Ketika aktivis tak perlu mengumbar! (otokritik 5)

Puisi oleh Manshur Zikri

aku semakin bingung, dua puluh jam yang lalu kau berseru untuk membangunkan singa, tetapi dengan nada yang sangat ramah dan menggoda keingintahuanku

ah, Malam! Mengapa kau selalu saja hadir di titik gelapku. Padahal seharusnya di titik itu lah aku bisa beristirahat sejenak dari segalanya. Begitu susah aku menemukan kembali pola titik gelap itu selama tiga bulan terakhir.

Ya, aku senang kau memberikan cahaya sehingga titik gelap itu berubah menjadi ruang yang berwarna dan bernuansa sungguh begitu romantis. Namun, aku tidak bisa menjadi munafik serta merta mengatakan aku bahagia, tidak! Justru sekarang aku semakin gelisah, dan terpaksa memberikan pernyataan di dalam layar ini, dan lagi-lagi menunda satu hal yang pada dasarnya lebih penting.

Malam, aku semakin bingung saja ketika di dalam ruang bercahaya itu kau berbaring di atas pangkuanku, kemudian berseru tersedu tentang masa lalu. “Kemarahanku padamu itu adalah salah satu cara terakhirku untuk menikmati kenyataan bahwa aku milikmu!” kau berseru sendiri, entah kepada siapa.

di satu sisi, aku begitu mengerti arti dari kalimat itu. di sisi lain, aku bertanya, mengapa harus aku yang mendengarnya. meskipun ini dunia khayal, berasal dari titik gelap yang berubah menjadi ruang bercahaya karena ekspektasi berlebihan dari seorang penuh imajinasi sampah seperti aku ini, aku tetap tidak bisa menerimanya begitu saja tanpa ada tanya-tanya yang lain! Bukan kah dunia tahu bahwa aku orang yang dibenci karena selalu berulah melalui kata-kata? Tentu hal ini adalah sesuatu yang sangat wajar.

Malam, aku bahkan tidak mengenalmu sama sekali, walau di dunia maya sana kita berbicara satu sama lain. Tapi itu pun tidak memberikan kesan bahwa kita telah saling mengenal sangat lama.

Malam, kau di sana. Aku bergerak aktif di sini. Kau tidak akan pernah berucap padaku (aku terus meyakini diri bahwa memang begitu), dan aku pun tak berharap demikian. Tapi satu permintaanku, jangan ganggu titik gelapku.

Karena di titik itulah aku bisa mengumpulkan kekuatan yang lebih, untuk melakukan tindakan pembuktian bahwa apa yang aku pikirkan adalah benar. Tak perlu dengan bantuanmu, yang justru akan bisa menyesatkan dan membuat semua yang terencana menjadi terbengkalai.

Bukan kah aku sudah menulis pernyataan yang tegas bahwa aku ingin menjadi siluet dalam gambaran? Jadi tak perlu lah kau ikut campur dengan urusanku. Masih ada yang harus kau lakukan, begitu pun aku.

Meskipun nanti ketika toga melekat di raga ini, aku masih sendiri, aku yakin bahwa aku di jalan yang benar, karena aku percaya telah menjalani semacam konflik batin untuk menghasilkan satu moral.

Dari sini lah aku akan terus bergerak dengan kemandirian moral itu, tak perlu lagi bersusah payah bermuka dua dan menjadi orang munafik.

Jadi, selamat tinggal, Malam! Aku akan pergi mencari siangku sendiri, dengan bekal titik gelap itu sebagai sedikit hiburan.

Selamat tinggal!

17 September, 2011

Author: Manshur Zikri

Penulis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s