Dampak Media Terhadap Pemirsa?[i]

Apakah dampak media terhadap pemirsanya?

McGuire (1986) menyebutkan lima dampak media (a) dampak dari kekerasan yang ada di media mempengaruhi tingkat agresifitas seseorang,  (b) media mempengaruhi gambaran seseorang tentang konstruksi sosial dari realitas, (c) dampak bias media pada stereotype, (d) dampak dari konten erotis dan seksual terhadap sifat dan perilaku sesorang, dan (e) bagaimana media mempengaruhi aktifitas dan gaya seseorang. McQuail (1994) menjabarkan inti dari penelitian yang sering dilakukan mengenai dampak media (a) persebaran dan perkembangan ilmu pengetahuan dalam masyarakat, (b) penyebaran dari perubahan, (c) sosialisasi dari norma sosial yang ada, dan (d) institusi dan adaptasi kebudayaan dan perubahannya.

Dimensi lain mengenai dampak media adalah menyangkut dampak media dalam jangka pendek (short-term effect) dan dampak jangka panjang (long-term effect). Pandangan-pandangan mengenai dampak jangka pendek ini meliputi: respons dan reaksi individu (individual response and reaction), media dan kekerasan, model dampak, perilaku (a model of behavioural effect), dampak reaksi kolektif (collective reaction effects), kampanye, dan propaganda.

Dalam jangka pendek (short-term effect) media memiliki dampak terhadap masyarakat. Salah satu contohnya adalah pada saat malam hallowen (1938) di Texas ketika di televisi menayangkan film fiksi tentang invasi alien dari mars, bersamaan dengan itu banyak pesawat terbang Amerika yang melintas di atas perumahawan warga. Beberapa warga membayangkan bahwa pesawat yang melintas itu adalah pesawat alien, dan mereka juga membayangkan invasi dari mars benar-benar terjadi. Bahkan ada seorang warga yang menelfon kerabatnya dan memberitahukan bahwa dia sangat takut akan hal yang sedang terjadi. Belum lagi pada kasus di Indonesia, ketika acara WWF SmackDown masih ditayangkan pada salah satu stasiun TV Swasta. Ketika itu ada beberapa pemberitaan di media yang memberitakan kekerasan yang dilakukan oleh anak-anak kepada temannya akibat terinspirasi acara WWF SmackDown.

Selain itu perkembangan teknologi media juga memiliki dampak positif dan negatifnya bagi masyarakat. Misalnya saja media internet yang semakin berkembang saat ini. Jika dilihat dari arti kata berita, berita berasal dari bahasa sansekerta ‘vrit’ yang dalam bahas inggris disebut ‘write’ yang arti sebenarnya adalah ‘ada’ atau telah terjadi. Menurut KBBI, berita berarti laporan mengenai kejadian atau peristiwa yang hangat. Dahulu berita hanya bisa menikmati berita dari koran. Saat ini melalui media internet, maupun media televisi berita bisa dilihat secara langsung (real time) dan hanya terpaut beberapa detik dari tempat kejadian. Contohnya saja pada media televisi, berita tentang penangkapan tersangka korupsi dan pengeboman di suatu tempat bisa disaksikan secara langsung dari layar televisi. Sehingga perlu kajian yang lebih mendalam untuk mengetahui dampak dari media pada saat ini.

Apakah dampak tersebut akan diderita oleh semua pemirsa?

Menurut kami, dampak ini tidak akan diderita oleh semua pemirsa. Media sendiri memiliki klasifikasi tontonan yang sebenarnya pemirsanya terdiri dari beberapa segmen. Segmentasi dari jenis tontonan dan jenis penonton inilah yang kemudian tidak semua pemirsa terkena dampak tersebut. Tetapi, pada anak-anak sebagai konsumen TV, mereka rentan terkena dampak langsung dari media televisi. Apalagi, untuk anak-anak yang mengkonsumsi tayangan yang bukan segmentasi untuk mereka, maka mereka otomatis akan terkena dampak dari televisi. Tapi, sekali lagi, tidak semua pemirsa. Karena, jika klasifikasi dan segmentasi serta nilai-nilai yang dipancarkan oleh TV dapat dicerna baik dan sesuai dengan pemirsanya, maka dampak negatif dari TV dapat diminimalisir, dan pemirsa tersebut tidak menderita dampaknya.

Faktor atau unsur apa saja yang menyebabkan hal tersebut dapat terjadi ? Bagaimana relasi antara faktor atau unsur tersebut ?

Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi substansi dari media sehingga mempengaruhi pemirsanya antara lain adalah karena adanya faktor atau unsur kepemilikan dan kontrol terhadap media itu sendiri yang kemudian berujung pada pengutamaan kepentingan-kepentingannya. Pada pembagiannya, kepemilikan atas media dapat dibagi menjadi kepemilikan swasta dan kepemilikan publik (oleh pemerintah). Kepemilikan ini sangat berhubungan pada bentuk kontrol yang dilakukan atas media yang bersangkutan. Atas pertimbangan kepentingan politis, terutama di Indonesia, umumnya kontrol atas media dipegang oleh pemilik dari lembaga media yang dimaksud, meskipun di beberapa negara diterapkan satu kontrol yang dipegang oleh pihak yang bukan pemiliknya, misalnya di sebagian besar negara berkembang di Afrika dan Amerika Latin, kepemilikan oleh swasta masih berada di bawah kontrol negara (pemerintah).

Adanya kontrol terhadap media ini mempengaruhi isi dan materi yang akan disampaikan ke pemirsa, yang umumnya diintervensi oleh kepentingan-kepentingan pihak pengontrol, dengan tujuan menarik keuntungan. Contoh yang paling konkret adalah ketika Nazi Jerman berkuasa di sebagian besar wilayah Eropa, kontrol pemerintah sangat kuat terhadap media di negara tersebut. Seluruh rakyat Jerman menerima asupan media yang isinya telah ditentukan oleh pemerintah Nazi, dan ini menjadi cikal bakal fenomena ‘masyarakat massa’ atau mass society, di mana masyarakat Jerman secara serentak memiliki persepsi bahwa mereka merupakan ras tertinggi dan secara kolektif pula membenci masyarakat Yahudi yang berdampak pada pemusnahan masal terhadap etnis tersebut.

Dampak media terhadap pemirsa sangat bergantung pada sajian materi yang diberikan, terutama pada media arus utama, yang secara tidak langsung ditentukan oleh pihak pengontrol. Di Indonesia, kepentingan politis (political media) menjadi salah satu alasan paling utama pada masa represi Orde Baru, yang menjadikan media sebagai alat propaganda untuk ‘memperindah’ kinerja pemerintah. Hal ini mempengaruhi pendapat masyarakat saat itu terhadap pemerintahan Soeharto, meskipun tidak berdampak pada seluruh masyarakat karena, faktanya, terdapat kelompok-kelompok dari kalangan intelektual yang kritis atas tekanan dan kontrol rezim yang berkuasa terhadap media saat itu. Namun demikian, telah menjadi fakta bahwa pada masa itu, TVRI menjadi satu-satunya stasiun televisi yang mendominasi, dan seluruh pemirsa menontonnya setiap hari. Efek dari tontonan film Pemberontakan G 30 S/PKI yang diwajibkan oleh pemerintah untuk ditonton oleh masyarakat setiap tahun selama rentang waktu kekuasaannya, menjadi salah satu contoh yang paling nyata, di mana secara umum masyarakat percaya dengan pemberontakan kaum komunis yang menzalimi tujuh pahlawan revolusi di lubang buaya.

Sekarang ini, sebagian besar media dimiliki oleh pihak swasta. Setelah reformasi, yang membuka pintu kebebasan dalam dunia pers dan jurnalistik, kepemilikan atas media tidak lagi tersentralisasi oleh pemerintah, melainkan terdesentralisasi, di mana pihak swasta dapat memiliki dan mengontrol secara penuh media yang mereka kelola. Dalam keadaan seperti ini, muncul satu kecenderungan untuk mendahulukan kepentingan politis (political media) dari pemilik media bersangkutan, dan menjadi penyebab immoralitas, ketidaketisan dan pelanggaran hukum oleh media, yang akhirnya berdampak pula pada pembentukan (konstruksi) persepsi masyarakat yang mengonsumsi media tersebut. Sebutlah sebagai salah satu contoh, stasiun televisi TV One, yang dengan sengaja tidak memberitakan satu hal yang penting atau secara tendensius melakukan semacam penyebutan, pengambilan angle atau penekanan-penekanan tertentu dalam pemberitaannya tentang kasus lumpur gas di Sidoarjo akibat kelalaian PT Lapindo milik Bakrie & Brothers.

Kepemilikan media oleh pihak swasta, di satu sisi juga memposisikannya sebagai lahan bisnis yang sangat besar. Demi kepentingan eksistensi, aksi menarik keuntungan yang sebesar-besarnya menjadi cara lain untuk bertahan. Di sini lah para pengiklan memainkan perannya, yang secara tidak langsung juga menjadi pengontrol dari media yang bersangkutan. Sajian materi kemudian bercampur dengan sajian iklan, atau bahkan mengalami intervensi, di mana pemirsa secara sadar atau tanpa sadar telah disuguhi iklan dari produk-produk industri. Kepentingan modal dan laba juga menjadi alasan utama sajian yang tak berkualitas dalam media, yang kemudian berdampak negatif terhadap pemirsa. Hal ini dapat kita lihat pada strategi pemasaran koran kuning yang mengutamakan oplah dengan memuat materi pemberitaan yang menonjolkan persoalan seks dan kriminalitas secara berlebihan dan tidak akurat. Tema-tema tentang seks dan kriminalitas dianggap sebagai sajian yang dapat memuaskan hasrat keingintahuan dasar dari manusia atau pembaca. Pemberitaan yang berbau seks dan kriminalitas secara terus-menerus dapat mengkonstruksi pola pikir masyarakat, memunculkan kecenderungan atau potensi untuk melakukan penyimpangan, belajar kejahatan dari isi berita yang disampaikan media, menimbulkan fear of crime, dan sebagainya. Celakanya, isu tentang kejahatan menjadi sesuatu yang menarik pula untuk didayagunakan oleh media arus utama dalam meningkatkan jumlah pemirsa yang menjadi langganannya.


[i] Tugas Mata Kuliah Kriminologi dan Proses Pembuatan Berita (Manshur Zikri, Laila Nur’azizah dan Drajat Supangat)

Advertisements

Author: Manshur Zikri

Penulis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s