Datangnya Obama: Pro dan Kontra Simpang Siur

Manshur Zikri, Mahasiswa FISIP UI, 2009

 

Mungkin adalah suatu hal yang terlambat apabila saya baru menuliskan pendapat ini pada hari ini. Namun begitu, ada sisi baiknya apabila saya tetap menulis, dengan tujuan memberikan pendapat dan mencoba memberikan penjelasan berdasarkan apa yang saya pikirkan terhadap momen kedatang Barrack Obama ke Universitas Indonesia.

Pada hari Senin, ketika saya berlari terburu-buru di pagi hari menuju gerbang Kutek karena takut ketinggalan Bis Kuning, saya diherankan oleh sederetan sepeda motor di sepanjang jalan menuju gerbang. Sepeda motor tidak bisa masuk ke Universitas Indonesia karena gerbang di Kutek, khusus untuk gerbang lewatnya sepeda motor, dikunci dari dalam. Sedangkan para pejalan kaki masih tetap bisa masuk karena gerbang khusus untuk pejalan kaki tidak dikunci. Ada bebera pengendara sepeda motor yang memutar balik sepeda motornya mencari jalan lain, ada juga yang memarkir sepeda motornya di depan gerbang dan memilih berjalan kaki menuju kampus untuk mengejar absen, dan bahkan ada yang mengangkat motornya melewati gerbang khusus untuk para pejalan kaki. Bukan hanya di luar gerbang, beberapa pengendara sepeda motor yang berasal dari arah dalam wilayah Universitas Indonesia yang menuju ke luar Kutek juga terpaksa menghentikan kendaraannya, memutar balik, mencari jalan lain. Meskipun tidak bisa untuk dikatakan terlalu berlebihan, namun cukup pas jika saya katakan bahwa suasana pagi itu cukup heboh.

Semua akses jalan ke Universitas Indonesia di tutup. Hal ini dikarenakan kedatangan Presiden Amerika Serikat, Barrack Obama, yang akan berkunjung ke Kampus Kuning ini, tanggal 10 November 2010, untuk memberikan kuliah umum. Seperti yang diberitakan oleh mediaindonesia.com, Humas UI Devi Rahmawati mengatakan bahwa UI secara resmi meliburkan mahasiswanya jikalau Obama jadi memberikan kuliah umum. “Secara resmi UI diliburkan untuk aspek keamanan. Kalau kuliah umum ini jadi, kampus diimbau untuk meliburkan semua kegiatan oleh seluruh pihak keamanan, baik itu Istana, kedutaan besar, maupun paspampres,” tutur Devi Rahmawati. (http://www.mediaindonesia.com, tertanggal 9 November 2010).

Pelbagai reaksi timbul dari kalangan mahasiswa. Ada yang tidak setuju dengan kedatangan Obama karena alasan tertentu, dan ada pula yang setuju dengan alasan tertentu pula. Beberapa kalangan yang mengeluhkan kedatangan Presiden Negara Adidaya itu berpendapat bahwa ditutupnya akses ke UI menyebabkan warga di sekitar lingkungan kampus, termasuk mahasiswa, terganggu aktivitasnya. Tindakan sterilisasi yang dilakukan oleh pihak keamanan dianggap terlalu berlebihan. Ada juga beberapa yang menilai bahwa meliburkan mahasiswa selama dua hari, termasuk dalam tindakan merebut hak mahasiswa untuk belajar dan beraktivitas di kampus. Semua kegiatan yang diadakan oleh mahasiswa di kampus terpaksa dihentikan (paling tidak diubah jadwal pelaksanaan kegiatannya). Bahkan ada yang berujar, “Obama tidak penting!” Anggapan-anggapan negatif lain juga diperkuat dengan adanya dugaan bahwa kedatangan Obama ke Indonesia memiliki maksud tertentu, seperti misalnya mendukung kekuatan neo kapitalis di Indonesia.

Bagi kalangan yang menerima kedatangan Obama, melihat sisi positifnya. Kunjungan Obama ke Indonesia akan membawa banyak keuntungan, seperti mempererat hubungan luar negeri antara dua Negara, membantu menjembatani dialog antar umat muslim atau membantu penanggulangan korban bencana. Selain itu, dengan diadakannya kuliah umum di Universitas Indonesia dapat memberikan keuntungan bagi UI sendiri beserta dengan seluruh warga kampus, termasuk mahasiswa. Ada yang berujar bahwa materi kuliah yang diberikan dapat menjadi bahan materi dan ilmu pengetahuan bagi kita semua.

Pada malam hari, Senin, 8 November 2010, saya berdiskusi dengan rekan saya Anju (Mahasiswa Kriminologi 2009) tentang maksud kedatangan Obama ke UI. Dalam diskusi tersebut, saya memberikan pandangan tentang prosedur pengamanan yang dilakukan terlalu berlebihan. Sementara Anju berpendapat bahwa prosedur itu memang sudah ketentuan yang memang harus dipatuhi, karena persiapan dan pencegahan lebih penting daripada suatu hal yang tidak diinginkan terlanjur terjadi. Lalu saya membantah, mengapa kita harus mengikuti prosedur yang seperti ini (dari sini kita semua tahu bahwa saya tidak setuju dengan sistem pengamanan yang dimaksud). “Mengapa kita harus tunduk kepada mereka (Amerika) dan mengikuti prosedur mereka. Bukankah kita memiliki prosedur sendiri yang dapat dipertimbangkan dengan baik dan ruginya bagi kemaslahatan masyarakat Indonesia?” ujar saya. Sementara Anju, yang mengakui pengetahuannya belum sampai ke tingkat itu hanya tersenyum. Kemudian dia berpendapat, “Tidak ada ruginya Obama datang ke UI. Itu malah memberikan keuntungan bagi kita semua.”

Saya bersyukur dengan diskusi tersebut. Karena setelah disksui selesai, saya bertanya kembali kepada diri saya mengenai pendapat saya tentang prosedur pengamanan yang dimaksud. Kalau memang tidak menggunakan prosedur Negara kita, lalu seperti apa prosedur Negara kita dalam menyambut Tamu Negara? Saya yakin Anju menyampaikan pendapat bukan asal berpendapat. Oleh karena itu saya menelusuri standar pelayanan pengkoordinasian pengamanan kunjungan Tamu Negara setingkat Kepala Negara atau Kepala Pemerintahan Negara Asing. Penelusuran ini dilakukan demi tidak terjadi kesalahpahaman bagi kita semua.

Berdasarkan ketentuan yang tercantum dalam STANDAR PELAYANAN PENGKOORDINASIAN PENGAMANAN KUNJUNGAN TAMU NEGARA SETINGKAT KEPALA NEGARA/KEPALA PEMERINTAHAN NEGARA ASING, dengan dasar hukum Undang-Undang No 8 Tahun 1987 Tentang Protokol, Undang-Undang Nomor 37 Tahun 1999 tentang Hubungan Luar Negeri, Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2004 tentang Tentara Nasional Indonesia, Keputusan Presiden Nomor 25 Tahun 1972 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pengamanan Fisik Presiden Republik Indonesia, dan Peraturan Menteri Sekretaris Negara Nomor 1 Tahun 2005 tentang Organisasi dan Tata Kerja Sekretariat Negara Republik Indonesia, sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Sekretaris Negara Nomor 7 Tahun 2008, dijelaskan bahwa pengamanan terhadap Tamu Negara sangat diperlukan diperlukan untuk terlaksananya tugas pengamanan fisik dan non fisik secara tertib, teratur, berhasil guna dan berdaya guna, serta adanya kejelasan dalam pelaksanaan dan pertanggungjawabannya. Unit pelayanan yang menyelenggarakan pengkoordinasian pengamanan kunjungan Tamu Negara setingkat Kepala Negara/Kepala Pemerintahan Negara Asing adalah Biro Operasi dan Pengamanan. Sementara itu, pengguna pelayanan adalah Tamu Negara setingkat Kepala Negara/Kepala Pemerintahan Negara Asing.[1]

Pada bagian kedua, tentang kerangka prosedur, tercantum ketentuan bahwa rancana acara kunjungan Tamu Negara diterima oleh Sektretariat Militer dari Direktoran Jenderal Protokol dan Konsuler Departemen Luar Negeri/Kepala Protokol Negara (Ditjen Protkons/KPN), Biro Protokol Rumah Tangga Kepresidenan, serta Biro Protokol dan Persidangan Sekretariat Wakil Presiden. Diajukannya rencana acara ini dengan maksud mendapatkan disposisi dari Sekretaris Militer, kemudian disposisi tersebut diserahkan kepada Kepala Biro Operasi dan Pengamanan untuk ditindak lanjuti. Disposisi tersebut berisi garis besar rencana acara kunjungan Tamu Negara.[2]

Seperti yang telah dijelaskan di atas, ternyata bahwa terdapat koordinasi antara Negara kita dengan Negara yang berkunjung melalui Departemen Luar Negeri. Hal ini kemudian memberikan gambaran kepada kita bahwa memang dalam sistem prosedur pengamanan kunjungan Tamu Negara telah memiliki ketentuan demikian, yaitu pelaksanaan acara pengamanan harus sesuai dengan sistem pengamanan yang diminta oleh Negara dari Tamu Negara yang berkunjung ke Negara kita. Hal ini dapat dipertegas oleh pernyataan dari Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro, terkait rencana kunjungan Obama yang direncanakan Bulan Maret lalu, bahwa Pengamanan kunjungan Presiden Amerika Serikat Barack Obama oleh Tentara Nasional Indonesia sesuai dengan prosedur pengamanan kepala negara asing yang berkunjung ke Indonesia. Purnomo berkata, “Kita reguler saja pengamanan seperti biasa, dilakukan oleh TNI karena itu adalah kepala negara, dan mereka juga menyampaikan bahwa mereka juga akan melakukan pengamanan juga karena itu presiden mereka.”[3] Jadi kalau kita, seperti saya ketika berdiskusi dengan Anju, bertanya mengapa tidak mengikuti prosedur Negara kita, jawabannya adalah Negara telah melaksanakan prosedur yang ada dalam ketentutan di Negara kita dengan baik, yaitu ketentuannya adalah dalam sistem pengamanan kunjungan Tamu Negara, yang berlaku adalah prosedur pengamanan  Tamun Negara sementara pengamanan dari TNI menyesuaikan dengan prosedur tersebut.

Baiklah kalau misalnya masih ada sesuatu yang belum terjelaskan di sini. Saya akan mencoba menjelaskan dengan logika. Jikalau ada seorang tamu datang berkunjung ke rumah A, sebagai seorang tuan rumah yang baik, tentunya A akan menawari minuman kepada si tamu. A akan bertanya, “Mau minum apa?” (sesuai dengan keinginan tamu; sesuai dengan prosedur yang diinginakan tamu). Tamu kemudian menjawab, “Saya ingin minum kopi.” Maka si A akan membuatkan minuman kopi sesuai permintaan si tamu. Begitu juga dengan Negara kita. Ketika ada Tamu Negara Asing (setingkat Kepala Negara atau Kepala Pemerintahan), tentunya Negara kita akan bertanya, “Ingin pengamanan yang seperti apa?” Hal ini kemudian terkait dengan prosedur pengamanan yang diinginkan oleh Tamu Negara tersebut. Misalnya mereka menjawab, “Kami ingin pengamanan dengan sterilisasi dalam radius sekian kilometer, Kepala Negara datang dengan helikopter, dan harus disediakan sejumlah angkatan bersenjata di tempat X dengan pengamanan ketat!” Sebagai tuan rumah yang baik, Negara kita memenuhi permohonan tersebut. Oleh karena itu, mengenai peraturan penutupan akses jalan ke UI, menurut saya hal itu memang sudah prosedur dari Negara sesuai dengan prosedur Tamu Negara. Tidak ada yang salah dalam hal ini karena Negara kita menjalankan kewajibannya dengan baik. (Sehingga saya harus minta maaf kepada Anju karena telah bersikeras menentang pendapatnya dalam diskusi kemarin).

Contoh lainnya adalah ketika Ahmadinejad berkunjung ke Indonesia. Negara kita juga melakukan hal yang sama, yaitu melakukan prosedur pengamanan sesuai dengan permintaan Iran. Karena kesederhanaan dari pemimpin Iran tersebut, tidak tampak penjagaan dan pengamanan yang berlebihan baik dari pihak keamanan Indonesia maupun Iran. Hal ini disampaikan oleh Arif Fiyanto dalam blognya, di mana dia hadir dalam kuliah umum yang diberikan oleh Ahamdinejad di Universitas Indonesia waktu itu.[4]

Mengenai penutupan akses ke UI sehingga memberikan dampak kacau balau bagi sebagian warga, yang diantaranya ada yang mengeluh, “Gue jadi keteteran nih, ga bisa kemana-mana, terpaksa muter, jauh banget!” Bagi saya pribadi, itu bukanlah masalah. Masih banyak jalan ke Roma. Hanya akses ke UI yang ditutup sementara waktu, masih banyak jalan lain yang bisa digunakan. Masalah jauh dan termakannya waktu, itu kembali kepada kesiapan masing-masing individu terkait dengan etos kerja. Kalau boleh saya membalas, “Lebih jauh mana, terbang naik pesawat dari Amerika ke Indonesia, atau dari Kutek ke Margonda?” Lagipula kunjungan Presiden Barrack Obama memiliki maksud yang baik dan memberikan keuntungn kepada Negara kita. Namun, apabila memang ada sesuatu yang harus dikritik, adalah tentang publikasi yang kurang berjalan dengan baik. Banyak diantara warga di sekitar UI tidak mengetahui alasan mengapa akses ke UI ditutup. Biasanya di setiap gerbang yang ditutup ada spanduk pemberitahuan alasan, sedangkan pada Hari Senin kemarin saya tidak melihat spanduk pemberitahuan tersebut. Hal ini mungkin yang memicu kehebohan pada Senin pagi waktu itu. Setelah kehebohan tersebut, barulah banyak orang yang mengerti tentang penutupan gerbang-gerbang untuk masuk ke UI dengan alasan pengamanan Obama.

Terkait dengan isu demo yang memiliki alasan bahwa Obama pemimpin Negara Kafir, Negara Kapitalis, dan ingin menguasai Indonesia, saya malah menganggap ini adalah suatu hal yang tidak berdasar. Saya yakin kita semua, mahasiswa yang seharusnya memiliki pikiran yang cerdas, dapat memilah dan mengategorikan apa yang menjadi masalah dan apa yang bukan. Menganggap kedatangan Obama sebagai momok kehancuran bangsa berarti kita melihat peristiwa itu dengan kacamata kuda. Itu yang harus kita hindari.

Sekarang yang menjadi masalah adalah dua hari libur yang seharusnya bisa dimanfaatkan oleh mahasiswa untuk belajar di kelas atau berkegiatan. Ini merupakan hal yang kecil. Dalam artian bahwa kehilangan dua hari belajar, berarti kehilangan pertemuan kira-kira lima atau enam pertemuan dengan dosen. Menuntut tidak diliburkannya mahasiswa agar dapat melangsungkan kegiatan belajar mengajar bukanlah tindakan yang cerdas, menurut saya. Kalau boleh saya kembalikan kepada kita semua, bagaimana kalau misalnya dua hari yang digunakan untuk kuliah umum Obama dipindahkan? Dengan kata lain, jatah hari libur kita (mahasiswa dan dosen) diambil dua hari, di mana dua hari itu digunakan sebagai pengganti dua hari yang hilang tersebut. Apakah kita semua mau menerima usulan seperti ini? Apakah kita berani kehilangan dua hari libur? Jawaban tergantung masing-masing individu. Ini hanya perumpamaan dalam usaha memberikan jawaban terhadap tuntutan tersebut. Kalau tidak disetujui, maka berhentilah kita berkoar tanpa alasan yang cerdas.

Saya menjadi teringat analogi yang diutarakan oleh seorang Sarjana Elektro UI, yang mengatakan bahwa kedatangan Obama ke Indonesia yang jarang terjadi, merupakan suatu hal yang besar. Dianalogikan sebagai sebongkah batu yang besar. Perumpamaannya, kita harus mengisi sebuah cangkir dengan penuh tak ada ruang. Maka yang harus kita letakkan pertama sekali adalah bongkahan batu yang besar tersebut. Untuk mengisi ruang-ruang yang kosong, diisi dengan bongkahan batu-batu kecil atau pasir ( batu kecil adalah perumpamaan dari dua hari libur yang dianggap sebagai kerugian). Untuk lebih penuh lagi, selanjutnya diisi dengan air (kegiatan mahasiswa yang tidak jadi dilaksanakan) sehingga gelas tersebut menjadi penuh sepenuh-penuhnya. Namun kalau misalnya kita terlebih dahulu mengisi air hingga penuh, kemudian batu kecil, dan terakhir batu besar, apa yang terjadi? Air akan tumpah, dan bahkan batu-batu kecil juga bisa keluar dari gelas. Hasilnya, beberapa elemen yang kecil itu malah terbuang dengan sia-sia.

Begitu juga dengan kedatangan Obama (bongak batu besar), ada baiknya diutamakan terlebih dahulu. Dua hari libur dan kegiatan mahasiswa (bongkah batu kecil dan air) untuk sementara disisihkan, dan nantinya akan disesuaikan dengan kedatangan Obama (bongkah batu besar) agar tujuan dan maksud baik atau cita-cita akademik (gelas) dapat terisi penuh. Contoh konkretnya, seperti yang telah diutarakan pada paragraf sebelumnya, bisa saja mengambil hari lain, misalnya Sabtu dan Minggu, untuk mengganti dua hari yang terpakai (Apa kita mau? Kalau sebagai mahasiswa yang baik, tentu kita tidak akan menolak, kalau tujuan kita memang ingin belajar). Untuk kegiatan mahasiswa, hal ini menjadi tantangan bagi panitia untuk memutar otak, mencari strategi supaya acara tetap dapat berjalan dengan baik, apakah jadwal acara dimundurkan, dimajukan, terserah panitia dan tergantung strategi yang didapat. Karena kita semua mengerti bahwa yang menjadi poin utama dalam berkegiatan ekstra adalah paradigma proses, bukan paradigma hasil. Berpegang teguh kepada paradigma proses akan mendorong kita untuk bertahan menghadapi segala kemungkinan dari luar yang dapat mengganggu kegiatan. Sedangkan paradigma hasil, kita hanya terpatok pada hasil yang “wah”, dan jikat tidak “wah” karena ada semacam gangguan (misalnya bencana atau gangguan seperti kedatangan Obama), kita akan merasa bersalah dan merasa tidak berhasil karena hasil yang diharapkan tidak sesuai dengan keinginan.

Saya harap tulisan ini dapat memberikan pengertian kepada kita semua dalam memandang segala hal; tidak dipandang dengan kacamata kuda, tetapi harus dilihat dengan pandangan yang cerdas dan membangun, dengan landasan argumen yang jelas. Dalam usaha saya memberikan pendapat ini, merupakan suatu proses untuk mencoba mencari landasan yang kuat dengan harapan dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan yang simpang siur. Terbatas pada kemampuan kompetensi yang saya miliki, saya mohon maaf atas kesalahan dan kehilafan.

 

Salam.


[2] Ibid, Bagian Kedua.

[3] Berita Sore, Pengamanan Obama Ditangani Sesuai Prosedur Tamu Negara,  diakses dari http://beritasore.com/2010/02/10/pengamanan-obama-ditangani-sesuai-prosedur-tamu-negara/, 9 November 2010, pukul 12:12 PM

[4] Rapel, Indonesia dan Perubahan Iklim, diakses dari http://rapel2007.blogspot.com/2010/01/indonesia-dan-perubahan-iklim.html, 9 November 2010, pukul 12:30 PM

 

Author: Manshur Zikri

Penulis

2 thoughts on “Datangnya Obama: Pro dan Kontra Simpang Siur”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s