Pater Pancali: Tembang Sepanjang Kenangan

Paman saya selalu mengingatkan bahwa untuk menambah wawasan dan membentuk pola pikir yang benar, kita harus membaca. Akan tetapi bukan sekadar membaca, atau lebih buruknya adalah membaca bacaan yang malah membodohi otak kita. Dianjurkan bagi manusia untuk membaca segala sesuatu yang dapat mencerdaskan. Salah satu bacaan yang baik adalah buku sastra. Memang orang-orang tertentulah (orang-orang jenius), yang memiliki banyak pengetahuan dan bakat dalam diri, yang bisa membuat sebuah cerita atau bahan bacaan yang mengandung unsur sastra, yang mana dapat memancing dan meningkatkan kecerdasan orang-orang yang membacanya.

Sewaktu saya masih duduk di bangku sekolah dasar, saya suka membaca buku-buku cerita bergambar atau buku-buku cerita anak-anak. Dan saat saya duduk di bangku sekolah menengah pertama, saya memandang remeh buku-buku bahan bacaan sastra. Karena cerita yang saya temukan di dalamnya hanyalah cinta (yang mana akhir dari cerita itu tidak membawa kebahagiaan; tidak seperti cerita-cerita cinta remaja yang menggembirakan yang saya lihat di televisi), kemiskinan, politik, dan berbagai kehidupan sosial lainnya yang pada saat itu tidak menarik perhatian saya.

Sekarang ini saya telah tahu (karena membaca banyak artikel di internet, berdiskusi dalam forum-forum diskusi saat SMA, ikut seminar tentang seni dan budaya, serta berbincang-bincang ringan dengan paman saya) bahwa cerita-cerita sastra yang semula saya anggap membosankan itu ternyata memiliki makna yang tersirat dan dapat dijadikan bahan pembelajaran. Bahwa cerita-cerita seperti itulah yang dikatakan cerita yang cerdas. Misalkan saja mereka menyajikan cerita tentang cinta, tetapi bukan hanya cintalah persoalan yang ingin disampaikan si pengarang sebenarnya, mungkin saja bisa tentang kehidupan sosial, relaitas masyarakat, atau hal lain yang mana dengan sangat cerdas dibungkus oleh si pengarang ke dalam suatu cerita yang dapat dinikmati oleh khalayak umum. Ini lah satu hal yang dapat saya tangkap dari keunggulan bahan-bahan bacaan sastra.

Berikut ini saya akan membuat sebuah resensi buku cerita sastra dari India, tentang kehidupan sebuah desa di India yang disajikan sebagaimana adanya, dalam sudut pandang dua orang anak bernama Apu dan Durga.

Judul Buku : Pater Pancali: Tembang Sepanjang Kenangan

Judul Asli : Pather Panchali (Bengali পথের পাঁচালী, Pôther Pãchali, translated as Song of the Road) — informasi mengenai judul asli ini diakses dari wikipedia

Pengarang : Bibhutibhushan Banerji

Penerjemah :

  • Bahasa Inggris : T.W. Clark dan Tarapada Mukherji
  • Bahsa Indoneisa : Koesalah Soebagio Toer

Terbit : PT Dunia Pustaka Jaya

Tahun terbit : 1996, Cetakan pertama

Tebal buku : 491

ISBN : 979-419-207-4

Jenis buku : Sastra

Pater Pancali dikarang oleh Banerji, seorang sastrawan India yang dianggap penting. Menurut pengantar dalam buku novel tersebut, dikatakan bahwa Banerji dilahirkan tanggal 12 September 1894 di Muratipur dan meninggal tanggap 1 November 1950 di 24 Parganas. Karya pertama Banerji adalah Upeksita, yang terbit pada tahun 1922 dalam majalah Pravasi di Kalkuta. Karya Pater Pancali sendiri pertama kali keluar secara serial dalam majalah Vichitra pada tahun 1928 dan 1929; dan muncul dalam bentuk buku di bulan november 1929.

Menurut pendapat saya pribadi, ciri khas yang dimiliki oleh Banerji—dalam sudut pandang saya sebagai penikmat buku—adalah cara penyampaian cerita yang tidak memiliki unsur “mendramatisir” cerita dengan disengaja. Berbeda dengan novel-novel lain yang saya baca (baik dari dalam maupun luar negeri) yang mana rata-rata pengarangnya berusaha menuliskan cerita dalam bentuk kata-kata dan dialog-dialog yang terkesan berlebihan, dan malahan terlihat “sok” dimata saya sebagai pembaca, Banerji terkesan lebih alami. Cerita yang ditulisnya seolah-olah merupakan cerita yang pernah dia lihat secara langsung dan disampaikan kepada pembaca sebagaimana cerita itu benar-benar terjadi tanpa diberi “bumbu” agar terkesan lebih menarik. Dialog-dialognya pun sangat sederhana, tetapi inti cerita dan unsur drama yang dapat mempengaruhi emosi pembaca akan terlihat secara bertahap dan “bertata krama” (begitulah saya mengistilahkannya) dari cerita secara keseluruhan.

Saat membaca buku ini, saya merasa akrab dengan suasana bukunya, yang mana antara bab yang satu dengan yang lainnya bisa saja tidak saling berhubungan apabila kita lihat dari alur dan rangkaian cerita. Saya teringat dengan gaya penulisan novel Laskar Pelangi oleh Andrea Hirata. Boleh saya katakan bahwa dua novel ini memiliki gaya penyampaian cerita yang sedikit mirip, yaitu ketidakaturan dan ketidaksinambungan cerita yang disampaikan dalam setiap bab—bisa saja bab yang ini menceritakan kisah masa kini dalam novel itu, tetapi bab berikutnya menceritakan kisah 5 tahun yang lalu, dan bab sebelumnya mengisahkan cerita 5 tahun sesudah masa kini dalam novel itu—yang mana lebih memperunik novel tersebut. Akan tetapi bedanya dengan Laskar Pelangi, novel ini lebih alami dan tidak dilebih-lebihkan penuturan kalimat-kalimatnya. Tentu, apabila melihat dari kepopuleran dan kehebatan serta pengakuan dunia (dari artikel-artikel yang saya baca tentang Banerji di internet) tentang pengarang Pater Pancali ini, kita tidak bisa menyamaratakan kemampuan Andrea dengan Banerji.

Pengantar atau kajian singkat namun lebih lengkap dari blog saya ini dapat pembaca temukan di dalam novel itu sendiri. Pengantar itu disampaikan oleh T.W. Clark, yang mana dia mengupas semua tentang Pater Pancali, sehingga dapat dijadikan panduan untuk memudahkan kita memahami isi cerita Banerji.

Pater Pancali adalah kisah yang menceritakan kehidupan dua orang anak, Apu dan kakak perempuannya Durga, yang hidup sebagai seorang berkasta Brahmana namun memiliki perekonoiman yang rendah (miskin). Di dalam cerita ini, daya imajinasi Apu ditonjolkan; pembaca pun terbawa dengan imajinasi Apu yang penuh dengan petualangan dan cita-cita yang tinggi. Kehidupan Apu begitu kaya dan menyenagkan, terlebih lagi ada kakaknya Durga yang sangat menyayanginya dan selalu melindunginya. Kasih sayang antara keduanya tidak disampaikan secara gamblang seperti novel-novel lain, tetapi dapat kita lihat dan kita rasakan dari aktivitas-aktivitas yang dilakukan Durga dan Apu. Kita akan menyadari bahwa pikiran Apu tidak pernah terlepas dari keluarganya, terutama kepada Durga.

Cerita ini juga memberikan kita penggambaran tentang kehidupan masyarakat India pada zaman dimana Apu dan Durga hidup. Saya merasa berada di lingkungan itu ketika membaca halaman demi halaman cerita ini. Dan jujur saja, saat saya membaca bab tentang Bagian 1: Bibi yang Tua, saya menangis ketika mengetahui akhir cerita bagian satu tersebut.

Saya akui bahwa cerita dalam novel ini berjalan begitu adanya dan sangat sederhana, tidak ada kejutan yang selalu dinanti-nanti oleh pembacanya. Namun menurut saya, kejutan itu akan dapat kita temui setelah kita selelsai membaca cerita ini, yang mana pemahaman tentang kepribadian manusia lah yang menjadi utama, serta melihat dunia dari kacamata seorang anak yang enerjik dan penuh imajinasi.

Saat menutup buku seusai membaca novel ini, saya berujar dalam hati, “Buku bagus!”

Advertisements

Author: Manshur Zikri

Penulis

2 thoughts on “Pater Pancali: Tembang Sepanjang Kenangan”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s