dua ribu lima ratus

karya Manshur Zikri, 18 Oktober 2010
sorak sorai anak-anak meneriakkan kata tekdung lebih jago
bernyanyi menghargai mereka yang kalah,
berita anak dipukul terdengar
usai gambar satu lantai siap untuk dimaket

teriak ke langit juga percuma
karena rantai di sini masih mengekang
sementara di sana ada anjing penjaga

mata mengantuk karena terlalu banyak air di wahana pemuda
menelan asap pun sudah tak berasa
eh, ingin bergerak malah dilempar oli
ingin terpaku ke aksara, ego ranjang membahana
menggeliat, atau terpaku ke dunia yang berbeda
kita semua mengalaminya

gelora untuk berada itu ada
gelora untuk berunjuk itu tertunjuk
gelora untuk ‘ceria’ itu ceria 
gelora untuk berdebat itu sangat cepat
tamat!

Hoi, kami di sini bukan ingin mencari perhatian,
ya boleh lah berjujur ria, kami ingin dikenal
karena kami tertaik kepada Anda
yang memang sudah tercipta untuk ditarik-tariki
karena kami tak berhak melampiaskan amarah kepada Anda
atau mereka
tak sanggup pula kami memarahi langit
karena rantai ini, dan anjing itu

Apakah cerita picisan memuakkan bisa jadi kenyataan
apakah cerita roman membosankan bisa jadi harapan
apakah cerita heroik terbaik bisa menjadi daya tarik
apakah cerita kritis dan miris bisa menjadi lahan idealistis
kami sedang bernyata

Ayo lah, jujur saja kalian tidak mengerti dengan sajak ini!
Karena hanya kami yang mengerti.

Andaikan kami adalah Tuhan,
tentu hidup ini begitu menyenangkan!

Sampaikan,
sampaikan kawan, teriakan yang tak mampu kami teriaki ini,
karena kalian adalah pilar-pilar
karena kalian adalah jaring-jaring
karena kalian adalah cerobong-cerobong
yang bisa menghantarkan suara-suara kami ke tujuan
tujuan kami

Ayo lah, kalian pasti tahu apa maksud kami!

haruskan aku menegaskan berani dengan BERANI?

Ah, percuma saja aku sodorkan ini kepada mereka, baru tiga menit saja, aku sudah merasa malu karena telah menjadi korban penindasan dari kekerasan yang tak terlihat, yang tak dirasa langsung, tapi mulai aku sadari. Oh, Dostoyevski, benar katamu, tak perlu kita terlalu sadar dalam hidup ini, cukup yang wajar-wajar saja! Aku hampir merasa dan percaya aku berada dalam tahap wajar…

Author: Manshur Zikri

Penulis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s