Bagian catatan harian Tolenk junior.

Caba saya ingat, mungkin sekitar dua bulan sebelum ujian nasional, atau beberapa minggu setelah SIMAK UI. Ya, sekitar waktu itu saya tidak sengaja membaca blog seorang mahasiswi yang kuliah di UI, tetapi saya lupa namanya siapa.

Mengapa penelusuran komputer saya sampai pada blog tersebut? Hahaha, jawabannya adalah karena waktu itu saya hendak bermaksud mencari tips dari orang-orang yang telah berpengalaman dalam hal tes-tes’an untuk menghadapi ujian-ujian yang akan saya hadapi untuk masuk universitas. Dan mungkin karena kuasa Sang Penguasa lah maka takdir berkata saya harus membaca blog tersebut. Sampai sekarang isi pokok dari blog itu tidak pernah saya lupakan.

Pada saat pengumuman SIMAK UI, saya benar-banar jatuh mengetahui hasilnya. SAYA TIDAK LULUS. Padahal UI adalah satu-satunya universitas negeri yang ingin saya tuju. Saya tidak ingin ke ITB, UGM, UNAND, atau universitas-universitas terbaik lainnya di berbagai kota di Indonesia. Tujuan saya hanya satu, yaitu kota Jakarta dan masuk UI. Dan sangat wajar saya—dengan jujur saya katakan—meneteskan air mata karena kecewa saat saya tidak lulus SIMAK UI. Padahal saya sudah berniat saat pukul 00, yaitu waktu pengumuman dibuka, saya tidak akan memberitahukan kepada kedua orang tua dan saudara lainnya sampai pagi karena saya berharap bisa memberiian kejutan kepada mereka semua. Akan tetapi, saya sudah terlanjur emosi dan tidak kuat menahan malu. Dan setelah mengetahui saya tidak lulus ketika saya membuka website pengumuman SIMAK UI pada pukul tiga pagi (kalau ingatan saya tidak salah), saya segera membangunkan ibu dan memberitahukan kepadanya bahwa saya gagal. Mengapa hal itu saya lakukan? Karena saya tidak mau menyimpan rasa kecewa sendirian. Hahaha!

Saya masih ingat ekspresi ibu saya waktu itu. Dia terdiam sebentar dan melihat saya dengan aura keibuannya, kemudian tersenyum dan berkata, “Ya sudahlah. Belum rezeki kamu. Semangat untuk tes selanjutnya!”
Ekspresi itu semakin membuat saya sedih. Ondeh maaaaaaaaaaaaaaak!!!!! Bukankah seharusnya saya saat itu bisa memberikan kejutan yang sangat berarti untuk mereka? Kemudian saya bergerak ke sofa di ruang tamu, karena di sana lah saya biasanya tidur, dan menutup kepala saya dengan bantal dan melampiaskan emosi, membanjiri wajah dengan air mata. Saya masih ingat bagaimana sensasi panasnya air mata saya waktu itu.

Saya tahu, dan kami sekeluarga tahu, bahwa hanya universitas UI lah yang bisa dikatakan terbaik secara keseluruhan bidang studi ilmunya, dan juga sudah diakui keunggulannya, dan universitas negeri yang bisa terjangkau oleh kemampuan ekonomi keluarga saya karena UI menyediakan program BOP berkeadilan, seperti yang saya ketahui saat mahasiswa UI melakukan presentasi di SMA N 8 Pekanbaru. Dan jika saya ingin melanjutkan pendidikan yang cukup baik, hanya UI lah satu-satunya tujuan. Jika tidak lulus tahun ini, tahun waktu saya mencari universitas itu maksudnya, saya tidak akan kuliah hingga tahun depan.

Pada waktu itu, beberapa siswa sudah mendapatkan posisi aman, begitulah kami mengistilahkannya, karena sudah mendapat kursi di universitas-universitas terbaik di Indonesia. Mengapa bisa demikan? Karena prestasi yang mereka torehkan di sekolah. Sementara saya? Siswa biasa, kalau pun ada yang istimewa dari diri saya palingan hanya hal-hal yang bersangkut paut dengan gitar, yang sering cabut pelajaran; melaksanakan seribu jurus nyontek dan jimat waktu ulangan pelajaran sejarah, agama, bahasa prancis, bahasa indonesia, dan pendidikan kewarganegaraan; melaksanakan sistem SKS untuk pelajaran-pelajarn IPA lainnya, yang mana semua rumus-rumus itu akan lupa seketika saat ulangan berakhir sementara nilai-nilai tidak begitu memuaskan sehinga saya kalang kabut menyiapkan jimat untuk ujian perbaikan; selalu menghujat para pegawai dan guru di sekolah karena kebijakan-kebijakannya yang sering bertenntangan dengan keinginan siswa; tergila-gila dengan game tantra, parkour, dan facebook; dan selalu tersandung oleh kisah asmara remaja SMA yang biasanya selalu membuat hati saya merana. Hahaha! Memang pantas waktu itu jika orang-orang berkata, “Wajar saja lah diri kau yang begini ini belum mendapatkan universitas.”
Ada juga yang telah diterima di universitas lokal. Dan saya bisa masuk ke dalam kategori siswa sperti itu. Akan tetapi, sesuai dengan idealisme yang saya dapat dari berbagai pihak, saya tidak akan melanjutkan pendidikan di Pekanbaru. Tidak akan pernah! Saya bertekad lebih memilih jadi… apa saja lah, yang penting keluar dari kota Pekanbaru. Karena apa? Karena saya yakin pola pikir saya akan lebih berkembang dan lebih terbuka bila saya melihat lebih luas.

Ya begitulah, karenanya saya waktu itu duduk lama di depan komputer, berharap mendapatkan suatu artikel yang memberikan informasi bagaimana menyiasati keadaan dalam menghadapi ujian-ujian masuk universitas.

Blog tersebut menceritakan bagaimana suka duka si penulis pada masa-masa mencari universitas. Secara gamblang dan dengan bahasa blog yang ringan dia menceritakan bahwa dia adalah seorang yang cuek dan tidak terlalu peduli dengan keadaannya: apakah dapat universitas yang baik atau yang biasa atau yang tidak ternama. akan tetapi dia mengaku dalam blog tersebut bahwa kekhawatiran dalam dirinya, tentang nasib masa depannya, muncul ketika teman-teman terdekatnya sudah mulai mendapatkan kursi di universitas-universtias terbaik seperti UGM, UI, STAN, dan sebagainya. tapi dia tetap yakin bisa lulus di UNPAD. Tetapi malapetaka datang saat dia mengetahui dia tidak lulus di universtias tersebut. Singkat cerita, dia mengikuti SPMB dengan persiapan tiga hari sebelum waktu tes, dan akhirnya dia lulus di Politik UI.
“Dia sangat beruntung!” ujar saya dalam hati setelah selesai membaca tulisan itu.

Saya menghkayalkan saya bisa membuat blog seperti itu, menceritakan suka duka saya ikut tes masuk universitas, tapi dengan ending yang baik. Hahahaha!

Selesai Ujian Nasional, saya memutuskan terbang ke Jakarta, kota Depok lebih tepatnya, untuk mengikuti bimbel intensif masuk universitas. Dan saya memikul tanggung jawab besar karena orang uta saya, yang kemampuan ekonominya bisa dikatakan kurang mampu, mau memasukkan saya ke bimbel Nurul Fikri dengan harapan saya dapat belajar dengan baik dan lulus tes masuk universitas.

Harapan dan semangat saya muncul kembali saat UMB semakin dekat. Dengan 4 pilihan bidang studi, saya yakin bisa lulus untuk mendapatkan kursi UI. Akan tetapi apa daya? Lagi-lagi saya gagal. Padahal beberapa hari sebelum tes, saya mendapatkan kabar dari teman-teman di kota Pekanbaru bahw mereka lulus UI dengan jalur KSDI. Sekitar lebih dari dua puluh orang siswa SMA N 8 Pekanbaru angkatan saya telah diterima di UI melewati jalur itu. Saya menggerutu kesal, karena saya yakin, “Kalau saja saya ikut tes tersebut, saya pasti sudah mendapatkan kursi UI!” Mengapa saya tidak ikut? Karena biaya yang akan ditanggung melewati jalur tersebut sangat lah mahal, tujuh setengah juta per semester, jauh di atas kemampuan orang tua saya.
Saya mengangis sejadi-jadinya, waktu itu saya menangis di depan nenek saya, karena tidak lulus UI dengan jalur tes UMB.
Nenek saya hanya berkata, “Alah la tu mah. Manga juo ditangihan. Nan lalu bia ajo lalu. Alun rajaki awak mungkin. Ntah Tuhan punyo kahandak lain, mudah-mudahan lulus lewat jalur SPMB! Sholat la lai, badoa ka Tuhan samoga ditambahan semangat dan dapek barokah.”
Gyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa

aaaaaaaaaaaarrgghh!!!

Keesokan harinya, saat saya pergi ke tempat paman saya, saya mendapat seribu kata marah. Ceramah dari seorang seniman. Karena apa? Ya, karena saya tidak lulus UMB. Akan tetapi bukan tidak lulus nya itu yang dipermasalahkan, melainkan karena tindakan saya yang menghubungi orang tua di Pekanbaru dan memberitahukan mereka saya tidak lulus UMB dengan isakan tangis. Paman saya mendapat kabar itu dari ibu saya, yang ternyata menghubungi paman saya dan curhat tentang keadaan sya yang belum mendapatkan bangku universitas.

“Pertama kali kau datang ke sini, aku anggap kau bukan anak kecil lagi,” bentak paman saya. “orang yang pergi merantau merupakan tanda dia sudah memasuki dunia dewasa. Dan bukan merupakan tindakan yang bijaksana jika memberikan kabar yang tidak menyenangkan ke kampung halaman. Hanya karena tidak lulus UMB, kau kasih tahu ibumu dengan isakan tangis. Bodoh! Bisa-bisa kumat lagi asma nya karena khawatir nasib kau yang bahkan tidak terjadi apa-apa. Seharunya kau kasih tahu ibu mu itu bahwa tidak lulus UMB bukan halangan untuk kau tidak masuk UI. Tidak lulus UMB atau tes sejenisnya, bukan berbarti kau tidak mempunyai kualifikasi untuk ada di sana. Aku tahu kualitas otak mu. Hanya masalah keberuntungan saja.”

“Aku takut tidak dapat kuliah!” jawab saya malu.

“Banyak sekolah di Jakarta ini,” kata paman saya. “kau bisa menuntut ilmu sepuas-puasnya. Tapi kau harus ingat, ubah pola pikir mudah menyerah yang ada dalam otak mu itu. Kegagalan bukan akhir, tetapi adalah awal.”

Set seeeeeeeet!!! Keren kaga gue bikin kalimatnya. Hahaha..

Ya, betul kata paman saya. Saya terus berusaha dan lebih mengintensifkan diri untuk belajar. Saya menghabiskan hari di bimbel Nurul Fikri; mengerjakan semua soal yang ada, mengulang-ulang teori-teori yang ada, dan mengikuti semua TO yang ada. Tidak lupa saya selalu menghubungi Yana Alisa Putri, gadis pujaan hati saya, untuk memberikannya semangat serupa agar dia intensif belajar dan mengikuti bimbel di Pekanbaru. Saya saat itu yakin bahwa kesempatan untuk lulus dengan jalur SNMPTN masih ada.

Kita ingat lagi ke belakang, saat presentasi dari mahasiswa UI di SMA N 8 Pekanbaru untuk angkatan saya. Mereka begitu mengagumkan, dengan jaket kuning dan “Pekik UI” nya. Saya begitu terpana dan semakin bersemangat untuk masuk UI. Saya masih inat momen yang sangat hebat waktu itu, yaitu saat masing-masing mahasiswa memperkenalkan diri dan menyebutkan jalur tes masuk UI yang mereka ikuti. Sebagian besar lulus dengan jalur PBUD dan KSDI. Tepuk tangan tiada henti dari semua siswa dalam aula sekolah membuat saya bergetar bersemangat. Dan saat seorang mahasiswa dengan penampilan slengean memperkanalkan diri, tepuk tangan berhenti (saya masih ingat itu. Dan saya tidak bohong). Dia adalah seorang mahasiswa jurusan komputer UI dan lulus dengan jalur SPMB. Serempak tepuk tangan paling keras memekakkan telinga dari semua siswa. Menurut saya penampilan mahasiswa komputer itu adalah: Dia Mega Bintang!
Saat itu saya memimpikan waktu, yang mana saya bisa berkata di depan aula sekolah itu kepada semua siswa junior di bawah saya bahwa saya adalah seorang mahasiswa UI dengan jalur SNMPTN. Mungkin tepukan tangan yang lebih dahsyat akan saya dapatkan.

Ujian SNMPTN selesai. Masi ada waktu sekitar seminggu menjelang pengumuman. Saya memutuskan pulang ke Pekanbaru menikmati liburan meskipun hati berdebar-debar menunggu hari pengumuman. Tapi sialnya, saya malah jatuh sakit di Pekanbaru. Demam saya begitu tinggi dan badan saya tidak bisa bergerak. Dokter mengatakan saya terkena penyakit tipus. YaaaSsssalaaaaaaam!!!

Saya masih ingat waktu itu. Saat hari pengumuman, malam hari mati lampu di Pekanbaru. Semua anggota keluarga berkumpul di kamar oranguta saya, dimana saya terkapar karena demam tidak turun-turun juga. Abang dan adik saya bersenda gurau sementara orang tua saya dan nenek mengobrol ringan. Tiba-tiba handphone berdering dan abang saya mengangkatnya. Ternyata Yana yang menghubungi handphone saya. Sayup-sayup terdengar suaranya begitu semangat. Kemudian abang saya berujar, “Oh, Yana lulus? Jurusan apa? FKM? Selamat ya!” Kemudian dia berkata kepada saya, “Ngeri dang! Cewek ang anak UI kini!”
Saya gembira mendapat berita tersebut. Yana lulus UI lewat jalur SNMPTN. Seketika saya merasa ringan dan bisa bernafas lega, dan asma saya reda. Dan ibu saya berkata beberapa saat kemudian bahwa panas saya turun. Hahaha. Saya tidak bohong, karena memang begitulah yang sebenarnya. Sekitar setengah jam kemudian, handphone berdering kembali, Yana ingin memberitahukan hasil tes saya (karena saya berpesan kepada abang saya untuk meminta Yana melihat hasil pengumuman SNMTPN saya di internet).
Waktu Yana menelpon yang kedua kalinya itu semuanya sudah berkumpul di ruang tamu sementara saya dibiarkan tidur di kamar. Saya tersentak ketika semua orang di ruang tamu bersorak, dan kemudian ibu saya berlari ke kamar saya dan memberikan ucapan selamat. Saya lulus tes UI jalur SNMPTN jurusan kriminologi. Spontan saya langsung bisa duduk. Rezeki yang begitu menyenangkan dan menggembirakan hati saya dari Allah SWT. Beberapa saat kemudian nenek saya masuk ke kamar dan memberikan ucapan selamat, dan kali ini nenek saya lah yang menangis terharu.

Tengah malam, saya mendapat kabar bahwa teman-teman saya, yang senasib dengan saya; tidak lulus tes-tes sebelumnya dan hanya berharap kepada hasil tes SNMPTN, juga lulus di UI. Arip Tokek lulus ke Hubungan Internasional UI, Ryand lulus ke Hukum UI, dan sebagainya.
Saya masih ingat waktu itu kami bertiga; saya, ryand, dan arip, berkhayal-khayal di dalam ruangan kelas bimbel GO intensif SIMAK UI, seandainya kami bertiga bisa masuk UI. And then, we passed the test!

Waktu berlalu, kami menuntut ilmu di UI. Yana akhirnya lulus STIS, dan lebih memilih kampus itu daripada UI karena ibu nya menyuruhnya masuk sekolah statistik. Akan tetapi saya tetap bangga punya seorang gadis pujan seperti Yana karena dia lulus STIS murni karena perjuangannya (saya masih ingat bagaimana dia mengatakan bahwa dia sedang belajar mengerjakan soal-soal ujian STIS waktu saya mengubunginya melalui handphone).

Semester pertama di UI telah lewat. IP yang saya dapat cukup lumayan dan bisa membuat saya tersenyum. Saya kadang tertawa mengingat Tolenk senior melihat IP saya kemudian berkata, “Hmm, menangih haru lah gaek ang di rumah tu yo mancaliak IP ang!? ‘Anak den IP nyo rancak!'”
Hahahaha! Semoga untuk selanjutnya saya bisa mempertahankan prestasi dan meningkatkannya. AMIN!

Saya harap cerita ini bisa memberikan manfaat dan semangat kepada pembaca. Seperti pesan tersirat dalam film Kung Fu Panda: Percaya bahwa diri kita bisa melakukan segalanya untuk meraih tujuan kita.

End.

Tolenk Junior.

Author: Manshur Zikri

Penulis

2 thoughts on “Bagian catatan harian Tolenk junior.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s