SINEMA, APA ITU? (sebuah esai pendapat)

Secara konkret, kata sinema tidak dapat dijabarkan sebagaimana kita dapat menjabarkan dengan mudah tentang satu benda yang dapat digenggam. Dengan kata lain, sinema tidak memiliki wujud, melainkan berupa konsep dan bersifat metafisis (khayali).

Advertisements

Secara konkret, kata sinema tidak dapat dijabarkan sebagaimana kita dapat menjabarkan dengan mudah tentang satu benda yang dapat digenggam. Dengan kata lain, sinema tidak memiliki wujud, melainkan berupa konsep dan bersifat metafisis (khayali). Kasus ini serupa dengan usaha untuk mencoba mendefinisikan gaya tarik bumi (gaya gravitasi) yang dilakukan oleh Newton. Secara kasat mata, gaya gravitasi tidak bisa dilihat dan digenggam, tetapi dia ada dan hadir di tengah-tengah kita. Apa yang dilakukan oleh Newton ialah melakukan penjelajahan makna melalui serangkaian percobaan dan perhitungan untuk membuktikan keberadaan gaya gravitasi tersebut.

Hal yang sama terjadi pada kata ‘kejahatan’. Dalam kajian kriminologi-sosiologis, kejahatan sangat sulit untuk dijelaskan dengan mudah. Para ahli pun masih memiliki batasan definisi yang berbeda-beda tentang kejahatan. Banyak masyarakat umum yakin bahwa menusuk orang dengan pisau merupakan kejahatan, tetapi belum tentu demikian, justru kata yang tepat atas kejadian itu adalah ‘pembunuhan’. Contoh yang lainnya, mengambil barang orang lain tanpa sepengetahuan pemilik barang, juga sering dikatakan sebagai kejahatan, tetapi kata yang lebih tepat untuk kejadian itu adalah ‘pencurian’. Oleh sebab itu, pakar kriminologi-sosiologis berkeyakinan bahwa untuk mendapat pemahaman tentang kejahatan hanya bisa dilakukan dengan cara membaca pola tingkah laku, relasi antara pelaku dan korban, reaksi sosial masyarakat, dan persoalan tentang kerugian yang ditimbulkan.

Kembali ke persoalan sinema, jika mempertanyakan pengertiannya, kita tidak serta merta langsung dihadapkan pada sumber referensi yang memuat geologi dan geografi lengkap tentang sinema, karena pada dasarnya kata sinema tidak mengarah pada satu definisi yang tegas. Sebagaimana Andre Bazin menjelaskan dalam Qu’es-ce Que le Cinema?, bahwa untuk mendapatkan satu pengertian sinema, kita harus melakukan pembacaan terhadap film yang dihadirkan pada renungan kritik sehari-hari, untuk menghantarkan kita pada sederet ketukan penduga, penjelajahan dan pengilasan terhadapnya. Namun, untuk memudahkan kita dalam melakukan penelaahan terhadap arti atau definisi sinema, Bazin memberikan kata kunci, bahwa sinema adalah bahasa (Bazin, 1945; 1958).

Berdasarkan pengalaman dan intensitas bersinggungan dengan hal yang berkaitan dengan film dan sinema, penulis memiliki pengertian sendiri terhadap sinema. Selama ini kita percaya bahwa sinema (berasal dari kata Bahasa Inggris, cinema) memiliki arti dalam Bahasa Indonesia sebagai gedung bioskop. Bagi penulis sendiri, sinema lebih tepat untuk ditempatkan sebagai kata yang bermakna dekat dengan budaya atau perilaku yang dialami/dilakukan oleh masyarakat atau individu dalam persinggungannya dengan apa yang kita kenal sebagai film (atau lebih tepatnya, sinema itu sendiri merupakan budaya menonton film).

Penulis memahami bahwa kata sinema sangat erat dengan apa yang kita kenal sebagai budaya menonton. Dengan demikian, merujuk pada pemahaman penulis tentang budaya menonton citra bergerak yang dapat berbeda-beda satu sama lain, kita dapat pula membedakan antara film dan video (televisi).

Film memiliki attitude (sikap, gelagat, atau laku) yang berbeda dengan video (televisi). Menonton sebuah film harus melalui semacam ritual yang tidak dapat dielakkan oleh penonton. Ritual yang penulis maksud adalah beberapa langkah yang harus dilakukan oleh penonton untuk menikmati tayangan sebagai film. Hal ini merujuk kepada pemahaman penulis tentang film sebagai karya yang otoritasnya dimiliki oleh pembuat film sementara penonton, secara tidak langsung, menjadi pihak yang pasif dalam menerima tampilan citra bergerak yang ditampilkan.

Ilustrasinya adalah jika kita ingin menonton sebuah film yang ditampilkan di bioskop A, kita harus mengetahui jadwal tayangnya terlebih dahulu, kemudian kita harus membeli tiket untuk mendapatkan kursi. Kita harus duduk di dalam satu ruangan gelap dengan layar besar ketika ingin menonton film. Selain itu, di dalam bioskop terdapat semacam kesepakatan bersama bahwa penonton tidak boleh membuat keributan selama film diputar dari awal hingga selesai. Dengan demikian, penonton tidak aktif selama film X diputar di dalam bisokop A. Rangkaian kegiatan tersebut seolah menjadi ritual wajib bagi setiap orang yang ingin menonton sebuah film sebagaimana mestinya.

Hal ini berbeda ketika kita menonton video (televisi atau citra bergerak melalui perangkat lain, seperti DVD player). Penonton tidak memiliki kewajiban untuk melakukan semacam ritual seperti yang dilakukan saat menonton di bioskop. Jika kita memiliki TV atau DVD player di rumah atau kamar pribadi, kita bisa melakukan kegiatan yang kita suka sembari menonton, dan tidak perlu mematikan lampu untuk membuat ruangan menjadi gelap. Kita juga dapat melakukan pause pada tayangan yang sedang diputar, atau menukar channel televisi untuk memilih tayangan yang kita suka. Pada titik ini, penggunaan kata film dan maknanya sudah menjadi kabur, karena apa yang kita tonton sesungguhnya telah menjadi materi video. Kata film hanya merujuk kepada tontonan yang awalnya dimaksudkan oleh si pembuat untuk menjadikannya sebagai karya film.

Perbedaan sikap dan cara menonton tersebut lah yang penulis pahami sebagai budaya menonton. Film memiliki attitude-nya sendiri, begitu juga dengan video (televisi). Karakteristik yang dimiliki oleh film dengan attitude-nya yang khas itu merupakan satu budaya perilaku yang penulis yakini sebagai Sinema: ruang gelap, hening, penonton menjadi pasif dan berada di bawah kontrol dari film itu sendiri. Dengan demikian, lantas kita akan menyadari bahwa tentunya penggunaan kata sinema pada program “Sinema Malam”, “SCTV Sinema Dini Hari”, “Sinema Hidayah”, “Galeri Sinema”, “Bioskop Trans TV”, dan sebagainya di berbagai program stasiun televisi merupakan satu hal yang keliru.


[i] Tugas Mata Kuliah Kajian Film, oleh Manshur Zikri

Author: Manshur Zikri

Penulis

1 thought on “SINEMA, APA ITU? (sebuah esai pendapat)”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s