Aliran Pemikiran Interaksionis

George H. Mead, was an American philosopher, sociologist and psychologist, primarily affiliated with the University of Chicago, where he was one of several distinguished pragmatists. He is regarded as one of the founders of social psychology.

Tahukah Anda bahwa menurut pakar kriminologi yang percaya dengan pemikiran interaksionis (yang juga dikenal dengan teori labeling), dikatakan bahwa sesungguhnya di dunia ini tidak ada tindakan yang dapat disebut jahat. (?)

Menurut pemikiran teori ini, yang dipelopori oleh George Herbert Mead (1863-1931), penyimpangan bukanlah ciri khas dari orang yang melakukannya, tetapi merupakan ciri yang dibuat oleh orang lain yang melihatnya (Prof. Muhammad Mustofa, 2007: 85)

George Herbert Mead mengatakan bahwa asal-usul tingkah laku manusia tidak semata-mata dipengaruhi oleh peranan kondisi sosial, tetapi juga dipengaruhi oleh peranan individu yang bersangkutan dalam merespon, menafsirkan, dan berinteraksi sosial.

Dalam pemikiran interaksionis, dapat ditengarai asumsi-asumsi dasar yang dipergunakan oleh teori-teori labeling. Mereka-mereka yang mengemukakan teori interaksionis ini melihat suatu kejahatan dan penyimpangan itu sebagai masalah yang subyektif, dengan asumsi-asumsi sebagai berikut:

  • Dalam berinteraksi, orang melakukan komunikasi dengan simbol-simbol yang dipahami bersama. Dengan simbol itu, orang akan memberi tanda satu sama lain dan bertindak sesuai dengan tanda yang diterima dari orang lain.
  • Penyimpangan dapat dipahami dengan baik melalui pemahaman proses, yaitu bahwa cap penyimpangan adalah simbol yang membedakannya dan merupakan noda dari orang tersebut.
  • Orang tersebut akan bertingkah laku berdasarkan cap yang diberikan kepadanya. (Rubington, Weinberg, 1981:4, dikutip dari: Prof. Muhammad Mustofa, 2007: 86)

Jauh sebelum munculnya pemikiran kriminologi interaksionis, Frank Tannenbaum(1938), yang terkenal dengan “The Dramatization of Evil” nya, telah mengemukakan hal yang sama. Beliau mengatakan bahwa proses untuk membuat seseorang menjadi penjahat adalah proses pemberian label (etiket), pendefinisian, menegarai, pemisahan, menggambarkan, menekankan, membuat sadar dan sadar diri,; yang merupakan ciri-ciri penjahat (Tannenbauym, 1938:19-20, dikutp dari: Prof. Muhammad Mustofa, 2007: 86)

Dan salah satu asumsi yang dikemukakan oleh Scharg (1971), yang tertuang dalam 9 asumsi teori dasar labeling, dikatakan juga bahwa tidanakan “menangkap basah” merupakan awal dari proses labeling (Scharg, 1971: 89-91, dikutip dari: Prof. Muhammad Mustofa, 2007: 89)

Nah, sekarang bayangkan saja kalau misalnya tidak ada orang yang memberikan labeling kepada suatu pola tindakan yang disebut sebagai kejahatan atau penyimpangan, mungkin di dunia ini manusia tidak akan pernah berbuat salah..!?!?!?

Wakakakakkakakakak

🙂

Bibliografi

Mustofa, Muhammad (2007). kriminologi (Kajian Sosiologi Terhadap Kriminalitas, Perilaku Menyimpang dan Pelanggaran Hukum). FISIP UI PRESS.

Author: Manshur Zikri

Penulis

1 thought on “Aliran Pemikiran Interaksionis”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s