Dataran Tortila

Oleh Manshur Zikri

Tadi pagi pukul delapan, saya baru saja pulang dari Kabupaten Sukabumi, iseng pergi jalan –jalan menemani teman saya. Saya menginap dua malam di Kecamatan Parung Kuda, di dekat stasiunnya, di rumah Dian Komala, teman saya.

Dalam mengisi waktu, saya membaca buku sastra punya Dian, judulnya adalah Dataran Tortila karangan John Steinbeck.

Cover Dataran Tortila yang saya baca. Diakses dari http://photo.goodreads.com/books/1242101990m/6462221.jpg

Saya tidak bisa memberikan keterangan lengkap tentang buku yang saya baca tersebut, yaitu tentang tahun terbit, penerbit, serta ISBN-nya, karena saya sudah lupa. Hal itu disebabkan saya secara tidak sengaja meminjam novel tersebut hanya untuk mengisi waktu luang. Dan pagi hari sebelum naik kereta, buku itu sudah saya kembalikan kepada Dian sebelum saya catat identitasnya.

Namun begitu, saya akan mencoba memberikan pendapat saya tentang buku tersebut. Sebuah tulisan sastra yang begitu cerdas (begitulah saya mengistilahkannya). Menceritakan tentang kehidupan sekelompok orang yang selalu bisa menikmati hidup dengan santai, dengan segala keterbatasan dan kemisikinan yang dimiliki. Akan tetapi penyajiannya bukanlah sajian yang basi, karena cerita di dalam Dataran Tortila lebih mencerminkan kehidupan orang-orang yang memiliki lingkungan liar, kriminal, dan jauh dari pola kehidupan konformis (begitu menarik saya yang kuliah di jurusan Kriminologi).

Mereka yang hidup di Dataran Tortila, Kota Monterey, sebuah kota tua di California, adalah Paisanos, yaitu orang-orang campuran Spanyol, Indian, Meksiko dan Kaukasia, yang hidup di perkampungan nelayan yang miskin. Setiap ditanya, mereka akan selalu mengaku sebagai orang Amerika murni berkulit putih, dan akan memperlihatkan warna kulit mereka yang lembut (seperti bagian paha atau bahu dalam baju kaus), dan berkilah bahwa warna kulit sawo matang yang mereka miliki disebabkan oleh cahaya matahari yang menyengat karena mereka sering bekerja melaut.

Bisa saya katakan bahwa novel ini juga merupakan karya senonoh namun tidak vulgar, dengan kata lain pembaca bisa membayangkan senonohnya itu cukup dalam imajinasi pembaca sendiri, sementara Steinbeck lebih memilih menyajikannya dengan sangat sopan dalam cerita tersebut, yang bahkan tidak akan terkesan vulgar sama sekali bila kita tidak menyimak cerita dengan sekasama dan tidak menyelami pemikiran tokoh-tokoh dalam cerita. Selain itu, karya tulisan yang cerdas ini, bila dibaca dengan seksama, adalah sebuah karya humor yang begitu cerdas. Anda tidak akan tertawa apabila tidak mengerti maksud dari olahan kata-kata yang dimainkan oleh si pengarang. Bisa juga saya katakan bahwa ini adalah novel mistik yang menegangkan, begitu merasuk jiwa orang-orang yang membacanya (aura mistik akan begitu terasa dalam bab-bab terakhir).

Tokoh dalam cerita ini, yang menjadi sentral dan fokus perhatian, serta menjadi jiwa dalam cerita, ialah tokoh bernama Danny. Seorang Paisano yang dahulunya hidup bebas, liar, melakukan semua perbuatan di luar norma, secara mendadak mendapatkan warisan dua buah rumah yang menyebabkan dia memiliki tanggung jawab besar tentang kepemilikan. Dalam rumah itu, dia tinggal bersama teman-temannya, yaitu Pilon, Pablo, Big Joe, Bajak Laut dan Jesus Maria. Mereka menjalani hidup dengan segala kemalasan dan kelicikan preman-preman pada umumnya. Hidup mereka tidak pernah lepas dari apa yang dinamakan anggur dan freesex serta keonaran. Namun persahabatan yang terjalin dalam hidup mereka menjadi kekuatan bagi mereka untuk terus bertahan.

Dalam setiap bab, selalu ada polemik-polemik yang dihadapi oleh kelompok Danny, dan bisa terpecahkan dengan segala kelicikan yang mereka miliki, dan biasanya Pilon atau kebaikan hati Jesus Maria lah yang membuat semua masalah selesai. Di setiap masalah tersebut, Pilon selalu mengambil hikmah dan pembelajaran, seperti jangan sampai meninggalkan anggur dalam sebuah rumah yang terbakar, karena kau akan begitu menyesal. Selain itu, meskipun hidup mereka yang non-konformis dijalani dengan segala keonaran, tetapi mereka menjalaninya bak Robinhood. Melakukan pelanggaran namun bertujuan demi kebaikan orang lain, contohnya dalam kisah Danny dan kawan-kawan yang mencuri gudang kacang untuk menolong salah seorang nyonya di Dataran Tortila yang memiliki banyak anak, tetapi tidak memiliki pangan untuk menghidupi keluarganya. Contoh lain adalah saat Danny dan kawan-kawan berusaha menolong si Bajak Laut, teman mereka, yang mengumpulkan seribu uang emas guna membeli lilin emas yang akan dipersembahkan kepada gereja, St. Francis.

Banyak makna tentang hakikat manusia yang dapat dipetik dalam cerita ini. John Steinbeck menyajikan hal itu dalam karyanya, Dataran Tortila, namun tidak semerta-merta disajikan dengan gamblang (kata gamblang selalu menjadi patokan saya, karena selalu ditegaskan oleh paman saya, Hafiz. Dan saya rasa novel ini jelas sekali tidak gamblang, sebab saya harus membolak-balik halaman untuk memahami cerita dan maksud dari setiap kalimat-kalimat yang ditulis oleh pengarangnya), melainkan mengundang imajinasi dari pembaca untuk lebih mencerna makna dari hakikat manusia. Saya menjadi semakin jatuh hati dan bersyukur telah membaca cerita ini pada dua bab terakhir; merupakan suatu ending yang begitu memukau pola pikir saya. Makna tersirat yang terkandung dalam cerita ini begitu diramu dengan baik oleh John Steinbeck. Tentunya saya tidak akan membocorkan ending cerita kepada pembaca yang budiman.

Akan tetapi percayalah kepada saya, apabila pembaca menyimak cerita Dataran Tortila dengan seksama dari awal hingga akhir, dan memahami setiap bab-bab di dalamnya, ending cerita novel sastra tersebut pasti akan sangat memuaskan, tidak muluk-muluk dan sederhana, namun disajikan dengan bahasa tulisan bergaya hiperbola, yang menurut pendapat saya adalah sebuah penerjemahan dari Sesuatu Yang Abadi yang ditantang oleh tokoh Danny. Ceritanya secara sekilas terlihat seperti cerita tak beretika dan tak bermoral, tetapi dibalik itu semua, John Steinbeck malah menyajikan suatu kritik terhadap moral-moral manusia dan hakikat hidup manusia itu sendiri.

John Steinbeck adalah seorang novelis sastra Amerika, yang lahir di  Salinas, California, tanggal 27 Februari 1902. Sastrawan keturunan Jerman dan Irlandia ini meraih Penghargaan Nobel Sastra pada tahun 1962 karena jiwa realistisnya yang sebaik daya imaginatifnya dalam menulis, yang sangat terkenal dengan gaya penulisan humor simpatik dan persepsinya yang tajam terhadap kehidupan sosial masyarakat.

Setelah menamatkan pendidikan di Sekolah Menengah Salinas pada tahun 1919, Steinbeck belajar di Stanford University. Jurusannya adalah Bahasa Inggris, tetapi juga mengikuti program studi independen dengan kehadiran (absen) yang sporadis. Dia menghabiskan waktunya dengan berbagai pekerjaan dan akhrinya keluar dari Stanford pada tahun 1925 untuk  mengejar karirnya sebagai penulis di New York. Akan tetapi, dia gagal meraih sukses dalam menerbitkan karya-karya tulisannya dan akhirnya dia kembali ke California. Karya pertamanya, Cup of Gold yang diterbitkan tahun 1929 memiliki sedikit peminat, begitu juga dengan kedua novel berikutnya, The Pastures of Heaven dan To a God Unknown, yang sayangnya tidak begitu diterima dengan baik dalam dunia kesusateraan.

Steinbeck menikah dengan isteri pertamanya, Carol Henning tahun 1930, dan tinggal di Pacivic Grove, di mana dia mendapat inspirasi untuk membuat karya tuilsan Tortila Flat (Dataran Tortila) dan Cannery Row. Dataran Tortila (1935) menaikkan karir Steinbeck sebagai penulis. Dengan karyanya ini, dia mendapat penghargaan California Commonwealth Club’s Gold Medal untuk novel terbaik yang dikarang oleh orang California. Dia melanjutkan menulis, dengan mengandalkan penelitian yang ekstensif dan pengamatan pribadi terhadap kehidupan manusa untuk ceritanya. Karya selanjutnya, The Grapes of Wrath (1939) memenangkan penghargaan The Pulitzer Prize .[1]


[1] Biografi tentang John Steinbeck diakses dari http://www.steinbeck.org/Bio.html

Author: Manshur Zikri

Penulis

34 thoughts on “Dataran Tortila”

  1. Gue baca yang Inggris ngga paham. Gue mau baca lagi paling 3x baru paham. Moga aja. Gue pribadi cinta banget sama yang Of Mice & Men kalo karya nya Steinbeck.

    Like

  2. Nice post & good news bro…!

    Cerahkan hati dengan pancaran sinar Illahi
    Tebarkan kedamaian dengan cinta kasih dan kelembutan.
    Tetaplah berkarya mengisi kreatifistas dengan pancaran cahaya Illahi
    Karyamu tetap dinanti…….

    Like

  3. ahaha tortilla tu kaya nama makanan deh kak :p
    aduh bkunya berat ya ? ntar ga ngerti lagi.
    tapi pengen bacaaaa😦 ntar ak ke perpustakaan yang gede itu ah hehe
    thanks infonya kak..

    Like

    1. buku lama, Sultan! Dan juga udah lama diterjemahkan ke dalam bahasa indonesia. Cb aj cari di gramedia, pasti ada kok. Tau di perpustakaan nasional/daerah, psti ada buku dataran tortila.🙂

      Like

  4. Membaca Tortilla Flat karya John Steinbeck bisa bikin perut sakit karena ketawa. komedi satir yang dia sajikan bisa dicerna oleh rasa humor kita orang Indonesia yang memang bermental pemalas dan santai.

    Zikrie, coba juga baca Mochtar Lubis deh…salah satu-satunya ‘Harimau Harimau’… atau ‘Kuli Kontrak’. Kamu akan lihat nafas yang sama dalam karya mereka (Lubis dan Steinbeck, nafas sosialis).

    Like

      1. berarti seleramu Mr. John Steinbeck…
        baiklah… smoga bukunya ada di Pekanbaru, ntar kakak baca
        dan akan berusaha memahami karaktermu dari buku tersebut

        Like

        1. Bukan selera saya Mr. John Steinbeck, tetapi Dataran Tortila bisa menjadi salah satu bahan referensi sebuah karya yang baik. Begitu, Kakak.
          Kita tidak bisa hanya membaca satu karya dari satu pengarang saja, harus banyak membaca.

          Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s