Saya mencoba menganalisa kasus sendiri

Gang Nero

Sekitar satu setengah tahun yang lalu, media massa digemparkan oleh aksi para remaja putri yang melakukan tindakan di luar norma berupa kekerasan yang mereka lakukan terhadap teman mereka. Kelompok remaja putri menamakan diri mereka Gang Nero, yang memiliki prinsip ’Neko-neko, keroyok!’ (Siapa yang cari masalah, langusung diserang!). Gang Nero adalah gang yang dibentuk oleh sekumpulan remaja putri Pati-Juana, Jawa Tengah, yang notabennya merupakan remaja putri seumuran remaja SMP atau SMA. Perbuatan yang dilakukan oleh Gang Nero ini menjadi cerminan tentang sikap protes yang dilakukan oleh kaum hawa. Perilaku mereka dianggap sebagai perwujudan rasa frustasi yang tidak tertahankan sehingga dilampiaskan dengan perilaku kekerasan tersebut.

”Disebut bentuk frustasi anak, karena para anggota geng tersebut ternyata masih termasuk usia sekolah alias masih duduk di bangku kelas satu SMA,”  ujar Sekjen Komnas Perlindungan Anak, Aris Merdeka Sirait (Okerzone, ”Geng Nero Dianggap Wujud Frustasi Anak”, edisi Selasa, 17 Juni 2008).

Pembahasan mengenai Gang Nero dalam makalah ini didasarkan pada beberapa teori tentang kenakalan anak perempuan (female delinquency). Teori tersebut kemudian menjadi haluan bagi penyusun untuk melihat kasus Gang Nero, dengan mengkaitkan teori dengan fakta kasus yang ada. Teori-teori tersebut antara lain adalah tentang social role theory (peran sosial), liberation theory (pembebasan), dan power control theory (daya kontrol).

Berdasarkan teori yang digagas oleh W. I. Thomas, seorang ahli sosilogi yang mempelajari tentang kenakalan anak perempuan, yang mengatakan bahwa kenakalan yang terjadi pada anak perempuan biasa terjadi karena adanya pengaruh peran sosial di lingkungan masyarakan tempat anak perempuan itu tinggal (social theory). Menurut Thomas, yang studinya lebih fokus pada kasus prostitusi, mengatakan bahwa pemicu terjadinya masalah pada anak perempuan adalah disebabkan oleh adanya gangguan yang terjadi di dalam rumah anak tersebut. Hal ini dapat berupa intimidasi dari bapaknya sendiri atau teman laki-laki ibunya, yang dapat berupa perlakuan kasar atau pelecehan seksual. Hal ini mendorong si anak perempuan untuk kabur dari rumah untu menghindari perlakuan tersebut sehingga menyebabkan anak-anak perempuan hidup di jalanan dan terjerumus dalam kegiatan kriminal, seperti prostitusi, gang, dan pencurian (Thomas 1923).

Teori lain yang menjadi dasar bagi panyusun untuk menyusun makalah tentang Gang Nero ini adalah teori yang digagas oleh seorang Kriminolog bernama Freda Adler (1975) dalam bukunya, Sisters in Crime: The Rise of hte Nw Female Criminal, yang menyimpulkan bahwa pelaku kejahatan oleh wanita (termasuk pelaku kenakalan oleh anak perempuan) mengaku bahwa mereka percaya bahwa diri mereka dapat melakukan sesuatu yang sering dilakukan oleh laki-laki dan terlihat bahwa mereka sangat menikmati kegembiraan melakukan tindak kejahatan. Adler juga mengatakan bahwa angka kejahatan oleh wanita dan kenakalan oleh anak perempuan akan terus menigkat dan suatu sat akan mencapai tingkat kesetaraan denga angka kejahatan oleh laki-laki atau kenakalan oleh anak laki-laki. Adler menjelaskan bahwa meningkatnya perilaku kejahatan dan kenakalan oleh perempuan ini disebabkan oleh adanya pergeseran pola pikir dalam kepala para wanita yang ingin eksis (women’s movement). Adler memaparkan sebuah hipotesis bahwa perilaku kejahatan ini didorong oleh adanya perilaku yang agresif dari kaum hawa karena mereka berkeinginan (berharap) untuk belajar bersaing dengan keagresifan kaum adam untuk menandingin dunia laki-laki (Adler, 1975). Hal ini pun menjadi alasan kenapa pada pemahaman gang Nero, kekerasan atau bullying yang mereka lakukan dianggap sebagai suatu hal yang wajar karena para laki-laki pun sudah biasa melakukannya.

Teori yang ketiga adalah power control theory, oleh Hagan (1985), yang menjelaskan bahwa perilaku kejahatan dan kenakalan oleh perempuan bisa saja terjadi karena pengaruh dari kontrol orang tua terhadap anaknya. Hagan menggagas pemikiran bahwa karena perempuan mulai memasuki dunia kerja (dunia karir), peran mereka di dalam rumah menjadi berubah, dan pastinya sangat berengaruh kepada perhatian mereka terhadap anak-anak. Hagan memaparkan bahwa jenis interaksi keluarga itu terdiri dari tiga bentuk, yaitu patriarkal, matriarkal, dan egalitarian. Dalam keluarga yang patriarkal, serorang ayah memiliki pekerjaan dan penghasilan yang lebih besar sehingga dia memiliki pengaruh yang kuta dalam keluarrga. Dalam keluarga ini biasanya perhatian dan pengawasan terhadap anak perempuan lebih besar daripada laki-laki. Anak perempuan mendapat pengawasan yang penting dari ibu yang berprofesi sebagau ibu rumah tangga. Sementara itu, anak laki-laki dididik untuk lebih mandiri, diharapkan akan mandiri (independent) seperti ayahnya, yang menjadi contoh dalam kesehariannya. Oleh karena itu, anak laki-laki dalam keluarga ini lebih cenderung melakukan kenakalan.

Dalam keluarga yang matriarkal, pekerjaan ibu serta penghasilannya lebih besar dari pada ayah sehingga secara tidak langsung si ibu memiliki otoritas dalam pengawasan. Dalam keluarga ini, pengawasan dan perhatian ibu kepada anak perempuan akan berkurang meskipun perhatiannya kepada anak laki-laki tidak bertambah (namun dalam beberapa kasus, perhatian terhadap anak laki-laki lebih besar daripada anak perempuan). Hal ini menyebabkan anak perempuan dalam keluarga ini cenderung untuk melakukan tindakan nakal.

Dalam keluarga yang egalitarian, kedua orang tua mempunyai profesi dan penghasilan yang seimbang sehingga keduanya memiliki perhatian yang kurang terhadap anak-anak. Dalam kondisi seperti ini, pengawasan terhadap anak perempuan juga kurang, sama hal nya dengan keluarga matriarkal, yang menyebabkan mereka cenderung melakaukan kenakalan.

Untuk melihat persoalan Gang Nero bisa penyusun  menggunakan pendekatan mikroskopik dan makroskopik. Secara mikroskopik Gang Nero hanya merupakan persolan anak anak muda (ABG) yang cenderung menyinpang dalam rangka proses mencari jadi diri karena mereka kurang mendapat pelajaran dan pembelajaran yang sempurna. Hal ini disebabkan kurangnya perhatian yang mereka dapatkan dari keluarga atau pemahaman yang keliru tentang apa tu menasipasi wanita. Sementara secara makroskopik, persolan prilaku menyimpang yang dilakukan para ABG merupakan akumulasi dari persoalan-persoalan berbangsa dan bernegara yang melibatkan segenap aspek kehidupan, misalnya masalah politik, pendidikan, hukum, media massa yang tayangannya bersifat anti sosial serta globalisasi yang kurang bisa diikuti oleh mereka. Perilaku mereka yang menyimpang, terutama sekali sangat dipengaruhi oleh media (terutama televisi) yang selalu menayangkan adegan kekerasan sehingga mempengaruhi pola pikir remaja ini untuk mengekspresikan apa yang ada di dalam pikiran dan hati mereka.

” Untuk menghadapi ketidakamanan dan memenuhi rasa keadilan (terutama mereka yang menjadi korban penindasan) inilah yang membuat seorang siswi nekat masuk ke dalam geng. Mereka menganggap bahwa menjadi anggota geng membuat suara kepedihannya dan rasa ketidakadilan yang telah sekian lama dipikulnya menjadi tersalurkan dan didengarkan semua orang. Padahal, langkah seperti ini sebetulnya tak hanya rapuh dan cacat dari segi edukatif dan sosiologis, tetapi juga menyimpang dari tatanan etika kemanusiaan dan moralitas sosial.” (KOMPAS.com, ”Geng Nero dan Kaum Sublatern”, edisi Kamis, 19 Juni 2008)

Berdasarkan pemaparan tiga teroi di atas, dapat dikatakan bahwa secara sosiologis, terdapat tiga kekuatan eksternal yang mempengaruhi kehidupan sosial, tak terkecuali kaum perempuan. Yang pertama adalah Pertama, lingkup keluarga (family power). Idealnya, sebagai orangtua mereka haruslah mampu memberi perhatian dan ruang empati bagi anak-anaknya. Ini penting mengingat anak-anak itu kerap kali rapuh dalam menghadapi masalah sosial dan psikologis yang melandanya. Yang kedua adalah lingkup masyarakat (society power). Karena adanya pemahaman tentang patriarki yang selama ini dianut oleh bangsa kita, menjadikan posisi perempuan selalu menjadi nomor dua. Perempuan adalah kaum “liyan”, the other yang belum mampu terlibat dalam memecahkan urusan kemasyarakatan. Laki-laki adalah pihak yang paling otentik menentukan arah kehidupan sosial, perempuan tinggal menerima hasilnya. Yang ketiga adalah lingkup negara (state power). Hal ini berhubungan dengan penguatan keamanan dan penegakan keadilan. Naumn sayang, pada kenyataannya negara belum mampu memberikan rasa keadilan yang diharapkan. Hukum di negara ini belum serta merta mewujudkan dua aspek vital (penguatan keamanan dan penegakan keadilan) yang dibtuhkan masyarakat secara total dan optimal.

Author: Manshur Zikri

Penulis

6 thoughts on “Saya mencoba menganalisa kasus sendiri”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s