MEDIA [Part 3]

Industri dan Media Massa

Media massa memiliki sistem ekonomi replikasi linear, yaitu sebuah produk dapat menghasilkan uang secara proporsional terhadap jumlah duplikatnya. Media massa penting sebagai alat kontrol sosial.

Dalam masyarakat demkratis, adanya konsentrasi penguasaan media akan mengancam demokrasi. Karena itu dibutuhkan media independen sebagai media penyeimbang yang memberikan berita tentang isu-isu pemerintah dan korporasi.

Pada abad ke-21, berkembang internet, yaitu media massa interaktif. Internet ini memberikan dampak opini publik mulai berubah karena adanya interaksi timbal balik

Media dan massa saling melakukan hubungan timbal balik. Kebangkitan perkembangan media itu ditandai dengan adanya Blogging

TV

TV mekanik
TV zaman modern

TV mekanis, tidak berwarna ‘gray scale’ (hitam putih), ditemukan oleh John Logie Baird, dan pada tanggal 26 Januari 1926 didemosntrasikan pertama kali di London. Kemudian TV elektronik prtama kali didemonstrasikan pada tahun 1934 oleh Phila Farnsworth, dan digunakan untuk penyiaran pada tahn 1936. Pada tahun 1939, penyiaran TV mekanis berakhir. Ditahun 1930’s ini, berkembang TV komersil. TV komersil menjadi penerima komunikasi umum rumahan, bisinis dan industri, yang menyajikan siaran khusus berita dan hiburan. Selanjutnya pada tahun 1970’s, mulai ada perekaman dengan video (digital). Contoh program TV nya adalah I Love Lucy.

IKLAN

Iklan memiliki fungsi sebagai alat atau media untuk mempengaruhi kebiasaan orang-orang. Disini TV menjadi media yang sangat kuat untuk menjadikan iklan itu melekat pada masyarakat.

POP ART

Pop Art merupakan gerakan seni visual yang dimulai pada pertengahan abad 1950’s, yang mana gerakan ini bermula di UK dan selanjutnya oleh US. Gerakan ini muncul karena tingkat kesejahteraan di Amerika sudah bagus (yang mana saat itu Amerika membantu Eropa dengan program Marshal Plan-nya). Pop Art bukanlah suatu bentuk karya seni yang memusatkan “aku” sebagai penciptanya. Pop Art mengambil realitas sehari-hari untuk dikonsumsi masyarakat melalui iklan (media). Contoh-contoh Pop Art antara lain adalah brandimage, komik, TV dan Film. Pop Art merupakan gerakan patriotisme Amerika, yang apda dasranya merupakan bentuk perlawanan terhadap realisme sosialis Uni Soviet. Pop Art dianggap penting dan membutuhkan kekuatan politik.

Seni Media

Menggunakan media untuk karya seni

Nam June Paik

Video Art (video instalasi)

Berkembang pada tahun 60’s – 70’s. Video art menggunakan video (audio dan visual) untuk sebuah karya seni.

Perbedaan Video Art dengan Film adalah video tidak membutuhkan syarat-syarat yang ada dalam sinema, seperti unsur drama atau cerita.

Nam June Paik, seorang Video Artist, pada tahun ’65 di New York, merekam prosesi datangnya Paus dengan kamera Sony Partapack. Pada hari itu juga video diputar, tetapi pita videonya dibalik sehingga gambar Paus berjalan mundur. Peristiwa itulah yang menjadi cikal bakal Video Art.

Video Art juga memiliki arti Kelahiran Seni Rupa Kesetaraan.

New Media Art, yang mana batas tentang seni talah hilang (semakin bias tentang makna “aku”)

Sejarah Video Indonesia

TVRI tower, diakses dari: jakartadailyphoto.com/ index.php/2006/07/22/tvri/

Pada tahun 1962, TVRI mengudara di Jakarta. Acara perdana stasiun televisi tersebut adalah Upacara Penurunan Bendera 17 Agustus ’62 di Istana Negara. Pada waktu itu TVRI memiliki tujuan untuk meliput ASIAN GAMES yang diadakan di Jakarta. Di tahun 62’s – 89’s TVRI memonopoli siaran TV, dan ini merupakan corong propaganda oleh pemerintah. Pada tahun 80’s – 90’s, tidak ada iklan yang ditayangkan di TVRI karena dianggap dapat mempengaruhi pemerintahan (no advertising allowed).

Kemudian pada masa ORBA, berkembang stasiun televisi swasta. Pada tahun 1989 RCTI mengudara. 1990 adalah giliran SCTV. Kemudian dialnjutkan oleh TPI, Indosiar, ANTV, dan Lativi. Selanjutnya pada masa Gusdur kebebasan pers terbuka dengna lebar sehingga banyak TV swasta yang bermunculan seperti Trans TV, TV7, Global TV, O Channel, Jak TV, TV One, dan sebagainya.

Perkembangan Seni Video di Indonesia

Pada tahun 80’s, ada gerakan yang mana menggunakan video sebagai media ekspresi. Teguh Ostentik, Krinsa Murti, dan Heri Dono adalah tokoh-tokoh pada masa ini. Kemudiaan pada masa Reformasi (1998), muncul era digital yang menonjolkan: video dapat diakses berbagai kalangan. Pada masa ini pun berkembang pula era arus besar pembuat film independen. Yayasan Konfiden (1998’s) berdiri dan menegaskan bahwa tidak sulit untuk membuat sebuah film (teknis). Kemudian pada tahun 2000, Ruang Rupa, menekankan video sebagai media advokasi. Ruang Rupa mengadakan Festival pertama, yaitu OK. Video International. Selanjutnya pada tahun 2003, Forum Lenteng dengan Massroom Project-nya. Massroom Project mempunyai bahasa seni sendiri di mata orang luar. Kemudian Forum Lenteng melanjutkan dengan program Akumassa, sebuah jurnal tentang “aku dan sekitarku”

Author: Manshur Zikri

Penulis

5 thoughts on “MEDIA [Part 3]”

  1. Cuma sayangnya, saat ini media bukan hanya menjadi ajang perputaran roda ekonomi, tetapi juga menjadi ajang saling memaki. (maaf, keluar jalur).
    Karena perkembangan tehnologi yang pesat untuk menghasilkan karya sekaran cukup dengan modal handycam.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s