Makalah Antropologi: Motivasi Wanita Penjaja Seks

MOTIVASI WANITA PENJAJA SEKS

disusun sebagai tugas Antropologi

KELOMPOK 3

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS INDONESIA

DEPOK, 2009


BAB I

PENDAHULUAN

Fenomena wanita penjaja seks sudah tidak asing lagi di telinga kita. Di setiap sudut ibu kota Jakarta sering kita melihat para wanita pekerja seks komersial beraksi mencari para lelaki hidug belang. Bahkan fenomena ini juga menyentuh institusi pendidikan seperti sekolah menengah dan universitas. Hal ini terkadang dianggap sangat tabu di masyarakat, mengingat negara kita adalah negara dengan adat ketimuran dan memiliki norma – norma yang sangat kental di masyarakat. Akan tetapi kita masih sering melihat fenomena ini terjadi di masyarakat, seolah-olah telah terjadi pergeseran nilai sehingga hal tersebut dianggap sebagai hal yang biasa.

Dalam kriminologi, fenomena ini dianggap sebagai suatu penyimpangan. Pettit mengemukakan suatu teori yang dinamakan teori kriminologi konstitusif, yang mana teori itu menjelaskan bahwa fenomena wanita penjaja seks (secara umum adalah pekerja seks komersial) merupakan suatu pelanggaran atau penyimpangan karena hasil dari proses interaksi sosial yang kompleks, dan pandangan tradisional yang tertuang dalam penafsiran hukum tidak sesuai dengan realitas sosial (Pettit, 2002). Sementara dalam tipologi hukum, tindakan menjaja seks ini dinamakan kejahatan terhadap ketertiban umum.

Berdasarkan konsep di atas, sudah jelas bahwa fenomena ini merupakan suatu hal yang dilarang. Akan tetapi melihat kenyataan yang ada, yaitu banyaknya wanita yang menjajakan tubuhnya untuk berhubungan seks, penulis mengambil hipotesa awal bahwa kecenderungan penyimpangan tersebut dilakukan untuk mendapatkan uang atau kesenangan sesaat.

Menyadari permasalahan ini, penulis ingin mengkaji lebih dalam tentang fenomena wanita penjaja seks, baik yang komersial maupun yang tidak, dari kacamata kriminologi-antropologis. Penulis ingin melihat keterkaitan antara dua bidang ilmu yang berbeda ini dalam satu ruang lingkup permasalahan yang sama, yaitu tentang wanita penjaja seks. Hal yang mendorong penulis untuk mengkaji permasalahan ini adalah karena fenomena ini semakin dianggap biasa di tengah-tengah masyarakat. Selain itu ada beberapa anggapan bahwa yang melakukan kegiatan ini adalah mereka yang notabennya merupakan orang yang berpendidikan dan memiliki kekayaan yang cukup bahkan lebih. Hal inilah yang menimbulkan pertanyaan dan keyakinan bagi penulis bahwa tentunya ada sesuatu di balik permasalahan ini. Fokus permasalahan yang diingikan oleh penulis adalah motivasi para penjaja seks yang tidak biasa; apakah ada alasan lain yang mendorong mereka melakukan penyimpangan tersebut selain motif ekonomi.

Dalam melakukan obeservasi untuk mengumpulkan data yang dibutuhkan, penulis mengambil tiga sampel dari tempat yang berbeda. Tempat-tempat yang dimaksud adalah beberapa universitas swasta dan kawasan Depok lama. Sesuai dengan tema yang diangkat, yaitu wanita penjaja seks, baik yang komersil maupun tidak, penulis menjadikan PSK, ayam kampus, dan wanita-wanita bispak (wanita yang mau melakukan hubungan tanpa dibayar) sebagai objek kajian. Dalam melakukan penelitian, penulis melakukan metode yang sesuai dengan metode penelitian ilmiah ilmu antropologi. Pengumpulan data yang dilakukan penulis adalah obeservasi partisipatif yang langsung terjun ke lapangan.

BAB II

MASALAH

Awalnya kegiatan wanita penjaja seks ini dilakukan oleh mereka yang memang sudah memilih profesi sebagai wanita pekerja seks komersial dengan alasan utama kekurangan ekonomi. Dalam sistem masyarakat tradisional, yang mana hukum adat dan norma sangat mempengaruhi kehidupan mereka, kegiatan ini dianggap sebagai aib yang sangat memalukan. Akan tetapi anggapan seperti itu mulai berubah sesuai dengan perkembangan zaman.

Di masyarakat perkotaan, wanita pekerja seks komersial dianggap sebagai suatu profesi di kehidupan malam yang sudah biasa. Berbagai kebijakan yang diambil oleh pemerintah tak kunjung menyelesaikan masalah ini. Bahkan masalah yang ada semakin parah. Kegiatan menjajakan diri untuk melakukan hubungan seks ini mulai dilakukan oleh orang-orang yang pada dasarnya tidak memiliki kesulitan ekonomi. Perbuatan menyimpang ini juga terjadi di institusi pendidikan seperti sekolah dan universitas. Keberadaan ayam kampus di universitas-universitas ini kemudian muncul dan menjadi pelengkap fenomena wanita penjaja seks. Perkembangan selanjutnya adalah munculnya isu-isu dikalangan para pelajar dan mahasiswa yang mengatakan ada beberapa dari mereka yang bisa diajak untuk melakukan hubungan seks diluar nikah tanpa dibayar.

Mengkaji dan mengungkap alasan-alasan para wanita penjaja seks melakukan penyimpangan ini; mengkaji dan menelaah serta melihat aspek-aspek dan faktor-faktor lain yang mungin mendorong seorang wanita penjaja seks melakukan kegiatan ini; dan melihat objek atau siapa-siapa saja yang melakukan kegiatan ini merupakan pokok masalah yang dibahas dalam makalah ini. Masalah ini akan diutarakan sedemikian rupa (sebagaimana adanya) sesuai dengan kode etik dalam melakukan penelitian antropologi, namun tidak lepas dari kajian kriminologi.

Dalam meneliti fenomena ini, yang menjadi objek kajian penulis adalah para PSK, ayam kampus, dan wanita-wanita yang masih berstatus mahasiswi yang mau melakukan hubungan seks di luar nikah tanpa dibayar (bispak)

Tentang Narasumber

Dari hasil  observasi lapangan yang dilakukan, penulis mendapatkan tiga narasumber, yaitu seorang PSK, seorang ayam kampus, dan seorang informan yang merupakan teman dekat dari seorang wanita bispak. Penulis memilih dua orang, yaitu PSK dan ayam kampus dengan alasan umur mereka yang masih muda dan motivasi mereka yang sesuai dengan yang penulis inginkan untuk diteliti, yaitu diluar motif ekonomi. Sedangkan seorang informan yang merupakan teman dekat wanita bispak yang dimaksud itu dijadikan narasumber untuk mengetahui alasan yang lain dari sudut pandang yang berbeda.

  1. A. Wanita Pekerja Seks Komersial.

Pekerja seks komersial adalah wanita-wanita yang memiliki profesi sebagai pekerja seks untuk mencari uang. Biasanya PSK sering melakukan aksinya di malam hari, di sudut-sudut kota. Dahulu, mereka sering berdiri di pinggir jalan menunggu para lelaki hidung belang yang membutuhkan kenikmatan sesaat. Namun saat ini kebanyakan dari mereka lebih memilih jasa distributor atau bekerja kepada seorang germo. Meskipun sudah jelas bahwa para pekerja seks komersial memiliki motivasi uang, tetapi penulis tetap menjadikan mereka sebagai objek kajian untuk mengetahui alasan lain di luar motif ekonomi.

Dari hasil obeservasi, penulis mendapatkan salah seorang narasumber (PSK) yang mau menceritakan alasan kenapa dia mau melakukan kegiatan ini. Dinda (nama samaran) adalah seorang PSK, berumur 18 tahun, yang sering ‘mangkal’ dikawasan Depok Lama. Dia bertempat tinggal di daerah Mampang, Pancoran Mas Depok. Saat ini Dinda tidak sekolah, namun dia sempat menyelesaikan sekolahnya hingga Sekolah Menengah Atas di salah satu SMA swasta di daerah Jakarta Selatan. Keadaan ekonomi Dinda termasuk dalam golongan kelas menengah, dan orang tuanya memilki pekerjaan yang tidak ingin disebutkan oleh dia.

Penulis mendapatkan narasumber ini dari seorang distributor yang memilki banyak kenalan wanita penjaja seks baik komersial maupun tidak. Penulis mengenal distributor tersebut dari salah seorang teman yang tinggal (kost) di kawasan Kukusan Teknik. Dalam melakukan negosiasi penulis berpura-pura ingin menyewa PSK tersebut (observasi partisipatif). PSK tersebut diantar oleh distributor ke tempat tinggal penulis yang merupakan tempat dilakukannya wawancara.

Dalam wawancara yang telah dilakukan, Dinda dipersilakan berbicara secara mengalir tanpa ada bantahan dari penulis. Menurut pengakuan Dinda, pada awalnya dia melakukan kegiatan ini karena penasaran dengan yang namanya seks. Dia pertama kali melakukan hubungan seks dengan kekasihnya saat masih duduk di bangku SMA. Lambat laun karena pergaulan dan karena tertarik dengan pekerjaan yang bisa menghasilkan uang dengan mudah dan cepat, akhirnya dia memilih profesi sebagai PSK tetap. Karena itu saat ini dia tidak kuliah. Pada dasarnya dia mau melakukan ini bukan karena uang, melainkan karena sensasi berhubungan seks yang membuatnya ketagihan. Menurutnya, apabila dia tidak melakukan hubungan seks sehari saja, dia akan merasakan sesuatu yang beda dari dirinya.  Faktor lain yang mendorongnya leluasa melakukan kegiatan ini di masa mudanya adalah karena dia tinggal di daerah yang notabene adalah kawasan para pekerja seks. Menurutnya, melakukan kegiatan seks di luar nikah adalah hal yang wajar di daerah tempat tinggalnya.

Sesuatu yang menarik adalah sikap orang tuanya. Menurut pengakuan Dinda, orang tuanya setuju dengan profesinya itu. Malah terkadang orang tuanya meminta uang hasil dari pekerjaannya. Berikut  petikan wawancara teletak pada halaman terlampir.

  1. B. Ayam Kampus

Ayam kampus adalah sebutan bagi wanita yang menjajakan seks yang masih memiliki status sebagai mahasiswi. Berbeda dengan PSK yang memang menjadikan kegiatan tersebut sebagai satu-satunya profesi, ayam kampus lebih menganggap kegiatan tersebut sebagai kegiatan sampingan. Dalam menjalani harinya, ayam kampus ini sama dengan mahasiswi umumnya, kuliah dari pagi sampai sore hari. Akan tetapi, malam harinya, mereka mulai menjajakan tubuh pada lelaki hidung belang. Kebanyakan dari ayam kampus biasanya hanya memilih laki-laki yang sesuai dengan kriteriannya, dan biasanya harga seorang ayam kampus lebih mahal dari seorang PSK.

Keberadaan ayam kampus sangat terselubung. Untuk mendapatkan seorang ayam kampus biasanya laki-laki yang membutuhkan mereka lebih dahulu menghubungi seorang informan atau distributor. Sesuai dengan perkembnagan zaman, saat ini banyak ayam kampus mempromosikan diri mereka melalui situs-situs jejaring sosial, seperti facebook dan friendster.

Menurut hasil observasi penulis terhadap beberapa orang yang mengetahui ayam kampus ini, penampilan fisik seorang ayam kampus jauh dari perkiraan masyarakat umum terhadap seorang pekerja seks tersebut. Menurut realitanya,  ayam kampus ini adalah orang-orang yang kurang bergaul dan bisa dikatakan tidak menonjol dalam lingkungan kampus. Selama ini orang menganggap bahwa ayam kampus melakukan kegiatan tersebut karea faktor ekonomi. Oleh karena itu penulis melakukan observasi partisipatif dan melakukan tanya jawab dengan seorang ayam kampus di Universitas swasta. Penulis mendapatkan sumber ayam kampus ini dari situs jaringan sosial facebook dan wawancara dilakukan langsung oleh penulis.

Dari hasil wawancara penulis dengan ayam kampus tersebut, yang bernama Vinka (nama samaran), mereka melakukan kegiatan itu pada awalnya hanya coba-coba. Menurut pengakuan Vinka dia melakukan hal itu karena suka. Selain itu dia juga merasa sakit hati karena ditinggalkan pacarnya sehingga menjadikan hal tersebut sebagai pelampiasan dan ajang balas dendam. Dia juga mengatakan bahwa orang-orang terdekatnya mengetahui dia sebagai seorang ayam kampus tetapi mereka merahasiakan hal itu dengan baik. Malahan teman-teman dekatnya itu menolong untuk mencarikan klien yang mau memakai jasanya. Kutipan wawancara dengan ayam kampus tersebut terdapat pada halaman terlampir.

  1. C. Wanita bispak

Bispak adalah singkatan dari bisa pakai. Kata ini sudah tidak asing lagi ditelinga orang-orang termasuk mahasiswa yang sudah biasa melakukan hubungan seks di luar nikah. Hal yang mendasari wanita-wanita bispak mau menjajakan tubuhnya untuk berhubungan seks adalah untuk mencari kesenangan. Keberadan wanita bispak ini diketahui berdasarkan informasi dari mulut ke mulut. Mereka lebih jeli dalam memilih laki-laki yang akan berhubungan seks dengan dirinya yang pada umumnya memilki wajah tampan atau sesuai dengan kriteria wanita bispak tersebut. Menurut isu yang terdengar wanita bispak ini banyak terdapat di kampus-kampus terutama kampus swasta yang berisi orang-orang dengan ekonomi yang baik.  Namun tidak menutup kemungkinan bahwa wanita bispak ini juga terdapat dalam lingkungan masyarakat umum. Istilah bispak ini sangat erat kaitannya dengan pergaulan bebas.

Dalam melakukan observasi wanita bispak ini, penulis mengalami kesulitan. Oleh karena itu penulis hanya mendapatkan seorang informan yang mengaku sebagai teman dari seorang wanita bispak, yang pada awalnya penulis anggap sebagai teman ayam kampus.  Informan tersebut adalah seorang alumni dari sebuah universitas swasta di Jakarta. Demi mendapatkan informasi ini, penulis melakukan wawancara dengan Tina (nama samaran).

Menurut pengakuan dari Tina, temannya yang bispak ini melakukan hal tersebut bukan karena faktor ekonomi karena dia adalah orang yang kaya, terbukti bahwa dia adalah anak seorang dosen dan cucu dari seorang rektor di sebuah universitas. Berdasarkan keterangan dari Tina bahwa temannya itu sepulang kuliah, biasanya malam hari, berdiri di depan kampus menunggu  laki-laki yang telah janjian dengannya sebelumnya. Setelah lama berteman dengan wanita tersebut, Tina mengetahui bahwa temannya tersebut melakukan hal tersebut karena Hiper seks.  Petikan wawancara dengan Tina terdapat dalam lampiran.

BAB III

ANALISA MASALAH

Menurut hasil observasi lapangan yang telah kami lakukan sebelumnya, kami mendapatkan data-data sebagai berikut:

  1. PSK, ayam kampus, dan cewek bispak rata-rata masih berumur muda, kira-kira 18 tahun. Dan dua dari tiga objek yang kami dapatkan memiliki profesi sebagai mahasisiwi.
  2. Rata-rata wanita yang kami wawancarai sebelum terjun ke kebisaan wanita penjaja seks, mereka sudah pernah melakukan hubungan seks dengan pacarnya.
  3. Dua dari tiga objek yang kami wawancarai, memiliki jiwa trauma terhadap masa lalu.
  4. Keadaan ekonomi objek yang kami wawancarai rata-rata berada dalam golongan ekonomi ke atas.
  5. Para objek yang kami wawancarai rata-rata tidak mempunyai masalah dengan keluarganya.
  6. Objek yang kami wawancarai rata-rata tidak memilki kontrol diri untuk menahan hasrat.
  7. Kondisi eksternal di sekitar objek mendukung mereka untuk melakukan kegiatan tersebut.

Dari data-data di atas, dapat diketahui bahwa terdapat banyak faktor yang menyebabkan seorang wanita melakukan kegiatan menjajakan tubuhnya untuk berhubungan seks di luar nikah. Menurut teori yang dikemukakan oleh Pettit, bahwa pekerjaan seorang wanita menjajakan tubuhnya untuk berhubungan seks di luar nikah dianggap sebagai suatu bentuk tindakan penyimpangan. Pettit mengatakan bahwa hal tersebut dikatakan sebagai perilaku menyimpang karena adanya interaksi sosial yang kompleks. Dari sini kita bisa menyimpulkan bahwa perilaku menjaja seks oleh wanita dapat dikatakan menyimpang karena telah melalui suatu proses interaksi sosial yang tidak sebentar. Sedangkan pandangan tradisional yang tertuang dalam penafsiran hukum tidak sesuai dengan realitas sosial. Artinya, hukum yang ada lebih bersifat normatif tanpa memberi perhatian pada penafsiran dan penafsiran ulang terhadap realitas.

Melalui obeservasi inilah penulis berusaha menjawab realitas yang ada. Mengapa permasalahan tentang wanita para penjaja seks ini tak kunjung selesai? Kalaupun memang faktor utama adalah ekonomi, seharusnya masalah ini sudah bisa terjawab dan hanya diperlukan suatu sikap yang intensif dalam menanggulangi permasalahan kesejahteraan masyarakat. Akan tetapi, melihat objek yang melakukan tindakan penyimpangan ini, yang mana notabennya adalah oang yang memiliki ekonomi yang baik, berpendidikan, serta berjiwa muda yang mempunyai potensi untuk maju, merangsang penulis untuk mencari jawaban lain yang lebih rasional dan dilihat dari sudut pandang para pelaku penyimpangan.

Pada data pertama, dikatakan bahwa para pelaku penjaja seks kebanyakan berusia muda (lebih kurang 18 tahun), dan memiliki profesi sebagai mahasiswa aau yang sederajat. Menurut hasil wawancara kami dengan Icha (nama samaran) dan Vinka (nama samara), mereka pertama kalinya melakukan kegiatan seks di luar nikah dengan pacar (data kedua). Dari data ini kita mendapatkan suatu keterkaitan antara masalah pergaulan dengan gejolak jiwa muda. Mereka yang melakukan tindakan menyimpang ini pada awalnya memiliki motivasi untuk berbuat disebabkan oleh rasa penasaran yang umumnya dimilki oleh kaula muda. Kurangnya pengetahuan tentang seks, kurangnya pemahaman tentang manfaat dan kerugian dari seks di luar nikah, dapat dijadikan faktor utama akan rasa penasaran ini. Anak gaul, yang secara umum telah menjadi status ideal di kalangan muda, juga menjadi faktor yang harus iperhatikan. Terkadang seorang muda mau melakukan apa saja demi mendapatkan pengakuan dari teman-teman mereka bahwa dirinya bisa dikatakan sebagai anak gaul. Selain itu, status mereka sebagai mahasiswa/mahasiswi, juga menjadi alasan bagi mereka dan pihak-pihak di luar mereka untuk tidak ikut campur terhadap masalah yang mereka punya. Status dewasa sudah dianggap sebagai senjata untuk mengatakan bahwa diri mereka bisa berpikir untuk memilih mana yang baik dan mana yang buruk menurut pandangan pribadi mereka. Hal itu terbukti dari wawancara dengan Icha yang mengatakan bahwa orang tuanya tidak mau ikut campur dengan segala kegiatannya atau dengan pekerjaannya di tempat karaokean. Dan wawancara dengan Vinka, yang mengatakan bahwa teman-teman dekatnya mengakui dan memaklumi statusnya sebagai ayam kampus, malahn mereka mendukung kegiatan menyimpangnya tersebut dengan membantunya mencarikan klien.

Tentunya ada faktor lain selain rasa penasaran dan pengaruh pergaulan mereka. Hal tersebut berusaha penulis jawab dari analisa data yang ketiga, yaitu adanya trauma pada diri mereka, para pelaku penjaja seks tersebut. Seperti wawancara dengan Icha dan Vinka, mereka mengaku memiliki rasa ingin balas dendam dengan para lelaki. Hal itu disebabkan oleh trauma masa lalu, yaitu saat mereka menyerahkan keperawanan yang mereka miliki kepada pacar mereka (yang menurut pengakuan mereka sangat mereka sayangi). Mereka mengatakan bahwa setelah pacar mereka berhasil menikmati kesucian mereka, secara perlahan pacar mereka menjauh dan pergi meninggalkan mereka. Rasa sakit hati ini kemudian dilampiaskan dengan melakukan kegiatan menjajakan tubuh utnuk berhubungan seks, dengan maksud untuk menunjukkan bahwa bukan hanya lelaki yang bisa berbuat demikian melainkan wanita juga. Dan kenikmatan dari berhubungan inilah yang menjadi obat untuk meredakan kemarahan mereka terhadap nasib yang mereka terima.

Menurut pendapat umum, salah faktor yang paling dominan yang menyebabkan anak muda terjerumus dalam kenakalan remaja adalah karena adanya masalah dalam keluarga. Akan tetapi, dari objek yang penulis wawancarai, mereka mengaku tidak memiliki konflik dengan keluarga. Merupakan sesuatu yang tidak mungkin apabila seorang remaja atau kaula muda yang mendapat perhatian baik dari keluarga bisa terjerumus ke dalam penyimpangan yang dilakukan oleh remaja umumnya. Dari data ini penulis berusaha menjawab bahwa pendorong perilaku menyimpang ini pasti ada kaitannya dengan keluarga. Kalaupun mereka mengaku tidak memiliki konflik dengan keluarga (orang tua), tentunya perhatian yang mereka dapat dari orang tua tidak memenuhi kriteria kata cukup. Dan hal itu tidak disadari oleh objek sendiri.

Selanjutnya, hasil wawancara dengan Tina, mengatakkan bahwa temannya yang bispak adalah seorang yang kaya raya dan merupakan anak dosen dan cucu rektor. Hasil wawancara dengan Icha dan Vinka juga mengatakan bahwa mereka tidak memiliki masalah dengan keadaan ekonomi (data keempat). Penulis mencoba mencari jawaban lain, faktor apa yang paling dominan menguasai diri mereka untuk melakukan perilaku menyimpang ini. Jawaban yang didapat adalah hal yang paling mendorong mereka untuk tidak lepas dari kegiatan ini adalah sensasi kenikmatan yang mereka dapatkan saat melakukan hubungan seks di luar nikah. Icha mengatakan bahwa dia ketagihan dengan seks, Vinka mengatakan bahwa dia melakukan kegiatan tersebut hana sebagai pencari kenikmatan belaka, sementara menurut pengakuan Tina, temannya mau menjadi wanita bispak karena adanya kecenderungan terhadap hasrat seks yang berlebih (hypersex). Dari pengakuan tersebut, penulis mendapatkan data tentang bagaimana kontrol diri dari objek-objek yang diwawancarai. Melihat kembali pertanyaan-pertanyaan sebelumya, tentang pengalaman pertama berhubungan kelamin denga pacar, trauma yang di dapat, rasa penasaran, serta pengakuan terakhir dari setiap objek yang mengatakan mereka menikmati kegiatan mereka, penulis berpendapat bahwa wanita yang mau menjajakan diri untuk seks bebas adalah mereka yang tidak bisa mengontrol diri untuk menahan hasrat. Pendapat ini menjadi jawaban ampuh dari penulis dalam melihat permasalahan ini. Karena pada dasranya jawab ini berasal dari kacamata objek yang penulis wawancarai.

Faktor yang terakhir adalah berdasarkan data ketujuh yang didapat oleh penulis dalam observasi lapangan. Kondisi eksternal dari para pelaku penyimpangan cenderung memberikan kesempatan mereka untuk melakukan kegiatan tersebut. Hal itu terbukti dari pengakuan Icha yang mengatakan bahwa lingkungan di sekitar rumahnya sudah menganggap biasa perilaku demikian. Selain itu pekerjaannya di tempat karaokean, yaitu menemani para lelaki hidung belang di ruangan tertutup, juga member celah mereka untuk melakukan kegiatan tersebut. Jawab yang hampir serupa disampaikan oleh Vinka. Menurut pengakuannya, teman-temannya tidak ada yang mempermasalahkan kebiasaannya tersebut. Selain itu dia tidak tinggal dengan keluarga, tetapi tinggal di sebuah kamar kost. Hal ini bisa menjadi faktor pendukung karena dia dapat bertindak secara leluasa tanpa ada bantahan dan kontrol dari keluarganya. Sementara teman Tina, yang merupakan orang kaya dan anak dosen, kuliah di uiversitas swasta yang cukup gaul membuka kesempatan untuk dirinya menemukan para lelaki hidung belang yang tergiur akan tubuhnya. Teman Tina adalah seorang anak yang kaya, bisa mempersolek diri sehingga dapat mengundang para lelaki untuk mau memuaskan hasrat hypersex-nya, memilki kepintaran di atas rata-rata sehingga memberikan anggapan kepada orang lain bahwa dia tidak mungkin melakukan hal bodoh seperti itu.

BAB IV

KESIMPULAN

Dari hasil pengamatan dan obeservasi yang dilakukan oleh penulis, didapatkan beberapa kesimpulan untuk menjawab masalah perilaku menyimpang yang dilakukan oleh wanita penjaja seks, yaitu sebagai berikut:

  1. Para wanita penjaja seks malakukan kegiatan tersebut dikarenakan faktor untuk memuaskan hasrat atau kesenangan seks belaka.
  2. Kurangnya peran serta orang tua dalam mendidik mereka sehingga mereka terjerumus ke perilaku menyimpang ini.
  3. Adanya pembenaran dari dalam diri mereka sendiri yang mengatakan bahwa yang mereka lakukan adalah suatu perbuatan yang tidak salah, dan
  4. Karena juga ada faktor eksternal (lingkungan sekitar, fisik, teman dsb) yang juga memberikan pembenaran sehingga membuka kesempatan mereka untuk melakukan perbuatan menyimpang tersebut.


LAMPIRAN

  1. A. Berikut ini adalah hasil wawancara dengan Dinda:

Sebelum kita main bisa nggak lo cerita dulu kenapa kok bisa sampe jadi seperti ini sih? Maaf ya gue bukan apa-apa, cuma mau tau aja.

“Enggak apa-apa kok santai aja lagi, gimana ya, awalnya sih karena penasaran, temen gue kok bisa dapet duit banyak dengan cara yang gampang, terus temen gue bilang ya udah lo ikut kita aja enak kok, dalam waktu satu jam dua jam lo bisa dapat duit 200-300 ribu. Terus gue tertarik ya udah gue ikut tapi, gue enggak mau yang nge-seks jadi akhirnya gue cuma kerja di tempat karokean doank. Dan hasilnya emang lumayan, dalam waktu sejam gue bisa dapet 200ribu. Asik enggak tuh.”

Terus kok bisa sampe jad PSK, katanya enggak mau nge-seks?

“Ya itu karna penasaran tadi, gue bosen cuma dapet 200-300 ribu sementara temen gue bisa dapet lebih dari 500ribu. Kan gue kerjaannya cuma nemenin om-om yang karokean jadi bayarannya murah. Jadi pernah waktu itu ada om-om yang nawarin gue bayaran yang lebih mahal. Jadi gue mikir, daripada gue salahnya nanggung, ya udah sekalian aja gue ‘nge-seks’ lumayan kan duitnya bisa buat shopping dan buat keperluan sehari-hari.”

Oh, jadi sebelumnya lo udah pernah ‘nge-seks’? Karna kalo menurut gue sih jadi pendamping karokean enggak salah-salah amat.

“Udah!”.

Ama siapa? Sebelum atau sesudah jadi PSK?

“Ama pacar gue dulu waktu SMA.”

Kok bisa?

“Ya waktu itu sih cuma cium-ciuman doank terus dia bilang kalo gue sayang sama dia kenapa kita enggak ‘nge-seks’ aja. Ya secara gue emang sayang sama dia dan juga rasa penasarang gue yang gimanaaa gitu, ya udah gue mau. Tapi waktu itu cuma ama dia aja sebelum gue kerja di karokean ini, tapi akhirnya gue putus sama dia. Dia pergi sama yang lain tuh, Anjing emang tuh orangnya! Semua cowok emang sama!

Oh gitu. Hmmm.. Waktu lo pertama kali ‘nge-seks’ lo dibayar berapa?

“500ribu.”

Oh kalo sekarang gue harus bayar berapa?

“Ya udalah kalo buat lo 300ribu aja enggak apa-apa, itu juga udah harga pasaran”.

Orang tua lo enggak tau apa lo kerja kaya beginian?

“Yaaahhh gitu deehh, kayanya mereka udah tau gitu, tapi ya kayanya mereka pasrah gitu dan mengamini. Kan gue udah punya anak nih… “

Hah lo udah punya anak?

“Iyaa,, kan gue waktu itu hamil gara-gara kebablasan sama om-om yang enggak jelas”

Terus..?

“yaa jadi gitu, mau enggak mau gue jadi PSK itu sekalian nyari duit buat anak gue. Kadang-kadang juga bapak minta duit ke gue. Hehehe! Kata ibu, dia nggak mempermasalahkan hal itu. Yang penting gue bisa jaga diri aja, jadi dia ga mau ikut campur ama masalah pribadi gue, apakah gue mau nge-seks ama siapa aja, itu terserah gue.”

Jadi lo kerja kayak gini mau cari duit? Atau ada alasan lain? Kaya mencari kesenangan gitu. Jujur hayoo!

“Hmmm.. kalo boleh jujur sih gue seneng kerja beginian, gue berasa nikmat gitu kalo ngelayanin cowok. Gimana yaa, sejak gue kerja beginian gue ketagihan ama yang namanya nge-seks. Coba deh lo tanya ma anak-anak yang lain, kalo nge-seks itu rasanya nikmat. Gue kalo misalnya uda enggak ‘nge-seks’ sehari aja rasanya beda. Jadi udah kayak kebutuhan gitu. Kadang-kadang kalo om-om nya ganteng, gue enggak di bayar juga mau. Waktu itu sih gue pernah gue berhenti sebentar kerja kayak beginian. Tapi gue di ‘ceng-cengin’ ama temen gue katanya gue enggak gaul. Jadi yaudah karna gue males dikata-katain kayak begitu, terus karna dalam hati gue juga pengen, gue kerja yang kaya beginian lagi. Lagian wajar kan? Orang cuman nge-seks doang, emang salah? lagian. Ini kan diri gue, kenapa orang-orang sibuk ngurusin gue? Jadi gue cuek aja, yang penting gue seneng, merasakan kenikmatan, klien gue juga seneng, duit jalan, hidup gue bahagia. Enjoy aja lagi!”

  1. B. Berikut ini adalah wawancara dengan Vinka:

Lo nge-kost?

“Iya,kosan gue di daerah cawang.”

Oh! Lo biasanya di ajak main dibayar berapa?

tergantung sih, lihat-lihat situasi juga. Kadang-kadang gue butuh duit buat shoping dan orang itu kaya, ya boleh lah.

Lo jadi ayam kampus ini buat nyari duit ya? Kasian amat lo  gak ada duit sampai mau jadi ayam kampus.

Sialan loe. Ya nggaklah gue kayak gini buat have fun doank kok. Sekalian buat balas dendam

Balas dendam? Maksud lo?

Nggak, masalah yang telah lalu.

Kenapa? Cerita donk

ya gitu deh, laki-laki. Kalau udah dapet aja, ceweknya ditinggalin. Emang dia aja yang bisa kayak gitu? Gue juga. Ney buktinya, lo laki-laki kan?! Suka main sama cewek. Selingkuh.”

Hahaha tapi lo suka kan. Oh ya lo nggak risih apa dikenal sebagai ayam kampus? Emangnya teman-teman lo enggak ada yang tahu?

Risih? Ya nggak lah. Fine-fine aja. Soalnya teman-teman gue pada baik semua, bisa jaga rahasia. Malahan ada yang bantuin gue buat nyari klien.

Jadi intinya loe suka sama seks?

Bawel loe !Iya!

  1. C. Berikut ini adalah wawancara dengan Tina:

Cerita donk tentang temen lo yang katanya bisa dipake itu!

Kenapa? Loe tertarik?

Enggak, gue Cuma pengen tau aja. Cerita donk!

Ya gitu. Dia bisa dipake. Dia sering nonkrong depan kampus sambil nunggu temannya yang bisa di ajak ‘main’.

Kenapa sih dia mau kayak gitu? Dia butuh uang ya?

Enggak kok. Dia kaya kok orangnya. Jangan lo kira dia sama kayak ayam kampus. Bisa dibilang dia lebih kaya dari laki-laki yang ‘main’ sama dia. Dia anak dosen, cucunya rektor pula dikampus gue. Anaknya pintar, tapi karena dia kayak gitu, kuliahnya jadi berantakan gitu. Gue udah temenan sama dia sejak sekolah menengah, keliatan banget dia pinter. Tapi ya, ada kecendrungan aneh gitu sama dia.

Oh jadi karena dia emang suka?

Iya. Dia ada kecenderungan hiper seks gitu. loe kenapa nanya-nanya? Loe mau? Masih mahasiswa baru gini juga. Tuh di UI banyak ayam kampus. Hahaha!

Sialan lo. Jangan bawa-bawa nama kampus gue donk. Gue Cuma pengen tau aja.

Hehehe becanda.

Author: Manshur Zikri

Penulis

5 thoughts on “Makalah Antropologi: Motivasi Wanita Penjaja Seks”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s