EDITING*

sampul buku barsam

Pengertian Editing

Editing, sebagai kekuatan kreatif dasar dari film, adalah proses yang dilakukan editor dalam menggabungkan dan mengkoordinasikan shots individu menjadi keseluruhan sinematik yang utuh. Editing terdiri dari dua bagian. Yang pertama dimulai ketika editor mengambil rekaman yang ditangkap oleh cinematographer dan sutradara dan kemudian memilah, mengatur (seperti hasil tangkapan yang akan digunakan atau dikombinasikan menjadi adegan atau urutan), dan merakit komponen-komponen dalam bentuk akhir visual film. Bagian kedua meliputi pencampuran semua trek suara ke dalam sound track master dan kemudian melakukan pencocokan yang melacak suara dengan gambar visual

Ken Dancyger membedakan antara teknik, kerajinan (craft), dan seni editing. Teknik (atau metode) adalah aktual yang bergabung bersama dalam dua gambar (shot), atau sering disebut sebagai cutting atau splicing, terutama sebelum era digital, dimana editor pertama sekali harus memotong setiap shot dari gulungan masing-masing film sebelum merekatan atau merekam semua shot bersama-sama. Kerajinan atau keterampilan adalah kemampuan untuk menggabungkan shot dan menghasilkan makna yang sebelumnya tidak ada di dalam salah satu dari shot itu secara individu. Seni mengedit adalah kombinasi dari dua atau lebih shot yang menghasilkan makna tingkat lanjut, seperti kegembiraan, wawasan, shock, atau pencerahan dan penemuan.

Praktek editing memiliki manfaat kecenderungan psikologis untuk mencapai berbagai efek: untuk membantu bercerita, untuk memprovokasi ide atau perasaan, atau untuk menarik perhatian sebagai elemen-elemen bentuk sinematik. Oleh sebab itu, seorang editor harus membuat keputusan sulit mengenai shot atau gambar mana yang digunakan dan bagaimana menggunakannya.

Film Editor

Film editor adalah orang yang bertanggung jawab dalam proses pekerjaan setelah sutradara menangkan semua gambar atau merekam film. Dalam banyak produksi film besar, tanggung jawab editor sebagai kolaborator menjadi sangat penting. Bahkan selama praproduksi dan produksi, editor dapat membuat saran kepada sutradara dan sinematografer untuk komposisi, pemblokiran, pencahayaan, dan penembakan gambar yang akan membantu proses pengeditan. Editor secara harfiah bekerja di belakang layar, namun kontribusi mereka dapat membuat perbedaan antara keberhasilan dan kegagalan artistik, antara film biasa dan sebuah mahakarya.

Secara khusus, seorang editor bertanggun jawab pada tiga aspek, yaitu sebagai berikut:

  1. Hubungan spasial antara setiap shot. Kekuatan editing dalam membangun hubungan spasial antara shots merupakan satu hal yang penting, dan oleh sebab itu, hampir tidak ada kebutuhan untuk para pembuat film untuk memastikan bahwa ada ruang yang nyata yang sesuai dengan dimensi yang tersirat dengan cara mengedit. Terutama pada film drama sejarah dan ilmu pengetahuan, fil fiksi, sangat bergantung pada kekuatan editing untuk menipu kita ke dalam pemahaman ‘dunia film’ sebagai ruang yang luas dan lengkap, bahkan ketika kita hanya diperlihatkan pecahan-pecahan kecil dari ruang tersirat. Serangkaian tangkapan dan susunan gambar yang cerdik difilmkan dalam rancangan yang sangat hati-hati untuk menciptakan ruang ilusi.
  2. Hubungan temporal antara shots. Plot naratif film sangat sering dibentuk dan disusun dalam suatu cara yang berbeda secara signifikan dari cerita yang mendasari film. Bahkan, banyak film-film kontemporer memiliki sumber dalam pengambilan keputusan yang berani dalam menyajikan film yang memanipulasi penyajian plot dalam cara-cara kreatif dan membingungkan. Dalam hal ini, proses mengedit sangat dibutuhkan untuk membangun manipulasi tersebut.
  3. Irama keseluruhan film. Proses editing menentukan durasi gambar. Dengan demikian, mengontrol jangka waktu agar para penonton dapat memiliki cukup waktu untuk menerap makna yang ditampilkan. Editor dapat mengontrol ritme dari kecepatan film, dengan memvariasikan durasi shots dalam hubungannya dengan satu sama lain, dan juga dengan melakukan kontrol kecepatan (tempo) dan aksen. Dengan adanya irama itu, memungkinkan kita memiliki rentang waktu untuk berpikir tentang apa yang kita lihat.

Dua Pendekatan dalam Editing: Kontinuitas dan Diskontinuitas

Dalam pengeditan film, yang menjadi inti utama adalah untuk menceritakan kisah dengan jelas, efisien, dan sekoheren mungkin. Proses editing yang mulus atau terlihat mengalir begitu mulusnya sehingga kita tidak terganggu oleh pemotongan di sana-sini, biasanya disebut sebagai gaya kontinuitas, dan paling lazim digunakan dalam pembuatan film umumnya. Akan tetapi, terdapat pendekatan lain, yaitu dimana pembuat film dengan sengaja memilih untuk memanipulasi gambar sehingga transisi di antara gambar-gambar itu seolah tidak mulus, tidak teratur secara terus menerus, atau atau tidak koheren. Pendekatan ini sering dinamakan sebagai pendekatan diskontinuitas.

Dalam pendekatan kontinuitas, terdapat bangunan dasar dalam proses editingnya, yaitu master shot dan mempertahankan screen direction (arah layar).

Master shot menjadi penting karena dua alas an. Yang pertama karena menyediakan atau memfasilitasi film editor dengan jenis alat yang dibutuhkan dalam melakukan kegiatan secara efektif. Yang kedua, kehadiran master shot juga berfungsi untuk mengarahkan penonton kepada shots yang akan mengikuti setelahnya.

Beberapa Teknik Editing

Dalam mempertahankan screen direction itu, dilakukan beberapa teknik editing dalam membangun susunan gambar, diantaranya adalah:

  1. Shot/reverse shot, yaitu satu teknik di mana kamera (dan juga editor) mengganti-ganti antara gambar karakter yang berbeda-beda, biasanya dalam suatu percakapan atau interaksi lain.
  2. Match cuts, yaitu pencocokan antara shot yang satu dengan yang lain dalam tindkaan (action), subjek, konten grafik atau kontak mata dari dua karakter dalam film, yang bertujuan untuk menciptakan sebuah rasa kontinuitas di antara dua shot.
  3. Parallel editing, yaitu pemotongan dua atau lebih satu rekaan acting yang terjadi secara simultan pada lokasi atau waktu yang berebeda. Teknik ini terdiri dari crosscutting (memotong antara dua atau lebih action yang terjadidi waktu dan tempat yang sama), intercutting (pemotongan adegan yang terjadi pada waktu yang sama, tetapi dengan perbedaan yang menciptakan efek adegan tunggal).
  4. Point of view editing, yaitu teknik yang digunakan untuk memotong shot yang satu secara langsung ke shot yang lain. Ini adalah pengeditan gambar subjektif yang menunjukkan adegan persis seperti bagaimana karakter melihatnya, dan proses ini hanya bias diciptakan oleh kehebtan pendayagunaan kamera.

Selain empat teknik tersebut, ada juga beberapa teknik dalam menciptakan transisi, yang juga bertujuan untuk memunculkan makna tertentu bagi penontong. Beberapa teknik itu adalah:

  1. Jump cut, yaitu teknik penyajian lompatan adegan tiba-tiba, yang barangkali tidak logis dan membingungkan.
  2. Fade, yaitu teknik transisi yang memungkinkan satu adegan membuka atau menutup secara perlahan.
  3. Dissolve, yaitu teknik transisi yang memungkinkan satu shot menimpa/melapis shot yang lain dengan muncul secara bertahap dan mulai mengganti shot yang dilapisi.
  4. Wipe, yaitu transisi yang mengindikasikan satu perubahan di mana satu shot menghapus/menimpa atau menggantikan shot yang lain, baik secara vertkal, horizontal atau diagonal.
  5. Irish shot, penekakan gambar bergantung pada bentuk irish yang diinginkan.
  6. Freeze-frame, gambar atau bingkai diam dalam film.
  7. Split screen, menghasilkan efek yang mirip dengan paralel editing dalam kemampuannya untuk menceritakan dua atau lebih cerita pada saat yang sama.

[*] Tugas Mata Kuliah Kajian Film, Review Chapter Editing, Richard Barsam dan Dave Monahan (2010), “Looking at Movie: An Introduction to Film”, Third Edition, hal.319-365

Author: Manshur Zikri

Penulis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s