Gembul yang malang

Pendahuluan

Di note facebook, saya mencoba membuat sebuah cerita pendek, yang sedikit vulgar, tetapi berusaha menyampaikan pesan tentang pemikiran kita yang baik, dan betapa pentingnya keluhuran hati. Semoga pembaca dapat menikmatinya. Selamat membaca.


Gembul yang malang

cerpen oleh Manshur Zikri

Wah, saya kaget menerima kenyataan akan sebuah cerita ini. Maaf-maaf saja kalau cerita ini mungkin akan terkesan sangat vulgar bagi kalian yang menyimaknya. Karena, kisah seperti ini merupakan paradoks. Salah dalam norma yang ada, tetapi benar dalam satu sudut pandang si pelaku. Dia adalah kenalan saya, namanya Gembul.

Gembul bisa saja saya katakan gila; gila sex. Dia memiliki kecenderungan yang aneh terhadap sex, yang dengan terang-terangan dia katakan kepada saya, cinta adalah sex, sex adalah cinta, dan hal itu tidak bisa dipisahkan. Akan tetapi Gembul berbeda dengan orang-orang lain yang gila dengan sex, terutama sekali berbeda dengan si Peterporn. Dia adalah seorang penggila sex yang memiliki “prinsip teguh dan paling kuat iman”, menurut saya, tetapi tetap saja gila sex.

Gembul orang yang pintar, dia membaca banyak buku, buku yang sangat berkualitas. Dia memiliki potensi sebagai pemuda yang baik karena hobinya membaca buku. Selain itu, dia juga pandai membuat puisi. Banyak dari puisi-puisinya yang dipuji oleh beberapa kalangan, baik dari kritikus, penikmat, atau orang-orang yang tidak tahu puisi sekalipun. Itu lah dia, Gembul, si penggila sex yang aneh.

Gembul memiliki pemikiran tersendiri tentang sex. Baginya, sex dapat dibedakan menjadi dua. Yang pertama adalah bercinta, di mana sepasang kekasih saling mengikhlaskan diri akan raga dan jiwa, sama-sama menyerahkan kehormatan masing-masing kepada pasangan, dan melakukan intercourse, untuk membina suatu ikatan yang begitu intim dan tak akan pernah terpisahkan. Sementara yang kedua adalah bercumbu, di mana sepasang kekasih belum melewati batas sisi untuk bercinta, tetapi rasa saling sayang di antara keduanya sangat begitu kuat, dan mereka melampiaskan itu dengan pelukan, ciuman, rabaan, dan belaian setiap saat. Dalam kategori ini, kissing, petting, filtring, dan necking tanpa intercourse termasuk dalam bercumbu.

Yang menarik dari Gembul adalah, walau dia begitu gila dengan sex, tetapi dia hanya gila kepada satu orang, yaitu gadisnya, atau kita sebut saja pacarnya. Dia mengatakannya kepada saya.

“Aku menyadari bahwa aku candu dengan sex ketika masih sekolah menengah pertama,” ceritanya. “tapi aku tahu itu dilarang agama, sampai-sampai aku berpikir biarlah berdosa untuk yang satu ini saja: sex. Karena aku begitu terobsesi dengan sex.”

“Kalau begitu sudah berapa banyak gadis yang kau tiduri?” saya bertanya.

“Belum ada.”

“Bagaimana bisa?”

“Karena aku hanya ingin tidur dengan Leira! Aku sangat tergila-gila dengan sex, tetapi sex dengan Leira.”

Gembul tidak pernah melirik gadis lain sejak dia menjalin hubungan dengan Leira. Padahal, banyak gadis-gadis manis yang dekat dengan dirinya. Bahkan, gadis yang bisa diajak tidur pun banyak yang telah menggodanya (yang terkadang membuat saya iri kepadanya). Gembul bisa menahan hasrat birahinya untuk itu semua. Dia hanya mau melakukannya dengan Leira, pacarnya.

“Kalau begitu mengapa tidak kau tiduri saja Leira?” saya bertanya, yang seketika membuat dia emosi dan menghantam mulut saya. “Ada apa?” tanya saya kemudian dengan mulut berdarah.

“Aku tidak akan pernah menyentuh kehormatannya hingga waktu yang pantas itu tiba!” jawabnya.

“Pernikahan?”

Gembul hanya mengangkat kedua bahunya.

“Kalau begitu bagaimana kau bisa melampiaskan hasrat birahimu?” saya mengerutkan kening. “Bukankah kau orang yang begitu menyanjung sex? Kau nonton bokep, baca cerita cabul, atau masturbasi?”

“Semua sudah pernah aku lakukan,” jawabnya. “tapi tidak ada yang bisa memuaskan aku selain bercumbu dengan gadisku.” Kemudian tampangnya terlihat sangat sedih.

“Aha, ya, bercumbu. Begitu mesra, tentunya!” saya berseru seraya memukul paha. “Baguslah kalau begitu!”

Di hari lain, baru aku ketahui bahwa meskipun Gembul sering bercumbu dengan pacarnya, hubungan mereka tidak semanis yang dibayangkan. Mereka sering bertengkar, karena masalah percumbuan itu. Pacarnya, Leira, adalah seorang gadis yang memiliki jiwa gadis yang baik dan solehah. Memiliki prinsip yang teguh menjaga harga diri seorang wanita. Dia tidak mau begitu saja menyerahkan dirinya kepada orang yang belum menjadi suaminya. Tipe gadis idaman setiap laki-laki, gadis yang terhormat. Kalaupun dia pernah bercumbu, itu disebabkan ketidaktegaan dirinya melihat Gembul yang begitu tersiksa menahan hasrat, karena Gembul adalah orang gila, gila sex. Walaubagamanapun, dia sayang dan cinta Gembul melebihi apa pun, dan dia tidak kuat melihat Gembul tersiksa, sehingga dia rela melakukannya dengan air mata. Tetapi itu hanya sebatas ciuman dan pelukan mesra, di mana dia sering berhenti tiba-tiba, mencoba bertahan, mengingatkan diri bahwa itu adalah perbuatan yang melanggar norma, yang kemudian membuat Gembul begitu marah karena hasrat birahinya tertahan. Hal itu lah yang sering membuat mereka bertengkar.

“Setiap habis bercumbu, aku sadar telah melukai hatinya. Kemudian aku berjanji akan berubah menjadi laki-laki yang baik. Tapi kau tahu, aku tidak bisa melawan nafsu ini, aku kalah, dan aku mengulangi lagi perbuatan itu, memaksa dia untuk mau bercumbu denganku. Lagi-lagi aku mengecewakannya, dan kami bertengkar lagi,” dia menceritakannya dengan wajah sedih.

“Tapi itu hanya bercumbu, bukan bercinta. Aku bersumpah tidak akan menyentuh kehormatannya hingga saat yang baik itu tiba, yang kau bilang sebagai pernikahan itu. Aku, kan, pacarnya, mengapa aku tidak bisa mencumbunya, mengapa dia tidak mau? Mengapa? Aku begitu sayang dan cinta dia, aku akan setia, tetapi aku tidak kuat menahan hasrat ini. Aku bisa menahannya dengan wanita lain, aku bisa, tetapi dengan dia aku tidak kuat. Memang, aku nafsu, tapi bukan berarti tanpa cinta yang diinginkannya!” Gembul berkata dengan berteriak dan air mata.

Mendengar ratapan seperti itu, saya mengambil kesimpulan bahwa dia bukan gila sex, melainkan gila sex dengan Leira. “Dia tidak mau karena dia adalah gadis yang baik-baik. Itu lah wanita yang sesungguhnya, seharusnya kau bersyukur!” kata saya mengingatkan Gembul.

Gembul hanya bisa menangis menutup wajahnya di atas meja.

“Aku tidak kuat. Ingin sekali aku berubah, tetapi aku tidak kuasa melawan nafsu. Aku ingin sekali sembuh dari kegilaan ini!”

“Makanya, berubahlah!” kataku datar.

“Aku tidak kuat,” katanya pelan sambil terisak.

Kami diam lumayan lama. Saya sendiri tidak tahu harus berkata apa. Dia laki-laki, wajar tergila-gila dengan sex, semua laki-laki begitu, kecuali mereka-mereka yang memiliki iman yang kuat layaknya para sufi dan nabi.

“Apa pun akan aku lakukan demi bisa bercumbu dengan dia, dan apa pun akan aku lakukan untuk membuktikan bahwa aku juga cinta dia!” kata Gembul, mungkin untuk dirinya sendiri.

“Kalau kau cinta dia, seharusnya kau bisa berubah!” saya memberi nasehat, tetapi dia tidak menjawab.

Beberapa minggu kemudian, pertengkaran Gembul dengan pacarnya semakin hebat. Kegilaan Gembul dengan sex semakin akut dan sepertinya tidak bisa disembuhkan. Leira, gadisnya, yang begitu kuat prinsipnya, akhirnya mengambil sikap, dia tidak mau melakukan perbuatan yang melanggar norma lagi. Gembul semakin tersiksa.

Saya kaget ketika mendengar kabar Gembul tewas di kamarnya, mungkin karena bunuh diri, dan ternyata memang benar, dia bunuh diri.

Inilah hebat nya saya. Saya bisa mendapatkan banyak informasi perihal kematian si Gembul. Dari catatan hariannya, saya mengetahui hasrat birahi dan kegilaannya terhadap sex tak pernah hilang sampai hari kematiannya. Dan saya juga tahu, pernah suatu kali Gembul mengatakan kepada pacarnya bahwa dia akan melakukan apa pun untuk bisa mendapatkan “kemesraan” dengan pacarnya. Bagaimanapun, kemesraan itu adalah sesuatu yang melanggar norma dalam pemahaman Leira.

Leira berkata, “Aku ingin Gembul yang seperti ini mati!”

Semua juga paham bahwa maksud perkataan Leira adalah dia ingin Gembul berubah menjadi laki-laki yang baik, bukan mati yang sesungguhnya. Akan tetapi, memang dasar si Gembul yang sudah gila sex, tidak waras, hanyut dalam naungan setan, dia mengikuti kata-kata pacarnya. Dia bunuh diri. Kasihan si Gembul, padahal dia jenius.

Kemudian saya juga tahu bahwa Gembul mengenal pornografi saat masih SMP, dari teman-temannya. Itulah pergaulan yang salah, tanpa ada kontrol dari berbagai pihak. Gembul, Gembul, betapa malang dirimu. Kau begitu pintar, tetapi tidak bermoral.

Salah seorang dosen saya pernah berkata, candu terhadap pornografi sesungguhnya lebih berbahaya dari candu terhadap narkoba.

Sekian cerita saya.

Author: Manshur Zikri

Penulis

7 thoughts on “Gembul yang malang”

  1. CAN DU SEX: Sex yg dapat membuat hidup lebih berarti. Tinggal pilih aja sob, mau hidup lbh baik atau lbh buruk. Kalau lbh baik pilihlah sex yg membangun aka yg bertanggung jawab, tp kalau mau yg lbh buruk, pilihlah sex bebas aka seperti binatang, mereka tak bertanggung jawab. Kalau menurut anne sih sob, si Gembul tak dapat di katakan can du sex, tapi lebih ke arah “SUCK” aka ” Susah Untuk Cari Kepuasan”, sehingga berakhir “SUCK” pula sob aka ” Sex Untuk Cari Kematian”. Dasar Si Gembulll…. Malang benar nasib loe. Gembul, Gembul…

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s