tak terasa jika dan hanya jika kata

by Tooftolenk Manshur Zikri on Tuesday, 08 March 2011 at 21:27

puisi oleh Manshur Zikri
“elektroda bersepatu roda
Siapa ketok diriku bengkok
Menekuk punggung patah kusen daun pintu, bisa ditunggu?
Siapa ayal sendiri adalah khayal
Menepi sampan sepi sendiri menghanyut diri ditemani
nampan” [a/diksi, muhamad robbyansyah]
aku bukan sedang bersadomasokis
dek sadoalahe talampok kain barundai
lihat ke balik ubin, cari makna: mengapa independen?
aku bukan sedang bersadomasokis
a/diksi “a diksi”
hentian sekejap buatku mati
“Hari ini ibu memasak apa?
Ibu memasak angan.
Angan kapan aku pulang.
Hari ini ayah sedang apa?
Ayah sedang membaca angan.
Angan kapan aku baik.” [a/diksi, muhamad robbyansyah]
dia berjalan dengan gagahnya
seragam TK bau pabrik mereka
dia bertanya: “Kuliah itu seperti apa?”
ibuku hanya diam saja
itu cerita lama
berulang ku dengar tak bosannya
dari yang diam cintaku selamanya
melalui dia, Penguasa buatku ada
aku bisa jawab
pertanyaan si anak dengan langkah tegap
punya cita dan angan dengan mantap
“Aku di tebing
Gadis tebing yang siap menelan debur cair dan buih setinggi
dinding
Aku di aspal
Menarik deru langkah dan melemparkan kedua telapak kaki
terpental
Aku di arena
Menerima salam kepalan yang tak terjadwal namun tak
menggugat karena
Aku di panggung
Menjadi pelukis tawa dan pengumbar senyum tanpa
tanggung
Aku di hidup
Adalah satuan mineral berenergi yang tak pernah mati dan
menyala tanpa redup.
Aku di frase
Hanya mengenal optimis atas satuan silogisme yang tercerai
dan terkolase” [a/diksi, muhamad robbyansyah]
kuingin menggerayangi tebingku kembali
putuskan senar, tak petikkan nada
gemeretak kepala, ku jatuh bukan
karena sedari tadi semut-semut (hitam) mulai menjalari kotak rokok saya
hoi,
tebing yang ingin kau panjat masih menunggu,
ayo kembali ke rencana semula!
“karena malam ingin menari, karena malam ingin kau iringi.
karenanya aku akan ada di balkon terdepan kau berpentas.
menyajikan mimpimu sebagai suatu opera megah yang tak
semu.
di malammu.
selamat tidur.
protoda post-modernis sebatas dada”  [a/diksi, muhamad robbyansyah]
tenggak lagi, gelas terakhir
kita ada karena kita
angkat diri gapai mereka
hidup hanya satu kali saja
“eksistensialis!” terucap juga
aku mengangkat tangan untuk kalian!
terima penghargaanku: kalian memang rajanya!

Like ·  · Share · Delete

Author: Manshur Zikri

Penulis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s