Review Jurnal Trial of Juveniles as Adult

Trial of Juveniles as Adults[1]

 

Memperlakukan Remaja Sebagaimana Orang Dewasa Tidak Memberi Efek Deterens Pada Kejahatan.

Banyak ahli pakar hukum yang berpendapat bahwa memenjarakan anak akan memberikan efek ketakutan kepada anak, tetapi mencegah orang lain melakukan hal yang sama. Logikanya adalah, jika seorang anak menerima kenyataan bahwa mereka akan mdipenjara jika melakukan kesalahan, mereka akan berpikir dua kali untuk melakukan kesalahan tersebut. Pemikiran seperti ini masih diragukan (mungkin tidak akan terjadi).

Egosentrisme mencegah hukum yang ketat dari menghalangi kejahatan remaja.

–          Egosentrime pada anak dan remaja menyebabkan mereka sering mengambil keputusan yang keliru tanpa mempertimbangkan konsekuensinya. Egosentrisme membentuk pola pikir pada remaja di mana mereka tidak percaya bahwa sesuatu yang buruk akan menimpa mereka.

–          Remaja tidak dapat berpikir tentang masa depan, atau dengan kata lain tidak dapat berpikir sesuatu hal yang bersifat jangka panjang. Mereka lebih cenderung berpikir tentang keuntungan dan resiko jangka pendek dari keputusan yang mereka ambil.

–          Pola pikir seperti ini dapat menuntun mereka dalam suatu perialaku yang memiliki resiko tinggi, seperti aktivitas seksual serta penyakit menular yang diakibatkannya.

–          Dengan pertimbangan “ketidakmampuan” yang dimiliki oleh remaja dalam melihat ke depan ini, gagasan hukum pidana [yang kaku] untuk anak dan remaja sebagai bentuk dari pencegahan perilaku antisocial menjadi kurang (cacat).

  • Hukuman yang berat menyebabkan seorang anak/remaja merasa diperlakukan sebagai korban yang tidak adil.
  • Pelanggar hukum (anak/remaja) belajar untuk menerima hukuman (take the punishment) tanpa mengambil tanggung jawab terhadap perlaku buruk mereka.
  • Bagi banyak anak/remaja, penjara menjadi suatu tempat untuk menanggung derita dari pada tempat untuk belajar menjadi baik. Oleh karena itu, anak/remaja yang telah dibebaskan akan tetap menjadi ancaman bagi masyarakat, sebagaimana mereka sebelum masuk penjara.

Penetapan hukuman yang lebih lama sebenarnya tidak memberikan peningkatan rentang waktu penjara bagi remaja.

–          Terpidana di bawah umur dibawa ke pengadilan pidana pada kasus-kasus tertentu disebabkan oleh keyakinan bahwa pengadilan anak tidak dapat memberikan jaminan perlindungan kepada masyarakat dari ancaman bahaya oleh anak-anak muda (remaja), di mana mereka lebih dianggap umum di dalam sistem peradilan pidana.

–          Pedoman hukum yang keras akan menghasilkan ketentuan (penjatuhan hukuman) sehingga dapat menahan anak/remaja lebih lama dan melindungi masyarakat.

–          Namun begitu, kenyataannya sistem tidak mendukung hal yang demikian.

  • Keterbatasan fasilitas untuk menampung terpidana di bawah umur.
  • Bagi pelaku remaja tanpa kekerasan, pengiriman mereka ke pengadilan pidana adalah dengan maksud memberikan hukuman masa percobaan. Satu dari tiga pelaku remaja diberi ketentuan hukuman yang tidak lebih berat dari mereka yang menerima masa percobaan di pengadilan anak.
  • Meskipun dalam suatu keputusan pelaku remaja diberi hukuman yang lebih panjang, mereka menjalani hukuman lebih pendek.
  • Hukum menjadi tidak sekuat pada awalnya.

Fasilitas untuk orang dewasa yang diterapkan pada anak/remaja memperburuk perilaku agresif pada anak/remaja tersebut.

–          Remaja di dalam penjara dewasa, kemungkinan pengalaman untuk merehabilitasi mereka adalah tidak mungkin.

–          Penjara menjadi mimpi buruk bagi anak/remaja, yang terkadang menjadi korban kekerasan atau pemerkosaan di dalam penjara dewasa.

  • Seorang anak/remaja akan belajar tentang praktek kekerasan yang mereka terima dalam penjara dan menjadi perilkau yang dibawa hingga mereka dewasa.
  • Perilaku kekerasan yang mereka terima dan pelajari lebih keras dan berbahaya daripada perilaku kekerasan yang mereka temui di lingkungan keluarga
  • Berperilaku seperti orang dewasa, menyesuaikan diri dengan orang yang lebih tua di dalam penjara.

–          Penjara untuk anak secara khusus direncanakan untuk menangani kebutuhan khusus bagi pelaku remaja

  • Menawarkan suasana yang mendukung, di mana seorang perlaku remaja menerima konseling dan berkesempatan untuk melanjutkan pendidikan.
  • Bergaul dengan orang-orang yang berumur sama dengan mereka
  • Penekanan lebih kepada rehabilitasi daripada hukuman

Remaja yang telah di penjara dewasa lebih cenderung melanggar hukum lagi.

–          Studi di Minnesota, 1996, menunjukkan bahwa ketika seorang pelaku remaja yang telah bebas (keluar) dari penjara orang dewasa, 150% cenderung untuk akhirnya kembali ke penjara (prison) daripada ke pusat penahanan remaja.

–          J. A. Fagan melakukan studi terhadap pelaku remaja di New York dan New Jersey yang telah delapan tahun bebas dari hukuman pencurian dan perampokan.

  • New York, yang memiliki sistem otomatis pengiriman pelaku remaja ke penjara dewasa (adults facilities), menunjukkan angka 81,2% untuk hasil tingkat residivisme pada anak/remaja (pelaku remaja yang kembali ke penjara)
  • New Jersey, yang mengirimkan pelaku remaja ke penjara anak (juvenile facilities), menunjukkan angka 64,4% anak/remaja yang kembali ke penjara.

–          Studi di tahun 1997 menunjukkan bahwa pelaku perusakan di bawah umur (property criminals) kurang cenderung kembali ke penjara (melakukan pelanggaran) meskipun sebelumnya mereka dipenjada dalam penjara orang dewasa; tetapi pelaku remaja yang melakukan pelanggaran lain, yang bebas dari penjara orang dewasa, kembali ke penjara lebih cepat daripada pelaku remaja yang bebas dari penjara anak.

–          Studi di tahun 1999 menunjukkan bahwa pelaku remaja yang bebas dari penjara orang dewasa cenderung lebih cepat kembali ke penjara, meskipun survei yang dilakukan juga menunjukkan bahwa pelaku remaja yang mengalami masa penahanan lebih lama kurang cenderung untuk melakukan pelanggaran daripada mereka yang bebas lebih cepat.

Hukuman bagi pelaku remaja tidak mempengaruhi tingkat kejahatan

–          Menurut Children’s Defense Fund, dari tahun 1995 hingga 1999, keseluruhan kejahatan oleh anak/remaja menurun 23%, termasuk di dalamnya kasus pembunuhan yang menurun 56% dan kasus penguasaan senjata yang menurun 27%.

–          Pada tahun 2001, artikel di Pittsburgh Post-Gazette menyatakan bahwa menurunnya angka kejahatan di Pittsburgh mulai terjadi setahun sebelum hukum tentang kejahatan orang dewasa di Pennsylvania diberlakukan.

  • Artikel tersebut memaparkan ringkasan dari buku yang ditulis oleh Professor Alfred Blumstein dari Carnegie Mellon University, yang menghubungkan penurunan kejahatan dengan penurunan penggunaan kokain dan pemilikan senjata oleh preman.
  • Para preman mengiming-imingi anak/remaja untuk membawa kokain dan menjualnya sehingga anak/remaja menggunakan senjata untuk melindungi diri
  • Seiring dengan menurunnya penggunaan senjata dan kokai di kalangan preman, perdaganan obat dan kasus kejahatan lain, yang pelakunya adalah anak/remaja, juga menurun.
  • Menurunnya angka kejahatan di kalangan anak/remaja bukan merupakan efek dari hukum yang berlaku.

–          Laporan dari FBI, 26% dari populasi di Amerika Serikat tahun 1997, angka kejahatan oleh anak/remaja hanyalah 19% dari total angka kejahatan, 14% diantaranya merupakan kasus pembunuhan.

  • FBI juga melaporkan bahwa di akhir tahun 1980-an hingga awal 1990-an, angka kejahatan yang didapat tidak hanya diisi oleh pelaku anak/remaja, tetapi juga oleh orang dewasa 23 – 24 tahun.

–          Reaksi negatif yang ditujukan kepada anak/remaja merupakan langkah yang keliru dalam menangani kasus kejahatan.

Pemberian kesempatan kedua bisa menjadikan remaja lebih baik (kembali menjadi warga terhormat)

–          Pada contoh kasus, Scott Filippi, yang mendapatkan perlakuan kekerasan dari ibunya, pada umur 16 tahun membunuh ibunya.

  • Kasus Scott Filippi ditangani oleh seorang hakim yang merasa bahwa ada harapan terhadap pelaku remaja tersebut.
  • Scott Filippi diperlakukan sebagai remaja, bukan langsung dikirim ke pengadilan pidana.
  • Setelah menjalani hukuman sebagai pelaku remaja, Scott Filippi mendapatkan pekerjaan di Los Angles.
  • Hari ini Scott Filippi mengakui bahwa dia meyesal telah melakukan pembunuhan terhadap ibunya.

–          Para ahli percaya bahwa seharusnya Amerika Serikat lebih giat lagi untuk memberikan perlakuan yang pantas dan kesempatan kedua bagi pelaku di bawah umur.

–          Memperlakukan pelaku di bawah umur sebagai orang dewasa dan memasukkan ke dalam penjara dewasa akan berdampak kepada perilaku anak/remaja tersebut saat dia dewasa nanti, yaitu akan menjadi lebih buruk.

–          Penerapan hukum yang “tegas” bagi remaja sehingga mengabaikan hak-haknya sebagai anak akan memberikan efek pada meningkatknya angka kejahatan, di mana seorang anak akan cenderung mengulangi perbuatannya karena telah mempelajari perilaku kejahatan di penjara orang dewasa.

 

Menuntut Remaja Sebagai Orang Dewasa Melanggar Hak Konstitusional Mereka

Alasan utama dibentuknya pengadilan anak adalah untuk memastikan bahwa remaja mendapatkan lingkungan yang sesuai dengan usianya dan diperlakukan dengan adil dan berprikemanusiaan. Para ahli berpendapat bahwa mengusut kasus pelaku di bawah umur dalam pengadilan pidana akan menghasilkan keputusan kurungan penjara yang seharusnya untuk orang dewasa. Hal ini merupakan suatu ancaman bagi hak-hak anak/remaja, dan merupakan suatu perlakuan yang tidak adil bagi anak/remaja yang bersangkutan.

 

Adalah suatu hal yang lebih sulit bagi remaja untuk membantu pertahanan mereka sendiri di pengadilan pidana.

–          Suasana di pengadilan pidana dianggap lebih bermusuhan bagi pelaku remaja daripada di pengadilan anak.

  • Anak/remaja kurang dapat mengapresiasi secara utuh suasana proses yang kompleks, hal ini menyebabkan seorang anak/remaja kurang efektif membela diri dalam suatu pengadilan pidana.
  • Anak/remaja tidak memiliki mental yang sama dengan orang dewasa

–          Di pengadilan anak, seorang pelaku anak/remaja memiliki hak untuk berbicara dengan aktivis sosial atau pengacara (penasihat) yang dapat membantu mereka dalam mengatasi masalah

Pemberian hukuman kepada pelaku di bawah umur di pengadilan pidana untuk orang dewasa adalah suatu hal yang tidak adil

–          Studi yang dilakukan oleh Departemen Kehakiman Amerika Serikat (1996) menemukan bahwa pengadilan pidana memenjarakan 32% pelaku kekerasan di bawah umur, sementara di pengadilan anak hanya 24%.

–          Hukuman percobaan adalah sifat yang umum di pengadilan anak bagi semua jenis kejahatan.

–          Pelaku di bawah umur umumnya mendapat proses dan hukuman yang lebih berat di pengadilan pidana orang dewasa.

–          Katherine L. Evans, dalam The Mississipii Law Journal, memaparkan bahwa sebuah studi menunjukkan bahwa hukuman yang diberikan di pengadilan pidana lebih berat daripada hukuman yang diberikan di pengadilan anak (99% berbanding 77%).

  • Hukuman yang diberikan di pengadilan pidana kira-kira lima kali lebih lama daripada di pengadilan anak.
  • Untuk kasus pembunuhan, hukuman di pengadilan pidana adalah 191,8 hingga 247 bulan, sedangkan di pengadilan anak adalah 55,7 bulan.

–          Remaja kelompok minoritas diperlakukan sangat tidak adil di pengadilan pidana.

  • Menurut sumber Building Blocks for Youth, 1998, persentase pelaku remaja yang dipenjarakan berdasarkan etnis/ras adalah 26% untuk kulit putih, 37% untuk ras hispanik (berbahasa Spanyol), dan 43% untuk kulit hitam (kelompok minoritas, African-American)

Penahanan di dalam penjara untuk orang dewasa merupakan “hukuman kejam dan tidak biasa” untuk anak/remaja dan dengan demikian melanggar hak-hak mereka

–          Anak yang dipenjarakan di penjara orang dewasa menghadapi resiko kekerasan yang lebih besar daripada penjara anak.

  • McCormick, dalam artikel America, memaparkan bahwa remaja yang berada di penjara orang dewasa delapan kali lipat lebih cenderung melakukan bunuh diri.
  • Dua kali lipat lebih cenderung dipukuli oleh penjaga penjara, dan 50% lebih cenderung dipukuli dengan senjata

–          Biro Bantuan Kehakiman (Bureau of Justice Assistance’s 2000) melaporkan dalam Juveniles in Adult Prisons and Jails: A National Assessment bahwa meskipun pemuda di fasilitas untuk orang dewasa dan remaja mungkin sama-sama menjadi korban dari kejahatan properti saat dipenjara, anak-anak di fasilitas untuk orang dewasa lebih mungkin menjadi korban kekerasan.

Hukuman mati bagi remaja melanggar undang-undang (inkonstitusional)

–          Hukuman mati tidak dapat diberikan kepada anak di bawah umur 16 tahun

–          Kelompok remaja ini belum dapat dipersalahkan daripada orang dewasa (simply less culpable than adults).

–          Hukuman harus secara langsung berkaitan dengan kesalahan pribadi terdakwa pidana. Harus ada proses khusus bagi pelaku di bawah umur untuk mengupayakan berbagai tindakan preventif untuk meminimalisasi dampak negatif, di mana seseorang dapat menyimpulkan bahwa less culpability ‘tidak dapat dipersalahkan’ harus menjadi bahan pertimbangan dalam menangani kasus pelaku di bawah umur.

–          Anak tidak dapat disamakan dengan orang dewasa.

–          Keputusan Mahkamah Konstitusi harus mencerminkan “standar yang mengembangkan kepatutan yang menandai kemajuan masyarakat masa kini” ─ yang menunjukkan bahwa hukuman mati menjadi hukuman yang tidak dapat diterima bagi mereka di bawah 16.


[1] Kevin Hile, TRIAL OF JUVENILES AS ADULTS, United States of America: Chelsea House Publishers, 2003. P.58-83

 

Author: Manshur Zikri

Penulis

1 thought on “Review Jurnal Trial of Juveniles as Adult”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s