YORICK: Cemoohan dari Jalan Sepuluh Selatan

Dalam “Yorick”, kita tidak menemukan keseluruhan delapan unsur yang dijabarkan oleh Linden Peach. Akan tetapi, konsepsi tentang kejahatan sebagai bentuk cemoohan terhadap modernitas sangat menonjol pada tiga unsur, yaitu unsur mengkriminalisasikan modernitas (criminalizing modernity), citra terbalik (the inverse image) dan pembagian wilayah desa-kota (a divided countryside).

Kejahatan adalah satu gejala yang muncul sebagai reaksi terhadap dinamika sosial dan tatanan sistem yang terbangun di dalam masyarakat. Linden Peach, dalam Masquerade, Crime and Fiction: Criminal Deceptions (2006), mengemukakan pemikiran bahwa sebagai sebuah produk dari pertumbuhan urban yang dihasilkan oleh perubahan sosial dan perkembangan teknologi, kejahatan mengekspresikan ketegangan terhadap modernitas. Dalam masyarakat modern, kejahatan menjadi satu bentuk ‘perlawanan’ yang terwujud dalam konlik antara peningkatan budaya permisif dan kebebasan sosial dengan pengendalian, kedisiplinan dan hierarki yang lebih bersifat konserfatif sebagai kekuatan untuk mempertahankan stabilitas sosial (Linden Peach, 2006: 2).

Pemikiran tersebut menjadi dasar bagi kita untuk memahami konsepsi tentang kejahatan dalam sebuah cerita fiksi sebagai bentuk peniruan dan olok-olokkan terhadap modernitas beserta nilai-nilainya. Linden Peach berpendapat bahwa konsepsi kejahatan (kriminalitas) di dalam sebuah cerita fiksi merupakan bentuk ekspresi cemoohan (mocking) terhadap hal-hal yang dianggap sebagai ‘perjuangan’ (persaingan, kepentingan individu, ambisi pribadi) dalam kepercayaan masyarakat modern. Kita dapat mengenali hal tersebut dengan menelusuri unsur-unsur yang menjadi karakter cemoohan di dalam sebuah cerita kejahatan, yaitu meliputi unsur-unsur seperti criminalizing modernity, criminal physiologies, the inverse image, inside the underworld, dangerous masculinities, criminal and community, 20th century badlands, dan divided countryside. Dalam tulisan ini, penulis akan melakukan analisis isi tentang bagaimana kejahatan digambarkan sebagai bentuk olok-olokkan terhadap modernitas pada cerita berjudul “Yorick”, karya Budi Darma, merujuk pada unsur-unsur yang dirumuskan oleh Linden Peach.

Sinopsis Cerita

“Yorick” adalah salah satu cerita dalam buku kumpulan cerita “Orang-orang Bloomington”, yang pertama kali diterbitkan pada tahun 1980 oleh Penerbit Sinar Harapan, dan diterbitkan ulang oleh Metafor Publishing, tahun 2004. Kumpulan cerita “Orang-orang Bloomington” sendiri mulai dibuat oleh Budi Darma pada tahun 1976 dan selesai pada tahun 1979, ketika beliau menyelesaikan studi Ph.D di Indiana University, Bloomington, Amerika. Bloomington adalah sebuah kota di bagian Selatan Amerika yang berpenduduk 80.450 jiwa, berdasarkan data tahun 2010 (Bloomington Census Data, diakses dari http://bloomington.in.gov/ documents/viewDocument.php?document_id=481). Buku ini secara keseluruhan menceritakan tentang persoalan personal dan interaksi tokoh-tokoh dalam cerita dengan lingkungan dan sesamanya di tempat mereka tinggal.

“Yorick” bercerita tentang seorang tokoh Aku yang tinggal di sebuah jalan yang bernama Jalan Grant, dan kemudian pindah ke sebuah kamar sewa di Jalan Sepuluh Selatan untuk mendekati seorang perempuan, Catherine, yang menarik hatinya. Tokoh Aku melakukan segala cara untuk dapat berkenalan dekat dengan Catherine, tetapi usahanya tidak mendapatkan tanggapan yang baik. Pada satu ketika, orang baru bernama Yorick menyewa kamar di depan kamar si Aku. Seiring berjalannya waktu, tokoh Aku mengalami sakit hati yang begitu kuat terhadap Yorick karena kebiasaan buruknya yang memiliki pola hidup tidak bersih dan seringkali mengganggu kenyamanan. Selain itu, si Aku membenci Yorick karena hubungan dekatnya dengan Catherine.

Tokoh Aku kemudian melakukan tindakan-tindakan yang sedapat mungkin memberikan kerugian pada Yorick, seperti mengencingi pakaian kotornya, meludahi minuman di dalam kulkas, hingga memutuskan jaringan telepon dan mengempeskan ban mobil milik induk semangnya sendiri, Ny. Ellison dan tetangganya, Ny. Harrison (induk semang Catherine) ketika keluarga Harrison menghelatkan sebuah pesta silaturahmi di kediaman mereka. Semua itu ia lakukan untuk memberi pelajaran kepada Yorick dan yang lainnya, bahkan ia berniat untuk membunuh pemuda itu. Di mata si tokoh Aku itu, mereka semua sama saja karena tidak peduli dengan rasa sakit hati yang ia rasakan sebagai orang yang merasa dirugikan karena hubungan dekat antara Yorick dan Catherine, serta perlakuan mereka yang selalu menganakemaskan Yorick. Saat pesta berlangsung, Ny. Ellison mengalami kecelakaan dalam sebuah permainan. Orang-orang menjadi panik. Pertolongan bagi Ny. Ellison menjadi terkendala ketika mereka menyadari semua mobil tidak bisa digunakan untuk membawa si korban ke rumah sakit karena bannya kempes. Mereka pun tidak bisa memanggil ambulans karena jaringan telepon terputus.

Pada penghujung cerita, Ny. Ellison akhirnya sembuh dari kecelakaan yang ia derita setelah menginap hampir tiga minggu di rumah sakit. Peristiwa tersebut masih membekas di kepala Yorick yang merasa begitu bersalah karena memberikan ide tentang permainan yang ternyata memunculkan korban. Akan tetapi semua orang tidak tahu bahwa pelaku pengempesan ban mobil dan pemutus jaringan telepon yang menyebabkan pertolongan terhadap Ny. Ellison terhambat adalah si tokoh Aku. Bahkan, hal itu tetap menjadi satu rahasia ketika Yorick mengabarkan akan menikahi perempuan yang menjadi pujaan hati si tokoh Aku.

Unsur Mocking Modernity dalam Cerita

Dalam “Yorick”, kita tidak menemukan keseluruhan delapan unsur yang dijabarkan oleh Linden Peach. Akan tetapi, konsepsi tentang kejahatan sebagai bentuk cemoohan terhadap modernitas sangat menonjol pada tiga unsur, yaitu unsur mengkriminalisasikan modernitas (criminalizing modernity), citra terbalik (the inverse image) dan pembagian wilayah desa-kota (a divided countryside). Sedangkan lima unsur lainnya berada dalam siratan kalimat-kalimat yang tidak begitu menonjol. Berikut ini, penulis akan mencoba menjabarkan kode-kode yang menjadi poin tentang penggambaran mocking modernity  menurut Linden Peach.

Criminalizing modernity

Secara garis besar, latar dari cerita dalam “Yorick” memberikan representasi yang jelas tentang kehidupan masyarakat modern. Modernitas selalu berkaitan dengan gerakan budaya dan intelektual, yang berdasarkan sejarahnya bermula pada kisaran tahun 1436-1789 dan terus berkembang hingga tahun 1970-an (Toulmin, 1992: 3-5). Pada titik ini, dapat dipahami bahwa modernitas memiliki ciri tentang kemajuan ilmu pengetahuan, rasionalitas, dan pertumbuhan industrialisasi dan kapitalisme (Barker, 2005: 444). Masyarakat modern hidup dalam individualitas yang tinggi, memiliki kesibukan terhadap pekerjaan, dan tuntutan-tuntutan lainnya, misalnya cita-cita untuk menuntaskan karir pendidikan. Terkait dengan pengaruh industrialisasi dan kapitalisme, masyarakat modern hidup dalam ruang lingkup gerak industri dan produksi barang dan jasa, serta keberadaan teknologi elektronis dan mesin.

Dalam cerita “Yorick”, hal itu terlihat jelas dari jabaran tentang pengenalan identitas Catherine melalui keterangan yang disampaikan oleh tokoh Aku:

“…saya mengetahui bahwa namanya Catherine,…, datang ke sini menjadi mahasiswa telekomunikasi dan mempunyai cita-cita menjadi penyair televisi atau radio. Sekarang dia mempunyai pekerjaan sambilan di Kantor Radio dan Televisi Universitas… Abangnya menjadi mahasiswa ekonomi di kampus Urbana Champagne di Illions, sedangkan ayahnya menjadi pegawai Kantor Pos Skokane, dan ibunya bekerja pada sebuah perusahaan roti… Ketika saya menanyakan apakah sekali tempo saya bisa mampir ke rumahnya dan kalau mungkin berjalan-jalan dengan dia, dia menjawab: “Mungkin saya tidak bisa. Saya repot sekali.” Kemudian dia bercerita macam-macam mengenai kuliahnya dan pekerjaannya.” (Budi Darma, 2004: 121)

Linden Peach juga menjelaskan bahwa dalam tulisan cerita kejahatan, modernitas seringkali ditentukan secara spesifik dengan detail kekayaan yang memasukkan segala unsur yang berhubungan dengan pangan, kendaraan, pakaian dan gaya hidup, seperti body tattoos (Linden Peach, 2006: 4). Hal ini dapat kita lihat pada jabaran Budi Darma tentang pesta silaturahmi yang dihelatkan oleh keluarga Harrison di kediamannya. Para tokoh dalam cerita, si Aku dan Yorick, membeli makanan dan minuman berupa coke dan kue besar untuk melamar pasangan. Narasi tentang membeli makanan ini menjadi semacam kode tentang detail kekayaan yang dimiliki individu dalam cerita tersebut. Selain itu, di dalam cerita juga seringkali disinggung soal kendaraan berupa mobil, serta kemampuan para tokoh dalam menyewa pesawat telepon untuk kepentingan komunikasi.

Dalam menjelaskan unsur criminalizing modernity, Linden Peach mengatakan bahwa “Criminality is a reminder of everything that these narratives, despite their grand ideals, failed to eradicate and the problems which the in turned created” (Linden Peach, 2006: 4). Kejahatan atau indikasi akan dilakukannya kejahatan menjadi semacam sindiran terhadap kemapanan modernitas sebagai hal yang ideal, justru menjadi faktor penyebab munculnya masalah kejahatan. Budi Darma merepresentasikan hal itu dengan menghadirkan narasi tentang kebencian tokoh Aku terhadap Yorick, yang selalu mengganggu ketenangan si Aku karena kebiasaan Yorick meminum minumannya yang tersimpan dalam lemari es tanpa izin dan menyalakan televisi dan record player stereo dengan suara keras. Selain itu, keberadaan mobil si induk semang, Ny. Ellison dan mobil para tetangga (salah satunya Ny. Harrison) juga menjadi pemicu bagi tokoh Aku untuk melakukan tindakan pidana dengan mengempeskan ban mobil tersebut. Hal ini jelas menjadi semacam kode cemoohan atau celaan terhadap atribut modernitas (mobi, lemari es, televisi dan telepon) yang seharusnya memberikan satu kenyamanan dan kemudahan beraktivitas, tetapi malah menjadi faktor pendorong terjadinya kejahatan, dan bahkan menjadi alat untuk dilakukannya kejahatan tersebut.

The inverse image

Citra terbalik menjadi salah satu unsur yang paling kuat tentang sindiran terhadap modernitas. Penggambaran terbalik berhubungan dengan posisi tokoh baik dan tokoh jahat. Linden Peach (2006: 10 – 11) menjelaskan bahwa sistem sosial tidak hanya berdasarkan pada hal-hal ideal yang diakui, tetapi juga pada sisi negatifnya. Hal ini dapat diilustrasikan dalam kajian ilmu kedokteran, yang menyatakan bahwa hal ideal adalah tubuh yang sehat, sedangkan hal yang paling buruk adalah mayat. Dalam modernitas, hal yang ideal adalah masyarakat yang taat hukum (berbanding lurus dengan tubuh yang sehat), sedangkan hal yang negatif adalah para pelaku pelanggaran hukum (berbading lurus dengan mayat).

Namun demikian, cerita kejahatan seringkali memberikan representasi citra yang sebaliknya dari sudut pandang modernitas. Sebagai contoh, dalam Paul Clifford (Edward Bulwer Lytton, 1830), Linden Peach menjelaskan tentang contoh dari penggambaran citra terbalik tersebut, yaitu masih terdapat jiwa kesopanan dalam diri seorang pencuri, dan seorang perampok tidak lebih buruk dari seorang elit politik. Lytton juga memberikan gambaran dalam Eugene Aram (1832) tentang seorang terpelajar, Eugene Aram, yang justru menjadi pelaku pelanggaran hukum karena melakukan pembunuhan dan terleibat dalam kasus pemerasan. Di sini, karya fiksi Lytoon melakukan eksplorasi terhadap ambiguitas dari modernitas melalui penekanan pada figur seorang pelaku kejahatan (Linden Peach, 2006: 11- 12).

Pada cerita “Yorick”, hal itu dapat dilihat pada sosok tokoh si Aku yang diperbandingkan dengan tokoh Yorick dan Ny. Ellison sebagai korban. Budi Darma menggambarkan sosok Ny. Ellison sebagai:

“Ny. Ellison, demikianlah nama pemilik rumah, ternyata tampak seperti mayat. Matanya cekung, kening dan pipinya keriput, kupingnya terlalu besar untuk kepalanya, tampak agak berat dan kadang-kadang akan jatuh.” (Budi Darma, 2004: 116)

Sedangkan figur Yorick digambarkan sebagai:

“Bagi saya dia lebih menyerupai tengkorak daripada manusia. Kurus kering, seolah tidak mempunyai daging. Dan setiap kali dia bergerak seolah ada suara gemeretak tulang beradu dengan tulang.” (Budi Darma, 2004: 126)

Selain itu, khusus untuk tokoh Yorick, Budi Darma kembali menegaskan sisi negatifnya melalui perilaku dan kebiasaan buruknya yang tidak bisa hidup bersih. Sementara itu, gambaran yang sebaliknya ada pada tokoh si Aku. Tokoh aku dikesankan sebagai orang yang memiliki pola hidup yang baik dan cinta akan kebersihan. Hal ini ditegaskan dalam kalimat:

“Setiap dia pulang dari berlari, tubuhnya dibairi keringat, dan baunya memukul hidung saya, dan memeningkan kepala saya. Sering dia lupa menaruhkan pakaian kotornya di kamar mandi. Sering dia lupa membawa ke luar handuk dan sabunnya. Sering dia lupa menutup kran wastafel kamar mandi. Sering dia lupa mengguyur air setelah kencing.” (Budi Darma, 2004: 126)

Tokoh Yorick dan Ny. Ellison digambarkan sebagai sosok yang menakutkan, dan memiliki kesejajaran dengan konsepsi modernitas tentang sesuatu yang buruk (kata mayat dan tengkorak menjadi semacam kode terhadap makna negatif). Yorick dikesankan sebagai orang yang tidak tahu aturan. Berbeda dengan tokoh Aku yang terkesan lebih sopan, suka membantu, dan terpelajar (Lihat Budi Darma, 2004: 120; 124; 127). Namun, the inverse image atau citra terbalik justru terlihat ketika di dalam cerita disebutkan bagaimana tokoh Yorick adalah tipe orang yang menyenangkan dan memiliki banyak teman. Ny. Ellison yang digambarkan begitu menakutkan ternyata adalah orang yang lemah dan justru menjadi korban dari kejahatan yang dilakukan oleh tokoh si Aku, sedangkan Yorick adalah orang yang paling mengkhawatirkan keadaan Ny. Ellison dan membantunya sepenuh hati ketika terkena musibah tersebut.

A divided countryside

Linden Peach menjelaskan bahwa keindahan alam pedesaan (rural idyll) merupakan satu jenis penyamaran intelektual yang menyembunyikan satu kenyataan dari pedesaan yang lebih ‘gelap’. Secara tradisional, representasi karya sastra tentang kejahatan umumnya berhubungan dengan kejahatan oleh kelas bawah. Namun, tipikal kejahatan dalam cerita fiksi yang mencomooh modernitas lebih menekankan pada pelanggaran hukum oleh orang-orang biasa dibandingkan penjahat terstereotip yang sering terjadi di daerah urban. Namun esensinya bukan terletak pada wilayah rural sebagai daerah gelap (dark place) yang mencemooh romantisasi masyarakat modern tentang desa yang indah, melainkan sebagai argumen tandingan terhadap konsepsi umum tentang kejahatan yang seringkali dianggap sebagai penyakit pada pelaku kejahatan (Linden Peach, 2006: 22 – 24).

Lebih lanjut, Linden Peach menjelaskan bahwa terdapat lima kategori kejahatan (umumnya kejahatan ringan) yang sering terjadi di daerah rural, dan menjadi tipikal kejahatan dalam karya fiksi. Pertama, penyerangan atau assaults (akibat bentrokan dengan tetangga atau anggota keluarga). Kedua, pengrusakan property, seperti merusak rumah atau pondok. Ketiga, kejahatan property yang tidak berbahaya, seperti mencuri ikan dan hasil pertanian). Keempat, pelanggaran moral, seperti pemabuk dan gelandangan. Dan yang terakhir, kejahatan teknis (pelanggaran peraturan lalu lintas, peraturan kesehatan masyarakat, dan sebagainya).

Melihat cerita Yorick, karakteristik penyamaran intelektual dengan menonjolkan keindahan daerah  atau lokasi latar tempat cerita tersebut berlangsung begitu terlihat di awal-awal cerita:

“Mula-mula Jalan Grant menarik perhatian saya karena jalan ini terbuat dari batu bata dan bukan dari aspal. Lebih indah nampaknya disbanding dengan jalan-jalan biasa lainnya… Kemudian, saya tertarik juga pada pohon-poon di sepanjang jalan. Semuah sudah tua; lebih tua daripada pohon-pohon di jalan-jalan lain, tapi lebih kokoh dan anggun.” (Budi Darma, 2004: 113)

Budi Darma tidak memberikan keterangan tegas apakah lokasi tersebut merupakan pedesaan (rural) atau daerah transisi. Melihat dari keterangan tentang lokasi Jalan Grant dan Jalan Sepuluh Selatan yang berdekatan dengan Gedung Union (Indiana Memorial Union Building, yang masuk dalam wilayah kampus Indiana University Bloomington), dapat dikenali bahwa lokasi tersebut merupakan wilayah perkotaan. Namun demikian, dalam cerita Yorick, terdapat kecenderungan dari Budi Darma untuk mengesankan lokasi tesebut sebagai wilayah yang indah, seperti pedesaan (rural atau countryside), yang jauh dari karakteristik kota, meskipun tidak ada aktivitas pertanian yang menjadi ciri khas desa. Hal ini terlihat dari dialog Catherine dengan tokoh Aku:

“…daerah ini memang baik—sepi, tentram, jauh dari keramaian kota. Tapi yang merugikan, katanya, tempat ini jauh dari tempat umum untuk belanja, mescin cuci pakaian, tempat hiburan, dan lain-lain.” (Budi Darma, 2004: 123)

Berangkat dari penemuan kode ini, cerita Yorick memenuhi unsur dari a divided countryside, yang dilihat bukan dari letak geografis yang sesungguhnya, melainkan dari gambaran dalam cerita. Bentuk kejahatan yang terjadi dalam cerita ini pun adalah dua dari kategori yang dijabarkan oleh Linden Peach, yaitu berupa kejahatan ringan yang melanggar ketentuan hukum, seperti bentrok dengan tetangga (tokoh Aku mengalami perselisihan dengan tokoh Yorick), dan pengrusakan property (tokoh Aku mengempeskan ban mobil Ny. Ellisn dan Ny. Harrison, serta memutuskan kabel telepon). Hal ini merepresentasikan tentang kejahatan yang dilakukan oleh orang biasa, bukan oleh kelas bawah atau pelaku yang terstereotip sebagai kriminal, dan secara tidak langsung berlawanan dengan konsepsi umum tentang kejahatan oleh pelaku kejahatan yang sering terjadi di daerah urban (perkotaan) yang menjadi karkater atau ciri khas dari modernitas.

Unsur mocking modernity lainnya

Unsur-unsur mocking modernity lainnya dalam cerita ini tidak menonjol terlalu kuat. Dalam aspek dangerous masculinities, tokoh aku menegaskan kekesalannya dengan kata-kata ‘menusuk’ dan ‘menerkam’ seraya melakukan tindakan tersebut (Budi Darma, 2004: 132; 142). Sementara itu, unsur criminal and community tidak terlihat dalam cerita ini. Sebagaimana dijelaskan oleh Linden Peach, pelaku kejahatan sangat berhubungan dengan lingkungan masyarakatnya yang menempanya demikian, karena terdiri dari kelompok orang-orang yang memiliki minat sama. Sedangkan di dalam cerita ini, tokoh Aku bahkan tidak memiliki teman sama sekali yang memiliki persepsi dan pendapat sama dengan dirinya. Kejahatan yang ia lakukan murni berasal dari rasa benci yang tumbuh kepada Yorick.

Terkait unsur criminal physiologies, Budi Darma tidak menjelaskan sama sekali tentang ciri-ciri, baik tubuh maupun wajah dari si pelaku (tokoh Aku). Karakter jahat dari tokoh tersebut justru dibangun dari sisi psikologisnya, bukan fisik. Selain itu, cerita ini juga tidak menyajikan ciri-ciri khas tertentu tentang keseharian atau aktivitas seorang pelaku kejahatan, seperti misalnya gaya berbicara atau istilah-istilah atau jargon yang sering digunakan oleh para pelalaku criminal (inside the underworld). Dan yang terakhir, “Yorick” yang dibuat pada tahun 1979 ini secara spesifik tidak menunjukkan hubungan dengan lokasi, peristiwa atau sejarah di masa lampau, tetapi dapat ditelusuri ke belakang terkait dengan ritual-ritual masyarakat lokal yang berhubungan dengan kekuatan gaib. Unsur dari penekanan kota di abad 20 (Twentieth-century badlands) dalam cerita ini yang berhubungan dengan keadaan sosial di masa lalu ialah ketika Ny. Ellison melakukan permainan mengambil barang di dalam baki dengan mata tertutup. Tanpa sengaja, Ny. Ellison mengambil tengkorak dan peti mati mainan. Sebuah kode bahasa yang menandakan si tokoh akan menjadi korban. Namun, hal ini cukup jauh menyimpang dari unsur kriminologi yang lebih bersifat rasional.

Kesimpulan

Semua unsur yang telah dijabarkan di atas merupakan bentuk dari peniruan dan penyamaran akan realitas yang sesungguhnya, yang secara tidak langsung mengolok-olok kemapanan dari modernitas. Selain itu, karya Budi Darma ini mengedepankan satu konsepsi tentang kriminalitas yang berseberangan dengan konsepsi umum tentang kejahatan dan pelaku kejahatan di dalam masyarakat modern, tetapi tetap berada pada karakteristik pemaknaannya dalam karya tulis fiksi, bahwa kejahatan merupakan representasi dari sikap yang meragukan keidealan dari modernitas.

Daftar Pustaka

Barker, Chris. 2005. Cultural Studies: Theory and Practice. London: Sage.

Bloomington Census Data, diakses dari http://bloomington.in.gov/ documents/viewDocument.php?document_id=481, 18 Desember 2011.

Darma, Budi. 2004. Orang-Orang Bloomington: Kumpulan Cerita. Jakarta: Metafor Publishing.

Toulmin, Stephen Edelston. 1992. Cosmopolis: The Hidden Agenda of Modernity. Chicago: University of Chicago Press.

Peach, Linden. 2006. Masquerade, Crime and Fiction: Criminal Deceptions. USA: Palgrave McMillan.

Author: Manshur Zikri

Penulis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s