aku mendengar cerita dari Tante Otty, di Karangantu.

Saat duduk di bangku kelas 3 Sekolah Dasar, pertama kalinya saya mempelajari ilmu sosial: sejarah. Pelajaran yang tugasnya hanya membaca dan menghapal (begitulah pemikiran saya saat itu). Akan tetapi, kalau diingat-ingat, sebenarnya dari kecil saya tertarik dengan pelajaran sejarah. Saya bisa menghabiskan waktu jam istirahat sekolah untuk membaca buku sejarah, tentang kerajaan Hindu-Budha di Indonesia, masa kolonial, dan perjuangan bangsa Indonesia di kelas, seperti membaca buku cerita (bahkan sampai bergetar merinding bulu kuduk saya karena bersemangat). Namun, itu hanya menjadi cerita penghibur bagi saya, karena sewaktu ujian, tetap saja saya menyontek teman sebangku, atau mencuri-curi kesempatan untuk melihat buku.

Cornelis de Houtman
Image via Wikipedia

Dua nama tokoh yang tidak pernah saya lupa ketika mempelajari ilmu sejarah tentang masa kolonial, yaitu Alfonso de Albuquerque (Portugis) dan Cornelis de Houtman (Belanda). Dua orang yang melakukan pelayaran hingga ke Hindia Belanda.

Cornelis de Houtman, tiba di Banten, 22 Juni 1596, di Pelabuhan Banten. Dan saya sekarang berada di Banten, melakukan penelitian di sini. Salah satu bingkaian yang menjadi fokus sejarah adalah Karangantu, tempat di mana saya mendengar dongeng dari Pak Erman Koplak, tentang kehidupan sehari-harinya di pelabuhan. Untuk cerita dongeng ini, saya masih menunggu tulisan dari Agan Nuril di akumassa.

Saya langsung takjub ketika mendengar Bibi saya menyebut nama Cornelis de Houtman, saat kami berbuka puasa di bawah mercusuar, di Pelabuhan Karangantu. Saya langsung tersadar, dan berkata dalam hati, “Oh iya, ternyata saya sekarang berada di tempat si Cornelis de Houtman dulu, saat pertama kali memijakkan kaki di Indonesia. Kelas 3 SD saya mengenal nama itu, dan lokasi yang bernama Banten, sekarang saya ada di sini, [seharusnya] bisa melihat dan mempelajari masa lau dari kekinian yang ada di sini.”

Berikut ini puisi yang dibuat oleh Bibi saya di note facebook miliknya:

cerita dari karangantu

by Otty Widasari on Monday, 16 August 2010 at 21:10

__________________________________________

hai, Meneer Cornelis de Houtman,

je komt nooit meer hier

saya muyusulmu 458 tahun kemudian

ke sini

…hebat…hebat…

je bent geweldig!

kamu pionir…saya bumiputera

yang mewarisi kebodohan

dan tertatih menaiki tangga di selatan

belahan bumi

supaya sama tinggi dengan utaranya

bumi patah doong…kalau selatan dan utara tidak sama tinggi

memang patah, ternyata

berkali saya mengintip peti Meister Wenders

mengagumi sayap putih di dalamnya, patah

saya berbisik di belakang punggungnya: Gib mir Flügel der Begierde

dia menoleh dan acuh, dia bilang : ck…Der Himmel über Berlin!

saya manggut-manggut saja…maklum, bumiputera,

telan saja semuanya di bawah kutukan sisifus kontemporer…(hihihi…)

tapi dia cuma jawab itu saja, lalu menggibaskan tangannya

saya surut ke pinggir…tunggu saja

siapa tahu nanti-nanti bisa dapat

begitulah, Meneer de Houtman

suliiiit sekali bagi seorang bumiputera

jadi,

apa boleh buat…

di saat gelap, saat lampu dari menara suar itu berputar ke arah sana…

saya curi sayap (patah) itu,

saya kenakan seperti kutang menghadap belakang,

dan saya akan terbang ke utara…

(Faraway, so close Up with the static and the radio waves With satellite television You can go anywhere…)

saya terbang,

oh, no!

oh, yes!

oh, yes!

YES! YES!

HAHAHA…..

HEY,  MENEER…..KAMU PIRATE, KAMU PIRATE….HAHA…BUKAN SAYA….

HAHAHAHA….

cerita dari karangantu

by Otty Widasari on Monday, 16 August 2010 at 21:1 hai, Meneer Cornelis de Houtman, je komt nooit meer hier saya muyusulmu 458 tahun kemudian ke sini ...hebat...hebat... je bent geweldig! kamu pionir...saya bumiputera yang mewarisi kebodohan dan tertatih menaiki tangga di selatan belahan bumi supaya sama tinggi dengan utaranya bumi patah doong...kalau selatan dan utara tidak sama tinggi memang patah, ternyata berkali saya mengintip peti Meister Wenders mengagumi sayap putih di dalamnya, patah saya berbisik di belakang punggungnya: Gib mir Flügel der Begierde dia menoleh dan acuh, dia bilang : ck...Der Himmel über Berlin! saya manggut-manggut saja...maklum, bumiputera, telan saja semuanya di bawah kutukan sisifus kontemporer...(hihihi...) tapi dia cuma jawab itu saja, lalu menggibaskan tangannya saya surut ke pinggir...tunggu saja siapa tahu nanti-nanti bisa dapat begitulah, Meneer de Houtman suliiiit sekali bagi seorang bumiputera jadi, apa boleh buat... di saat gelap, saat lampu dari menara suar itu berputar ke arah sana... saya curi sayap (patah) itu, saya kenakan seperti kutang menghadap belakang, dan saya akan terbang ke utara... (Faraway, so close Up with the static and the radio waves With satellite television You can go anywhere...) saya terbang, oh, no! oh, yes! oh, yes! YES! YES! HAHAHA.....HEY,  MENEER.....KAMU PIRATE, KAMU PIRATE....HAHA...BUKAN SAYA....HAHAHAHA....Banten, dini hari

Banten, dini hari

Puisi yang dibuat oleh Bibi saya, membuat saya semakin bergetar merinding karena bersemangat. Utara-Selatan hanyalah perbedaan lokasi, bukan masalah perbedaan atas-bawah. Kita yang berada di Selatan juga bisa memegang dunia. Karena kita harus berani, “Orang berani menggenggam tiga perempat dunia!”  Tidak seharusnya kita tunduk oleh ‘takdir’ yang memaksa kita mewarisi kebodohan dari penjajah. Karena kita masih memiliki “Der Himmel über Berlin!” Masih ada “Sayap-sayap keinginan” yang bisa membawa kita terbang untuk mengalahkan ‘Utara’. Kutukan Sisifus Kontemporer? hahahhaha, sesuatu yang absurd bukan dihadapi dengan bunuh diri. “Tidak. Yang dibutuhkan adalah pemberontakan.” (Albert Camus, 1942).

Sepertinya saya harus menonton kisah si Damiel  dan Cassie, karya Wim Wenders, untuk menambah semangat. Karena mungkin saja “sayap keinginan” yang saya [kita] butuhkan itu ada di sana!

Ya, kita punya sayap. Sayap itu ada di dekat kita. Bahkan, ketika saya melakukan penelitian di Banten, membaca puisi Bibi saya, dan menulis tulisan ini pun, saya tengah mengenakan sayap itu (meskipun patah). Yang terpenting adalah, yang juga sering ditekankan dalam akumassa, kita harus sadar akan keberadaan sayap itu, dan apa fungsi sayap itu. Kalau tidak sadar, ya kita akan terus dilindas.

Bukan kah Om Bono dan Om Edge sering berdendang, “Faraway, so close. Up with the static and the radio waves, With satellite television, You can go anywhere!”

Itu sayap kita!!!!!!!

1596 = 3

1987 = 7

3 + 7 = 10

10 = 1

Benang merah dari Cornelis de Houtman hingga munculnya gagasan “Sayap keinginan” dari Wim Wenders, saya temukan formulasi angkanya ketika melakukan penelitian ke karangantu dari Bibi saya, formulasi itu menjadi 1. Kebetulan yang membawa kesadaran!

Satu cita-cita dan satu tujuan = MAJU!

Meskipun dalam kegiatan workshop akumassa, saya masih sering melakukan banyak kekeliruan, tetapi itu menjadi cambuk bagi saya [kami] untuk terus belajar dan menjadi maju.

Kalau sewaktu berada di Banten, si Cornelis adalah ‘pairet’ [PIRATE] = yang menghadiahkan kebodohan,

saya [kami] berada di Banten sebagai periset = mempelajari sejarah dan memahami kekinian yang tersedia,  untuk masa depan yang cerah orang-orang Selatan.

Terimakasih kepada Bibi saya, Otty Widasary atas note nya, “Cerita dari Karangantu”

Author: Manshur Zikri

Penulis

1 thought on “aku mendengar cerita dari Tante Otty, di Karangantu.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s