Paragraf

puisi, karya : Tooftolenk Manshur Zikri

Pernyataan ini selalu saya tekankan kepada orang-orang terdekat saya. Terkadang orang bertingkah hanya karena terbawa suasana dan terpengaruh karisma. Dan disinilah apa yang kita sebut dengan keteguhan hati itu diuji. Sungguh susah, memang, menemukan pribadi-pribadi yang bisa bersikap dengan wajar dan apa adanya. Bukan cuma kalian, tetapi kami juga. Banyak orang yang melakukan sesuatu itu karena adanya motivasi, bukan dari segi deontologis nya. Hal ini pernah saya tanyakan dalam sebuah diskusi tentang makna kompetisi yang kemudian dikaitkan dengan tiga pandangan dalam etika profesi, yaitu secara pragmatis, utilitaris, dan deontologis.

Memandang secara pragmatis berbarti melihat bagaimana sesuatu itu memiliki makna bagi seorang profesional melalui tindakan positif berupa pelayanan terhadap klien, pasien, atau pemakai jaksa. Memandang secara utilitaris berarti sesuatu itu akan sangat bermanfaat apabila menghasilkan perbuatan yang baik. Sementara deontologi, seseuatu itu akan dinilai baik apabila disertai dengan niat yang baik. (Dr. Irmayanti Meliono, M.Si dkk, 2009:56)

Sudah jelas bahwa memandang secara pragmatis itu memiliki tujuan dan motivasi, yaitu kepuasan pada diri si pelaku (disini saya menilai sangat egois sekali). Memandang secara utilitaris, berarti sesuatu akan dialakukan apabila memberikan hasil yang baik. Jadi jika tidak membawa manfaat yang baik bagi si pelaku hal itu tidak akan dilakukan (seorang gadis, sebagai contoh, membuat puisi ataupun kue untuk seorang bujang. Apabila bujang tidak menerima, maka hal yang dia lakukan tidak ada gunanya sama sekali, menurut si gadis itu. Saya memandang hal ini msih termasuk egois). Akan tetapi apabila memandang secara deontologis, sesuatu itu akan bernilai baik apabila melakukannya disertai dengan niat yang baik. Bedakan antara memberikan hasil yang baik dengan disertai dengan niat yang baik. Disini berarti seseorang melakukan sesuatu itu, tidak mementingkan hasil akhir (apakah baik atau buruk) dan kepuasan dirinya. Dia hanya melakukan itu dengan niat yang baik tanpa syarat dan tanpa tujuan pamrih (proses lah yang ditekankan disini). Yang penting adalah melakukan seseuatu itu dengan serasional mungkin dan dengan sebaik mungkin, tidak ada tujuan dibalik semua itu. Melakukan sesuatu dalam pandangan deontologis adalah karena sesuatu itu memang harus dilakukan (dan terkadang karena memang kewajiban), hal ini merujuk kepada kandungan imperatif kategoris.

Hal ini lah yang saya tekan kan bahwa, bertingakah dengan rasional tanpa ada maksud (udang dibalik batu).
Sekarang, siapa manusia yang bisa mengamalkan pemahaman dan pemikiran itu. sekarang pun bisa menjadi pertanyaan yang patut dikritisi : Apakah saya menulis tulisan ini berdasarkan pandangan deontologis?

23 Oktober 2009


https://manshurzikri.wordpress.com/

Author: Manshur Zikri

Penulis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s