62 minutes to go

Enam puluh dua menit lagi saya akan berangkat ke Sukabumi, terpaksa harus menguat-kuatkan diri meskipun meriang di badan masih terasa, dengan harapan akan mendapatkan pengalaman baru dan menemukan bahan-bahan untuk tulisan di blog atau akumassa. Ada yang sedikit membuat saya berpikir adalah, saya merindukan Yana. Semoga saja dia sehat selalu dan semangat di tiap jamnya dan semakin nyaman di kampus ilmu statistiknya. Sukses buat Yana tercinta.

Biasanya saya akan merangkaikan kata-kata dalam berbagai eksperimen permainan kata, seperti sajak atau puisi. Akan tetapi kali ini saya lebih memilih dengan menulis peragraf karena di dalam kepala saya terngiang-ngiang suara-suara seorang yang sangat karismatik dan menyampaikan ceritanya dengan pentuturan panjang lebar namun memesona. Panjang lebar, karena itu saya memilih tulisan yang panjang lebar pula.

Saya sering bermelan-kolis tanpa disadari, dan biasanya saya baru akan menyadarinya setelah sesuatu yang saya buat itu berlalu beberapa menit setelahnya, ketika saya kembali sadar dalam pikiran orang lain pada umumnya, seketika pula saya berkata dalam hati, “Baru saja tadi saya bermelan-kolis tanpa disadari!” Dan mungkin saja, ketika saya sedang menulis ini, saya sedang bermelan-kolis atau meromantisme keadaan, melakukan suatu aktivitas “The Dramatization of Evil” (suatu gagasan yang disampaikan oleh Tannenbaum). Itu terserah kepada saudara-saudara untuk menilainya; menurut hemat saya, tidak ada unsur romantisme atau melan-kolis di sini, karena lima puluh tiga menit lagi saya akan ke Sukabumi untuk mencari bahan tulisan.

Saya sering mengumpati orang-orang yang suka bermelan-kolis, membuat lagu atau puisi-puisi yang mencerminkan perasaan dan pikiran mereka serta jati diri. Hal ini saya lakukan karena saya merasa mereka telah melakukan yang paling tidak saya senangi, yaitu “dramatisasi durjana”, yang akhirnya dapat membawa kita ke suatu pengertian yang keliru dalam berkegiatan, seperti seni, humaniora, atau disiplin ilmu lainnya, dan juga dalam kehidupan sehari-hari. Akan tetapi, sangat ironis sekali, bahwa sayasendiri terkadang memang sering pula bermelan-kolis. Dan ini pun menjadi penegasan dari sebuah pepatah “tak ada gading yang tak retak” serta menegaskan pula kalimat “kita ini manusia”. Namun, setidaknya saya tahu dan “melek” bahwa apa yang saya lakukan dalam ketentuan tertentu adalah keliru.

Jika saudara merasa bingung, akan saya jelaskan seperti ini:
Dalam jurnal akumassa, yang bergerak sebagai jurnalis adalah aku-aku yang berada dalam masyarakat, yang membaur dalam massa, di mana si aku-aku-nya ini memiliki kemungkinan besar ikut andil dalam aktivitas isu-isu lokal yang dimaksud. Contohnya, ada si aku yang menulis tentang bahaya dan kerugian merokok dalam jurnal akumassa, dengan bahasa akumassa, tetapi si aku yang menjadi jurnalis ini pada kenyataannya adalah seorang perokok, namun tulisan yang dia buat adalah berupa kritikan terhadap para perokok dan lingkungan sosialnya.
Nah, di sini yang saya maksud, “melek” mata. Di antara para pelaku-pelaku yang keliru itu, ada satu orang yang “melek” yang berusaha mengangkat isu tersebut, meskipun dia adalah salah satu orang yang melakukan kekeliuran tersebut. Namun, paling tidak dia sadar bahwa yang sedang dia lakukan sehari-hari atau apa yang sedang dilakukan oleh lingkungannya adalah keliru. Hal ini diharapkan dengan dia mengangkat isu tersebut, mulai untuk “melek” mata, akan terjadi suatu langkah perubahan menuju sisi yang lebih baik.
Nah, begitu lah yang saya lakukan dalam keseharian saya, setelah merasa muak melihat berbagai akun orang lain: status, menilai note-note yang mereka buat, foto-foto, dan sebagainya yang saya rasa terlalu mendramatisir. Contohnya, saya pernah melihat seseorang membuat puisi tentang kesedihan, penyesalan, dan kemarahan serta kekecewaan dalam belasan karya selama satu minggu. Tema tidak berubah, penggunaan bahasa juga monoton, serta bermakna gamblang dan disajikan dengan tidak cerdas. Mengapa saya berani berkata seperti itu, ya, karena saya tahu sebab saya telah belajar bagaimana cara menilai karya dari salah seorang seniman dari Forum Lenteng Jakarta. Dan semua yang saya lihat, adalah hasil dari romantisme yang tak berarti dan tertipukan. Begitulah, dan tiga puluh delapan menit lagi saya akan berangkat ke stasiun UI menuju Sukabumi.

Sajak yang saya buat beberapa hari yang lalu, “Memang tak etis menghina suatu kreativitas, diukir dan dirancang dengan kerja keras, dan bersemayamlah di dalamnya nafas-nafas, pujian massa adalah bayaran impas”[Manshur Zikri, Jangan Yang Biasa, 23 May 2010]

Tetapi semua orang butuh suatu karya yang baik dan berwarna baru, bukanlah suatu karya biasa yang tidak memberikan pencerahan serta penyampaian yang cerdas. Boleh saja di sana (dalam karya itu) menekankan moral, tetapi tolong sampaikan dengan cerdas dan sastrawi, bukan artifisial: jangan gamblang. Dalam hal ini saya benar-benar meminta tolong kepada pihak-pihak terkait. Karena mata saya sudah perih melihat tulisan-tulisan, foto-foto, dan sebagainya yang bahkan tidak membawa kepuasan bagi saya sendiri.

Sekali lagi saya tegaskan, tulisan ini bukanlah suatu bentuk dari romantisme atau dramatisasi durjana, seperti yang telah saya terangkan. Karena saya sadar sedang menulis apa, dan sadar apa yang sedang saya protes. Karena sebentar lagi, tiga puluh lima menit lagi saya akan ke Sukabumi.

Ini adalah pendapat dan opini pribadi, Saudara-saudara! Karena itu saya menggunakan sudut pandag total seratus persen secara subjektif. Apabila ada yang kurang berkenan, silakan tumbangkan dan hancurleburkan pendapat saya ini melalui tulisan. Karena kata para seniman hebat yang pernah saya lihat di tengah Ibukota, “Intelektualitas harus dilawan dengan intelektualitas; tulisan lawan dengan tulisan, bukan dengan peraturan dan celaan!”

begitulah, tiga puluh dua menit lagi saya akan ke Sukabumi.

Bukankah semestinya Saudara sekalian sadari bahwa tulisan ini adalah bentuk dari ketidakpuasan diri dalam lingkungan kita ini. Sekali lagi, ini hanya pendapat pribadi yang oleh kita sendiri tak dapat untuk dimengerti.

Salam dari, “Si Tukang Protes”

28 Mei 2010

Catatan: Tulisan di atas saya buat bukan untuk kegiatan provoksi, melainkan untuk mengisi waktu saya menunggu pukul tiga, menjelang pergi ke Sukabumi. Kepada pembaca sekalian, tolong jangan dimasukkan ke dalam hati. Karena ini adalah salah satu contoh dari keegoisan para penulis yang sok memiliki idealisme sejati. Dan saya berani mengaku, saya buka seperti itu. Tulisan yang saya buat ini hanyalah contoh dari pemikiran dan suara-suara kritis yang saya dengar, kemudian saya lakukan suatu eksperimentasi.

Author: Manshur Zikri

Penulis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s