SAYA BERTANYA!*

Oleh Manshur Zikri, Mahasiswa FIFIP UI, 2009

 

“Aku sudah bosan takut. Sudah bosan putusasa.”

(Pramoedya Ananta Toer)


Banggalah kita kepada aksi yang dilakukan oleh Hariyono dan Koesno Wibowo di Hotel Yamato, Jalan Tunjungan, Surabaya, 65 tahun silam. Dengan gagah berani mereka mempertaruhkan nyawa, memanjat tiang bendera, menurunkan bendera Belanda dan merobek bagian birunya, kemudian mengereknya kembali ke puncak tiang sehingga Bendera Merah Putih berkibar. Ancaman ultimatum dari tentara Inggris, di kemudian hari, kepada rakyat Indonesia yang menyatakan bahwa seluruh orang Indonesia harus meletakkan senjata dan menyerahkan diri dengan tangan di atas kepala, dengan batas waktu hingga pukul 06.00 pagi, tanggal 10 November 1945, bukanlah suatu masalah yang ditakuti oleh rakyat dan para pemuda pada saat itu, bahkan dengan gagah berani mereka menantang tentara Inggris, yang tergabung dalam Allied Forces Netherlands East Indies. Rakyat malah menganggap ultimatum tersebut sebagai sebuah penghinaan bagi perjuangan rakyat dan kedaulatan bangsa. Mereka memutuskan utntuk tetap berjuang melawan.

Serangan dari darat, air dan udara dari pihak AFNEI tidak menggentarkan perjuangan rakyat Indonesia dalam mempertahankan wilayah kedaulatannya. Persitiwa ini kemudian menjadi suatu penggerak dan pendorong bagi perlawanan rakyat di seluruh Indonesia untuk mengusir penjajah dan mempertahankan kemerdekaan. Dan kita semua tahu, hari itu kini kita peringati bersama sebagai Hari Pahlawan.

Kini, sejarah perjuangan itu hanya tertoreh di atas kertas. Perjuangan rakyat Indonesia pada masa-masa lampau menjadi sebuah cerita yang membosankan. Kalaupun cerita itu menjadi penting, “penting” untuk di dalam kelas. Energi pendorong dari peristiwa 10 November 1945 kian terasa pudar di kalangan “anak muda” saat ini. Cerita itu kemudian hanya menjadi kenangan, dan menjadi suatu kebanggaan apabila diceritakan. Cukup hanya untuk diceritakan. Apakah itu benar? Memang tidak ada data yang menegaskan hal itu. Oleh karena itu penulis sekali lagi bertanya, APAKAH ITU BENAR?

Penulis bukah hendak menumpahkan kesalahan kepada “anak muda”, karena penulis sendiri juga merupakan seorang “anak muda”. Namun, bertanya kepada kita semua tentang apakah yang bisa kita lakukan untuk membalas budi para pejuang masa lalu adalah suatu hal yang wajar. Karena kita semua sepakat bahwa menjadi seorang yang muda, berarti memiliki tugas untuk melakukan sesuatu yang berarti bagi orang-orang tua dan juga orang-orang yang lebih muda dari kita. Menjadi seorang yang muda berarti memiliki tanggung jawab untuk melakukan suatu perubahan yang lebih baik dalam kehidupan ini, bagi masyarakat, tanah air, bangsa dan  negara.

Dalam sebuah opini, disebutkan bahwa yang menjadi persoalan besar bangsa kita sekarang ini adalah kemiskinan, kebodohan, kemelaratan politik dan apatisme. Persoalan yang muncul akibat terjadinya “kecacatan terstruktur” yang sudah menjadi suatu “budaya” dan “disepakati” oleh bangsa kita sendiri sekarang ini. Dalam menjawab persoalan-persoalan itu, sering terdengar suara-suara yang berdengung dengan santai berbunyi, “Ya, mau bagaimana lagi, inilah Indonesia!” Apakah kalimat ini bisa membuat bangga para pejuang (yang pada waktu tertentu kita anggap sebagai “dewa”) yang sudah berada di alam kubur?

Cerita tentang perjuangan dalam perang angkat senjata sudah basi. Tidak perlu kita bahas lagi, biarlah dia menjadi suatu cerita yang menghibur dan dapat meningkatkan semangat jiwa muda. Para pejuang masa lalu cukup kita jadikan sebagai suri tauladan, tak perlu dilebih-lebihkan, apalagi dianggap sebagai dewa. Yang menjadi fokus perhatian kita sekarang adalah bagaimana “meneruskan perjuangan mereka” (kalimat yang selalu didengungkan semua orang ketika mengenang para pejuang)[?]. Yang menjadi fokus perhatian kita adalah bagaimana menghadapi penjajah masa kini[?]. Yang menjadi fokus perhatian kita adalah bagaimana menghadapi “kebuntuan berpikir” yang sedang melanda kita semua[?]. Yang menjadi fokus perhatian kita adalah bagaimana menjadikan semangat dari kenangan masa lalu itu sebagai energi untuk melakukan suatu tindakan yang nyata untuk perubahan kearah kebaikan pada masa sekarang ini[?].

Ada sebuah pernyataan yang mengatakan bahwa “Jaman sekarang tidak ada pemuda! Yang ada hanyalah remaja atau anak muda yang telah terkontaminasi oleh perkembangan jaman dan konsumerisme.” Apakah itu benar? Penulis yakin kita semua yang dianggap sebagai “anak muda” ini pada dasarnya memiliki jiwa seorang “pemuda”. Dan penulis juga yakin bahwa dalam diri seorang pemuda memiliki jiwa pejuang. Akan tetapi di mana jiwa pemuda dan jiwa pejuang itu kini, tersembunyi di mana?

Salah seorang mahasiswa pernah berkata kepada penulis, “Pejuang itu berani melakukan apa yang ia yakini hingga akhir hayat!” Kembali penulis bertanya, apa kita semua sudah menetapkan hati untuk melakukan sesuatu yang kita yakini hingga akhir hayat? Sesuatu yang diyakini adalah hal yang mutlak mengandung kebenaran. Karena apabila sesuatu itu tidak mengandung kebenaran, keyakinan bukanlah nama yang tepat melainkan kesesatan. Bertanya lagi, apakah kita sudah bisa membedakan antara keyakinan dan kesesatan?

Gerakan-gerakan perubahan sudah banyak dilakukan. Namun yang menjadi pertanyaan kemudian apakah gerakan-gerakan itu sudah mengandung suatu keyakinan sejati, memiliki sifat kebenaran, atau hanya suatu romantisme yang dibalut oleh kesesatan dan kekeliruan berpikir? Disinlah kita, yang seharusnya berani mengaku sebagai pemuda, dituntut untuk memiliki strategi yang jitu dalam menyikapi perkembangan jaman, suatu strategi yang cerdas, kritis dan intelektual. Penulis bertanya lagi, apakah strategi itu sudah kita temukan? Kembali lagi kepada pertanyaan sebelumnya tentang kebuntuan berpikir yang sedang melanda kita para pemuda. Strategi tidak akan pernah ditemukan dengan pikiran yang buntu. Tidak menemukan strategi maka tidak akan dapat mewujudkan suatu gerakan yang penuh keyakinan sejati. Gerakan-gerakan akan menjadi kosong jika hanya dibaluti oleh romantisme belaka dan semangat buta. Gerakan-gerakan kosong hanya mengakibatkan munculnya suatu revolusi tak berarah. Terjadinya suatu aksi revolusi tanpa arah sama saja dengan mempertegas pernyataan “perjuangan dan pejuang itu sudah mati”. Perjuangan yang mati mengakibatkan pemuda, pada masa sekarang, hilang sama sekali.

Dengan berasumsi bahwa kebuntuan berpikir belum menjadi penyakit yang akut, perjuangan belum mati, pemuda masih berada, dan gerakan-gerakan yang telah dilakukan adalah suatu gerakan dengan keyakinan yang luhur, penulis bertanya lagi, lalu apa yang menyebabkan gerakan kita di era reformasi tidak menghasilkan buah manis? Ya, ada gerakan-gerakan yang berhasil dan memberikan gebrakan baru yang bermanfaat bagi semuanya, tetapi bagaimana dengan gerakan-gerakan yang tidak berhasil itu? Kita adalah mahasiswa (pemuda), dan mahasiswa adalah cerdas. Penulis yakin masing-masing dari kita memiliki konsep berpikir yang berpotensi untuk melakukan suatu gerakan, suatu perjuangan, untuk menuntaskan tanggung jawab dari status kita sebagai pemuda, sebagai mahasiswa. Dan sudah merupakan kesepakatan umum bagi kita semua bahwa gerakan yang dimaksud adalah bukan bertopang dagu di dalam kelas. Bukan.

Gagasan ide sudah ada, konsep berpikir sudah terajut, jiwa kritis sudah mendarah daging, kompetensi sudah didapat, fasilitas sudah diberi, dan kesempatan pun terbuka dengan lebar. Lalu apa?

Bolehkah penulis mengatakan bahwa yang menjadi kendala bagi kita semua adalah tidak adanya kata berani di benak kita? Terpaksa penulis kembali melihat cerita perjuangan yang basi itu, cerita tentang pejuang-pejuang yang gagah berani. Apa yang ada di dalam diri mereka? KATA BERANI! Kemerdekaan 17 Agustus 1945 diraih karena ada kata berani. Peristiwa 10 November 1945 juga penuh dengan kata berani. Perjuangan adalah suatu hal yang memiliki sifat berani.

Tanpa kata berani, gagasan ide kehilangan nyawa. Tanpa kata berani, suatu keyakinan akan membeku. Tanpa kata berani, gerakan tidak akan terealisasi. Tanpa kata berani, pemuda mati. Tanpa kata berani, mahasiswa tidak akan dianggap lagi.

Bagi penulis, mengenang cerita tentang perjuangan para pahlawan masa lampau adalah suatu hal yang memang harus dilakukan, yaitu mempelajari jiwa berani yang sejati.

 

“Barang siapa tidak berani, dia tidak bakal menang; itulah semboyanku! Maju! Semua harus dimulai dengan berani! Pemberani-pemberani memenangkan tiga perempat dunia!”

–          Kartini via Pramoedya Ananta Toer


“Kalau mati, dengan berani; kalau hidup, dengan berani. Kalau keberanian tidak ada, itulah sebabnya setiap bangsa asing bisa jajah kita.”

“Kalian pemuda, kalau kalian tidak punya keberanian, sama saja dengan ternak karena fungsi hidupnya hanya beternak diri”

–         Pramoedya Ananta Toer

 

Maka dari itu, kita harus berani, Kawan! Kita harus berani, wahai mahasiswa!

 

End note:

Tulisan ini adalah opini yang dibuat dalam rangka memperingati Hari Pahlawan di Kampus. Tulisan tersebut direncakanak akan ditempel di mading, tetapi batal karena permasalahan waktu.


Author: Manshur Zikri

Penulis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s