The Red Balloon

Seharusnya sore ini saya membaca buku Dasar-dasar Ilmu Politik Miriam Budiarjo. Akan tetapi ada pikiran yang mengganjal tentang pemahaman pola pikir yang tidak sesuai dengan pola pikir saya sekarang ini. Karena itu saya lebih memilih menulisnya di blog ini, sekadar berbagi informasi dan pemahaman bagaimana seharusnya kita melihat dan menilai sesuatu. Dalam tulisan ini saya akan merekomendasikan kepada pembaca untuk menonton film The Red Balloon. Waktu baru pertama kali mengikuti kegiatan di Forum Lenteng, film pertama yang saya tonton adalah film ini.

Seperti yang kita ketahui, televisi sering menyiarkan film-film Indonesia dan berbagai sinetron. Dan beberapa waktu terakhir ini, film-film dan sinetron yang ditayangkan selalu bernaung dalam tema yang itu-itu saja. Film-film tentang anak-anak sudah jarang muncul atau bahkan tidak ada lagi.

Sinetron pun biasanya selalu menampilkan adegan-adegan yang membosankan dengan alur yang mudah ditebak (saat itu dan sekarang saya masih berpendapat seperti itu). Pun kalau ada film-flm Indonesia dari kaula muda yang bersemangat membuat film indie, tetap saja membosankan. Mereka mencoba mengangkat tema baru, yang menurut pendapat pribadi saya disajikan dengan terlalu berlebihan, dan tetap saja membosankan. Saya sendiri bingung dengan perkembangan film-film dan sinetron di Indonesia.

Beberapa waktu yang lalu, saat saya mencoba mendiskusikan hal ini dengan salah seorang aktivis forum lenteng, dia hanya tertawa mendengar pendapat saya.

”Ya, rata-rata film Indonesia memang begitu!” ujarnya.

Lalu saya bertanya, apa yang salah?

Satu kata yang sampai sekarang masih saya ingat dari jawaban aktivis tersebut, yaitu kata ”gamblang”.

salah satu adegan dalam red balloon

Kata aktivis forum lenteng tersebut, sebuah film yang dikatakan baik adalah film yang dapat memicu imajinasi penonton. Dan film yang baik adalah film yang bisa memberikan pemahaman yang beragam dari semua orang yang menontonnya, tergantung dari kapasitas masing-masing penonton tersebut. Film tidak sekadar menekankan cerita dan skenario. Seorang sutradara yang memang ”sutradara” akan membuat sebuah film yang sarat dengan berbagai makna, tetapi tidak melulu makna tersirat itu di”slogan”kan. Artinya, tidak harus dengan dialog atau simbol-simbol yang bisa dipahami dengan begitu mudah. Seorang sutradara yang baik, biasanya akan membuat suatu film, yang mana film itu menyajikan sesuatu hal yang telah umum (termasuk berbagai isu-isu dalam masyarakat) tetapi diracik dengan gaya yang berbeda dan tidak umum. Dan inilah yang akan memancing penonton atau penikmat film (viewer) untuk meningkatkan daya imajinasinya.

salah satu adegan dalam red balloon

Lalu film yang bagaimana yang memenuhi syarat seperti itu? Dia menjawab bahwa film yang baik adalah film yang disajikan dengan cara ”sastrawi”. Unsur sastra disini bukan berarti dengan dialog-dialog yang secara sastra dan secara indah, tetapi bahasa dan konsep filmnya lah yang sastrawi. Kebanyakan film-film Indonesia sekarang itu lebih bersifat artifisial. Dengan kata lain, sutradara membuat film itu terlalu dibuat-buat dan dipaksakan. Sedangkan bahasa film yang ”sastrawi” adalah yang mengalir dan sarat akan makna (apakah itu berkaitan dengan politik, sosial, budaya, dan sebagainya). Disinilah penekanan bahwa tidak mudah menjadi seorang ”sutradara yang hebat”.

Saya masih tidak paham dengan penjelasan demikian. Kemudian saya bertanya lagi, coba berikan contoh film yang sastrawi tersebut!

Aktivis itu tertawa, kemudian dia menjelaskan:

salah satu adegan dalam red balloon

Kalau di film-film Indonesia atau sinetron (yang mana sinetron adalah contoh kegagalan yang paling buruk dari penguasaan bahasa dan konsep film) sering kita lihat adegan kekerasan. Seorang ibu yang marah kepada anaknya akan memaki-maki atau menjambak rambut si anak, kemudian si anak akan menangis tersebu-sedu sehingga mempengaruhi emosi penonton. Itu merupakan contoh film yang gamblang. Contoh lain adalah apabila suatu adegan ingin menegaskan bahwa di dalam suatu ruangan ada seseorang, biasanya adegan itu dimulai dengan dialog (hal ini sering saya temui di film-film Indonesia yang katanya meraih penghargaan di festival bla bla bla) atau suara lain yang akan dengan jelas memberitahukan bahwa di dalam ruangan itu ada seseorang. Contoh lainnya lagi, apabila ada suatu pembunuhan, pasti sang sutradara memperlihatkan darah, pisau, atau orang yang sedang menangis (hal ini juga saya temui di beberapa film yang dibuat oleh kaum film independen). Lagi-lagi ini merupakan contoh film yang gamblang.

salah satu adegan dalam red balloon

Contoh film yang sastrawi adalah: apabila ada adegan marah-marah, sang sutrada tidak akan selalu memperlihatkan orang marah. Dia akan berusaha mencari cara untuk membuat adegan yang lebih halus dan penuh makna. Hal itu bisa kita lihat contohnya dalam film The Red Balloon, saat si tokoh utama dimarahi oleh neneknya, tidak ada diperlihatkan adegan marah-marah, melainkan hanya adegan sebuah balon yang dibuang melalui jendela. Contoh lain adalah di film Bicycle Thief: dalam film itu ingin menyampaikan pesan bahwa situasi ekonomi masyarakat saat itu sedang susah. Tetapi tidak ada adegan yang memperlihatkan seorang nenek-nenek atau anak-anak yang mengemis minta nasi atau uang sambil menangis dan mengiba-iba (yang sering kita jumpai dalam sinetron), melainkan optimisme masyarakat yang ingin mendapatkan pekerjaanlah yang ditampilkan. Contoh lain lagi, apabila ingin memberitahukan kepada penonton bahwa dalam suatu ruangan ada orang, aktivis forum lenteng itu memberikan contoh: sang sutradara bisa saja menampilkan gambar rokok dalam asbak yang masih menyala, yang menandakan ada orang dalam ruangan itu. Dari gaya letak rokok, apakah rokok itu tinggal setengahnya, atau baru dibakar, atau rokok itu ditekuk sedikit, atau rokok itu ditaruh miring, bisa juga menjadi informasi tentang watak si tokoh (yang mana dalam adegan tersebut tidak diperlihatkan wajah orang atau tubuh orang samasekali).

salah satu adegan dalam red balloon

Kemudian saya memberikan contoh tentang adegan dalam film CIN(T)A, yang disutradarai oleh Sammaria Simanjuntak, yang mana saat tokoh Cina marah kepada Tuhan, dia membunuh seekor semut di hadapan salib. Saya bertanya apakah itu termasuk adegan yang sastrawi? Aktivis tersebut menjawab itulah contoh adegan yang artifisial, dalam arti lain di-slogan-kan. Adegan itu malah dianggap terlalu berlebihan dan tidak halus cara penyampaian maksudnya.

Kepada pembaca, yang ingin mengetahui lebih lanjut tentang pemahaman film yang sastrawi, silakan tonton film The Red Balloon ini sebagai awal dalam memahani film yang baik. Banyak makna yang tersirat di dalamnya, yang disajikan dengan bahasa dan konsep film yang benar, dan mengandung unsur sastrawi.

The Red Balloon (French: Le Ballon rouge) is a 1956 fantasy short film, directed by Frenchfilmmaker Albert Lamorisse

Lamorisse

The Red Ballon (judul aslinya Le Ballon rouge) adalah film yang disutradarai oleh Albert Lamorisse. Film fantasi pendek berdurasi 34 menit ini diproduksi tahun 1956 di Ménilmontant neighborhood, Paris, Perancis. Film ini meraih banyak penghargaan, antara lain adalah Oscar untuk kategori best original screenplay yang diberikan kepada Lamorisse di tahun 1956 dan Palme d’Or for short films pada festival film Cannes. Dalam film nya ini, Lamorisse menggunakan anak-anaknya untuk memerankan tokoh, yaitu Pascal Lamorisse (anak laki-lakinya) yang memerankan tokoh Pascal dan Sabine memerankan tokoh gadis kecil dalam film itu. Film ini diiringi dengan musik, tetapi tanpa dialog.

Secara singkat film ini bercerita tentang Pascal yang menemukan sebuah balon merah besar tersangkut di sebuah tiang dalam perjalanan ke sekolah. Pascal mengambil balon itu, dan menjadikannya mainan baru. Pascal percaya bahwa balon itu hidup dan mempunyai pikiran. Balon itu kemudian mengikuti kemanapun Pascal pergi. Akan tetapi balon itu tidak boleh masuk ke rumahnya karena dilarang oleh neneknya.

salah satu adegan dalam red balloon

Suatu hari, balon itu masuk ke dalam ruangan kelas sekolah tempat Pascal belajar, mengakibatkan kegaduhan. Hal ini menyebabkan kepala sekolah jadi marah dan mengurung Pascal dalam suatu ruangan sampai jam sekolah berakhir. Kemudian nantinya Pascal akan bertemu dengan seorang gadis kecil yang mempunyai sebuah balon berwarna biru (yang juga hidup dan mempunyai pikiran).

Karena sering berjalan-jalan di sepanjang jalan di Paris, Pascal menemui sekolompok anak yang iri terhadapnya, dan akhirnya melempar balon merah tersebut sampai balon itu tidak bisa terbang lagi (rusak). Film itu kemudian berakhir saat balo-balon lain di kota Paris datang menolong Pascal, kemudian balon itu berkerumun dan membawa Pascal terbang melintasi seluruh kota Paris

Referensi dari wikipedia: The Red Balloon

Author: Manshur Zikri

Penulis

10 thoughts on “The Red Balloon”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s