Melihat Efek Media melalui teori …

Review Bab 1 “Media and Crime: Key Approaches to Criminology” (Yvonne Jewkes, 2004);
Theorizing Media and Crime

Pendekatan teoritis yang dibahas di dalam  Media and Crime: Key Approaches to Criminology (Jewkes, 2004), Bab 1, memiliki titik jelas yang konvergens. Hal ini menguntungkan kita karena bisa menempatkannya dalam konteks sosial, budaya, politik dan pembangunan ekonomi yang lebih luas, yang prosesnya dapat terjadi dalam waktu bersamaan. Secara ringkas, terlebih dahulu akan dipaparkan beberapa teori yang di bahas oleh Jewkes, yaitu sebagai berikut:

  1. Media effects, yaitu teori awal yang mencoba memberikan karakteristik atas hubungan antara media dan kejahatan, dari sudut pandang negatif terhadap peran media dan keterkaitannya dengan kerentanan penonton. Teori ini menekankan pencarian dan penelaahan tentang hubungan sebab-akibat antara media dan kejahatan―meskipun pada perkembangannya, peneliti dari Inggris sudah sangat berupaya untuk menolak penegasan adanya hubungan itu―membangun gagasan dari sebuah media yang berpotensi berbahaya dan mampu memicu konsekuensi negatif atau anti-sosial di ranah populer dan arus utama, termasuk di dalamnya segala hal yang sudah ditentukan dalam kebijakan (policy).
  2. Strain theory and anomie, yaitu teori yang digagas oleh Merton, merujuk pada perhatian Durkheim terhadap karakteristik masyarakat dan bagaimana individu di dalamnya berjuang untuk mencapai solidaritas sosial meskipun berhadapan dengan atomisasi yang terjadi. Teori ini berpendapat bahwa individu yang tidak puas mengatasi persoalan isolasi dan ketiadaan norma dengan membentuk komunitas yang didasarkan pada berbagai rasa dan pendapat-pendapat, dan media, dalam beberapa hal, telah menimbal rasa dislokasi yang memberi jarak dan kesenjangan di tingkat materi dan status.
  3. Dominant ideology, yaitu sebuah teori―merujuk pada pemikiran Marx tentang struktur sosial―yang memiliki fokus perhatian pada sejauh mana kesepakatan di dalam masyarakat ‘dihasilkan’ oleh penguasa sepanjang garis ideologis. Teori ini berpendapat bahwa kekuatan untuk mengkriminalisasi dan mendekriminalisasi perilaku dan kelompok tertentu terletak pada elit penguasa―dalam prosesnya dikenal sebagai ‘hegemoni’―yang memenangkan pengabsahan dan pengakuan populer atas segala tindakan mereka mealui lembaga-lembaga sosial, termasuk media.
  4. Pluralism, yaitu teori yang menekankan keragaman dan pluralitas saluran media yang tersedia, dan dengan demikian melawan gagasan bahwa ideologi apa pun dapat dominan untuk waktu yang lama jika tidak mencerminkan apa yang orang alami menjadi kenyataan. Teori ini berpendapat bahwa kecenderungan media untuk mengabaikan ataupun mengolok-olok pihak-pihak yang politik dan gaya hidupnya berada di luar norma konsensual telah berubah. Antipasti tumbuh untuk aparat komunikasi politik dan tanggapan orang-orang terhadap kejahatan akan selalu jauh lebih kompleks dan beragam (Sparks, 2001). Selain itu, teori ini menegaskan bahwa kuantitas dan kecepatan pembuatan-berita kontemporer merusak gagasan kekuasaan elit dan memastikan bahwa pemerintah harus bertanggung jawab dan cepat tanggap terhadap rakyat (pemilih mereka) (McNair, 1993; 1998).
  5. Postmodernism and cultural criminology, yaitu teori yang berada pada fase terkini, di mana berakhirnya setiap keyakinan pada rasionalitas secara menyeluruh. Teori ini menolak kebenaran empiris dan lebih menekankan fragmentasi pengalaman dan diversifikasi sudut pandang. Penolakan teori posmodernisme terhadap ‘teori-teori besar’ tersebut menjadi semacamtantangan bagi kita untuk menerima bahwa kita hidup di dunia kontradiksi dan tidak konsisten, yang cenderung tidak menyetujui mode pemikiran objektif. Media dan budaya adalah pusat analisis posmodernisme; gaya merupakan substansi dan makna berada di dalam representasi. Akibatnya, kejahatan dan pengendalian kejahatan hanya dapat dipahami sebagai sebuah spiral yang sedang berlangsung antar-tekstuil, citra-gerak, dan putaran-putaran media (media loops) (Ferrel, 2001).

Salah satu teori yang paling menjelaskan hubungan antara media dan kejahatan ialah yang pertama, yaitu media effects. Pendekatan ini berkembang dari dua sumber pemikiran utama, yaitu mass society theory dan behaviorism, yang meskipun berasal dari perspektif disiplin ilmu berbeda (sosiologi dan psikologi), tetapi memiliki kesesuaian dalam pandangan dasarnya terhadap masyarakat dan keyakinan bahwa sifat manusia tidak stabil dan rentan terhadap pengaruh eksternal. Keyakinan ini seiring dengan fakta tak terbantahkan bahwa masyarakat semakin agresif sejak munculnya industri media modern; kedatangan serta perkembangan media, seperti film, televisi, dan dunia cyber (komputer dan internet) adalah sebagai sarana pelayanan keinginan publik, tetapi secara bersamaan muncul fenomena gelombang kejahatan, terutama di ruang lingkup persoalan kekerasan (violent crime).

Mass society theory yang berkembang pada penghujung abad 19 dan awal abad 20, menggagas konsep ‘kerumunan’ atau ‘the crowd’ sebagai sesuatu yang selalu dikonotasikan negatif karena karakteristik kurangnya individualitas dan alienasi mereka dari nilai moral dan etik serta bawaan budaya rendah (‘low’ culture). Individu dilihat sebagai objek yang biadab, bebal, berpotensi nakal dan cenderung untuk melakukan kekerasan (McQuail, 2000). Pergolakan sosial berkaitan dengan industrialisasi, urbanisasi dan Perang Dunia sehingga membuat orang-orang merasa semakin rentan.

Dari latar belakang ini, diidentifikasi dua kecenderungan. Pertama, masyarakat berubah menjadi kumpulan massa individu yang terisolasi dari kekerabatan dan ikatan organik serta kekurangan kohesi moral. Peningkatan perilaku anti-sosial dan kejahatan tak terelakkan, kerumunan massa menjadi terlampau-terbirokratisasi, sehingga warga berpaling dari dari pihak-pihak yang berwenang, menjadi acuh tak acuh dan tidak kompeten. Mereka mencari solusi sendiri secara personal, berorientasikan komunitas, di tingkat ‘mikro’, dengan cara main hakim sendiri, menyiapkan perangkat keamanan sendiri, seperti senajata ilegal. Kecenderungan kedua ialah media dipandang sebagai sebuah bantuan untuk kelangsungan hidup psikis orang-orang dalam situasi yang sulit (McQuil, 2000) dan, bagi penguasa, dipandang sebagai kekuatan penekan untuk mengendalikan pikiran orang-orang dan mengalihkannya dari aksi-aksi politik. Pentingnya teori ini dalam konteks sekarang adalah bahwa ia berkontribusi dalam memunculkan sejumlah model empiris dan teoritik, di mana media massa dapat digunakan secara subeversif sebagai sebuah cara ampuh dalam memanipulasi pikiran-pikiran yang rentan.

Behaviorism theory yang digagas oleh J. B. Watson di awal dekade abad 20, berangkat dari paradigma positivis yang mendayagunakan sifat dasar sains dan memperhatikan dunia sebagai sesuatu yang tetap dan terukur. Teori ini merepresentasikan sebuah tantangan besar kepada perspektif psikoanalisis yang lebih dominan. Watson terinspiras Ivan Pavlov (1949-1938), seorang psikolog berkebangsaan Rusia,  yang mengilustrasikan eksperimen tentang anjing yang dapat terpengaruh oleh stimulus lingkungan eksternalnya (misalnya bunyi bel). Hal ini memunculkan keyakinan bahwa struktur dan sistem kompleks yang membentuk perilaku manusia dapat diamati dan diukur dalam cara yang digeneraisasikan sehingga prediksi atas perilaku di masa depan dapat dibuat.

Para ahli media mendapatkan asumsi yang sama tentang metode behaviorism dalam menjelaskan efek media terhadap manusia. Gagasannya adalah semua tindakan manusia dibentuk akibat ketidaksengajaan kondisi sehingga tindakan seseorang lebih dipicu oleh tanggapannya terhadap rangsangan di lingkungan luar. Hal ini menjadikan media baru komunikasi massa sebagai sebuah pehatian.

Penelitian dari efek media terkadang secara kolektif disebut sebagai ‘model jarum suntik’ karena hubungan antara media dan khalayak dipahami sebagai proses mekanistik dan sederhana, di mana media ‘menyuntikkan’ nilai-nilai, ide dan informasi secara langsung ke penerima yang cenderung pasif. Media memproduksi ‘efek’ langsung dan tanpa perantara lain, yang pada gilirannya, memiliki pengaruh negatif pada pikiran dan tindakan publik atau individu yang bersinggungan dengan media terebut.

Kekhawatiran tentang efek media ini telah memunculkan tiga bentuk persepsi. Pertama ialah kecemasan moral atau agama yang menganggap paparan media populer mendorong perilaku tidak senonoh dan merusak pendirian norma kesusilaan dan kepastian moral. Kedua ialah keyakinan bahwa media massa telah melemahkan pengaruh pembudayaan tinggi (karya sastra besar, sendi dan sebagainya) dan menjatuhkan kualitas selera masyarakat. Dan persepsi ketiga, yang mewaikili kelompok intelektual kiri, adalah bahwa media massa mewakili elit yang berkuaa dalam memanipulasi kesadaran massa demi kepentingan mereka.

Dugaan-dugaan tentang efek media, khsusnya gagasan dalam teori behaviorism yang menekankan bahwa perilaku manusia dapat dipengeruhi oleh media, mendorong sejumlah ahli melakukan serangkaian studi untuk melihat hubungannya. Salah satunya, Albert Bandura (1950-1960), yang melakukan penelitian eksperimen untuk mengetahui efek dari film kartun terhadap agresivitas atau kecenderungan tindakan kekerasan dari anak-anak yang menontonnya. Subjek penelitian dipecah menjadi dua bagian, yaitu kelompok yang disuguhi tontonan kartun yang mengandung kekerasan terus menerus, dan yang tidak. Kemudian subjek diberikan mainan boneka untuk bermain. Perilaku mereka terhadap boneka digunakan sebagai tolak ukur dari efek film yang mereka tonton, dan ketika anak-anak yang diamati bersikap agresif (dibandingkan dengan kelompok kontrol yang tidak menonton konten kekerasan), halitu diambil sebagai bukti kesimpulan bahwa hubungan langsung ada antara ‘citra kekerasan’ dan agresi anak, dan jika hal ini juga berlaku dengan orang dewasa maka kemudian akan menegaskan hubungan antara media dengan kejahatan.

Lebih jauh, terkait dengan percobaan Bandura terhadap media televisi, hal ini dapat dijelaskan dalam content-basedtheories about television effects, yaitu Learning and Information Processing. Teori learning (dalam Bandura, 1994) daninformation processing theory (dalam Huesmann, 1986) dirancang untuk memaparkan mekanisme bahwa orang dapat mempelajari informasi sosial dari televisi. Teori ini menerangkan bahwa anak-anak atau remaja menaruh perhatian, mencerna dan menyimpan dalam ingatan semua informasi dan perilaku yang mereka lihat dan dengar dalam televisi atau media lainnya, kemudian mereka menggunakan informasi tersebut untuk memandu ketertarikan dan aksi mereka dalam keseharian. Lebih jauh, Huesmann (1986; Huesmann & Miller, 1994) menjelaskan bahwa konten dari medium TV berkontribusi dalam membentuk perilaku kognitif anak dan remaja yang menonton. Mereka yang berkenalan dengan karakter media dan menganggap apa yang ada di televisi sebagai cerminan kenyataan dari dunia cenderung untuk bertindak sesuai apa yang mereka pelajari dari tayangan tersebut (lihatDaniel R. Anderson, dkk.,2001: 2-4).

Penjelasan dari teori behaviorism ini, tentunya, tidak terbatas pada persoalan media tontonan yang menyajikan citra yang diam atau bergerak, tetapi juga mencakup semua bentuk dan jenis media komunikasi massa. Namun demikian, dalam beberapa penelitian yang telah dipublikasikan, memang ada kecenderungan bahwa media yang berkontribusi mempengaruhi orang-orang dalam tindakan kekerasan dan penyimpangan adalah yang berbentuk citra gambar (seperti pada televisi, film) dan audio, tidak sebanding dengan efek yang mungkin dapat dipicu dari media tulis/baca (seperti surat kabar dan majalah). Seperti penelitian yang dilakukan oleh Ted Chiricos, Sarah Eschholz, dan Marc Gertz (1997) terhadap 2.092 remaja di Tallahase, Florida dalam rangka mengetahui pengaruh media terhadap fear of crime, kepanikan publik, dan violent crime. Hasil penelitian itu menunjukkan bahwa intensitas yang tinggi dalam menonton televisi dan mendegarkan radio memperlihatkan hubungan yang signifikan terhadap fear of crime, sementara kebiasaan membaca surat kabar dan majalah tidak demikian. Lebih jauh, jika subjek diklasifikasikan berdasarkan jenis kelamin, ternyata media sangat berdampak bagi kelompok perempuan.

Sementara itu, studi oleh David L. Altheide (2009) memperlihatkan bahwa hubungan antara media dan kejahatan, ternyata tidak terbatas hanya pada media tontonan saja, tetapi bentuk dan jenis media secara keseluruhan. Hasil studinya menjelaskan bahwa kepanikan mora (moral panics) sebagai ‘oposisi’ publik ternyata sesuai dengan format berita hiburan dan media arus utama lainnya, yang di dalamnya mengandung isi yang berkaitan dengan kekerasan, kecemasan, seks dan obat-obatan, baik dalam media elektronik maupun tidak. Ketakutan, kejahatan, korban dan terorisme dialami dan diketahui oleh pembaca, pendengar atau penonton melalui media massa.

Hal ini menegaskan bahwa wacana ketakutan dan perilaku manusia, serta kecenderungan untuk bertindak kejahatan telah dibangun melalui berita dan sajian budaya populer. Kehidupan sosial dapat menjadi lebih kacau, saling bermusuhan, ketika pelaku sosial mendefinisikan situasi mereka sebagai situasi ‘menakutkan’ dan terlibat dalam pergulatan wacana ketakutan.

Bahan bacaan (jurnal internasional):

Altheide. D. L. (2009). “Moral Panic: From Sociological Concept to Public Discourse”. Crime Media Culture, No. 5. hlm. 79
Anderson, D. R., Aletha C. Huston, Kelly L. Schmitt, Deborah L. Linebarger, John C. Wright, Reed Larson. (2001). “Early Childhood Television Viewing and Adolescent Behavior: The Recontact Study”. Monographs of the Society for Research in Child Development, Vol. 66, No. 1, hlm. 28-29
Chiricos, Ted., Sarah Eschholz & Marc Gertz. (1997) “Crime, News and Fear of Crime: Toward an Identification of Audience”. Social Problems, Vol. 44, No. 3. hlm. 342-357

Author: Manshur Zikri

Penulis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s