Contoh Kasus Delinkuen, dan Analisanya dalam Teori Pengendalian Sosial: Containment Theory

Tugas Mata Kuliah Teori Kriminologi Modern

Departemen Kriminologi, FISIP UI

Oleh Manshur Zikri, 0906634870

Contoh Kasus Delinkuen Dan Penjelasannya dalam Teori Pengendalian Sosial

 

Kasus Video Mesum Oleh Pelajar di Bilitar

 

Warga masyarakat Kabupaten Bilitar heboh dengan beredarnya video mesum, menggunakan kamera telepon genggam berdurasi empat menit, yang diduga diperankan oleh pelajar SMK di Wilayah Kecamatan Panggungrejo. Menurut kabar yang dimuat dalam detikSurabaya, Rabu, 30 Juni, 2010, aksi tidak senonoh ini dilakukan pelajar SMK yang berinisial KD (16 tahun), warga Desa Sumbersih, Kecamatan Panggungrejo. Sedangkan lawan mainya bernama YS (16 tahun), diduga merupakan salah satu tetangga desa KD yang beralamat di Desa Margomulyo, Kecamatan Panggungrejo. Video mesum ini beredar dengan sangat cepat di tengah masyarakat Kabupaten Bilitar. Sementara itu, kasus beredarnya video mesum ini direaksi cepat oleh jajaran Kepolisian Resort Blitar untuk dilakukan penyidikan. “Saat ini kita masih melakukan lidik (penyelidikan) terkait kebenaran informasi tersebut,” ujar Kasat Reskrim Polres Blitar, AKP Edy Herwiyanto, kepada wartawan, Rabu (30/06/2010).[1]

Contoh kasus di atas dapat dianalisa dengan teori yang digagas oleh Walter C. Reckless (1961), Containment Theory, baik dari segi inner (internal containment) maupun outer (external containment). 

            Dari segi inner dapat dilihat bahwa kurangnya kontrol diri dan internalisasi norma-norma sosial dari individu pelaku. Remaja yang melakukan adegan mesum tersebut dapat berpikir demikian karena kurangnya kekuatan untuk menahan godaan untuk melakukan tindakan yang melanggar norma masyarakat. Hal ini juga dapat disebabkan oleh kurangnya pemahaman dari remaja tersebut akan akibat dari tindakan yang mereka lakukan. Pertahanan diri dari diri pelaku video mesum jelas terletak pada titik yang rendah.

            Dari segi outer, norma dalam masyarakat menjadi faktor penting untuk melihat permasalahan seperti kasus di atas. Maraknya kasus beredarnya video mesum yang dilakukan oleh remaja dapat memberikan kita asumsi bahwa nilai-nilai moral dan norma-norma asusila di tengah-tengah masyarakat mulai berkurang. Hal ini disebabkan oleh banyak faktor. Terutama perkembangan teknologi media informasi menyebabkan batas-batas garis pertahanan di luar diri individu menjadi bias. Kontrol orang tua dan kaum pendidik terhadap remaja menjadi rawan. Anak-anak dapat belajar untuk melakukan hal-hal di luar norma dari berbagai media, seperti televisi dan media online, yang terkadang melanggar aturan-aturan tertentu dalam hal promosi dan publikasi, di mana hal ini berdampak pada pola pikir remaja sehingga mereka menganggap adegan yang mereka lihat di televisi atau internet adalah hal yang biasa.

            Aturan-aturan legal dan larangan-larangan yang diberlakukan oleh Pemerintah perlu dipertanyakan pula di sini. Seperti yang dilaporkan oleh detikSurabaya, pihak berwajib merespon cepat kasus tersebut agar tidak semakin meluas dan memberikan dampak yang buruk bagi masyarakat. Hal ini bisa dilakukan oleh pihak berwajib karena telah berlaku suatu undang-undang yang mengatur tentang pornografi. Namun, pada contoh lain, pada masa undang-undang ini belum dibuat, pihak berwajib sempat kewalahan melakukan penyidikan pada kasus-kasus berdearnya video mesum, seperti contohnya kasus skandal Maria Eva dengan anggota DPR.  Oleh karena itu, pengendalian sosial yang berasal dari luar, seperti aturan-aturan legal sangat penting agar tidak terjadi penyimpangan di lingkungan remaja.

 


[1] Avian, “Video Mesum Pelajar SMK Hebohkan Bilitar”, detikSurabaya, diakses dari http://surabaya.detik.com/read/2010/06/30/170953/1390402/475/video-mesum-pelajar-smk-hebohkan-blitar, tanggal 11 Oktober, 2010, pukul 12:38 WIB

Author: Manshur Zikri

Penulis

2 thoughts on “Contoh Kasus Delinkuen, dan Analisanya dalam Teori Pengendalian Sosial: Containment Theory”

  1. Very good, makanya kurikulum pendidikan di sekolah-sekolah perlu dipertimbangkan untuk memasukan mata pelajaran tentang Pendidikan Budi Pekerti. Mari kita belajar dari kasus delinkuen di atas, instropeksi diri untuk mengambil hikmah dan menyikapinya dengan bijak…Belum terlambat.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s