otokritik 2

karangan karya Manshur Zikri
Semakin ke sini, kesombonganku semakin meninggi. Di setiap detik waktuku, ingin sekali rasanya kembali menemui orang-orang di kehidupan lalu dan kemudian memamerkan diri yang sudah begini: benar-benar berubah. Mungkin dengan sangat bangga aku akan berkata, “Lihat, Rob! Orang yang dari dulu kau bilang tak pernah berubah sejak tamat dari SD, sekarang ini sudah menjadi orang yang berbeda sama sekali!”
Total, benar-benar berubah total. Aku memang sombong dengan keadaanku yang sekarang ini, meskipun aku dihujat dengan mata-mata ketidaksenangan dari orang-orang terdekat yang tidak menyetujui gaya hidupku yang sekarang. Aku sekarang ini, yang baru mulai melangkahkan kaki untuk menuju apa yang ingin aku tuju, sudah berubah bentuk dan isinya dari aku yang dahulu. Aku bahkan mungkin akan memukul diriku yang dulu jika ia bertemu denganku yang sekarang ini. Dulu aku adalah seorang yang berada di jalan yang benar, tetapi terkungkung oleh aturan yang masih harus dipertanyakan. Katakanlah aku bangga saat ini, dengan diriku yang sudah banyak melanggar semua aturan yang ada, tetapi aku merasa sadar dengan apa yang aku langgar, dan itu aku lakukan juga dengan penuh kesadaran. Aku terus melanggar hingga menghantarkan diriku dalam keterpurukan tanpa norma yang menyebabkan diriku dibayangi ketakutan sedemikian rupa, tetapi aku tetap bangga, dan aku menjadi semakin sombong.
Walau aku kini kian terpuruk, dengan kondisi fisik yang terus memburuk, dengan beragam macam keluhan dari kanan kiri, dengan tanggungan dosa dan kualat karena melanggar norma yang sudah ditentukan oleh masyarakat dari dulunya, aku masih bisa berjalan tegak dengan pikiran yang terbuka. Menurutku, ini lebih baik dari pada aku harus menjadi sosok seperti dulu, orang yang selalu mengikuti aturan yang telah ditetapkan tetapi berpikiran sempit dan tidak dapat menghargai kenyataan yang ada dalam hidup. Lagi pula, aturan punya siapa? Biarlah orag mencela aku sebagai seorang berotak setan, asalkan tidak hilang ditelan oleh sandiwara sikap yang barbaik-baik hati demi menghindari hukuman dari ketidakpatuhan atas aturan.
Kesombonganku kali ini bisa saja menjadi mata kail yang ganas membunuh. Bisa menjadi bumerang bagi diri sendiri. Bagaimana pun kata sombong itu selalu dekat dengan keburukan tiada tara. Tapi tak apalah, untuk saat kali ini saja aku mengizinkan diri untuk membusungkan dada, sekedar untuk menghibur diriku yang semakin jauh dari ketentuan-ketentuan yang telah dirumuskan oleh bapak-ibu-kakek-nenek moyang di negeri ini, yang ujung-ujungnya menyebabkan bangsaku terbentur pada jalan buntu tak bisa bergerak kemana-mana karena takut hukuman dari alam jika melanggar aturan.
Dari titik mula ini pula lah aku menyadari alasan mengapa orang-orang yang sudah lebih dulu berada di jalurku yang sekarang ini terpandang sangat buruk rupa dan hati oleh orang-orang yang memiliki pribadi serupa aku yang dulu. Jika aku jelaskan di sini pun, tak akan ada habisnya. Percuma saja menyatukan air dan minyak, karena ini persoalan kepercayaan dan pemahaman. Biar, biarlah orang mengumpat, dan mengatakan pribadi ini adalah pribadi setan. Dan siapa pula yang berhak menentukan? Bukankah jikalau dipikirkan dengan masak-masak, semua manusia yang tinggal di bumi ini adalah setan? Cobalah kau melihat ke dirimu dulu.

30 Juli, 2011

Author: Manshur Zikri

Penulis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s