Tugas Dari Dosen: berandai-andai jadi presiden

Tugas yang menarik, sebenarnya. Namun karena saya mendapat kabar bahwa ada tugas seperti ini sekitar beberapa jam sebelum kelas dimulai, sementara masih banyak yang harus saya kejar (seperti bertemu dosen, men-copy surat izin, dsb) karena pasca sakit tifus, akhirnya saya mengerjakan tugas ini dengan asal-asalan (asal jadi) sekadar untuk memenuhi kewajiban di hari tersebut, yaitu mengumpul tugas.

 

Nama        : Manshur Zikri

NPM         : 0906634870

___________________________________________________________________________

Departemen Kriminologi

Tugas Mata Kuliah Kebijakan Kriminal

 Kebijakan Pendidikan Nasional

 

Tugas mata kuliah Kebijakan Kriminal kali ini, tentang kebijakan Pemerintah dan maslah-masalahnya serta solusi yang dapat diberikan, saya membahas isu tentang langkah Pemerintah mengenai Kebijakan Pendidikan Nasional.

Pendidikan sebagai proses pembentukan karakter manusia yang baik merupakan suatu hal yang sangat penting dan perlu mendapat perhatian dari segala pihak. Tujuan dari pendidikan akan tercapai apabila terjadi sinergitas antarkomponen dan adanya interaksi yang saling memahami dari masing-masing komponen tersebut tentang visi dan misi yang telah disepakati bersama. Tujuan utama dari pendidikan adalah terciptanya sumber daya manusia yang berkualitas. Dalam hal ini, peran dari pendidikan yang strategis sangat diperlukan dan perlu adanya pembaharuan tentang paradigma pendidikan.

            Permasalahan pokok tentang pendidikan di Indonesia masih menjadi bahan perdebatan oleh antarkomponen itu sendiri, termasuk di dalamnya Pemerintah sebagai penyusun kebijakan. Masalah-masalah pokok ini, dinilai oleh berbagai pihak belum memenuhi standar kualitas yang baik, sebagai indikatornya adalah Human Development Indeks ‘Indeks Kualitas Manusia’ yang masih berada di bawah negara-negara Asia Tenggara lainnya, seperti Singapura dan Thailand.[1]

            Kebijakan dari Pemerintah sendiri belum memberikan hasil yang memuaskan. Langkah yang diambil oleh Pemerintah dalam menetapkan kebijakan belum terealisasi dengan baik yang disebabkan oleh banyak hal, mulai dari permasalahan anggaran dana hingga kesiapan mental anak negeri dalam menghadapi pembaharuan paradigma pendidikan. Selain itu, beberapa kebijakan yang ditetapkan oleh Pemerintah belum sesuai dengan tujuan dari pendidikan itu sendiri. Hal ini dapat dilihat pada contoh kasus tentang Ujian Nasional yang masih menjadi wahana yang digunakan Pemerintah untuk menilai keberhasilan pendidikan di Indonesia secara keseluruhan. Hal ini sangat kontras dengan tujuan dan esensi dari pendidikan itu sendiri.

            Pendidikan memiliki tujuan untuk menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas, membentuk karakter dan pribadi dari generasi penerus bangsa, agar dapat bersaing secara global di era globalisasi ini. Yang diharapkan dari keberhasilan pendidikan adalah adanya kontribusi nyata yang dapat diberikan oleh kaum terdidik terhadap masyarakat dan bangsa. Hakikat dari pendidikan adalah memberikan bekal keterampilan, kemandirian, kreativitas atau daya inovatif kepada orang yang dididik. Dan hal itu tidak dapat begitu saja dinilai berhasil atau tidak hanya dengan Ujian Nasional yang dilakukan secara masal di seluruh negeri dalam waktu tiga hari. Ujian Nasional belum bisa dijadikan patokan untuk menilai kesuksesan Pemerintah dan Negara dalam memenuhi amanat Pancasila dan UUD 1945, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa.

            Masalah-masalah yang melingkungi pendidikan di Indonesia harus dikaji dan menjadi bahan evaluasi bagi Pemerintah untuk menetapkan suatu kebijakan di bidang pendidikan. Karena masalah ini menjadi faktor utama yang mengakibatkan rendahnya kualitas pendidikan di Indonesia. Di bawah ini akan dipaparkan beberpa masalah yang harus menjadi perhatian, dan juga diberikan opini tentang solusi dari masalah tersebut, yaitu sebagai berikut:

  1. Kurangnya pemerataan pendidikan. Dalam memenuhi amanat Pancasila dan UUD 1945, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa, seharunsya Pemerintah melakukan pemerataan pendidikan secara menyeluruh di seluruh wilayah Nusantara tanpa terkecuali.
  2. Kurangnya kualitas dan relevansi pendidikan. Dalam hal ini, yang menjadi perhatian adalah kualitas sumber daya manusia yang mendidik, yaitu guru. Masih banyak guru-guru yang tidak menjalankan profesinya secara profesional. Berdasarkan UU No 14 Tahun 2005, guru dituntut untuk profesional. Pemerintah harus melakukan pembenahan dan pembinaan terhadap tenaga-tenaga pendidik agar dapat melaksankan tugas dengan baik dan benar. Permasalahan lainnya adalah kurangnya proses belajar mengajar yang bermutu. Hal ini juga disebabkan oleh fasilitas pembelajaran yang kurang memadai. Oleh karena itu dibutuhkan anggaran yang secara khusus dapat memfasilitasi pendidikan nasional. Seharusnya Pemerintah dan komponen-komponen lainnya yang terlibat dalam penentuan kebijakan pendidikan lebih mempiroritaskan anggaran untuk pendidikan terlebih dahulu.
  3. Kurangnya efisiensi dan efektivitas pendidikan. Bisa kita lihat pada contoh yang telah dipaparkan di atas, mengenai Ujian Nasional dan Ujian Akhis Sekolah. Kebijakan tentang Ujian Nasional ini saya rasa tidak memenuhi syarat tepat guna dan memberikan hasil yang baik. Pelaksanaan Ujian Nasional memakan banyak biaya yang apabila ditinjau lagi secara seksama, terasa begitu sia-sia. Selain itu, pada prakteknya, muncul permasalahan-permasalah baru yang menyebabkan harus diadakan ujian ulang di beberapa daerah sehingga memberikan kerancuan kepada masyarakat. Kepercayaan masyarakat terhadap panitia pelaksanaan dan Pemerintah pun menjadi berkurang. Selain itu dengan adanya Ujian Akhir Sekolah, menimbulkan pertanyaa: Apa guna Ujian Nasional?

Solusi yang terbaik mungkin dapat dilakukan dengan memberikan otonomi kepada daerah atau sekolah-sekolah dalam melaksanakan ujian akhir. Penentuan lulus tidak lulus, berhasil atau tidak berhasil, bukan dilihat dari hasil ujian akhir saja, tetapi juga berdasarkan penilaian guru terhadap prestasi belajar siswa selama menempuh pendidikan di sekolah. Sekolah atau guru dapat menentukan apakah seorang yang mereka didik sudah pantas atau belum untuk lulus, dan apakah seorang tersebut telah mampu untuk terjun ke masyarakat dan memberikan kontribusi yang nyata bagi bangsa dan negara berdasarkan indeks yang mereka miliki.


[1] Lihat Human Developmetn Reports, diakses dari http://hdr.undp.org/en/, pada tanggal 27 September, 2010, pukul 12:30 WIB.

Author: Manshur Zikri

Penulis

6 thoughts on “Tugas Dari Dosen: berandai-andai jadi presiden”

  1. wohooo! abis sakit tifus yah bru… sama aku juga beberapa waktu lalu kena juga… yah tapi setidaknya tugas bisa diselesaikan tepat pada waktunya yak😀

    *salamkenalan…

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s