Opini saya tentang teenlit

Saya benar-benar mengapresiasi tulisan yang dibuat oleh Mochammad Asrori, yang berjudul “Menyongsong Era Teenlit Berbobot” di blog http://warungfiksi.net/menyongsong-era-teenlit-berbobot/comment-page-1/#comment-5753. Adalah suatu pemikiran yang baik tentang harapan kita terhadap kualitas bacaan yang menjadi konsumsi masyarakat.

Teenlit, teen literature ‘sastra remaja’. Berdasarkan katanya, dapat kita mengerti bahwa “teen literature” diterjemahkan sebagai karya sastra dengan target pembaca dan/atau isi yang berhubungan dengan remaja serta kehidupannya.

Banyak yang berpendapat bahwa teenlit adalah sebuah karya yang dianggap sebagai sastra prematur, atau lebih parah lagi ada yang mengatakan bahwa teenlit adalah karya sampah. Hal ini disebabkan dalam karya-karya teenlit, yang juga dianggap sebagai karya populer, jauh dari penggunaan bahasa yang baik dan benar, serta miskin nuansa pendidikan. Meskipun dalam karya teenlit sering dibubuhkan pelajaran moral yang dapat dipetik, namun karya bergenre seperti ini dianggap dapat memberikan pengaruh yang buruk karena umumnya ide cerita dan penuturan kalimatnya disajikan secara klise, dan banyak memasukkan unsur hedonisme dalam kehidupan remaja, berbagai mimpi yang muluk, jauh dari kenyataan yang ada di dalam masyarakat, khususnya dalam kehidupan remaja itu sendiri.

teen literature atau sastra remaja.

Memang dari dulu, sejak saya duduk di bangku sekolah menengah, saya secara terang-terangan mengatakan bahwa saya tidak menyukai cerita teenlit. Alasan saya cuma satu, yaitu saya bisa menebak akhir dari setiap cerita teenlit hanya dengan membaca bab pertama. Dan memang begitulah yang salalu saya temukan dalam buku-buku novel teenlit. Saya berpendapat bahwa karya ini tidak kreatif, hanya menyajikan tema dan ide yang monoton.

Namun saya tidak ingin pendapat saya ini hanya menjadi pendapat yang tidak berdasar. Oleh karena itu ada baiknya saya jabarkan dahulu kata perkata dari teen – lit yang dibahas dalam tulisan ini.

“Teen” merujuk kepada kata adolescent, teenager, youth, yang berarti muda, atau manusia yang digolongkan berdasarkan umur antara 13 – 19 tahun. “Teen” juga bisa menjadi sifat yang mengartikan sesuatu yang berhubungan dengan kehidupan remaja ‘anak muda’.

“Literature” dalam bahasa Indonesia adalah sastra atau kesusasteraan. Perlu diketahui pula di sini, apa definisi dari literature itu?

Literature, secara harafiah diartikan sebagai acquaintance with letters, yaitu bergumul denga huruf. Dengan begitu, dapat pula kita menyebutkan bahwa literature adalah suatu medium yang berhubungan dengan kata, huruf, dan merujuk pada bahasa.

Literature adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan sesuatu secara tertulis atau lisan. Dalam lisan, literature digunakan untuk menggambarkan segala yang berkaitan dengan tulisan kreatif, lebih teknis, bersifat ilmiah, tetapi lebih umum digunakan untuk merujuk kepada studi terhadap imajinasi kreatif, termasuk di dalamnya studi tentang sajak/puisi, drama, fiksi, dan non-fiksi. Literature mewakili bahasa atau insan (orang); tradisi dan budaya (culture). Literature introduces us to new worlds of experience. Di lingkungan akademis, pembacaan teks literature sering dilakukan melalui penggunaan teori sastra, dengan menggunakan berbagai pendekatan, mitologis sosiologis, psikologis, historis, atau lainnya. (Esther Lombardi).

Jim Meyer, dalam jurnalnya, “What is Literature?”, memaparkan berbagai definisi dari para pakar, yang menggunakan pendekatan criteria .

Literature dipahami sebagai karya yang memasukkan kualitas penulisan dengan berbagai keabadian rekaan (pura-pura) [Wellek, 1978: 20]

Literature adalah teks yang layak untuk diajarkan kepada para siswa oleh seorang guru keusasteraan, ketika teks tersebut tidak diajarkan di departeman lain dalam suatu sekolah atau universitas [Hirsch, 1978: 34]

Literature adalah sebuah norma yang terdiri dari karya-karya dalam bahasa di mana masyarakat mengartikannya sendiri melalui suatu perjalanan sejarah. Termasuk di dalamnya suatu hasil karya yang bersifat artistik dan kualitas estetik (keindahan). Aktivitas mendefinisikan secara mandiri oleh masyarakat ini dilakukan terhadap kejelasan suatu karya, karena memang telah membacanya. [McFadden 1978:56]

Dalam ensiklopedia yang kurang terpercaya, alias Wikipedia Indonesia, dikatakan bahwa dalam Bahasa Indonesia, literature diartikan sebagai sastra atau kesusasteraan. Sastra berasal dari bahasa sansekerta, śāstra, berarti “teks yang mengandung instruksi” atau “pedoman”, dari kata dasar śās- yang berarti “instruksi” atau “ajaran”. Dalam bahasa Indonesia kata ini biasa digunakan untuk merujuk kepada “kesusastraan” atau sebuah jenis tulisan yang memiliki arti atau keindahan tertentu. Kesusasteraan pada lahiriahnya wujud dalam masyarakat manusia melalui bentuk tulisan dan juga wujud dalam bentuk lisan. Dalam kehidupan sehari-hari, bentuk kesusasteraan sememangnya tidak terpisah daripada kita. Pada kesimpulannya, kesusasteraan merupakan sebahagian daripada budaya manusia. Ia adalah ekspresi diri manusia dan juga manifestasi estetik manusia terhadap bahasa yang dipertuturkan oleh mereka sendiri. [Wikipedia].

Oleh karena itu, ada baiknya saya mengutip kata dari Bapak Sapardi, yang sempat saya baca dalam artikel yang ditulis oleh SAYYID, tertanggal 14 February, 2008 / 8:07 PM.

Bapak Sapardi (1979: 1) memaparkan bahwa sastra itu adalah lembaga sosial yang menggunakan bahasa sebagai medium: bahasa itu sendiri merupakan ciptaan sosial. Sastra menampilkan gambaran kehidupan; dan kehidupan itu sendiri adalah suatu kenyataan sosial. Dalam pengertian ini, kehidupan mencakup hubungan antar masyarakat, antara masyarakat dengan orang-seorang, antar manusia, dan antar peristiwa yang terjadi dalam batin seseorang. Bagaimanapun juga, peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam batin seseorang, yang sering menjadi bahan sastra, adalah pantulan hubungan seseorang dengan orang lain atau dengan masyarakat. Burhan Nurgiyantoro (1995), juga mengatakan bahwa Prosa dalam pengertian kesastraan disebut juga dengan fiksi, teks naratif, atau wacana naratif (dalam pendekatan struktural dan semiotik). Dalam “Kamus Lengkap Bahasa Indonesia Moderen” yang disusun oleh Muhammad Ali hakikat adalah kebenaran atau kenyataan yang sebenarnya. Dari berbagai pendapat yang dipaparkan sebelumnya maka dapat ditarik sebuah garis tentang hakikat sastra yaitu pengungkapan realitas kehidupan masyarakat secara imajiner atau secara fiksi. Dalam hal ini, sastra memang representasi dari cerminan masyarakat. Senada dengan apa yang diungkapkan oleh Georg Lukacs (Taum, 1997: 50) bahwa sastra merupakan sebuah cermin yang memberikan kepada kita sebuah refleksi realitas yang lebih besar, lebih lengkap, lebih hidup, dan lebih dinamik. Dapat ditambahkan bahwa kebenaran dalam dunia fiksi adalah kebenaran yang sesuai dengan keyakinan pengarang, kebenaran yang telah diyakini “keabsahannya” sesuai dengan pandangannya terhadap masalah hidup dan kehidupan (Nurgiyantoro, 1995: 5). Walaupun dunia fiksi lebih banyak mengandung berbagai kemungkinan-kemungkinan, namun ia tak bisa lepas dari kejadian-kejadian langsung maupun tidak langsung yang dialami oleh pengarang. Memang pengarang diberi ruang seluas-luasnya dalam memanipulasi fakta, membuat apologi-apologi baru, seperti E.S. Ito dalam novel “Rahasia Meede” (2007) yang mengungkapkan kemungkinan adanya harta karun VOC di lepas pantai Jakarta tepatnya di Pulau Onrust, tetapi E.S. Ito menyusunnya dari kenyataan sejarah yang terjadi di Hindia Belanda. Banyaknya pengungkapan data sejarah baru membuat orang berpikir jangan-jangan memang ada harta karun yang ditinggalkan oleh VOC.

Hal ini mengesampingkan pendapat Abrams (dalam Nurgiyantoro, 1995: 2) yang mengatakan bahwa fiksi merupakan karya naratif yang isinya tidak menyaran pada kebenaran sejarah. Karya fiksi, dengan demikian, menyaran pada suatu karya yang menceritakan sesuatu yang bersifat rekaan, khayalan, sesuatu yang tidak ada dan terjadi sungguh-sungguh sehingga ia tak perlu dicari kebenarannya pada dunia nyata.

Fungsi Sastra Abdul Wachid B.S. secara eksplisit mengemukakan dalam buku kumpulan esai sastranya berjudul “Sastra Pencerahan” (2005) bahwa sastra berfungsi sebagai media perlawanan terhadap slogan omong-kosong tentang sosial kemasyarakatan. Sapardi (1979) mengemukakan tiga hal yang harus diperhatikan yaitu: a) Sudut pandangan ekstrim kaum Romantik misalnya menganggap bahwa sastra sama derajatnya dengan karya pendeta atau nabi; dalam anggapan ini tercakup juga pendirian bahwa sastra harus berfungsi sebagai pembaharu dan perombak. b) Dari sudut lain dikatakan bahwa sastra bertugas sebagai penghibur belaka; dalam hal ini, gagasan “seni untuk seni” tak ada bedanya dengan praktek melariskan dagangan untuk mencapai best seller. c) Semacam kompromi dapat dicapai dengan meminjam sebuah slogan klasik: sastra harus mengajarkan sesuatu dengan cara menghibur.

Dari data-data sekunder yang di dapat ini, nyatalah sudah bahwa pendapat saya terhadap karya-karya teenlit memang ada benarnya. Kalau boleh saya mengatakan sekarang, sebenarnya untuk novel (buku cerita) teenlit yang terjual di pasaran sekarang ini, tidak lah pas untuk disebut sebagai teenlit atau teen literature atau sastra remaja. Karena penggunaan istilah itu menjadi bias oleh isi yang umumnya terdapat dalam karya-karya teenlit yang kita kenal sekarang. Karena bagi saya pribadi, penggunaan istilah yang dapat melekat di pola pikir masyarakat sangat penting untuk diperhatikan agar tidak melenceng dari maksud awal yang sesungguhnya. Literature ya harus disajikan secara literature, kalau mengatakannya sebagai sastra, ya memang haruslah berupa sastra yang semestinya, yang mengandung unsur-unsur yang terdapat dalam kesusasteraan; memiliki sifat puitis di dalamnya.

Kalau berpegang teguh pada pemikiran ini, pantas saja banyak ahli sastera yang mengatakan bahwa teenlit adalah karya sastera prematur, karena tidak memenuhi syarat sebagai karya sastera yang baik.

Sekarang yang kita butuhkan adalah sebuah bacaan yang cerdas, yang dapat mencerdaskan masyarakat. Benar memang, teenlit pada umumnya menyajikan karya yang erat dengan kehidupan remaja, yang merupakan bagian dari masyarakat (faktor relasi sosialnya ada tercakup di sini). Namun yang disayangkan adalah penggunaan bahasa yang kurang tepat, penyajian ide yang tidak eksploratif, serta isi yang kurang mempresentasikan kenyataan dari masyarakat (kehidupan remaja) itu sendiri. Terutama bagi saya, mahasiswa kriminologi, melihat kenyataan dalam kehidupan remaja bukanlah sekadar melihat dari sisi hura-hura atau hedonisme dan mimpi yang muluk-muluk saja, melainkan melihat dari berbagai sudut pandang yang tercakup dalam kajian sosiologis, seperti misalnya Juvenile Delinquency, yang memiliki kaitan dengan permasalahan dan isu-isu yang beredar di masyarakat. Nah, dalam banyak karya sastera yang baik, unsur ini dapat dikaji secara ilmiah dan bermetode. Ini lah yang tidak terdapat dalam karya teenlit pada umumnya.

Mengenai penggunaan bahasa gaul yang sering kita temukan dalam teenlit, juga mendapat banyak kritik dari para ahli sastera. Ada yang berpendapat hal ini memberikan dampak kepada hilangnya sosialisasi penggunaan Bahasa Indonesia yang baik dan benar dalam kehidupan sehari-hari. Penggunaan bahasa slank atau bahasa gaul dapat diterapkan dalam suatu karya tulisan naratif, tetapi pemahaman dari fungsi dan nilai kata gaul itu haruslah dipahami dengan baik terlebih dahulu oleh para penulis sastera remaja, agar tepat guna dan tidak menghilangkan esensi dan maksud serta tujuan dari penggunaan kata gaul itu sendiri. Menurut saya, penggunaan bahasa gaul bukan hanya sebagai alat atau jalan gampang untuk merasapi dunia remaja, tetapi juga memberikan pemahaman kepada pembaca (remaja) tentang sosial masyarakatnya (yang notaben menggunakan bahasa gaul itu; bahasa sehari-hari) sehingga memberikan suatu definisi dan klasifikasi yang menjadi bahan pelajaran alternatif bagi kaula muda. Metode tepat guna ini pun belum saya temukan dalam banyak karya teenlit yang saya baca (saya sering meninjau novel-novel teenlit milik adik dan kakak saya).

Menurut saya, dua faktor ini lah, ide/isi dan penggunaan bahasa, yang membuat banyak karya teenlit menjadi tidak abadi melekat dalam masyarakat atau tersimpan secara “agung” dalam perpustakaan sehingga menjadikannya sebagai anak tiri dalam dunia kesusasteraan.

Namun begitu, tidak perlu pula saya begitu merendahkan karya teenlit. Walau bagaimanapun, dia telah menjadi suatu elemen dalam dunia membaca di masyarakat kita, serta ikut memperkaya bahan bacaan bagi remaja. Selain itu, dengan kemunculan era teenlit ini, juga memberikan motivasi kepada para kaula muda yang awalnya malu-malu, menjadi mulai berani untuk bereksperimen dan menjelajahi imajinasi dan mulai menulis. Itu sangat perlu kita apresiasi.

Oleh karena itu, saya begitu takjub ketika membaca gagasan yang terdapat dalam tulisan Mochammad Asrori, yang memimpikan datangnya suatu era di mana teenlit menjadi sebuah karya yang berbobot. Tentunya hal ini dapat dicapai dengan usaha yang keras, meluruskan kembali jalan dan jiwa sastera dari karya-karya teenlit sehingga dapat menjadi karya yang berkualitas untuk dikonsumsi oleh masyarakat.

Author: Manshur Zikri

Penulis

7 thoughts on “Opini saya tentang teenlit”

  1. menurut saya sebaiknya kita jangan memandang teenlit terlalu rendah seperti itu. walaupun saya juga tidak terlalu suka baca teenlit, apalagi karangan penulis Indonesia, tapi saya selalu baca tulisannya Sitta Karina kok. sebaiknya jangan digeneralisasi begitu aja🙂

    Like

  2. teenlit memang karya sastra prematur. tp teenlit memang punya pasar tersendiri, yah semoga dimasa datang teenlit lebih idealis dan berbobot agar generasi muda bisa jadi manusia yang lebih optimis

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s