Dua Pisau Bedah untuk Sastra

Saya menulis postingan ini bukan berarti saya telah mengerti tentang sastra secara keseluruhan dan secara mendalam. Kalau boleh dibilang, saya hanya mengenal sastra, tetapi tidak mengetahuinya dengan baik. Beberapa pertanyaan dari seorang teman saya, yang ia tulis di note facebook beberapa waktu yang lalu( pertanyaan itu pun terlontar dari nya disebabkan rasa penasaran yang sama dengan yang saya pikirkan), menyadarkan saya betapa dangkalnya pengetahuan sastra yang saya miliki.

Namun saya tidak berhenti dan tertunduk merenungkan kekurangan pengetahuan yang saya miliki. Oleh karenanya, saya melampirkan pertanyaan-pertanyaan dari teman saya itu kepada seorang seniman (aktivis forum lenteng), yang mana telah menjadi seroang kritikus favorit saya, berharap dia dapat memberikan penjelasan tentang sastra itu sendiri.

Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan teman saya itu saya post kembali di note facebook milik saya. Dapat pembaca lihat di sini!

Akan tetapi ada baiknya apabila isi dari note itu sendiri saya post di blog ini sebagai bahan informasi kepada pembaca, semoga tulisan ini dapat bermanfaat bagi kita semua.

jawaban untuk note nya Rahajeng…
Tuesday, 02 February 2010 at 16:44 | Edit note | Delete
Saya kagum dengan berbagai pertanyaan yang ada dalam note yang dibuat oleh rahajeng. Tentunya pertanyaan itu juga ada dalam pikiran semua orang yang memiliki minat dalam berpuisi atau sastra. Tetapi jujur saja saya tidak dapat menjawabnya karena keterbatasan pengetahuan yang saya miliki. Karena saya juga penasaran dengan jawaban dari pertanyaan tersebut, saya akhirnya meng-copy note itu dan saya lampirkan ke seorang aktivis forum lenteng (seniman). Aktivis tersebut memberikan jawaban terhadap pertanyaan yang terdapat dalamnote rahajeng. Langsung ke TKP, Gan!!!!

____________

kutipan note yang dibuat rahajeng:

Paradigma sastra mngenai puisi yg indah dan baik antara sastrawan yg satu dan yg lainnya tentu berbeda, apalagi paradigma orang awam (apakah orang awam mengerti termasuk saya?)…

Bagi saya penyusunan atau pembuatan puisi tentu berdasarkan apa yg dipikirkan, sesuai dgn isi kepala, jujur, dituangkan dlm bahasa yg memiliki nilai estetika. tapi dlm penggunaannya, bahasa yg dipilih tentu tidak hanya dikategorikan dlm nilai estetik krn sebuah karya (puisi) juga bisa dibuat dgn bahasa sehari-hari walaupun bahasanya tidak sopan, seperti memperolok, menyindir, meremehkan,dLL (PUISI MBELING). Ini semua hanya argumen saya, mungkin argumen-argumen yg saya sampaikan hanya dianggap sbg argumen retoris atau argumen analitis (entahLah) krn saya sendiri bukan seorang kritikus yg selalu mempertimbangkan baik buruknya sesuatu, saya juga bukan estetikus yg peka terhadap keindahan atau sastrawan yg memilik paradigma tersendiri tentang bagaimana baiknya sebuah puisi…….

Apakah pembuatan puisi dpt dianalogikan sbg pembuatan bangunan yg dibuat dgn teliti, memakai rumus matematika, menggunakan komposisi yg komplit, perhitungan yg pas, akurat, cermat, dLL ??
Apa indikator yg signifikan dari sebuah puisi yg baik dan indah??
Apakah sebuah karya sastra hrs masuk dlm kategori antologi sastra? Apa sebenarnya antologi sastra itu sendiri??
Dan apakah sebuah puisi yg baik dan indah itu hrs berdasarkan pencapaian estetik maupun tematik??
Toh, sebenarnya puisi itu dibuat berdasarkan nyanyian jiwa yg mewakili isi hati dan pikiran. Tetapi krn keterbatasan pengetahuan yg saya miliki, semua pertanyaan itu tetap menjadi polemik dlm pikiran saya..

jawaban dari aktivis forum lenteng yang saya tanya pendapatnya:

Sastra atau apa saja yang berbau seni itu pasti ada “pisau bedahnya” Ada dua pisau bedah utama dalam seni (1) Teori/akademik (2) empirik (relasi sosial/sejarah). Hal ini berlaku untuk apa saja.
Dalam sastra pisau pertama adalah “tata bahasa”. Seorang sastrawan yang baik pasti mempunyai pengetahuan tata bahasa yang baik. Di dalam tata bahasa itu berlaku aturan-aturan baku dari sebuah bahasa termasuk pengetahuan kosa-kata. Orang-orang yang dianggap punya pengetahuan bahasa sudah pasti punya kosa kata yang banyak pula. Jadi dalam prespektif ini kita dapat melihat bagaimana membaca sastra dari prespektif teori dari bahasa. Namun, dalam perkembangan lanjut, seorang sastrawan akan melakukan eksperimentasi-eksperimentasi bahasa. Tentu seorang sastrawan yang baik melakukan eksperimentasi itu dengan penuh kesadaran karena dia punya pengetahuan tata bahasa. Eksperimentasi itu dapat saja pertentangan dengan “tata bahasa” yang sedang berlaku. Tapi dalam konteks dia sebagai eksperimentasi (seni), konsep-konsep teoritis dari tata bahasa bisa tidak berlaku. Seperti dalam karya-karya puisi “bunyi” Sutarji Kasum Bachri. Yang mempermainkan bebunyian dari kata terntentu yang berubah arti kata tersebut menjadi “tidak ada arti”. Dalam hal ini permainan tata bahasa tidak berlaku, tapi bagaimana ekperimentasi itu mempunyai “kebaruan” gaya dan mempunya “makna” intrisik pada puisi tersebut. Jadi, dalam melihat karya Sutarji tidak berlaku lagi kaidah-kaidah tata bahasa…tapi bukan berarti sang sastrawan tidak tahu tata bahasa. Justru karena dia sangat menguasai dia melakukan eksperimentasi itu.
Sastra adalah kontributor terbesar dalam penemuan-penemuan gaya bahasa dalam tata bahasa. Karena itu Dewan Bahasa selalu melibatkan sastrawan, kritikus, dan pengamat semiotika dalam memberlakukan temuan-temuan baru dalam bahasa Indonesia (seperti yang berlaku pada Kamus Besar Bahasa Indonsia).

Dalam prespektif baru tentang bagaimana seni itu diciptakan, sebenarnya kata-kata “inspirasi” sudah diabaikan. Karena yang paling penting itu adalah pengetahuan. Dalam kasus sastra yang menggunakan bahasa-bahasa keseharian juga berlaku demikian. karena ini bukan hanya persoalan dia mbeling, tapi sastra juga akan melekatkan diri pada apa yang terjadi di masyarakat (pisau kedua). Fenomena sosial, atau perubahan-perubahan yang terjadi di masyarakat, bukan hanya menjadi bungkus bagi seorang sastrawan yang baik. Tapi, ini semua menjadi “subjek” bagi sastrawan karena ia masuk di dalamnya. Di sinilah kenapa seorang sastrawan menggunakan bahasa-bahasa sehari-hari itu untuk bisa masuk dan menghilangkan glorifikasi terhadap “kesenian”. Bahasa-bahase slang dapat dapat digunakan, karena itu adalah bagian dari fenomena. Jika seorang sastrawan menggunakan bahasa slang dalam puisinya, tentulah ia tahu betul tentang bahasa slang itu dan bagaimana interaksi sosial yang berlaku di kalangan yang menggunakan bahasa tersebut (empirik).

Jadi dalam melihat sastra dapat digunakan hal yang sangat matematis (teori) namun dapat juga digunakan hal yang sangat cair (empirik)

Antologi itu “kumpulan” dengan tema tertentu. Jadi, antologi sastra adalah sebuah kumpulan karya-karya sastra tertentu dalam bacaan tertentu yang dikumpulkan oleh kritikus atau pengamat sastra.

Puisi yang baik tentu mempunyai estitika yang baik pula. Estetika yang baik itu dapat diukur dengan dua pisau yang disebutkan diatas. Seorang sastrawan yang baik akan selalu membuat permainan-permainan dengan “material” kata dan tata bahasa yang mereka punya—yang kemudian memasukan “tema tertentu” di dalamnya.
Pemilihan tema atau konten dalam sebuah karya sastra adalah “ruang” merelasikan “permainan” tadi dengan pembaca. Tema ini menjadi kekuatan sendiri, dari sini dapat dibaca bagaimana “pengetahuan” seoarang sastrawan terhadap isu-isu tertentu yang ia “permainkan’ dalam karyanya. Kata kuncinya adalah “pengetahuan”. Seoarang sastrawan yang otodidak pun akan menjadi sangat baik kalau dia “berpengetahuan” dan mengemasnya dalam karya satra (permainan kata/tata bahasa) meski dia tidak punya embel-embel konsep yang teoritis.

Puisi nyanyian jiwa? Wah itu nyanyian lama. Puisi adalah “pernyataan” dalam tata bahasa dan kata yang kreatif. Itulah menurut om Hafiz.

semoga note ini dapat memberikan manfaat dan pengetahuan bagikita semua. Ingat, yang petning adalah pengetahuan! gapailah ilmu setinggi-tingginya.

Written about a week ago · Comment · UnlikeLike

Puspa Ningrum

Puspa Ningrum

“Ingat, yang penting adalah pengetahuan! gapailah ilmu setinggi-tingginya.”

thats right!!

02 February at 16:57 ·
Perdana Putri

Perdana Putri

jempol berkali-kali kak!!!🙂
02 February at 17:27 ·
Nabella Puspa Rani

Nabella Puspa Rani

waoooww… keren! diskusinya bisa nyampe ke aktivis forum lenteng! Salut! Salut! Salut dgn jiwa dan rasa keingintahuan yang kuat! yang dimiliki oleh Zikri… makasih juga buat Ajeng, berkat adx juga, kakak bisa nambah ilmu nih!
terimakasih untuk catatannya. ^_^
02 February at 17:30 ·
Radhiah Dahlan

Radhiah Dahlan

sukses selalu………………….
02 February at 19:27 ·
Lulu Calon Buk Guru

Lulu Calon Buk Guru

. Bner nian kwand

. Amal tanpa ilmu=sebuah kebodohan

. Ilmu tanpa amal=mubazir… See more

. Ibadah,amal dan ilmu kunci sukses dunia akherat

. “gapai mimpi setinggi mgkn” sebuah kata berjuta makna..,smangad!

02 February at 20:06 via Facebook Mobile ·
Rahajeng Indraswari

Rahajeng Indraswari

@zikri: thx zik,, mantap!! belajar,,belajar,,tetap hrs belajar lagi nih..
@kak ela: hehe, sama2 kak, sama2 nmbah ilmu juga..
02 February at 21:26 ·

Author: Manshur Zikri

Penulis

5 thoughts on “Dua Pisau Bedah untuk Sastra”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s