Perjuangan Dua Kodrat para ‘semut Batam’

Pada Hari Bumi, 22 April 2010, ‘semut-semut buruh’ di perusahaan galangan kapal PT Drydocks World Graha di Tanjung Uncang, Batam melakukan aksi massa yang didasarkan rasa solidaritas. Barisan ‘semut buruh’ itu mengubah pabrik menjadi tempat panggang mobil, berbagai peralatan galangan kapal pun dijadikan senjata untuk merusak berbagai aset yang ada di pabrik.

Pemicu aksi massa itu hanyalah sebuah kalimat yang kurang berkenan dari seorang ekspatriat PT Drydock berkebangsaan India, yang dianggap menghina pekerja. Mulut mu harimau mu!. Salah satu ‘semut’ yang merasa tersinggung kemudian melancarkan gigitannya yang seketika membuat si orang India tak berkutik. Akan tetapi aksi tersebut tidak berhenti begitu saja, malahan barisan semut yang lebih besar bergerak untuk melakukan kericuhan yang lebih brutal.

Peristiwa yang terjadi di Tanjung Uncang tersebut seolah-olah menjadi babak lanjutan dari berbagai aksi para proletarian yang bekerja di Batam. Dua tahun lalu, 11 Desember 2008, aksi demo yang berakhir ricuh dilakukan oleh para pekerja di Kantor Walikota Batam untuk menyampaikan tuntutan mereka agar upah minimum kabupaten/kota (UMK) tahun 2009 sama dengan kebutuhan hidup layak (KHL). Aksi ini terulang kembali, meskipun nyaris ricuh, pada Hari Senin, 30 Nopember 2009 oleh Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI) Batam.

Mereka yang melakukan aksi itu adalah semut-semut proletarian. Proletarian adalah istilah yang digunakan untuk mengidentifikasikan kelas sosial bawah atau rendah. Oleh Karl Marx istilah ini kemudian dijadikan sebagai istilah yang merujuk kepada kelas pekerja atau buruh.

Perjuangan Dua Kodrat

Tan Malaka dalam tulisannya berjudul “Dari Penjara ke Penjara”, jilid 1, mencoba memaparkan pemahamannya tentang Human Rights (Hak Asasi Manusia). Dia menjelaskan bahwa dalam hidup ini terdapat dua kodrat terbesar yang menggerakkan jiwa manusia. Yang pertama adalah kehendak mau hidup (positif), dan yang kedua adalah kehendak jangan mati (negatif). Hasrat manusia pada umumnya mencoba menggapai kodrat yang pertama (hidup), dan menolak kodrat yang kedua (mati).

Dalam perwujudannya, kodrat yang pertama itu tercermin dari tingkah laku manusia yang terus berusaha mencari kebutuhan hidup, seperti sandang, pangan dan papan. Sedangkan yang kedua tercermin dari usaha manusia untuk menolak bala, penyakit dan kelaparan.

Tan Malaka menekankan bahwa perjuangan hak bagi rakyat adalah hak untuk bekerja dan mendapatkan perlakuan yang layak.

Dalam buku jilid 2, Tan Malaka mengisahkan dirinya yang bekerja di sebuah perusahaan romusha Bajah Kozan. Di sana berjuang mati-matian untuk menuntut hak para romusha. Dia menuntut agar upah untuk buruh dinaikkan, kesehatan para pekerja dijamin oleh perusahaan, serta mendapat perlaukan yang baik dari pihak perusahaan. Tan Malaka yakin apabila tiga tuntutan itu dilaksanakan dengan seadil-adilnya, kinerja dan produktivitas buruh serta loyalitasnya kepada perusahaan akan menjadi baik.

Tingkah Para Semut

Tidak akan terjadi suatu persitiwa tanpa ada sebab musababnya. Begitu juga dengan aksi ‘semut-semut’ yang mengamuk di Tanjung Uncang. Seperti yang diutarakan oleh Tan Malaka, para buruh akan memberikan hasil pekerjaan dan loyalitas yang baik apabila mereka juga mendapatkan perlakuan yang baik serta hak yang seharusnya mereka dapat.

Peristiwa aksi massa yang terjadi pada hari Kamis lalu merupakan titik puncak dari kekesalan para pekerja yang merasa tertindas akibat ketidakadilan yang mereka alami di perusahaan.

Tuntutan para buruh pada aks dua tahun lalu adalah upah yang sesuai dengan KHL. Hal serupa juga dilakukan oleh buruh PT Drydocks. Upah sebulan yang diterima oleh buruh pekerja sebesar Rp 1,1 juta dianggap belum memenuhi syarat kebutuhan hidup layak, apalagi biaya hidup di Batam sangat mahal (KOMPAS, 23 April 2010).

Permsalahan mengenai kesejahteraan dan ketidakadilan ini bisa menjadi alasan utama terjadinya aksi anarkis oleh para buruh pekerja di Indonesia. Dalam kasus yang terjadi di Batam, kalimat kasar yang dilontarkan oleh ekspatriat seolah-olah menjadi momentum baik untuk meluapkan kekesalan mereka kepada para penghisap dan penindas kaum buruh. Kekuatan semut proletar pun bangkit.

Pemahaman Dua Kodrat

Bagi pihak perusahaan, seharusnya hal ini menjadi tolok ukur untuk mengevaluasi diri. Apakah hak para buruh dapat terpenuhi dengan baik? Adalah kewajiban perusahaan untuk menjamin keberlangsungan hidup para pekerjanya dengan memberikan upah yang layak dan manusiawi. Penindasan buruh dengan upah yang begitu minim merupakan suatu tindakan melanggar Hak Asasi Manusia, dan membiarkan hal ini akan menyebabkan bertambah ruwetnya masalah yang akan dihadapi.

Selain itu, ada baiknya juga kepada para ‘semut-semut Batam’ yang melakukan aksi menuntut hak mereka, untuk memahami makna dari dua kodrat yang dijelaskan oleh Tan Malaka. Pemahaman dua kodrat memang harus diraih dengan segala daya dan upaya, tetapi bukan dengan cara yang brutal dan anarkis. Dalam memperjuangkan hak, Tan Malaka dengan dua kodratnya lebih menekankan kepada bagaimana kita bisa meraihnya dengan intelektualitas dan kebesaran jiwa. Apabila makna dua kodrat ini dapat dipahami oleh para ‘semut-semut Batam’, mungkin kerusuhan yang terjadi di Tanjung Uncang itu tidak akan terjadi.

Hal ini juga seharusnya menjadi perhatian khusus bagi Pemerintah Kota Batam, Badan Pengusahaan Kawasan (BPK) Batam dan pihak keamanan. Selain itu, kita semua berharap agar Pemerintah dapat memberikan jaminan yang bukan hanya janji kepada para pekerja mengenai jaiman hidup mereka, karena peran pemerintah sangat dibutuhkan untuk menjadi tenaga kontrol bagi perusahaan-perusahaan yang melakukan penindasan dan penghisapan kepada para pekerja.

MANSHUR ZIKRI

Author: Manshur Zikri

Penulis

3 thoughts on “Perjuangan Dua Kodrat para ‘semut Batam’”

  1. Ketika aq membaca si Indian bilang ” u all indonesian stupid ” duhhhh hati ini rasanya juga ikutan emosi..
    Padahal di India sendiri kondisinya sebelas dua belas juga😦

    Namun hikmahnya terbongkar sudah keburukan2 yang ada pada system perburuhan di Batam…Semoga yang jelek bisa terbongkar..

    salam kenal

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s