APLIKASI SENI DALAM KEHIDUPAN

Seni sangat erat kaitannya dengan manusia. Seni dianggap sebagai produk atau proses dari manusia itu sendiri. Art is as old as mankind, umur seni sama tuanya dengan peradaban manusia. Seni dikatakan sebagai manifestasi dari kehidupan manusia yang diolah dalam kepala (ide) dan diungkapkan dalam bentuk suatu karya. Seni, sama halnya dengan manusia, selalu mencari dan meningkatkan kekuatan yang ada di luar dirinya yang bersifat magis, sakral dan religius. Peranan seni telah merasuki seluruh segi kehidupan dan aktivitas manusia.[1] Seni adalah bagian dari budaya yang diciptakan oleh masyarakat. Koentjaraningrat, dalam bukunya Pengatar Ilmu Antropologi, mengatakan bahwa suatu kebudayaan memiliki tujuh unsur penting, yaitu bahasa, sistem pengetahuan, organisasi sosial, sistem peralatan hidup dan teknologi, sistem mata pencaharian, sistem religi, dan kesenian. Dalam hal ini, seni yang mempengaruhi kehidupan manusia, dapat tercermin dari bentuk-bentuk atau benda-benda yang merupakan hasil dari karya seni, misalnya candi, patung, ukiran dan bahkan kaligrafi.

Agus Purwontoro, dalam tulisannya “Peranan Seni dalam Kehidupa Manusia” memaparkan tentang seni sebagai kebutuhan hidup manusia, yang diistilahkan sebagai applied art atau seni terapan. Seni ini diterapkan pada sesuatu maksud atau benda, menurut kegunaannya tanpa melepaskan segi keindahannya. Contohnya adalah guci yang dibuat oleh Tiongkok Kuno, yang sisi permukaannya dihiasi dengan ukiran yang begitu indah, tetapi fungsi dan nilai guna dari guci itu tidak hilang sama sekali. Manusia ingin melepaskan dan mencurahkan keinginan keindahan ke seluruh hidupnya.[2]

Seni merujuk kepada keindahan (estetika). Menurut The Liang Gie, dalam bukunya “Garis Besar Estetik” (Filsafat Keindahan), kata ‘indah’ sendiri merupakan kata yang memiliki makna yang sepadan dalam Bahasa Inggris ‘beauty’, dalam Bahasa Perancis ‘beau’ dan dalam Bahasa Spanyol ‘bello’. Kata-kata ini berasal dari Bahasa Latin ‘bellum’ yang akar katanya adalah ‘bonum’, memiliki arti ‘kebaikan’ dalam Bahasa Indonesia.[3] Kata ini merujuk dalam term Islam, yaitu ‘ma’ruf yang memiliki arti kebaikan atau segala nilai-nilai yang dikenal baik dan dapat diterima oleh akal maupun masyarakat. Dari penjelasan kata ini, seni dianggap sebagai suatu hal yang erat pula kaitannya dengan kebaikan, yang merupakan tujuan hidup manusia.

Seni sebagai suatu hal yang tidak dapat dilepaskan dari kehidupan manusia akan selalu berkembang di berbagai aspek yang melingkupinya.[4] Kebudayaan yang terbentuk dalam masyarakat akan terus bergerak secara dinamis dan mengikuti perkembangan jaman. Begitu juga dengan pola pikir dan selera setiap manusia yang terus berubah dari jaman ke jaman, dan hal ini pun diikuti oleh perkembangan seni itu sendiri.

Pengertian seni menurut Plato dan Aristoteles adalah suatu kegiatan meniru atau tiruan dari dunia, alam, benda dan manusia. Pengertian ini dikenal dengan nama konsep ‘Mimesis’. Bagi mereka, mimesis bersifat positif, karena di dalamnya terdapat suatu gagasan atau ide. Mimesis bukanlah bersifat meniru mentah-mentah apa yang sudah ada, melainkan penciptaan hal baru dalm menginterpretasi apa yang ada di sekeliling kita. Dalam hal ini mimesis memiliki makna representatif. Plato dalam memandang mimesis sangat dipengaruhi oleh pemaknaannya tentang ide. Bagi Plato, ide alam alam pikiran manusia adalah suatu hal yang sempurna dan tidak berubah (ideal). Karena pandangan ini, Plato menganggap rendah para seniman dan sastrawan yang bisanya hanya men-copy kehidupan atau ide itu sendiri. Mimesis yang dilakukan oleh para seniman dan sastrawan, menurut Plato, hanyalah sebuah khayalan yang jauh dari ‘kebenaran’ karena mereka terlalu mementingkan nafsu dan emosi saja. Pengertian ini bertentangan dengan Aristoteles yang lebih memaknai seni (mimesis) itu sebagai sesuatu yang bisa meninggikan akal budi. Teew (1984: 221) mengatakan bila Aristoteles memandang seni sebai katharsis, penyucian terhadap jiwa. Karya seni oleh Aristoteles dianggap menimbulkan kekhawatiran dan rasa khas kasihan yang dapat membebaskan dari nafsu rendah penikmatnya.[5]

Dalam perkembangannya, mimesis pada masa renaissance, konsep mimesis itu tidak lagi diartikan suatu pencerminan tentang kenyataan indrawi, tetapi merupakan pencerminan langsung terhadap Idea. Dari pandangan ini dapat diasumsikan bahwa susunan kata dalam teks sastra tidak meng-copy secara dangkal dari kenyataan indrawi yang diterima penyair, tetapi mencerminkan kenyataan hakiki yang lebih luhur. Melalui pencerminan tersebut kenyataan indrawi dapat disentuh  dengan dimensi lain yang lebih luhur. Konsep mimesis oleh aliran renaissance ini kemudian tergeser oleh pemikiran aliran romantic (Luxemberg, 1989:18). Menurut pemikiran ini, konsep mimesis adalah seni tidak hanya menciptakan kembali kenyataan indrawi, tetapi juga menciptakan bagan (madul) mengenai kenyataan. Kaum ‘romantic’ lebih memperhatikan sesuati dibalik mimesis, misalnya persoalan plot dalam drama. Plot atau alur drama bukan suatu urutan peristiwa saja, melainkan juga dipandang sebagai kesatuan organic dan karena itulah drama memaparkan suatu pengertian mengenai perbuatan-perbuatan manusia.[6]

Menurut penjelasan di atas, dapat dikatakan bahwa seni adalah suatu bentuk dari pencerminan kehidupan manusia. Aplikasi seni dalam kehidupan dapat diwujudkan dalam berbagai hal, yang kemudian memberikan bahan pengajaran dan pemaknaan akan arti hidup itu sendiri.

Contoh nyata dari aplikasi seni itu dalam kehidupan adalah filem. Dalam filem, bahasa visual, kehidupan dan segala peristiwa yang ada di lingkugan masyarakat dan segala ruang lingkup manusia dapat dikemas dalam sebuah gambar bergerak. Persoalan dan plot drama dalam masyarakat itu disajikan dalam suatu bentuk karya yang kemudian dapat dibongkar mengenai makna dari perbuatan-perbuatan dan ide-ide manusia itu sendiri. Salah satu contoh aplikasi seni dalam filem, yang erat kaitannya dengan permasalahan kehidpan manusia dan masyarakat dapat kita lihat dalam filem yang berjudul BARAN, karya Majid Majidi. Dalam filem itu dipaparkan masalah tentang kehidupan remaja di Iran tentang cinta muda-mudi, antara Latif dan Baran yang bertemu saat mereka bekerja sebagai kuli bangunan. Majid Majidi menyampaikan kritik sosial yang menjadi masalah utama dalam sistem budaya di Iran tersebut.

Dari contoh di atas, dapat dibentuk suatu pemikiran yang disajikan dalam tiga konsep, yaitu:

  1. Seni sebagai dasar pengalaman, yaitu penanaman nilai-nilai yang bersifat universal, dan kekal, sehingga akan terus menjadi salah satu sumber dalam pencarian kebenaran sepanjang hayat.
  2. Seni sebagai sebuah lahan penciptaan, yaitu sebagai tempat menggali potensi dan eksplorasi kemampuan-kemampuan yang didapat dari pengalaman-pengalaman lain sehingga seni itu sendiri dapat menjadi kaya akan nilai dan menjadi lebih dinamis.
  3. Seni sebagai media aktualisasi diri, yaitu tempat bagi setiap peserta didik bereksistensi, selanjutnya dapat memandang dirinya dengan refleksi dari hasil-hasil yang telah dicapainya.[7]

[1] Agus Purwantoro, “Peranan Seni Dalam Kehidupan Manusia”, SMK N 4 Padang, September 2005. Diakses dari http://www.smk4-padang.sch.id/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&cid=6&artid=46 pada tanggal 3 Mei 2010, pukul 10:08 PM.

[2] Ibid.

[3] Dikutip dari tulisan yang diakses dari http://slametadi.ngeblogs.com/author/slametadi/, tanggal 3 Mei 2010, pukul 10:37 PM.

[4] Dikutip dari tulisan yang diakses dari http://riskafa.student.umm.ac.id/2010/01/29/seni-dalam-kehidupan/, tanggal 3 Mei 2010, pukul 10:46 PM.

[5] Pekik Nursasongko, “Pandangan Plato Dan Aristoteles Mengenai Mimesis”,

[6] Ibid.

[7] Perumusan konsep seni ini dikutip dari tulisan yang diakses dari http://riskafa.student.umm.ac.id/2010/01/29/seni-dalam-kehidupan/, tanggal 3 Mei 2010, pukul 11:31 PM

Advertisements

Author: Manshur Zikri

Penulis

1 thought on “APLIKASI SENI DALAM KEHIDUPAN”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s