Ngobrol tentang Seni dengan Paman Hafiz hingga larut malam.

Adik angkat saya, Arul, sedang mencoba bermain musik dengan alat musik gitar.

Dahulu saya percaya bahwa dalam berkarya seni, seorang seniman, musisi, sastrawan akan mendapatkan ilham/inspirasi/ide dari renungan, dari Tuhan, atau dari segala hal yang tidak terduga yang mana mempengaruhi jiwa dan perasaan si pembuat karya (seniman tersebut). Oleh karena itu seni itu membutuhkan bakat alami.

Akan tetapi kepercayaan itu saat ini telah berubah dan lebih maju. Meskipun bakat sangat menentukan dalam berkesenian, namun ilmu pengetahuan lah yang menjadi kunci utama. Yang merangsang seorang untuk berkarya adalah karena kapasitas otak yang dimiliki oleh seniman itu sendiri, yang mana segala pengetahuan yang ia dapat berasal dari kerja keras dan belajar tanpa lelah. Bisa dicontohkan seperti ini: Seorang ahli filmmaker sedang duduk di teras rumah sambil menikmati secangkir kopi dan merenung menikmati kicauan burung dan segarnya udara yang asri. Secara tiba-tiba dia mendapat “inspirasi” kemudian berkata dalam hati, “Wah, kalau misalnya saya mengambil gambarnya seperti ini, kira-kira keren juga, ya!? Dan kalau misalnya saya menambahkan sedikit eksperimen di bagian sini, jadi lebih bagus juga. Dan saya beri latar seperti ini, menggambarkan sejarah ini, wah, pasti sudut ini menjadi sudut yang sangat bagus!” Dan setelah mendapat “inspirasi” tersebut, terciptalah suatu karya yang benar-benar bagus.

Kebanyakan orang menganggap bahwa si ahli filmmaker mendapat ilham dan ide yang cemerlang karena suasana pagi. Ya, bisa juga dibilang demikian. Akan tetapi bukankah ide itu dapat muncul dari kepalanya disebabkan oleh pengetahuannya tentang film itu sendiri? Bukankah sebelumnya dia telah banyak belajar tentang makna dan bahasa konsep film itu, dan benar-benar memahami bagaimana film yang baik dan berkualitas, serta memahami bagaimana pengambilan teknis yang baik dari suatu adegan, dan sebagainya. Karena pengetahuannya tersebut, dan karena pengalaman membuat film, dan karena faktor “sesuatu” yang tidak sengaja terlihat olehnya di pagi hari tersebut, seolah-olah mendapat ilham dari Tuhan atau alam gaib, dia mendapat “inspirasi” untuk berkarya. Padahal di balik itu semua kita tidak tahu bahwa si ahli pembuat film adalah seorang intelektual sejati.

Dan karena itu, dikatakan bahwa dalam berkesenian dibutuhkan ilmu pengetahuan dan pengalaman. Ilmu pengetahuan adalah kunci dalam seni.

Video di atas direkam saat awal-awal tahun kelas tiga saya di bangku Sekolah Menengah Atas. Yang bermain gitar dalam video tersebut adalah saya sendiri dan adik saya, Ade Surya Tawalapi. Lagu tersebut memang sengaja tidak ada liriknya, dan pada dasarnya hanyalah kegiatan iseng yang saya lakukan (karena saya ingin membuat sebuah lagu yang “enak” didengar). Saya membayangkan lagu itu menjadi back-sound nya sebuah video tentang orang yang sedang berlibur ke pantai dan menikmati sang mentari senja. Hahahah!

Pada awalnya, saya dengan PD (percaya diri) memamerkan lagu tersebut ke teman-teman saya, bahwa waya mendapat inspirasi dari seorang cewek yang saya kagumi, dan lagu itu saya persembahkan untuknya. Dan ajaibnya, mereka semua percaya sehingga saya dijuluki sang maestro gitar karena perilaku romantisme saya tentang memahami bagaimana cara membuat lagu.

Sekarang, setelah saya lihat lagi berulang-ulang, saya tinjau lagi video itu, saya mainkan lagi lagunya beberapa hari yang lalu, saya sadar bahwa lagu itu sebenarnya saya buat bukan untuk siapa-siapa, melainkan hanya karena dorongan dalam diri saya yang ingin mempraktekan tentang teknik bermain melodi (atau lick) gitar yang saya dapatkan dari sebuah majalah gitar. Akan tetapi saya lupa nama tekniknya apa, dan apabila saya dipaksa untuk mengingatnya, adalah merupakan tindakan yang sia-sia. Lagipula saya sekarang ini sudah jarang memegang gitar dan bermain sebaik dan seterampil waktu saya SMA dulu.

Nah, jelas ternyata di sini bahwa dalam berkesenian itu kembali lagi kepada ilmu pengetahuan. Contohnya video di atas. Lagu itu saya buat bukan karena besarnya rasa kagum atau cinta (cinta monyet) saya kepada seorang cewek (kalau boleh saya mengkaji dengan seksama), melainkan karena pengetahuan yang saya dapat dari sebuah majalah, yaitu bagaimana memainkan sebuah pola melodi pada alat musik gitar. Kemudian karena pengalaman saya yang sering mendengar lagu-lagu serupa (gaya lagunya), sering bermain gitar, dan juga sering berbagi ilmu dengan teman-teman, hasilnya adalah tercipta lah lagu tersebut. Lagi-lagi kembali kepada ilmu pengetahuan.

Ini tampang saya waktu masih SMA dulu, masih berambut pendek.

Terkait dengan tulisan ini, timbul pertanyaan: mengapa tiba-tiba saya malah mempermasalahkan video lama saya?

Jawabannya simpel, yaitu karena (lagi-lagi) hasil pembicaraan saya yang panjang lebar (hingga larut malam) dengan paman saya. Dan temanya adalah tentang seniman dan perilaku berkesenian itu sendiri. (Kalau saya boleh jujur, sebenarnya mempermasalahkan video ini, yang katanya dibuatn karena perasaan kagum terhadap wanita adalah keliru dan yang benar adalah karena pengetahuan yang saya dapat dari sebuah majalah adalah “The dramatization of evil”. Maksudnya, saya sendiri memaksakan argumen hanya untuk sekadar memaparkan hasil diskusi saya dengan paman saya. Hahahaha!)

Seperti yang saya jelaskan di atas, paman saya berkata bahwa menjadi seniman bukan berarti menjadi orang yang suka menyendiri, eksentrik, dan hidup gelandangan (seperti yang dilakukan oleh banyak seniman muda Indonesia zaman sekarang yang sering kita lihat di televisi). Itu lah mereka, yang oleh paman saya dikatakan sebagai pihak yang keliru, yang mana mendapatkan pemahaman yang keliru (salah kaprah) terhadap kehidupan seniman-seniman besar.

Paman saya kemudian mengambil beberapa contoh. Yang pertama adalah sastrawan. Banyak sastrawan muda (atau kaula muda yang bakal jadi sastrawan, terutama yang saya lihat di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Indonesia) sekarang ini yang penampilannya seperti gelandangan, tidak mandi, dan slenge’an. Mereka membuat puisi, mengkritik, terus menyendiri, tidak bergaul, rambut gondrong, dan sebagainya. Rata-rata mereka mencontoh hal tersebut dari Chairil Anwar. (Lalu saya mengutarakan bahwa dalam buku yang saya baca dikatakan bahwa Chairil Anwar adalah sastrawan yang kehidupannya layak dianggap sebagai seniman sejati, karena pola kehidupannya yang menggelandang di jalanan, pikiran yang kritis radikal, tidak bersosialisasi kepada masyarakat, dan sebagainya. Juga saya mengutarakan bahwa dalam pengantar buku Gitanjali yang sedang saya baca, dikatakan bahwa dua penyakit bawaan bagi sastrawan besar adalah sifat murung dan kehidupan yang penuh derita.) Sikap hidup yang demikianlah yang diadopsi oleh para sastrawan sekarang. Padahal mereka tidak tahu bahwa sesunguhnya di balik itu semua, sastrawan dan penyair besar itu adalah makhluk sosial yang sungguh-sungguh sosial. Seperi Chairil Anwar, dia berteman langsung dengan Soekarno dan Syahrir. Kemana-mana dia selalu membaca buku. Dia sudah banyak menterjemahkan bahan bacaam asing. Ini membutkikan bahwa dia adalah seorang yang bersosialisasi dan berpengetahuan. Begitu juga dengan penyair besar seperti Tagore dan Rumi, yang mana mereka selalu bersosialisasi dengan masyarakat, bahkan bisa dibilang sebagai pengamat kehidupan masyarakat sejati. Mereka memiliki kapasitas otak dan kelebihan cara berpikir, berpengetahuan luas karena banyak belajar dan membaca, serta memiliki kemampuan untuk menyampaikan pola pikir serta menggambarkan tentang kehidupan ini (masyarakat, manusia, makna Tuhan, tentang alam, sejarah, dan sebagainya) dengan bahasa yang berbeda dari bahasa yang umum pada masa mereka hidup itu (dan kemampuan ini pun disebakan oleh pengetahuan dalam kepala mereka). Mereka ingin berbeda dengan orang lain (menonjol dan eksentrik) bukan untuk menarik perhatian, melainkan karena kemampuan otak mereka lah (yang disebabkan oleh banyak baca buku dan belajar tadi) yang menyebabkan mereka berbeda dan terkesan mengasingkan diri, padahal dalam kenyataannya mereka bersosialisasi dengan masyarakat.

Ini adalah tampang saya sekarang: rambut panjang dan kumisan.

Contoh yang kedua adalah pelukis Van Gogh. Semasa hidupnya, dia menjadi gelandangan (pelukis jalanan) di jalan raya. Dia hidup tunggang langgang dan tidak memiliki pekerjaan tetap. Gaya hidupnya yang seperti ini pada zaman sekarang juga banyak ditiru oleh para seniman, yaitu dengan meromantisme kehidupan para seniman besar dunia dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari (mungkin supaya kelihatan seperti seniman handal, kali, ya!?). Akan tetapi tahukah bahwa di balik itu semua, lagi-lagi kembali kepada ilmu pengetahuan, bahwa kemampuan Van Gogh dalam melukis tersebut disebabkan oleh pengetahuannya. Dia suka membaca, dia membaca dimana-mana dan pada kesempatan yang ada. Kemudian dari bahan bacaan dan dari pengetahuannya itu, dia membubuhkannya di kanvas (media lukis). Namun lukisannya tidak laku (tidak ada yang tertarik dengan lukisannya), bahkan si Theo Van Gogh (saudaranya si pelukis. Nama asli dari Van Gog adalah Vincent van Gogh) yang berprofesi sebagai pedagang barang seni tidak bisa menjualkan karya-karya saudara kandungnya. Walaupun begitu, Van Gogh tetap yakin dan percaya dengan karya-karyanya sehingga dia tetap melukis. Oleh karena lukisannya tidak ada yang laku, kemiskinan melanda hidup Van Gogh. Dia mengalami krisis keuangan sehingga terpaksa hidup menjadi gelandangan. Selama menjadi gelandangan ini dia tetap melukis (sebagian uang dia dapatkan dari bantuan Theo yang selalu mengirimkannya). Pada suatu kali Van Gogh menjadi gila disebabkan depresi, bukan karena hidupnya yang gelandangan, melainkan karena rasa kekecewaannya kepada society yang tidak bisa menerimanya (konon katanya dalam rumah sakit jiwa dia sempat memotong telinganya sendiri).  Akhirnya Van Gogh mati bunuh diri.

Di sini jelas bahwa lagi-lagi hidup bekesenian tersebut adalah ilmu pengetahuan yang manjadi kunci. Bukan pola dan gaya hidup.  Kalau bisa kita tanya, kata paman saya, bahwa sebenarnya Van Gogh tidak ingin hidup menjadi gelandangan. Seandainya dia bisa memilih, dia ingin menjadi orang kaya dan hidup sejahtera serta menjalankan aktivitas dengan normal. Akan tetapi karena kekuatan idealismenya (yang percaya dengan pengetahuan yang dia miliki dan gaya penyampaian lukisan yang dia miliki juga), dia tetap melukis dan terus melukis sehingga dia menjadi miskin. Karya Van Gogh tidak pernah laku sama sekali sampai akhrinya dia mati bunuh diri. Setelah dia mati, barulah diakui bahwa karya Van Gogh adalah lukisan yang bernilai dan berkualitas.

Salah satu lukisan Van Gogh: Istimewanya Lukisan van Gogh berjudul "The Starry Night" yang disimpan di Museum of Modern Art, New York saat ini mengandung gambar pusaran angin yang secara matematis sesuai dengan skala Kolmogrov. Sumber dari http://earoneinblog.blogspot.com/

Contoh ketiga adalah gerakan Dadaisme. Gerakan yang terjadi pasca-Perang Dunia I ini digagas oleh banyak kelompok intelektual dan seniman-seniman besar pada masa itu. Gerakan ini menegaskan pada sikap yang anti-seni. Gerakan ini lah yang kemudian menjadi cikal bakal seni abstrak. Mereka yang tergabung dalam gerakan ini membuat karya yang aneh-aneh dan asal-asalan. Contohnya menulis sebuah kalimat hanya dengan garis. Dan ketika ada orang yang bertanya, mereka akan menjawab, “Ini puisi, Bego!”

Kebanyakan, kata paman saya lagi, adalah yang menjadi salah kaprah dalam berkesenian ini adalah dengan salah memaknai dan memahami gerakan dadaisme ini sehingga menjadi mode (tiruan) bagi kaula muda sekarang dalam memahmi seni abstrak tersebut. Bahkan ada orang yang sok-sokan membuat karya asal-asalan kemudian mengatakan bahwa karyanya adalah ekspresi jiwa, seni yang abstrak, dan sebagainya. Padahal dia sendiri tidak mengerti sejarah dan alasan mengapa ada gerakan dadaisme itu. Gerakan ini dilakukan oleh para seniman besar, para pemikir, ilmuan dan kaum intelektual lainnya (terutama di bidang seni dan sastra). Mereka berkumpul dan berembuk merumuskan gagasan untuk mengkritik keadaan sosial masyarakat pada masa itu (pasca-perang = PD I). Mereka menyimpulkan bahwa hidup mewah, banyak harta, kekuasaan dan jabatan adalah pembawa malapetaka, yaitu perang dunia yang menyebabkan kemiskinan dimana-mana dan tersebarnya berbagai penyakit. Lalu mereka mengkonsentrasikan politik anti perang lewat karya yang sifatnya menolak standar seni yang ada dalam bentuk karya-karya anti-seni/anti-art. Oleh karena itu mereka membuat karya seni yang abstrak dan tidak mengikuti ketentuan bagaimana membuat karya (lukis, lagu, puisi, dsb.) yang baik. Bahkan pada masa ini (berbarengan dengan adanya gerakan dadaisme) berkembang pula suatu teori tentang psikoanalisa. Dan karena perkembangan teori ini, para intelektual pada masa itu memanfaatkan pengetahuan tersebut dalam berkarya seni.

Contoh lukisan dengan aliran Dadaisme: Dada Movement - Marcel Duchamp - 'Fountain' 1917. Sumber dari http://www.keithgarrow.com/

Lagi-lagi semuanya kembali kepada ilmu pengetahuan. Menjadi seniman bukanlah perkara yang mudah. Melakukan kegiatan seni (berkesenian) juga tidak mudah. Namun semua itu dapat dilakukan (diraih) apabila kita memiliki ilmu pengetahuan dan wawasan yang cukup, pas, dan mantap.

Hidup ilmu pengetahuan!

MAKANYA BELAJAR!!!

Author: Manshur Zikri

Penulis

18 thoughts on “Ngobrol tentang Seni dengan Paman Hafiz hingga larut malam.”

  1. feel juga penting kok mas🙂 justru kalo menurut gw itu tetep poin penting dari seni itu sendiri. bukan pengetahuan.. karena kalo seni itu otak kanan, ilmu itu otak kanan. kan ga nyambung ya ituu..?

    Like

    1. “Feel” yang dimaksud itu adalah bagaimana kita menjiwai dan menginterpretasi seni atau karya.. Nah, logikanya, kalau lu punya pengetahuan yang bagus, “feel” yang lu punya atau daya interpretasi yang lu punya pasti lebih berkualitas dari pada sekadar feel yang hanya mengandalkan insting.

      Contohnya, Joe Satriani (gitaris) mempunyai feel yang sangat bagus dalam bermain gitar tutup mata. Nah, bukankah keuletan dan kemahiran dia memainkan itu (feel yang dia dapatkan itu) adalah hasil dari dia belajar selama bertahun-tahun dalam mendalami ilmu gitar? Itu adalah ilmu pengetahuan..🙂

      Like

  2. intinya seorang seniman atau bukan, jadilah diri sendiri dan tak harus mengkritisi orang lain melainkan kritisi diri sendiri bukan begitu sob ?:mrgreen:

    salam hangat

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s