal. Paling tidak, ketika saya bertemu lagi dengan pemuda itu, saya mampu mengimbangi pengetahuannya. Dunia sekarang ini memang kecil, karena kemajuan yang tidak bisa dibendung, jarak antara Pulau Seberang dengan kota tempat saya berada sekarang ini tidak lagi diukur dalam kilometer atau mil, tetapi dalam hitungan menit. Ketika dia memiliki waktu luang, pemuda itu langsung meluncur ke tanah ini dan mendatangi saya. Pertemuan setelah 2 tahun lamanya itu menjadi reuni yang benar-benar menyenangkan. Muncul semacam harapan bahwa akan ada banyak hal baru yang saya dengar darinya, dan ada banyak kabar baru pula yang dengan semangat ingin saya ceritakan kepadanya.

Namun agaknya harapan saya terlalu tinggi. Hal-hal baru yang saya dengar darinya tidak lebih dari sekedar perbedaan keadaan lingkungan sosial. Kelihatannya, gaya pemikirannya tidak jauh berkembang. Dia masih seperti yang dulu, dua tahun yang lalu. Berdasarkan cerita-ceritanya selama dua tahun di Pulau Seberang, gerak pergaulannya tidak membawa pribadinya kepada pemikiran-pemikiran yang lebih dewasa dan lebih bijak. Pada titik ini, saya dapat cukup berbangga, karena saya dengan sadar merasakan perbedaan pola pikir yang ada pada diri saya sekarang ini. Padahal, saya belum pernah menginjakkan kaki di Pulau Seberang. Apa mungkin ini disebabkan oleh regulasi di sana yang sudah begitu mapannya sehingga masyarakat mereka bergerak dalam keteraturan yang tidak dinamis? Sementara di tempat saya sekarang ini, kekacaubalauan masih meraja di mana-mana, seperti hukum rimba, yang menuntut masing-masing pribadi harus bertahan. Yang jelas, hukum rimba di sini tidak menekankan individualitas seperti yang terjadi di Pulau Seberang itu. Jika ingin bertahan, kau harus bisa membawa diri, bersikap konformis dengan lingkungan yang berbeda dengan latar belakang yang kau bawa sebagai modal dari kampung, dan akhirnya, mau tidak mau kau memang harus menjadi manusia sosial seutuhnya. Mungkin, aspek ini lah yang membuat saya semakin berbeda dengan pemuda itu. Saya bisa merasakan bahwa saya lebih sosial daripada dirinya, dan wawasan saya sedikit lebih terbuka lebar dibandingkan dengan dirinya sekarang ini.

Saya sedikit terkejut ketika mendengar keluhannya. “Aku mengakui bahwa aku masih labil, bahkan hingga detik ini!” ujarnya seraya memegang satu alat komunikasi canggih tingkat tinggi yang bahkan aku tak pernah berpikir bisa dan mau memilikinya. “Jujur saja, aku tidak bisa menahan dan mengendalikan diri.”

Keluhannya itu berawal dari ketidaksengajaan kami berbicara soal tentang pasangan alias pacar. Dan tentu saja, soal-soal demikian akan menghantarkan pembicaraan ke wilayah hasrat seksual, kebiasaan menonton video porno, bagaimana perspektif laki-laki terhadap perempuan, dan sebagainya. Sekedar informasi saja bahwa semua persoalan itu merupakan hal yang sehari-hari saya bahas dalam bidang kajian yang saya geluti sekarang ini. Dan dari persoalan itu, obrolan kami terus menjauh ke cerita-cerita tentang penyimpangan-penyimpangan yang terjadi pada diri sendiri dan lingkungan di sekitar kami. Tentu saja, cakupan batas yang kami bicarakan adalah rentang waktu selama dua tahun tidak bertemu itu.

Sebenarnya, kebiasaan dan aktivitas seperti menonton video porno, berciuman atau beraktivitas seksual penuh birahi dengan lawan jenis, masturbasi, serta obsesi untuk menaklukkan pasangan yang menarik hati, merupakan obrolan-obrolan yang memang tidak akan bisa dilepaskan dari hidup manusia sejatinya. Kalau boleh saya mengutip materi kuliah beberapa minggu lalu, seks dan kejahatan atau penyimpangan memang merupakan dua hal yang selalu menjadi pemenuhan dasar rasa ingin tahu dalam diri manusia. Dan itu wajar. Saya sendiri tidak memungkiri bahwa saya senang menonton video porno, senang berciuman dengan pacar saya, apalagi masturbasi. Menyimak kabar-kabar yang berhubungan dengan pornografi dan seksualitas juga merupakan kegiatan yang, biasanya, menarik dan mengusik rasa ingin tahu saya.

Titik masalahnya adalah, yang membuat saya merasa sedikit aneh dengan perkembangannya sekarang ini, pemuda itu, sejauh yang saya kenal, adalah seorang pemuda yang sangat religius. Dia sangat patuh akan norma, ketentuan adat istiadat, dan hukum agama. Dia sangat takut jika harus melanggar. Bahkan, bisa dibilang bahwa dia lah salah satu orang yang menjadi penasehat rohani saya selama tiga tahun masa pertemanan kami dulu, dan hingga sekarang ini tentunya. Namun saya tidak menyangka bahwa dia memiliki masalah dengan soal-soal yang erat kaitannya dengan hasrat seksual dan seksualitas itu sendiri.

“Aku tahu itu salah, tapi…” dia diam sesaat. “kadang diri ini lupa, dan terjadi begitu saja!”

Ketika dia mulai mencurahkan semua kekesalannya terhadap kebiasaan buruknya, saya mulai menduga-duga yang sedikit ekstrim. Apa jangan-jangan dia sudah berhubungan seksual dengan lawan jenis? Orang setaat dia? Dugaan itu seketika runtuh, dan jujur saja saya menepuk jidat di dalam pikiran sendiri, ketika dia berkata bahwa dia memang belum pernah sejauh itu, dan hal paling buruk yang pernah dia lakukan hanyalah masturbasi sambil menonton video porno.

“Ya Salam!” seruku tertawa. “Kalau hanya masturbasi, aku juga sering melakukan itu. Bahkan semua anak muda sekarang ini pun, bisa dikatakan, pernah melakukan itu.”

Akan tetapi saya dapat melihat dari wajahnya bahwa dia tidak bisa menerima kenyataan itu; atau lebih tepat dikatakan bahwa dia tidak bisa menerima kenyataan bahwa dia termasuk dalam kategori anak muda yang memiliki kebiasaan seperti itu.

“Makanya, aku berpikir mungkin dengan mencari pasangan, aku bisa menghindari hal-hal yang tidak berguna seperti itu,” jelasnya.

Tentu saja pernyataan itu mengusik perhatian saya. Karena berdasarkan pengalaman saya sendiri, dan juga dari cerita-cerita kawan-kawan yang lain, justru dengan berpacaran lah seseorang akan terjerumus ke jurang yang lebih jauh lagi. Tentunya saya berkata seperti ini dengan memakai sudut pandang norma dan hukum agama, bahwa berdua-duaan dengan lawan jenis akan mendorong hasrat seksual dalam diri manusia sehingga akan sangat besar kemungkinan bagi mereka untuk melakukan zina.

“Berdua-duaan, yang ketiga adalah setan!” kata saya menanggapi penjelasannya, dan dia hanya menganggukkan kepala. Pepatah demikian pastinya lebih dipahami oleh orang setaat dia dibandingkan saya sendiri yang tidak terlalu memperhatikan persoalan demikian.

Saya pun mengakui bahwa ketika saya berpacaran dulu, niat awalnya hanyalah berbincang dengan sedikit kesan dan nuansa romantis dengan si pacar, ujung-ujungnya adalah berpelukan, berciuman dan meraba-raba. Dan saya berani bertaruh bahwa hampir semua orang yang berpacaran, dari masa lalu hingga sekarang ini, pasti mengalaminya. Dengan dasar itu lah, akhirnya saya berkata, “Jikakau tidak mau terjerumus lebih jauh lagi, jangan memulai sesuatu yang sangat dekat dengan itu. Berpacaran justru akan membuat kebiasaan yang kau anggap buruk itu menjadi lebih parah.”

“Apa iya?” tanyannya dengan ragu.

“Tentu saja,” jawab saya. “kata sayang dan cinta menjadi ilusi semata, karena yang muncul ke permukaan hanyalah keinginan untuk memuaskan hasrat dan nafsu. Sungguh sangat sulit menemukan titik di mana kita bisa berinteraksi dengan lawan jenis dengan berselimutkan mantel cinta yang sebenar-benarnya, yang disebut-sebut sebagat cinta hakiki itu, Kawan!”

Saya menjadi ingat materi kuliah yang lain beberapa hari yang lalu tentang ‘masyarakat tontonan’, di mana kaum situasionis mengatakan bahwa masyarakat kontemporer sekarang ini melihat kenyataan sebagai kenyataan yang ditonton, bukan kenyataan yang sebenarnya. Oleh karena itu, perempuan cantik, laki-laki ganteng, yang seksi, semuanya menjadi hal yang utama. Hal-hal demikian yang membutakan mata hati sehingga menjerumuskan kita ke arah sesat pikir.

Terang sudah lah semuanya. Di sini letak kekecewaan saya, dan bagian yang menampar diri saya sendiri. Pertama, seharusnya, dengan pengalaman yang jauh lebih menantang di Pulau Seberang, pemuda itu haruslah memiliki sudut pandang yang jauh lebih objektif tentang persoalan-persoalan seperti itu. Kedua, seharusnya persoalan-persoalan seperti itu bukan lagi menjadi bahasan yang ‘dikeluhkan’, tetapi disikapi dengan dewasa dan bijak sebagai pribadi yang memiliki pengetahuan. Ketiga, saya tidak menyangka bahwa ternyata pengetahuan dan pemahaman saya tentang fenomena itu, bisa dibilang, lebih unggul dari pemuda yang seharusnya sudah menjadi seorang peneliti handal karena menuntut ilmu ke negeri orang. Dan saya merasa tertampar, menjadi sadar, dan memang harus berpikir skeptis. Negeri yang jauh belum tentu membuat kita berkembang jika memang tidak dimulai dari diri sendiri (berdasarkan ceritanya, di Pulau Seberang, dia hanya ikut aktif dalam organisasi yang orang-orangnya berasal dari negeri sendiri. Saya rasa kau bisa memahaminya dari poin yang ini).  Dan ketaatan seseorang terhadap aturan yang terkonstruksi bukanlah jaminan bahwa dia akan terbebas dari masalah-masalah yang mengganggu ketenangan jiwa dan pemikiran. Siapa yang bisa jamin seorang pendeta atau pemimpin agama mumpuni tidak pernah menonton video porno di dalam kamar pribadinya?

Lantas, dia bertanya kepada saya tentang cara mensiasati kebiasaan buruk demikian. Jujur saja, saya sendiri sudah lama tidak berpacaran. Dan memang, memutuskan sang pacar adalah salah satu cara saya untuk menghindari hal-hal yang tidak sehat seperti itu. Saya pun tertawa ketika salah seorang guru saya pernah berkata, “Jomblo itu asset, lho!”

“Cari lah berbagai kesibukan, yang bisa menghidari candu pornografi itu!” saran saya kepadanya. “Aku percaya kau memiliki otak yang cerdas, dan kata Ibu Sudarwati, guruku waktu SMP dulu, orang yang cerdas memang memiliki libido yang tinggi. Begitu juga kata Ugeng, guruku yang lain, dengan memberikan contoh tokoh sekaliber Pram yang juga memiliki libido tinggi. Tapi bisakah kau berpikir, mereka mampu mengalihkan libido itu ke dalam karya yang sangat baik. Nah, sekarang kembali kepada diri sendiri, mau kah kau menghasilkan karya yang baik. Salah satu cara yang paling gampang, menulislah!”

“Aku sedang dalam proses ke arah itu,” katanya. “tentu saja aku tidak ma uterus-terusan terjebak dalam kebuntuan pikir seperti ini.”

“Itu baik, aku akan menunggu tulisan-tulisan dari mu. Jangan segan untuk mengirim surat.”

Intinya, saya percaya bahwa dengan memantapkan diri sebagai manusia sosial, berusaha untuk konformis dengan lingkungan, tetapi memiliki pola pikir untuk membuat perubahan yang lebih baik, kita harus memiliki pikiran yang terbuka seluas-luasnya. Nyatanya, kita memang harus bebas. Akan tetapi kebebasan kita haruslah dibatasi dengan kebebasan orang lain. Sebagaimana Sartre bilang, bebas lah sebebas-bebasnya, tetapi setiap kebebasan itu memiliki konsekuensi, dan konsekuensi itu harus ditanggungjawabi. Dari situlah muncul istilah bebas yang bertanggung jawab. Dengan kata lain, persoalan tentang kebiasaan menonton video porno, berzina, menurut saya tidak lagi harus diperbincangkan dari sisi normatif dan aturan-aturan yang pada kenyataannya hanyalah sebuah ilusi. Saya lebih tertarik untuk menganggapnya sebagai salah satu bentuk kebebasan diri manusia, tetapi dia memiliki konsekuensi atau efek dan dampak tertentu, yang mana kita sebagai subjek harus mau bertanggung jawab dengan apa yang terjadi setelahnya. Saya rasa, kau dapat mengerti dan menarik benang merah antara kebebasan itu dengan persoalan yang berbau penyimpangan, seks, dan kedewasaan pribadi dalam diri manusia.

Author: Manshur Zikri

Penulis

1 thought on “Di Meja Kantin”

  1. makanya saya takut untuk menjalin hubungan dengan status pacaran..
    pernah ditembak, trus saya bilang pacaran dg saya gag moleh megang2 apalagi sampai ciuman sgala..
    akhirnya mundur dg teratur..hehe

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s