Perkuat Integrasi dengan Flashmob*

Oleh Penudingdua, Mahasiswa FISIP UI.**

 

Merupakan suatu kewajiban bagi saya sebagai mahasiswa yang baik untuk menyampaikan sebuah kabar dengan akurat dan lengkap, tidak setengah-setengah. Akan tetapi, untuk kabar yang satu ini, menurut saya, akan menjadi lebih berarti dan menjadi sesuatu yang patut dibahas karena kesimpang siurannya.

Adalah sebuah peristiwa yang secara mendadak menyita perhatian hampir semua warga kampus yang beraktivitas di koridor utama — begitulah saya mengistilahkannya dalam tulisan ini — yaitu koridor yang paling sering dilalui oleh warga kampus, mahasiswa, dosen, dan semua staf yang bekerja di FISIP UI, yaitu koridor di depan Restoran Korea. Semua mata mulai menoleh ketika sebuah hentakan lagu mulai terdengar, dan satu persatu mahasiswa dan mahasiswi mulai menari dengan gerakan yang sama, penuh gembira dan ceria. Kemarin, 24 November 2010, sekelompok besar mahasiswa melakukan suatu aksi yang begitu menghibur. Saya sebagai salah satu warga kampus juga ikut menyaksikan dan menikmati peristiwa tersebut. Komentar dari saya pribadi: salut untuk pihak-pihak yang memprakarsai kegiatan ini.

Setelah kegiatan “mendadak” itu berakhir, semua mahasiswa dan mahasiswi yang menari bersorak gembira, disambut dengan tepuk tangan para penonton “dadakan”. Beberapa dari orang yang berlalu lalang, salah satunya saya sapa, dan kemudian saya bertanya, “Siapa yang menggagas flashmobs tersebut?”. Mahasiswi yang saya tanyai itu pun kemudian menjawab bahwa yang menggagas aksi tersebut adalah anak komunikasi. Tidak ada niat dari saya untuk memastikan hal tersebut. Terserahlah, apakah memang benar anak komunikasi yang menggagas atau bukan, itu tidak menjadi masalah dalam hal ini. Seperti yang saya utarakan sebelumnya, kesimpang siuran tersebut menjadi daya tarik tersendiri pada kegiatan tersebut.

Mengapa saya mengatakan demikian? Karena kita kembali kepada esensi dari flashmobs itu sendiri, yaitu orang-orang yang melakukan aksi yang secara mendadak, dilakukan secara berkelompok, dengan tujuan memberikan “efek kejutan” kepada lingkungan sekitar beserta dengan orang-orang yang tidak tahu menahu dengan peristiwa tersebut. Kemudian, setelah aksi tersebut selesai, di mana orang-orang yang ikut serta dalam aksi flashmob ini kembali melanjutkan aktivitas mereka seperti biasa seolah-olah tidak terjadi apa-apa, orang-orang lain yang menyaksikan akan bertanya-tanya, “Ada apa?” atau “Apa yang sedang terjadi?” atau “Dalam rangka apa?”, dan sebagainya. Jika demikian halnya respon yang didapat, berarti aksi flashmobs tersebut telah sukses melakukan tugasnya.

Saya mencoba menuangkan peristiwa yang terjadi kemarin itu ke dalam bentuk tulisan ini, dengan tujuan untuk mengajak kita bersama melihat sisi bahasan yang cukup menarik, berkaitan dengan flashmobs agar kita dapat meningkatkan kesadaran kita semua.

Flashmobs adalah sekelompok besar orang (dalam jumlah yang sangat banyak) yang berkumpul di suatu tempat umum secara tiba-tiba, melakukan suatu tindakan (aksi) yang tidak biasa (tidak biasa terjadi di tempat umum tersebut), untuk waktu yang singkat, kemudian bubar (setelah tindakan selesai dilaksanakan).  Diana Kendall, mengutip dari Wordspy.com, memaparkan definisi flashmobs sebagai A flash mob is a large group of people who gather in a usually  predetemined location, perform some brief action and then quickly disperse [wordspy.com]. Jika kita melihat sejarah flashmobs ini, sesungguhnya telah pernah terjadi sejak masa lampau, sekitar lebih dari sepuluh tahun yang lalu. Seperti yang diutarakan oleh Diana Kendall, contohnya adalah demonstrasi yang dilakukan oleh sekelompok demonstran di tahun 1999, melakukan aksi protes terhadap World Trade Organization di Seattle, Wahington, yang diatur dan diprakarsai melalui sebuah website, telepon seluler, dan perangkat lainnya yang memiliki kapabilitas komunikasi dan komputasi. Pada masa sekarang, flashmobs biasanya dirancang untuk bersenang-senang dengan tidak menimbulkan efek yang berbahaya. Flashmobs kian tumbuh dan menjadi popular. Banyak para pakar sosiologi berpendapat bahwa aksi ini tidak akan berlangsung lama gaungnya. Akan tetapi sejatinya fenomena flashmobs bisa bertahan lebih lama karena sebenarnya dia telah ada dan mengakar dari tahun 1970-an. [Diana Kendall, Sociology in Our Times, 2008: 672]

Secara popular, flashmobs pertama kali dibuat menjadi popular di tahun 2003 oleh Bill Wasik, seorang editor senior dari Harper’s Magazine. Seratus orang berkumpul dalam sebuah toko serba ada dan menyatakan melakukan pembelian terhadap suatu produk secara kelompok.  Wasik mengklaim bahwa tujuannya memprakarsai flashmob tersebut sebagai suatu eksperimen sosial yang dirancang untuk mengolok-olok hipsters dan untuk menyoroti suasana budaya konformitas [Sandra Shmueli, Augustus, 2003]. Dalam perkembangan selanjutnya, flashmobs menjadi suatu ajang performance art. Meskipun dimulai sebagai sebuah tindakan apolitis, flashmobs dapat memberikan kesamaan yang dangkal untuk demonstrasi politik. Flashmobs dapat dilihat sebagai bentuk khusus dari sebuah aksi masa yang cerdas. Konsep dan istilah yang demikian dituangkan oleh Howard Rheingold, dalam buku Smart Mobs: The Next Social Revolution, 2002 [Chris Taylor, Maret, 2003]

Dari ciri-ciri yang bisa kita gambarkan dari aksi oleh flashmobs, yaitu sebuah gerakan atau tindakan yang dilakukan secara bersama-sama oleh sekelompok orang (bukan individu semata), dilakukan secara mendadak dan dalam tempo yang sementara, dapatlah kita simpulkan bahwa sesungguhnya tindakan ini merupakan bagian dari collective behavior ‘perilaku kolektif’. Sementara Diana Kendall sendiri memasukkan fenomena ini sebagai contoh dalam bahasan mass behavior.

Perilaku kolektif sendiri dapat dikatakan sebagai perilaku menyimpang, sebagaimana dapat kita lihat dari namanya, merupakan tindakan bersama oleh sejumlah besar orang; bukan tindakan individu semata-mata. Perilaku kolektif dipicu oleh suatu rangsangan yang sama, yang menurut Light Keller dan Calhoun, dapat terdiri atas suatu peristiwa, benda atau ide [Kamanto Sunarto, dalam “Pengantar Sosiologi” edisi Revisi, 2004]. Contoh konkret dari perilaku kolektif yang diberikan oleh Kamanto Sunarto adalah tawuran pelajar; perusakan kantor tabloid MONITOR di Jakarta oleh sejumlah demonstran pada tahun 1990; perampokan besar-besaran di kota New York pada tahun 1977 yang dipicu oleh persitiwa padamnya listrik di seluruh kota secara mendadak [Horton dan Hunt, 1984: 483]; perusakan masjid di Babri di Ayodha, India tahun 1992 [TIME, 12 November 1990 dan 21 Desember 1992].

Menurut saya, merujuk kepada pengertian yang diberikan oleh Kamanto Sunarto, aksi oleh flashmobs dapat dikatakan sebagai bentuk dari perilaku kolektif karena adanya rangsangan kesamaan ide dan dilakukan oleh banyak orang (bukan individu semata). Namun penyimpangan yang dilakukan dalam flashmobs tidak (atau jarang sekali) menimbulkan kerugian dan merupakan hiburan semata.

Sekarang yang harus menjadi perhatian kita adalah bagaimana memanfaatkan fenomena ini menjadi suatu hal yang memiliki arti, bukan sekadar alat untuk melakukan sesuatu yang tidak berguna. Bagaimanakah kita harus menyikapi flashmobs dan memanfaatkannya menjadi suatu alat untuk melakukan suatu gerakan sosial?

Giddens, 1989, mengatakan bahwa berbeda dengan perilaku kolektif, gerakan sosial adalah suatu aksi yang ditandai oleh adanya tujuan atau kepentingan bersama.  Dengan kata lain, suatu gerakan sosial memiliki rangka dan perencanaan untuk jangka panjang dalam mengubah atau mempertahankan suatu tatanan dalam masyarakat atau institusi yang ada di dalamnya.

Kalau memang benar yang disampaikan oleh mahasiswi yang saya tanyai kemarin, bahwa flashmobs yang dilakukan oleh sekelompok mahasiswa waktu itu adalah prakarsa dari mahasiswa komunikasi, dengan berasumsi bahwa untuk ajang promosi dan publikasi suatu kegiatan, saya rasa hal ini merupakan sesuatu yang patut diapresiasi. Memanfaatkan aksi flashmobs sebagai salah satu strategi dalam menyampaikan pesan kepada khalayak merupakan suatu langkah yang cerdas, dan merepresentasikan jiwa mahasiswa yang sadar akan fenomena yang terjadi di masyarakat.

Satu hal yang kemudian menjadi PR bagi kita semua adalah, bagaimana jika flashmobs ini terus dikembangkan dan dimanfaatkan untuk mempererat integrasi dan kerukunan semua mahasiswa di kehidupan kampus? Dengan demikian, flashmobs tidak hanya menjadi suatu ajang mencari kesenangan, tetapi juga memiliki tujuan dan kepentingan bersama bagi seluruh mahasiswa ke depannya, menata kembali kehidupan kampus yang telah banyak terkontaminasi dengan isu-isu ketidakpedulian dan apatisme.  Flashmobs tidak akan sukses tanpa ada perencanaanyang matang dan peran dari seluruhkomponen yang terlibat di dalamnya(dalam hal ini adalah mahasiswa).Memberikankontribusi adalah hal yang penting demi mewujudkan flashmobs yang spektakuler dan tak terlupakan.

Jika boleh saya mengisitilahkan, kita butuh ”flashmobs yang bergerak”, dalam artian sebuah aksiyang mempiliki tujuan jangka panjang.Pemicu yang dilakukan boleh saja hanya sesaat, tetapi efek kejutan yang dihasilkan harus (seharusnya) memberikan dampak baikyang kontinu, yang berbekas di dalam benak masing-masing mahasiswa sehingga mempertegas angan dan tujuan ideal bahwa kita adalah ”satu”. Flashmbos bias menjadi ”alat” untuk mewujudkan kata sau itu, tetapi memang harus dengan pemaknaan dan pemahaman yang dalam dari fenomena flashmobs itu sendiri dan manfaat-manfaatnya.

Ketidakpedulian muncul karena adanya suatu titik kebosanan dan kemonotonan. Salah satu cara yang paling tepat untuk memerpkuat integrasi dalam kehidupan organisasi ataupun kehdiupan dalam suatu institusi, menurut saya, adalah dengan suatu program atau kegiatan. Hal ini dapat menjadi pemicu untuk meningkatkan ikatan diantara kita bersama. Dan demi menyukseskan sebuah acara, program, atau kegiatan, saya rasa flashmobs bisa menjadi salah satu solusi.

 

______

Endnote:

* Tulisan opini yang dipajang di majalah dinding HIMAKRIM UI, tertanggal 25 November 2010

** Nama pena penulis, sesuai konsep dan kemasan majalah dinding HIMAKRIM UI: Kriminologi Menuding.

 

Author: Manshur Zikri

Penulis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s