Sekali Peristiwa di Banten Selatan: semangat gotong royong, keberanian, dalam mencari kebenaran!

Cover buku Sekali Persitiwa di Banten Selatan, sumber: google

“Di mana-mana aku selalu dengar: Yang benar juga akhirnya yang menang. Itu benar; Benar sekali. Tapi kapan? Kebenaran itu tidak datang dari langit, dia mesti diperjuangkan untuk menjadi benar…”

Pramoedya Ananta Toer.

Kalau sudah melihat buku Pram, apakah itu milik teman atau di perpustakaan, biasanya saya akan tergoda untuk membacanya. Akan tetapi, untuk buku yang satu ini, saya begitu tergoda ketika melihat kutipan di atas, yang tertera di belakang cover buku. Tentang kebenaran, yang harus diperjuangkan.

“Sekali Persitiwa di Banten Selatan” merupakan novel hasil “reportase” yang dilakukan oleh Pram di wilayah Banten Selatan yang subur tapI rentan dengan penjarahan dan pembunuhan. Cerita yang disajikian oleh Pram ini melihat Banten masa lalu, ketika terjadi pemberontakan oleh Darul Islam kepada Repupblik Indonesia. Sebuah cerita yang dikemas oleh Pram ini sarat  dengan pengetahuan sejarah, yang ceritanya sendiri diangkat dari kenyataan sejarah dan tambahan bumbu dari buah pikiran seorang Pramoedya.

“Aku sudah bosan takut. Sudah bosan putusasa.”

— Pramoedya Ananta Toer..

Sebuah kutipan kalimat dalam dialog di cerita tersebut, yang dilontarkan oleh tokokh bernama Ranta, seorang rakyat jelata yang ditindas oleh orang-orang kaya yang memiliki kuasa. Dia dipaksa melakukan pencurian demi keuntungan Juragan Musa, tetapi kemudian diupah dengan sangat rendah, bahkan lebih sering tidak diupah, malah dipukuli dan diancam akan dilaporkan kepada pihak keamanan dengan tuduhan mencuri. Padahal dia melakukan tindakan pencurian itu demi keuntungan orang yang merugikannya. Kalimat itu terlontar dengan begitu yakin dari mulut Ranta ketika dia sampai pada titik muak yang begitu kuat kepada Juragan Musa, yang suka menindas ‘orang kecil’. Selain itu, kemuakan yang ia miliki juga ditujukan kepada para pemberontak Republik Indonesia, yaitu Darul Islam, yang selalu menyerang warga masyarakat sehingga menimbulkan banyak kerugian.

Bagi saya, Pram dengan sangat sastrawi menggambarkan suasana kehidupan masyarakat Banten Selatan pada akhir tahun 1957, yang habis ditindas oleh sebuah kekuasaan dan pemberontakan, nasib rakyat yang tidak tentu arah karena kurangnya kebersamaan dan pengetahuan. Cerita kemudian berlanjut kepada usaha-usaha dari masyarakat sendiri untuk mulai menata kehidpan mereka, mulai berani memperjuangkan hak, dengan tekad mencari kebenaran, mempertaruhkan keberanian dan kerjasama, yang disebut sebagai “gotong royong”.

“Tubuh boleh saja disekap, dtendang, diinjak-injak, tapi semangat hidup tidak boleh redup. Menurut Pram, semangat hidup itulah yang membuat seseorang bisa hidup dan terus bekerja. Bertolak dari situ Pram bertekad kuat mengorbankan semangat untuk tidak ongak-ongak kaki menanti ajal melumat.”

— Penganrat dari Penerbit, Lentera Dipantara.

Suatu hal baru yang saya temukan dalam buku ini adalah mengenai dialog. Tidak seperti buku-buku cerita atau novel yang lain yang pernah say abaca, dalam dialog di cerita ini tidak terdapat penggunaan tanda kutip, melainkan hanya berupa paragraf baru ketika ada seorang tokoh yang berbicara, dan disambung ke paragraph berikutkya ketika ditanggapi oleh tokoh yang lain. Namun begitu, hal ini tidak membingungkah saya, karena saya dapat memhami dan bisa membaca cerita seprti novel umumnya. Pram sendiri memberikan keterangan pada halaman kata pengatar pengarang, “Cerita yang kutulis ini merupakan cerita bacaan, tetapi di samping itu dapat pula dpentaskan di panggung.” Hal ini kemudian yang memberikan pengertian kepada saya bahwa mungkin saja kemasan cerita ini disengaja oleh Pram tanpa penggunaan tanda kutip karena keflesibelitasan cerita yang dapat dipentaskan dalam panggung.

Mengenai ceritanya sendiri, yang penuh dengan nuansa perjuangan rakyat, pemeberontakan, dan penindasan, juga dipenuhi dengan nuansa ketegangan dan penasaran. Ketika membaca buku ini, terdapat perasaan kahwatir dari diri saya terhadap nasib si tokoh utama bersama isterinya, karena kenekatannya. Meskipun begitu, akir cerita dapat membuat saya tersenyum, karena ada banyak kejutan yang memang “pantas” dan hal itu berhasil dikemas oleh Pram dengan begitu apik. Saya puas membaca ceritanya.

Terlepas dari kepastian dan kebenaran sejarah yang terkandung di dalamnya, cerita ini banyak memiliki pesan kepada pembaca terkait tentang kebenaran hakiki, perjuangan mencapai kesejateraan, keberanian, serta semangat gotong royong yang menjadi warisan dari nenek moyang. Cerita ini sangat mendidik dan menghibur. Saya sarankan kepada para remaja, pemuda, dan mahasiswa untuk membacanya.

Author: Manshur Zikri

Penulis

1 thought on “Sekali Peristiwa di Banten Selatan: semangat gotong royong, keberanian, dalam mencari kebenaran!”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s