Review Jurnal: Victim Evaluations of Face-to-Face Restorative Justice Conferences: A Quasi-Experimental Analysis

Sumber: Journal of Social Issues, Vol. 62, No. 2, 2006, pp. 281—306

 Copyright 2006 The Society for the Psychological Study of Social Issues


Jurnal ini membahas tentang penelitian berupa wawancara yang dilakukan terhadap korban setelah dan sesudah peradilan restoratif untuk membuktikan apakah kerugian psikologis yang diderita korban dapat atau tidak dapat disembuhkan setelah mengikuti suatu peradilan restoratif (restorative justice) atau penyelesaian masalah tatap muka (face to face). Responden yang ikut serta dalam uji coba penelitian ini berjumlah 210 orang di Canberra (Australia) dan di London, Thames Valley, dan Northumbria (Inggris). Hasil dari semua subtstansi yang diuji dengan data kualitatif dan kuantitatif menunjukkan arah pengertian yang sama meskipun berada dalam konteks sosial, jenis pelanggaran bangsa dan ras yang berbeda.

Latar belakang

Biaya penanganan kejahatan seringkali tidak disediakan untuk memperhitungkan jaminan terhadap korban, seperti kemungkinan kejahatan itu diulangi atau tidak oleh pelakunya, atau ketakutan/trauma yang dialami oleh korban pasca tindak kejahatan. Bahkan pemerintah Inggris pun hanya memperkirakan biaya penenganan kejahatan berdasarkan harta benda, pelayanan kesehatan, dana layanan dukungan korban semata, tidak memperhitungkan efek psikologis atau emosional dari korban itu sendiri terkait dengan kasus yang dia alami (Brand & Price, 2000). Dalam beberapa dorongan berkala dalam diskusi tentang korban kejahatan, pemerintah masih mengabaikan kepentingan korban dalam pembentukan kebijakan kriminal.

Sudah terbukti bahwa di beberapa negara yang menerapkan restorative justice menunjukkan beberapa manfaat yang diperoleh korban ketika mengikuti penyelesaian masalah tatap muka dalam pengadilan restoratif. Akhirnya banyak dari restorative justice yang berhasil didefinisikan secara luas kemudian dikembangkan dan dipraktekkan di seluruh dunia (Braithwaite, 2002). Pendekatan melalui restorative justice telah mengalami peningkatan level dan menjadi obat baru di Amerika Serikat dan Inggris. Hal ini lah yang kemudian menjadi bahan kajian dalam penelitian yang dilakukan oleh Heather Strang, Lawrence Sherman, Caroline M. Angel, Danie J. Woods, Sarah Bennett, Dorothy Newbury-Birch dan Nova Inkpen, dengan menjadikan pendekatan restorative justice yang berkembang di Amerika Serikat dan Inggris tersebut sebagai pendekatan yang spesifik dan konsisten dijelaskan dalam artikel jurnal ini untuk mengatur dan dan melakukan pertemuan sukarela antara pelaku, korban-korbannya, dan keluarga masing-masing dan pendukung.

Latar belakang teoritis

Formula teori untuk restorative justice atau teori-teori terkait dalam kriminologi memiliki fokus pada pengulangan kejahatan oleh pelaku pelanggaran, tanpa ada teori formal tentang konsekuensi yang diterima korban  (Braithwaite, 1989, 2002; Sherman, 1993; Tyler, 1990). Akan tetapi, ada dua teori di luar khasanah kriminologi yang membahas hal ini. Yang pertama adalah cognitive behavioral therapy (CBT) dalam psikologi, yang menunjukkan bahwa korban bisa diuntungkan ketikia ditawarkan “deconditioning” discussions trauma  (menghilangkan situasi trauma yang diderita karena tindakan kejahatan yang dialami) dengan menyelenggarakan suatu diskusi (tatap muka) di lingkungan yang aman dan terkendali.  Yang kedua adalah “interaction ritual” (IR) dalam sosiologi, yaitu memperkirakan bahwa energy emosional yang timbul dari sebuah konferensi pengadilan restoratit akan berhasil memiliki manfaat positif bagi korban dengan mengembalikan identitas dan rasa harga diri yang dimiliki korban.

Desain penelitian dan sampel

Penelitian dilakukan di empat lokasi, yaitu Canberra, London, Northumbria, dan Thames Valley, yang semuanya dirancang untuk menguji efektivitas dari resotirative justice dalam menangani masalah yang dihadapi oleh korban. Semuanya merupakan bagian dari persiapan uji coba terkontrol secara acak atau randomized controlled trials (RCT). Semua kasus yang memenuhi syarat dan diakui oleh pelakunya ditetapkan secara acak dalam salah satu dari dua kondisi.

Dalam penelitian yang dilakukan di Canberra, Australia, diterapkan uji coba Reintegrative Shaming Experiments. Kasus-kasus kelas menengah seperti kejahatan properti dan kekerasan yang biasanya secara normal diadili dalam pengadilan rendah, ditentukan secara acak agar diadili baik dalam pengadilan biasa maupun yang akan dialihkan ke pengadilan restoratif. (restorative justice) tanpa ada penuntutan. Sedangkan penelitian yang dilakukan di Inggris (London, Northumbria, dan Thames Valley), kasus-kasus tersebut ditentukan secara acak baik dalam cara pengadilan yang biasa maupun yang dialihkan ke pengadilan restoratif (restorative justice) dengan penuntutan. Di empat lokasi tersebut, semua kasus yang terkait dengan kekerasan rumah tangga atau yang mengandung aspek seksual tidak diperhitungkan.

Sampel di lokasi Canberra menyajikan perilaku dari semua korban yang diwawancarai, yang kasusnya secara acak ditentukan dalam restorative justice dan benar-benar menghadiri konferensi (pertemuan tatap muka). Sedangkan di lokasi yang ada di Inggris, data yang disajikan bukan berasal dari seluruh sampel dari kasus yang ditentukan secara acak, tetapi berasal dari kasus-kasus yang masuk ke dalam tahap 1, yaitu tahap pesiapan percobaan, sebelum diluncurkan dalam percobaan acak tersebut. Pada tahap persiapan itu, pada masing-masing lokasi di Inggris, kasus diidentifikasi, di mana korban dan pelaku mendekati sikap yang sama persis sebagaimana yang diharapkan untuk eksperimen yang layak. 100% dari korban menyetujui penawaran sebuah konferensi restorative justice pada tahap tersebut sebagai ganti 50% penetapan selama RCT selanjutnya.

Ada beberapa laporan tentang beberapa temuan pada restorative justice yang berasal dari panggilan (calls) korban di dua lokasi di Inggris, yaitu London dan Northumbria (Tabel 2). Tujuan utama dari panggilan itu adalah untuk memastikan kesejahteraan korban dan untuk memastikan bahwa tidak ada kekerasan yang terjadi sebagai akibat dari partisipasi korban dalam konferensi. Peneliti mengambil peluang itu untuk mengajukan beberapa pertanyaan tentang kepuasan umum yang dimiliki korban dalam menjalani proses konferensi dalam restorative justice. Sebagian besar panggilan itu dilakukan oleh seorang pskiatri dari Amerika yang tidak memiliki peran secara langsung dalam program restorative justice di empat lokasi penelitian. Semua lokasi penelitian menggunakan pengukuran atau langkah-langkah yang sama untuk mempelajari program restorative justice, dan disampaikan oleh orang yang sama pula (petugas polisi) yang dilatih oleh pelatih yang sama pula agar mengikuti format penelitian yang sama. Kesamaan ini sangat kontras pada perbedaan konteks sosial, tipe pelaku, serta karakteristik korban dan pelaku. Perbedaan-perbedaan tersebut menjadi profil dari masing-masing lokasi. Penjelasan mengenai korban dan pelaku dari masing-masing lokasi (4 lokasi) tersebut dapat dijelaskan pada table berikut:

 

Sedangkan, laporan tentang beberapa temuan yang didapatkan di dua lokasi Northumbria dan Thames Valley, yaitu pertanyaa-pertanyaan yang diajukan peneliti, dijelaskan pada tabel berikut:

 

Hasil dan Kesimpulan

Korban kejahatan secara konsisten mengatakan bahwa mereka merasa lebih baik setelah mengikuti pengadilan tatap muka dalam restorative justice daripada sebelum mereka mengikutinya. Terlepas dari jenis kejahatan yang telah mereka alami, kondisi masyarakat tempat mereka tinggal, proses peradilan pidana, atau lokasi fisik tempat diberlangsungkannya konferensi, para korban yang ikut serta dalam restorative justice menyatakan mendapatkan pengalaman yang positif. Kesimpulan ini berlaku untuk hampir setiap kriteria pada data yang tersedia. Bukti yang dikombinasikan dengan temuan-temuan RCT dari tempat lain ini membangun sebuah dasr bukti yang lebih tegas pada kebijakan putusan tentang diterapkannya restorative justice. Pengadilan dengan cara ini membawa manfaat bagi korban selama tidak meningkatkan praktek “pengulangan penyinggungan” terhadap korban, terkait pada pengadilan konvensional. Keuntungan dalam hal medis atau biaya pegawai adalah merupakan subjek penelitian yang sedang berlangsung. Keuntungan juga berupa identifikasi kejahatan dan pelakunya. yang dalam pandangan restorative justice, memang dianggap sebagai sesuatu yang dapat meningkatkan praktek pengulangan tindakan kejahatan/pelanggaran.

Beberapa korban kejahatan menginginkan beberapa program untuk mencari sebab-musabab kejahatan, terlepas dari seberapa banyak manfaat yang mereka dapatkan. Akan tetapi jika penelitian bisa mengindikasikan kapan korban bisa dibantu tanpa mencari sebab musabab kejahatan, restorative justice dapat menjadi sebuah kebijakan publik di masa depan sebagai sebuah instrument lembaga sosial dengan potensi untuk menangkap kekuatan dari sistem peradilan formal dan kekuatan pribadi masyarakat dari korban dan pelaku.

 

Author: Manshur Zikri

Penulis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s