REVIEW JURNAL: Effect of the EQUIP Programme on the Moral Judgement, Cognitive Distorsion, and Social Skill of Juvenille Delinquents

Oleh teman satu kelompok: Riefky Bagas Prastowo

 

Jurnal ini membahas mengenai pengaruh dari program EQUIP terhadap kenakalan anak yang terjadi. Program EQUIP sendiri bertujuan untuk, pertama, program ini bertujuan untuk mendorong para pelaku kenakalan tersebut kembali berpikir sesuai dengan tanggung jawab yang mereka miliki. Kedua, hasil studi ini diharapkan bisa digunakan  sebagai salah satu program untuk menghidarkan residivisme. Adapun tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk melakukan intervensi agar jumlah pemuda atau anak-anak yang melakukan kenakalan berkurang jumlahnya, baik yang ditangkap atau yang melakukannya.

Penelitian ini menggunakan metode quasi-eksperimental. Sebelumnya, studi seperti telah dilakukan yaitu selama 2 tahun. Dari hasil sebelumnya tersebut, maka kebanyakan yang terjadi adalah mereka (anak dan remaja) lebih diperlakukan sebagai individu daripada kelompok.

Responden dari penelitian ini adalah 108 anak muda pelaku kenakalan yang berusia antara 12 hingga 21 tahun. Mereka berasal dari tiga LP anak yang berbeda dalam hal keamanannya. Selanjutnya, dibedakan menjadi dua kelompok yaitu kelompok uji dan kelompok kontrol. Kelompok uji terdiri dari remaja yang berasal dari salah satu LP yang telah mengikuti program EQUIP. Jumlah saat pre test 61 orang dan jumlah setelah post test 31 orang. Selanjutnya, kelompok kontrol berasal dari dua kelompok lainnya.  Jumlah saat pre test kelompok kontrol adalah 47 orang dan ketika post test 25 orang.

Pada bagian pengakuan latar belakang etnik, tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara kelompok uji dan kelompok kontrol. Begitu juga dengan umur, tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara dua kelompok ini. Rata-rata umurnya adalah 16 tahun 10 bulan. Sedangkan untuk kemampuan intelegensinya,  kelompok uji memiliki nilai rata-rata yang lebih rendah yaitu 88,88 sedangkan kelompok kontrol memiliki nilai 94,00.

Perbedaan muncul pada perbedaan variabel SIP yang menunjukkan bahwa kelompok uji lebih menginginkan untuk diperhatikan ketimbang kelompok kontrol. Sedangkan untuk waktu melakukan kejahatan, kelompok uji memiliki waktu yang lebih lama daripada kelompok kontrol. Adapun nilai yang mengalami perubahan setelah opst test hanya lah kemampuan intelegensi dan juga pada skill sosial. Keduanya mengalami peningkatan.

Perbedaan jumlah responden saat mengikuti pre test dan post test disebabkan oleh beberapa hal. Pertama karena saat pengambilan data, menggunakan rekaman, suara yang dihasilkan tidak jelas, maka responden tersebut tidak bisa terlibat dalam penelitian. Kemudian, terdapat responden yang dipindahkan lokasi penjaranya. Selain itu, ada beberapa responden yang tidak mau bekerja sama ketika sudah mencapai tahap post test.

Proses yang dilakukan bertujuan untuk membuat anak tersebut bertanggung jawab atas perbuatannya dan menolong satu sama lain. Setiap kelompok terdiri dari 6 anak yang bertemu tiga kali seminggu masing-masing selama satu jam. Anggota kelompok dapat bergantian dalam waktu yang berbeda tergantung masa tahanan masing-masing. Kedua aktivitas dapat dibandingkan, bahwa kelompok kontrol dan uji mempunyai kesamaan dalam perlakuan.

Hal yang diukur dalam penelitian ini ada tiga. Pertama adalah perkembangan moral. Kedua adalah proses dalam penerimaan informasi di masyarakat yang terdistorsi dan terakhir adalah kekurangan dalam hal memiliki kemampuan sosial.

Untuk dapat menggali tentang hal tersebut, responden diwawancarai sebelum dan sesudah program tersebut pada tingkatan masing-masing. Status responden merupakan sukarela. Mereka diwawancara secara terpisah dan dalam ruangan yang tenang. Hasil wawancara mereka tidak mempengaruhi terhadap keputusan hakim mengenai vonis mereka.

Ketika sudah memasuki analisis dengan menggunakan analisis kovariat menunjukkan perbedaan berupa pengurangan yang besar dalam hal distorsi kognitif ketika kelompok uji dibandingkan dengan kelompok kontrol. Namun, tidak ada perbedaan dalam hal yang lain yaitu perkembangan moral, proses dalam penerimaan informasi di masyarakat yang terdistorsi dan kekurangan dalam hal memiliki kemampuan sosial. Meskipun demikian, dalam beberapa hal yang terkait dengan proses penerimaan informasi di masyarakat terdapat beberapa cara yang mempengaruhi kelompok kontrol. Ini menunjukkan bahwa program EQUIP adalah suatu program yang intensif dan merupakan program yang direkomendasikan.

 

_______________________________________________

Nas,

Coralijn N., Brugman, D., & Koops, W. Effects of the EQUIP Programme on the Moral Judgement, Cognitive Distortions, and Social Skills of Juvenile Delinquents.. Psychology, Crime & Law, vol 11 no. 4. Routledge Taylor and Francis Group: 2005. pp. 421-434.

 

Author: Manshur Zikri

Penulis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s