Kajian Literatur: tinjauan beberapa penelitian tentang pengaruh tontonan terhadap kenakalan anak

Penyimpangan dan kenakalan yang dilakukan oleh remaja cenderung berupa tindakan yang beresiko, baik bagi dirinya sendiri maupun orang lain.

Berikut ini saya sajikan sedikit tinjauan pustaka terhadap beberapa jurnal internasional yang mengkaji tentang pengaruh tontonan (TV) yang dapat berdampak kepada kenakalan anak. Kajian pustaka ini merupakan bagian dari makalah/tugas mata kuliah Latihan Penelitian Kriminologi, yang masih dalam pengerjaan dan pengoreksian oleh dosen. Silakan dibaca dan semoga bermanfaat.
——————————————–

Penyimpangan dan kenakalan yang dilakukan oleh remaja cenderung berupa tindakan yang beresiko, baik bagi dirinya sendiri maupun orang lain. Perilaku beresiko tersebut, umumnya, berdampak ke kondisi kesehatan diri dari si remaja yang bersangkutan. Ada kebutuhan bagi kita untuk terlebih dahulu meninjau beragam bentuk perilaku beresiko (kenakalan atau penyimpangan) yang umum terjadi pada remaja.

Escobar-Chaves dan Anderson mencoba menjabarkan lima tipe perilaku beresiko anak, di antaranya adalah obesitas (kelebihan berat badan), merokok, minum-minuman beralkohol, seks bebas, dan kekerasan. Studi yang dilakukan oleh Escobar-Chaves dan Anderson ini merujuk pada kondisi sosial masyarakat Amerika yang telah terkontaminasi dengan budaya konsumerisme berbagai produk, tak terkecuali konsumsi media, khususnya media elektronik. Hasil penelitian memaparkan bahwa terdapat bukti-bukti yang menunjukkan bahwa konsumsi terhadap media elektronik berkontribusi memunculkan persoalan lima perilaku beresiko (kenakalan) pada remaja. Bukti sederhana teridentifikasi pada kasus obesitas, bukti sedang pada kasus merokok dan minuman beralkohol, dan bukti kuat terdapat pada kasus kekerasan dan seks bebas.[1]

Masalah tentang kecenderungan anak-anak dan remaja dalam menghabiskan waktu luangnya dengan melakukan kegiatan yang beresiko telah menjadi perdebatan panjang, terutama di Amerika yang bahkan menjadi isu nasional, sejak tahun 1920. Studi yang dilakukan sejak tahun itu menunjukkan bahwa angka 40% hingga 50% dari total waktu yang dimiliki oleh remaja Amerika merupakan waktu luang. Hal tersebut berbeda dengan perkiraan saat ini untuk negara-negara industri lain, misalnya Asia Timur, yang hanya mencapai angka 25% hingga 35% sementara di dataran Eropa hanya 35% hingga 45%. Akar masalah anak-anak dan remaja di dataran Amerika telah disadari dari studi-studi yang dilakukan, yang menunjukkan bahwa sangat kurangnya waktu bagi mereka bersama orang tua atau menyelesaikan tugas sekolah (PR) di rumah. Anak-anak dan remaja Amerika lebih banyak menghabiskan waktu dengan mengonsumsi media, terutama televisi. Hasil studi menunjukkan bahwa rata-rata remaja Amerika menghabiskan waktu untuk menonton televisi selama 1,5 hingga 2,5 jam per hari, dan lebih dari 3 atau 4 jam per hari untuk usia yang lebih muda, dengan muatan siaran berupa entertainment TV yang sangat berkaitan dengan persepsi obesitas serta persinggungan dan perubahan (konstruksi oleh media) atas norma-norma seksual.[2]

Jika kita merujuk pada teori media (televisi) yang menekankan bentuk dari tayangannya, remaja cenderung memilih program televisi yang sesuai dengan kepentingan dan kebutuhan mereka (Rosengren, Wenner, & Palmgreen, 1985). Hasil studi yang telah dilakukan oleh Anderson, Huston, Schmitt, Linebarger, Wright dan Larson (2001) yang mencari keterkaitan antara penggunaan media terhadap perilaku anak-anak dan remaja menunjukkan bahwa responden menghabiskan total waktu 11.13 jam per minggu, dengan lebih memilih program enterteinmen dibandingkan program TV yang berisikan informasi. Index hasil penelitian itu juga menunjukkan bahwa dalam seminggu, rata-rata remaja hanya menggunakan waktu selama 2 jam per minggu untuk menyaksikan tayangan dokumenter atau berita. Sementara itu, tabel korelasi menunjukkan bahwa 3 jam dari total 11 jam per minggu digunakan oleh remaja untuk menonton materi melalui VCR, dan hanya menggunakan rata-rata waktu sekitar 2.75 jam per minggu untuk mendengarkan berita di radio.[3]

Melihat dari kecenderungan remaja yang memilih isi materi yang mereka suka, dapat ditarik dugaan bahwa perilaku atau kenakalan yang mereka lakukan merujuk pada materi yang mereka tonton. Bagaimana pun, efek visual atau suara yang mereka dapatkan memiliki andil dalam membentuk pola berpikir dan tingkah laku mereka.

Dugaan ini didasarkan pada 3 hipotesa awal Laramie D. Taylor (2005), yang apabila diringkas menjadi satu hipotesa, yakni individu yang melihat konten televisi yang ditandai dengan pesan seksual (baik adegan maupun isi yang hanya berbicara tentang hal-hal berbau seksual) cenderung lebih permisif dan mendukung perilaku seksual dibandingkan dengan individu yang tidak menyaksikan konten televisi yang tidak memiliki pesan seksual. Penelitian kemudian dilakukan terhadap 188 responden (122 laki-laki dan 66 perempuan). Hasil penelitian menyebutkan bahwa konten televisi memang tidak berpengaruh terhadap mereka yang tidak memiliki keyakinan realistis terhadap materi TV (menganggap adegan televisi hanyalah rekayasa), tetapi menunjukkan hubungan yang signifikan untuk persoalan materi TV yang membicarakan hal-hal yang berbau seksual (talk about sex). Hal ini mengindikasikan bahwa televisi beserta materinya memiliki pengaruh yang potensial dalam membentuk cara berpikir remaja tentang seks.[4]

4 tahun sebelumnya, studi lain juga dilakukan oleh Sarah Eschholzl dan Jana Bufkin (2001). Mereka mencoba melihat hubungan antara penggambaran tindakan kejahatan (baik pelaku dan korban) dalam film terhadap pembangunan nilai-nilai yang menerima kekerasan sebagai salah satu sarana untuk mencapai maskulinitas. Dan hasil studi itu menunjukkan bahwa maskulinitas memiliki hubungan yang sangat signifikan terhadap tindakan kekerasan dan viktimisasi dalam film. Peneliti menyimpulkan bahwa beberapa individu, terutama remaja laki-laki, dapat menjadikan citra dari media (dalam hal ini adalah film) sebagai sumber referensi untuk mengonstruksi persoalan gender, dan hasil yang terbangun kemudian dapat berupa kekerasan dan tindakan kejahatan.[5]

Dari beberapa uraian tinjauan pustaka yang telah dilakukan, dapat dilihat bahwa media, khususnya televisi, sangat erat hubungannya dengan keseharian remaja. Pemilihan atas tayangan didasari oleh minat dan kebutuhan si remaja yang ingin menonton, dan isi tersebut juga serta merta dapat mempengaruhi pola pikir dan tingkah laku dari remaja, yang dapat berujung pada peningkatan pola kenakalan dan agresivitas remaja.


[1] Soledad Liliana Escobar-Chaves dan Craig A. Anderson. (2008). “Media and Risk Behaviors”. The Future of Children, Vol. 18, No. 1, Children and Electronic Media. Spring., hlm. 147-180
[2] Reed W. Larson. (Oktober, 2001). “How U.S. Children and Adolescents Spend Time: What It Does (And Doesn’t) Tell Us aboutTheir Development”. Current Directions in Psychological Science, Vol. 10, No., hlm. 160-164
[3] Daniel R. Anderson, Aletha C. Huston, Kelly L. Schmitt, Deborah L. Linebarger, John C. Wright, Reed Larson. (2001). “Early Childhood Television Viewing and Adolescent Behavior: The Recontact Study”. Monographs of the Society for Research in Child Development, Vol. 66, No. 1, hlm. 28-29
[4] Laramie D. Taylor. (Mei, 2005). “Effects of Visual and Verbal Sexual Television Content and Perceived Realism on Attitudes and Beliefs”. The Journal of Sex Research, Vol. 42, No. 2., hlm. 130-137
[5] Sarah Eschholz dan Jana Bufkin. (Desember. 2001). “Crime in the Movies: Investigating the Efficacy of Measures of Both Sex and Gender for Predicting Victimization and Offending in Film”. Sociological Forum, Vol. 16, No. 4., hlm 655-676

Author: Manshur Zikri

Penulis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s