Makalah Teori Sosiologi: PERBEDAAN ANTARA SOSIOLOGI DURKHEIM DAN SOSIOLOGI WEBER

PERBEDAAN ANTARA SOSIOLOGI DURKHEIM

DAN SOSIOLOGI WEBER

Disusun sebagai tugas Ujian Tengah Semester

Teori Sosiologi

 

 

Oleh:

Manshur Zikri, 0906634870

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS INDONESIA

DEPOK, 2010

Bab I

PENDAHULUAN

 

  1. A. Latar Belakang

Sosiologi merupakan suatu ilmu yang telah melalui proses perkembangan pemikiran filosofi dan empirical-histories. Fenomena sosial yang terjadi di Eropa Barat antara abad ke-15  hingga abad ke-18 merupakan latar belakang yang sangat memperngaruhi perkembangan sosiologi. Sosiologi dianggap sebagai ilmu pengetahuan yang memiliki paradigma majemuk disebabkan oleh kompleksitas permasalahan yang ada di masyarakat sehingga menghasilkan berbagai macam sudut pandang dalam sosiologi itu sendiri.

Perkembangan sosilogi secara nyata terjadi ketika berkembangnya pandangan-pandangan filosofis tentang positivism, yang digagas oleh Auguste Comte (1798 – 1857), yaitu menjadikan sosiologi sebagai ilmu pengetahuan ilmiah yang sama halnya dengan ilmu pengetahuan alam. Comte berpendapat bahwa sosiologi harus menjadi ilmu yang positif, yang berdasarkan pada pola pikir secara ilmiah, di mana objek yang dikaji harus berupa fakta, bermanfaat, dan mengarah kepada kepastian dan kecermatan. Dalam perkembangan selanjutnya, sosiologi sebagai ilmu pengetahuan ilmiah disempurnakan oleh Emile Durkheim dengan menempatkan sosiologi di atas dunia empiris. Pernan Emile Durkheim sangat penting karena usahanya dalam merumuskan objek studi dalam kajian sosiologi beserta dengan metod-metode dan pendekatan-pendekatan yang digunakan dalam mengamati objek tersebut.

Sosiologi merupakan ilmu pengetahuan yang terus berkembang. Suatu pandangan dan pemahaman yang digagas oleh pakar sosiologi pada jaman tertentu, akan mendapat kritikan dan pembaharuan oleh pakar sosiologi pada jaman berikutnya, tergantung dari situasi sosial dan politk pada jamannya, dengan menjadikan pandangan yang dahulu sebagai titik tolak untuk mendapatkan gagasan baru. Oleh karena itu, pandangan-pandangan sosiologi yang berbeda-beda tersebut menyusun suatu paradigma yang berbeda pula, tergantung dari fokus perhatian, fenomena sosial yang menjadi perhatian, serta metode yang dikembangkan untuk menelaah masalah-masalah di dalam masyarakat yang beragam, baik dari segi jaman maupaun teritorial.

  1. B. Masalah

Karena perkembangannya, sosiologi menjadi ilmu pengetahuan dengan keragaman cara pandang dan paradigma. Hal ini disebabkan fokus perhatian dan metode yang digunakan oleh para pakar sosiologi juga berbeda-beda. Sosiologi Emile Durkheim, misalnya, meskipun berkutat dengan fenomena sosial tentang masalah struktural fungsional dalam masyarakat serta paradigma definisi sosial, memiliki perbedaan yang jelas dengan sosiologi yang dirumuskan oleh Max Weber yang juga berkutat tentang struktural masyarakat dan paradgima definisi sosial. Hal yang membedakan antara keduanya ini adalah objek perhatian serta metode yang mereka gunakan.

Melihat perbedaan antara sosiologi yang digagas oleh Emile Durkheim dan sosiologi yang digagas oleh Max Weber, adalah pokok masalah yang akan dibahas dalam makalah ini. Penjelasan akan dimulai dengan pemaparan masing-masing teori dari masing-masing pakar sosiologi tersebut, kemudian akan dianalisa perbedaannya dengan menggunakan contoh ilustrasi.

 

  1. C. Tujuan

Tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk memahami perbedaan konsep oleh sosiologi yang dirumuskan oleh Emile Durkheim dan Max Weber, baik dari segi fokus perhatian, fenomena sosial yang dikaji, serta metode yang digunakan. Dengan memahami perbedaan antara keduanya, diharapkan kita dapat menerapakan sosiologi serta paradigma-paradigmanya dengan tepat, baik, dan benar.

 

Bab II

PEMBAHASAN

  1. A. Sosiologi Emile Durkheim

Emile Durkheim percaya bahwa dalam mempelajari masyarakat, sosiologi tidak dapat lagi dianggap dalam keadaan murni. Oleh karena itu Durkheim membangun suatu pemahaman konsep dalam sosiologi tentang fakta sosial. Dalam fenomena sosial, fakta sosial menjadi objek studi yang paling utama dan harus dipelajari dan diteliti secara empiris.

Pandangan Durkheim tentang masyarakat adalah masyarakat sebagai wadah paling sempurna bagi kehidupan antara individu yang satu dengan yang lainnya, yang dijalani secara bersama-sama. Masyarakat memiliki sifat yang menentukan dalam perkembangannya. Hal-hal yang berkaitan dengan erat dengan individu sejatinya berasal dari luar diri individu tersebut, seperti kepercayaan dan agama. Dalam pemahaman Durkheim, individu-individu di dalam masyarakat sangat dipengaruhi oleh masyarakat yang menjadi wadah bagi kehidupannya. Oleh karena itu, dalam kajian studi Durkheim tentang masyarakat, individu bukan menjadi prioritas utama. Karena dalam mempelajari tindakan-tindakan manusia, seseorang harus melihatnya dari perspektif masyarakat itu. Masyarakat tidak tergantung dari individu-individu di dalamnya, tetapi terdiri dari sistem adat istiadat dan kepercayaan yang membentuk suatu lingkungan yang terorganisir, yang kemudian malah mempengaruhi kehidupan individu-individu tersebut.

Fakta sosial, dalam khazanah sosiologi, menurut Durkheim adalah sesuatu yang berada di lingkungan eksternal individu, yang bersifat makro dan memberikan penakanan pada tatanan masyarakat secara luas (memaksa individu). Oleh karena itu, Durkheim kemudian membedakan fakta sosial tersebut ke dalam dua tipe. Yang pertama adalah fakta sosial material, seperti birokrasi dan hukum. Sedangkan tipe yang keduda adalah fakta sosial nonmaterial, seperti kultur dan pranata sosial. Fakta-fakta sosial ini mengikat individu dalam suatu integrasi yang menyebabkan satu individu terikat dengan individu lain dalam masyarakat, yang juga akan mempengaruhi tindakan-tindakan individu terhadap masyarakatnya.

Dalam memahami masyarakat, Durkheim membagi masyarakat menjadi dua, yaitu masyarakat pra modern dan masyarakat modern. Dalam hal ini, Durkheim tidak tegas mendefinisikan masyarakat pra modern, yang terkadang dia menyebutnya sebagai masyarakat primitif.

Berdasarkan integrasi yang terjalin di dalam masing-masing masyarakat tersebut, Durkheim membuat perbedaan tipa masyarakat sosial, yaitu tipe solidaritas mekanis dan tipe solidaritas organis. Dalam masyarakat pra modern, kolektivitas menodminasi individu karena memiliki kesepakatan terhadap suatu kepercayaan dan nilai-nilai. Masing-masing individu di dalamnya memiliki kesadaran kolektif tersebut yang merefleksikan penggunaan dan pencapaian secara bersama-sama tentang ide (paham), nilai, dan tujuan (to reflect the shared ideas, values and goals). Masyarakat primitive (pra modern) adalah contoh masyarakat yang hidup dengan tipe solidartas mekanis, dimana kehidupan masyarakatnya didasarkan atas kesamaan dan consensus, dan tidak memiliki rasa ketergantungan antara individu yang satu dengan yang lainnya. Individu-individu memilki kemampuan, pengetahuan, dan pengalaman hidupyang sama. Masyrakat yang  hidup bersama karena tunduk dengan norma dan aturan yang disepakati secara bersama. Perilaku menyimpang dianggap sebagai perilaku yang mengancam hidup kelompok secara keseluruhan dan merusak identitas anggota kelompok.

Masyarakat modern memiliki integrasi yang dipengaruhi oleh fungsi. Dalam artian terdapatnya perbedaan kemampuan antara individu satu dengan yang lainnya sehingga memiliki ketergantungan satu sama lainnya. Tipe solidaritas masyarakat modern adalah solidaritas organis. Dalam masyarakat ini, pembagian kerja menjadi lebih kompleks. Contoh masyarakat dengan tipe solidaritas organis adalah masyarakat yang hidup di lingkungan industri. Proses perubahan sosial terjadi melalui spesialisasi fungsional dan diferensiasi structural akibat pembagian kerja. Dalam masyarakatnya, berkembang suatu hukum kontrak yang mengatur pertukaran barang dan jasa. Pelanggaran yang terjadi adalah suatu perilaku yang dapat merugikan orang lian sehingga hukum yang berlaku di dalam masyarakatnya adalah hukum yang bersifat memulihkan dan memudahkan interaksi.

Dalam membangun konsep fakta sosial, Durkheim menerapkannya dalam mempelajari gejala bunuh diri, yang bersifat terpisah dari arena psikologis dan filsafat. Penelitian Durkheim tentang gejala bunuh diri ini kemudian dituangkan dalam buku berjudul Suicide, yang didasarkan atas penelitian empiris terhadap suatu fenomena sosial.

 

Apakah bunuh diri itu ursan pribadi atau didorong oleh struktur masyarakat? Kalau bunuh diri adalah murni putus asa individu, maka tidak akan banyak tuntutan untuk penurunan pajak.” (Durkheim, dalam Suicide, 1897)

 

Durkheim berpendapat bahwa gejala bunuh diri terjadi karena adanya fakta sosial sehingga menyebabkan perbedaan rata-rata bunuh diri. Menurut penelitian Durkheim, rata-rata orang melakukan bunuh diri disebabkan oleh status diri yang hiudup sendiri (single atau divorced people), seperti janda. Selain itu, angka bunuh diri juga dipengaruhi oleh kepemilikan anak, di mana menurut penelitiannya, orang yang tidak punya anak cenderung untuk melakukan bunuh diri dari pada orang yang tidak memiliki orang tua. Dalam hal kepercayaan, penelitian Durkheim memaparkan bahwa orang beraga Protestan lebih banyak melakukan bunuh diri daripada orang yang beragama Katolik, karena adanya tuntutan dalam agama yang mengharuskan orang Protestan untuk meraup kekayaan sebanyak-banyaknya (manusia sejahtera adalah orang yang mendapat kasih Tuhan di dunia, yang diukur dengan jumlah kekayaan).

Yang menjadi pertanyaan adalah, apa yang membuat perbedaan angka bunuh diri ini? Durkheim memaarkan bahwa terdapat dua fungsi besar dalam masyarakat, yaitu integrasi (yang dimaknai sebagai prses penyesuaian di antara unsure-unsur yang saling berbeda dalam kehidupan masyarakat sehingga menghasilkan pola yang memiliki keserasian fungsi) dan regulasi (yang dimaknai sebagai suatu elemen yang memiliki esensi sebagai menciptakan keteraturan, kepastian hukum dan komitmen).

Berdasarkan dua fungsi tersebut, Durkheim menjadikannya sebagai variable dalam menganalisa empat tipe bunuh diri. Empat tipe bunuh diri tersebut antara lain adalah bunuh diri yang bersifat egoistic, altruistic, anomic, dan fatalistic. Keempat tipe bunuh diri ini, dapat dijelaskan dalam bentuk bagan sebagai berikut:

  1. Altruistic, disebabkan oleh integrasi di dalam masyarakat yang terlalu tinggi. Seorang individu memiliki keterikatan yang begitu kuat dengan kelompoknya sehingga mau merelakan diri demi kepentingan kelompok. Contohnya adalah hara-kiri yang dilakukan oleh samurai Jepang atau para pelaku bom bunuh diri.
  2. Egoistic, disebabkan oleh integrasi yang begitu lemah, di mana seorang individu tidak menjalani interkasi dengan baik dan luas. Dalam kehidupannya individu tersebut tidak memiliki tujuan dan cita-cita yang sama dengan kehidupan kelompoknya sehingga ia akan merasa tersudut yang disebabkan oleh egoisme yang berlebihan dan akan mengakibatkan terjadinya bunuh diri. Contohnya adalah seorang lanjut usia yang melakukan bunuh diri karena sudah kehilangan sentuhan kontak dengan teman atau keluarga.
  3. Anomic, disebabkan oleh regulasi yang teralalu rendah di dalam masyarakatnya. Bunuh diri terjadi ketika tatanan, hukum-hukum, serta berbagai aturan moralitas sosial mengalami kekosongan. Contohnya adalah ketika pasca revolusi industri yang kemudian menggerogoti aturan dan moral. Contoh lain adalah ketika seseorang terlepas dari pekerjaannya, ia tidak bersinggunan lagi dengan regulasi yang mengatur dirinya sebelumnya, dan berada dalam posisi rawan yang dapat menyeretnya ke dalam perilaku yang rentan untuk melakukan bunuh diri.
  4. Fatalistic, disebabkan oleh aturan-ataruan yang begitu ketat. Contoh dari bunuh diri ini adalah seorang bawahan yang melakukan bunuh diri karena frustasi akibat tekanan dari atasannya.

Dalam melakukan penelitiannya, metode yang digunakan oleh Durkheim adalah peneltian empiris. Metodologi Durkheim berangkat dari pemahaman bahwa sosiologi lahir dan filsafat, namun harus dapat dipastikan dan dijelaskan secara ilmiah (dijadikan sains). Fenomena sosial harus dipelajari secara empiris dengan metode empiris.

  1. A. Sosiologi Max Weber

Dalam memahami masyarakat, Weber melihat adanya pembagian kekuasaan dalam masyarakat tersebut menurut tingkat efisiensinya. Di sini berarti bahwa individu dapat melakukan sesuatu yang diinginkannya meskipun hal itu ditentang oleh individu lain. Oleh karena itu, tidak menutup kemungkinan bahwa, seseorang mau melakukan sesuatu karena perintah dari orang lain. Dalam pandangan Weber, konsep dominasi mengacu pada konsepsi pemaksaan kekuasaan.

Weber membagi kekuasaan menjadi tiga jenis kekuasaan, yaitu Otoritas Tradisional, Otoritas Kharismatik dan Otoritas Rasional-Legal.

Otoritas Tradisional adalah suatu konsep kekuasaan yang berlandaskan pada suatu kepercayaan akan aturan dan norma yang sudah ada sejak dahulu. Dalam Otoritas Tradisional, muncul suatu cirri khas di mana dalam pelaksanaannya muncul suatu kekuasaan yang bertindak secara sewenang-wenang dengan alasan bahwa aturan yang seperti itu memang sudah ditetapkan (patrimonalisme) Sementara itu, Otoritas Kharismatik adalah suatu konsep kekuasaan yang berlandaskan kepada kepribadian seorang pemimpin. Seorang individu yang dianggap sangat luar biasa diperlakukan sebagai orang yang berhak memiliki kekuasaan beserta dengan kelebihan dan kekuatan-kekutan khas yang dimilikinya. Sedangkan Otoritas Rasional-Legal adalah suatu konsep kekuasaan yang berdasarkan kepada kebijakan dan norma, di mana seseorang dapat memerintah atau melakukan tugasnya berdasarkan norma-norma dan aturan-aturan yang berlaku yang tidak terpengaruh oleh kepentingan pribadi, golongan, maupun tradisi. Kekuasaan Rasional-Legal lebih mengedapankan rasionalitas nilai (birokrasi).

Weber berpendapat bahwa dalam masyarakat modern, hanya Otoritas Rasional-Legal yang dapat diterapkan. Otoritas ini kemudian berkembang pula dalam masyarakat kapitalisme modern. Pada system kapitalisme modern, kelansungan hidup Negara tergantung kepada organisasi birokrasi yang memiliki rasionalitas nilai. Berbeda dengan Marx yang menyatakan bahwa masyarakat kapitalisme modern mengejar keuntungan dengan menggerogoti moral (menindas buruh), Weber lebih menekankan masyarakat kapitalisme modern memiliki kewajiban bekerja dengan disiplin yang tegas.

Buku yang sangat terkenal yang ditulis oleh Weber adalah The Protestant Ethic and the Siprit of Capitalism (1904). Dalam buku ini, Weber mengutarakan penjelasannya tentang Etika Protestan yang berkembang seiring dengan kemunculan Kapitalisme di Eropa Barat, di mana saat itu berkembang suatu sekte bernama Sekte Kalvinisme dalam agama Protestan. Weber memiliki argument bahwa ajaran Kalvinisme ini mengharuskan umatnya untuk menjadikan dunia sebagai tempat yang makmur, dan harus mendapatkanya dengan kerja keras. Dengan mencapai kemakmuran di dunia itu, mereka akan mendapatkan berkah yang akan menuntun mereka masuk surga. Namun kekayaan tidak boleh digunakan untuk berfoya-foya (konsumsi yang berlebihan), karena ajaran Kalvinisme mewajibkan umatnya untuk hidup sederhana. Oleh karena itu, kekayaan yang didapatkan tersebut diinvestasikan kembali dalam usaha mereka. Dengan cara seperti ini, kapitalisme di Eropa Barat berkembang.

Weber, sejatinya, memiliki fokus perhatian pada individu, pola dan regulasi tindakan, dan bukan pada kolektivitas di dalam masyarakat. Weber mengakui untuk beberapa tujuan, kita mungkin harus memperlakukan kolektivitas sebagai individu. Namun untuk menafsirkan tindakan subjektif dalam karya sosiologi, kolektivitas-kolektivitas ini harus diperlakukan semata-mata sebagai resultan dan mode organisasi dari tindakan individu tertentu, karena semua itu dapat diberlakukan sebagai agen dalam tindakan yang dapat dipahami secara subjektif (Ritzer & Goodman 2004:137).

Max Weber, dalam rumusan konsep sosiologinya, menyatakan bahwa sosiologi merupakan ilmu yang berupaya memahami (pengamatan atau verstehen) tindakan sosial. Sesuai dengan definisinya: Sosiology… is a science with attempts the interpretative understanding of social action in order thereby to arrive at a causal esplanation of its course and effects (Wber, 1964: 88)

Sosiologi merupakan disiplin ilmu yang mengupayakan pemahaman interpretatif dari aksi sosial dalam rangka untuk mencapai sebuah penjelasan dari aksi tersebut dan efek-efek yang ditimbulkannya.

Weber memiliki pandangan yang berbeda dengan Durkheim. Menurutnya tidak semua tindakan manusia dapat dianggap sebagai tindakan sosial. Suatu tindakan hanya dapat dikatakan sebagai tindakan sosial apabila tindakan tersebut dilakukan dengan mempertimbangkan perilaku orang lain, dan juga berorientasi pada perilaku orang lain. Dalam pemahamannya terhadap individu di dalam masyarakat, bagi Weber, yang harus dikaji dan menjadi pokok persoalan sosiologi adalah proses pendefinsian sosial yang merupakan akibat-akibat dari suatu aksi karena interaksi sosial. Sosiologi Weber lebih menekankan konsep tentang makna suatu tindakan sosial (social action), atau dengan kata lain Weber menganggap bahwa suatu tindakan sosial itu adalah sesuatu hal yang sangat penting (dalam tesisnya, yang menjadi intisari adalah “tindakan yang penuh arti”). Menurut Weber, seorang individu secara aktif menciptakan kehidupan sosialnya sendiri, sedangkan struktur dan pranata sosial hanya merupakan wadah tempat proses pendefinisian sosial dan proses interaksi berlangsung. Fokus perhatian Weber menjadi lebih bersifat khusus, bebas, dan internal (personal).

Ada empat tipologi tindakan sosial yang dikonsep oleh Max Weber.

  1. Rasionalitas Instrumental, yaitu suatu tindakan sosial yang mempertimbangkan tujuan dan alat-alat apa yang digunakan. Apakan suatu alat tertentu memiliki efisiensi yang tinggi dan efektif untuk mencapat tujuan?
  2. Rasionalitas tujuan, yaitu suatu tindakan sosial yang didasarkan pada nilai dan tujuan yang sudah ditentukan. Alat hanya sebagai pertimbangan dan perhitungan yang sadar. Dalam tindakan ini, aktor dari tindakan sosial tersebut tidak terlalu memperhitungkan apakah cara-cara yang dipilihnya merupakan cara yang paling tepat atau tidak. Yang menjadi utama adalah tujuan.
  3. Tindakan Tradisional, yaitu tindakan sosial yang berdasarkan kepada kebiasaan tanpa perencanaan dan tanpa refleksi yang sadar.
  4. Tindakan Afektif, yaitu tindakan sosial yang didominasi oleh perasaan atau emosi, tanpa refleksi intelektual atau perencanaan yang sadar.

 

 

C. Perbedaan Antara Sosiologi Durkheim dan Sosiologi Weber dan Contoh Ilustrasinya

 

Dalam memahami persoalan sosiologi dan mempelajari masyarakat dan substansi di dalamnya (individu, struktur, pranata), Durkheim dan Weber menggunakan paradigma yang berbeda. Berdasarkan gambaran singkat tentang sosiologi Durkheim dan Weber di atas maka paradigma yang digunakan oleh Durkheim dalam menyusun pengertian-pengertian untuk menelusuri atau mencari kebenaran dari suatu realita sosial adalah Paradigma Fakta Sosial (Social Facts Paradigm). Sedangkan paradigma yang digunakan oleh Weber adalah  Paradigma Definisi Sosial (Social Definition Paradigm)

Fokus perhatian sosiologi Durkheim adalah dominasi masyarakat yang dapat mempengaruhi tindakan individu-individu di dalamnya. Paradigma yang digunakan Durkheim menyatakan bahwa tindakan individu sebagai tindakan yang ditentukan oleh norma-norma, nilai-nilai, serta struktur sosial. Objek yang menjadi studi dalam sosiologi Durkheim adalah tentang lingkungan eksternal yang berada di luar diri individu, di mana lingkungan itu bersifat memaksa dan umum, dan merupakan suatu fakta, nyata dan dapat dirasakan (riil). Dalam melakukan penelitiannya tersebut, Durkheim melaksanan metode dengan penelitian empiris, di mana fakta-fakta sosial tersebut harus dapat dijelaskan dan dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

Sementara itu, dalam sosiologi Weber, paradigma yang diguanakan adalah tentang definisi sosial yang merupakan suatu akibat dari aksi-aksi sosial karena proses interaksi. Fokus perhatian dalam sosiologi Weber adalah individu di dalam masyarakat, di mana seorang individu dapat melakukan suatu kehendak meskipun ditentang oleh orang lain. Objek yang menjadi kajian Weber adalah tentang tindakan sosial serta proses interaksi yang terjadi antara individu yang satu dengan yang lainnya (interaksionisme simbolik). Sementara itu, metode yang digunakan oleh Weber adalah pengamatan mendalam (verstehen). Dalam pemahamannya, Weber tidak menekankan metodologis, tetapi lebih kepada cara-cara memecahkan masalah-masalah yang substantive. Dengan memecahkan masalah yang substantive, ilmu pengetahuan akan dapat dibangun dan metodenya dapat berkembang.

Perbedaan paradigma yang digunakan Durkheim dan Weber dapat diilustrasikan dalam contoh. Misalnya seseorang yang melakukan bunuh diri. Dalam pemahaman sosiologi Durkheim, seseorang tersebut melakukan bunuh diri pasti dipengaruhi oleh lingkungan eksternalnya, baik itu oleh pengaruh integrasi maupun regulasi di dalam struktur masyarakat. Penekanannya di sini adalah struktur dan pranata sosial mempengaruhi seseorang melakukan sesuatu. Misalnya saja seseorang itu bunuh diri karena rasa malu karena telah melakukan kegagalan. Dalam hal ini, yang mempengaruhi adalah tingginya integrasi di dalam masyarakatnya. Contohnya samurai Jepang yang melakukan hara-kiri.

Sementara itu, dalam pemahaman sosiologi Weber, yang menjadi pertanyaan adalah apakah tindakan bunuh diri yang dilakukan seseorang tersebut adalah tindakan sosial atau tidak? Di sini, fokus perhatian lebih kepada individunya (internal). Seseorang tersebut pasti melakukan suatu tindakan sosial apabila mempertimbangkan dan berorientasi kepada perilaku orang lain. Suatu tindakan muncul sebagai bentuk reaksi atas aksi dalam suatu interaksi. Misalnya saja seseorang yang bunuh diri tersebut disebabkan oleh rasa malu karena suaminya selingkuh. Tindakan bunuh diri itu bertujuan untuk menghukum suaminya. Interaksi antarasi isteri dan suami itu mempengaruhi terjadinya sutau tindakan bunuh diri.

Bab III

PENUTUP DAN KESIMPULAN

Berdasarkan pembahasan dalam bab sebelumnya, dapat ditarik kesimpulan mengenai perbedaan antara sosiologi Durkheim dan sosiologi Weber, terutama pada fokus perhatian, fenomena sosial yang menjadi perhatian, serta metode yang dikembangkan.

Perbedaan mendasar antara sosiologi Durkheim dan Weber adalah terletak pada paradigma yang digunakan. Durkheim memiliki Paradigma Fakta Sosial dengan fokus perhatian kepada masyarakat, yang berangkat dari fenomena sosial tentang perbedaan antara masyarakat pra-modern dan masyarakat modern, pembagian kerja dan fungsi yang kompleks dalam masyarakat modern, serta bunuh diri yang terjadi pada masa itu. Durkheim menggunakan metode empiris yang bersifat ilmiah dalam melakukan penelitiannya.

Weber memiliki paradigma tentang Definisi Sosial dengan fokus perhatian kepada individu, yang berangkat dari fenomena tindakan-tindakan sosial yang dilakukan oleh individu. Weber lebih menekankan perhatian kepada perilaku individu daripada perilaku kolektif yang ada di masyarakat. Suatu tindakan itu muncul karena adanya interaksi. Namun, di tahun 1904, sebelum dia menaruh perhatian pada individu, Weber juga membangun suatu konsepsi mengenai kekuasaan (individu memaksa individu lain untuk melakukan sesuatu) dan birokrasi, juga tentang perkembangan Kalvinisme dan kapitalisme di Eropa Barat. Dalam melakukan penelitiannya ini, metode yang diunakan oleh Weber adalah pendekatan sejarah yang dilakukan melalui pengamatan yang mendalam, di mana ia mengkombnasikan hal khusus dan umum, baik dari sejarah maupun sosiologi, demi upaya untuk mengembangkan ilmu dan menjelaskan persoalan-persoalan sosial yang begitu kompleks.

 

DAFTAR PUSTAKA

Sunarto, Kamanto. Pengantar Sosiologi. Jakarta: LPFE-UI, 2004

Goodman, D.J., Ritzer, G. Sociological Theory. Yogyakarta: Kreasi Wacana, 2004.

 

 

 

 

 


About these ads

2 thoughts on “Makalah Teori Sosiologi: PERBEDAAN ANTARA SOSIOLOGI DURKHEIM DAN SOSIOLOGI WEBER

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s